Spiritual, Refleksi

Seri_Uzair_On_Puasa: Puasa Ramadhan dan Kebaikan Sempurna

Besok pagi sejak fajar (Kamis, 17 Mei 2018), milyaran Umat Islam sedunia mulai melaksanakan ibadah puasa. Mereka akan melakukan ibadah ini selama sebulan penuh, selama Bulan Ramadhan. Bagi Umat ibadah ini istimewa. Kenapa? Karena ibadah ini mendorong mereka untuk mengintensifkan ibadah lain yang bukan saja yang harus (wajib) tetapi juga yang disarankan (sunat), bukan saja yang terkait dengan hubungan vertikal dengan Rabb SWT, tetapi juga yang terkait dengan hubungan horizontal antar sesama. Lebih dari itu, selama Ramadhan, Umat melakukan semua ajaran agamanya bukan saja sesuai dengan ketentuan hukum agama (syariat), tetapi juga dengan semangat untuk melakukannya secara sempurna (ihsan). Mereka melakukan sejumlah amalan unggulan yang sangat ditekankan selama Bulan Ramadhan.

Sebagian dari amalan unggulan itu adalah salat malam (tarawih), tadarus (membaca Kitab Suci) dan itikaf (kegiatan di Masjid untuk merenung dan berdialog dengan diri-sendiri). Kegiatan-kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan vertikal dengan-Nya.

Selain itu, sebagian amalan unggulan itu adalah kegemaran berbagi makanan-minuman untuk berbuka puasa bagi orang lain yang berpuasa, bersedekah, menyantuni kaum duafa (fakir, miskin, yatim, dan kelompok rentan lainnya), menahan diri untuk tidak berbicara atau melakukan sesuatu yang sia-sia atau mubazir, serta menahan diri secara sabar dari gejolak amarah dan dorongan hebat syahwat seksual. Semua kegiatan ini diharapkan dapat membantu proses pendewasaan mental-spiritual serta mempererat hubungan horizontal dengan sesama.

Dengan melakukan amalan-amalan unggulan ini secara sungguh-sungguh, kita dapat berharap dikaruniai-Nya kemampuan untuk mendekati kebaikan sempurna (Arab: Ihsan; Inggris: perfect goodness). Apakah kebaikan sempurna? Salah jawabannya tertuang dalam kutipan berikut[1]:

… perfect goodness is an action of the heart that involves thinking according to the standards of truth; forming the intention to do good, useful things and then doing them; and performing acts of worship in the consciousness that God sees them. To attain perfect goodness, an initiate must establish his or her thoughts, feelings, and conceptions on firm belief, and then deepen that belief by practicing the essentials of Islam and training his or her heart to receive Divine gifts and illuminate it with the light of His manifestations. Only one who has attained such a degree of perfect goodness can really do good to others just for God’s sake, without expecting any return.

… kebaikan sempurna adalah tindakan hati yang melibatkan pemikiran menurut standar kebenaran; membentuk niat untuk melakukan hal-hal yang baik, berguna, dan kemudian melakukannya; dan melakukan ibadah dalam kesadaran bahwa Tuhan melihat mereka. Untuk mencapai kebaikan sempurna, seorang harus menetapkan pikiran, perasaan, dan konsepsinya pada keyakinan yang teguh, dan kemudian memperdalam keyakinan itu dengan mempraktikkan esensi Islam dan melatih hatinya untuk menerima karunia Ilahi dan meneranginya dengan cahaya manifestasi-Nya. Hanya orang yang telah mencapai tingkat kebaikan sempurna seperti itu yang benar-benar dapat berbuat baik kepada orang lain secara ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Tanpa mengharapkan imbalan tidak berarti tanpa imbalan. Imbalannya justru terjamin: “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula) (QS Ar-Rahman: 60). Sebagai catatan, ayat ini didahului oleh 14 ayat mengenai surga dan diikuti oleh 18 ayat yang juga mengenai surga. Gambaran mengenai nikmatnya kehidupan di surga dalam ayat-ayat itu luar biasa, jauh melampaui imaji kita yang paling liar sekali pun. Walaupun demikian, narasinya elegan dan jauh dari kesan vulgar. Nikmatnya kehidupan surga luar biasa, tetapi nikmat karunia rida-Nya melampauinya sebagaimana tercermin dari lantunan doa orang yang tengah berpuasa (Arab: shaimun) ketika siap menghadapi momen berbuka puasa pada senja hari: “….nasaluka ridhaka wal jannata…”.

Seperti catatan akhir, istilah kebaikan sempurna dalam konteks tulisan ini perlu dilihat sebagai arah atau titik rujukan (reference point), bukan status kebaikan yang dapat diraih oleh seseorang. Kenapa? Karena kebaikan sempurna pada hakikatnya hanya milik Dia SWT.

Wallahualam….@

[1] http://www.thewaytotruth.org/heart/ihsan.html

Advertisements
Standard
Refleksi

Esensi Iman, Perlambang Wujud Mutlak dan Segitiga Sama Sisi[1]

Menurut hadits Jibril –hadits yang disampaikan melalui dialog antara Rasul SAW dengan Malaikat Jibril dalam wujud manusia di hadapan para sahabat—salah satu dimensi agama adalah Iman. Hadits itu merinci enam pilar atau rukun yang masig-masing merupakan obyek imani (kalau boleh menggunakan istilah ini):  (1) Allah SWT, (2) Malaikat-Nya, (3) Rasul-Nya, (4) Kitab-Nya, (5) Hari Akhirat, dan (6) Takdir. Hadits ini tidak dimaksudkan untuk mendefinsikan iman karena bagi para sahabat definisi itu tidak diperlukan. Mereka sudah memahami iman dan bahkan sudah menginternalisasikannya secara mantap berkat didikan langsung Rasul SAW. Bagi kita yang hidup belasan abad setelah era Rasul SAW yang penuh berkah itu, definisi Iman agaknya diperlukan agar mampu menginternalisasikan nilai-nilanya.

Sebenarnya, para ulama besar sudah banyak yang membahas definsi Iman serta mendokumentasikan dalam berbagai karya besar mereka. Sayangnya, kita pada umumnya (termasuk penulis) sulit memahami karya besar mereka karena kecenderungan bahasa kita sulit mengapresiasi secara memadai “rasa bahasa” yang mereka gunakan.

Esensi Iman

Pertanyaan mendasar ini bagi kita masih relavan: “Apakah esensi Iman?” Hemat penulis, Iman seacara esensial dapat dimaknai sebagai keyakinan jujur terhadap yang Mutlak (the Absolute, Atma) yang secara kategoris berbeda dengan yang relatif (relative, maya). Keyakinan terhadap yang Mutlak dimungkinkan karena inteligensi, satu fakultas ruhaniah yang melekat bagi manusia. Fakultas rohaniah ini mampu membedakan (to discern) yang Mutlak dari yang relatif. Tanpa kemampuan itu inteligensi bukan apa-apa.

Sebagai keyakinan jujur, Iman kira-kira pararel dengan faith dalam Bahasa Inggris (bukan believe), kata yang memiliki konotasi kepastian (certitude) dan kejujuran (veracity), kejujuran dalam pengertian intelektual, bukan moral. Hemat penulis, istilah ikhlas dalam bahasa agama merujuk pada keyakinan yang mengadung unsur kejujuran intelektual sebagaimana diisyaratkan dalam teks suci berikut:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِين٥

Padahal mereka diperintah menyembah Allah dengan ikhlas (al-Bayyinah:5)

Perlambang Wujud Mutlak

Iman, sebagai bentuk keyakinan jujur dan pasti, pada gilirannya melahirkan tiga macam kapasitas sensibilitas yang langka dalam peradaban kontemporer: (1) sensibilitas proporsionalitas (sense of proportionality) terhadap yang Mutlak, (2) sensibilitas mengenai kebutuhan berkah dari langit (grace), dan (3) sensibilitas mengenai yang suci (sense of sacred).

Sensibilitas proporsionalitas memicu pengakuan jujur (sebagai sikap intelektual, bukan moral) mengenai kekerdilan diri di hadapan yang Mutlak. Pengakuan jujur inilah yang (diharapkan) menyertai ucapan la haula wala quwwata illah billah (tidak ada daya tanpa campur tangan-Nya). Sensibilitas kebutuhan akan berkah dari langit melahirkan sikap rendah hati, serta meredam agitasi sifat arogansi dan keangkuhan. Sensibilitas mengenai yang suci melahirkan apresiasi atau sikap hormat terhadap segala sebagai simbol atau lambang wujud Mutlak:

  • langit melambangkan kekokohan, kemahaluasan, keluasan rahmat dan dan berkah-Nya;
  • bumi melambangkan kesabaran dan kebaikan-Nya;
  • guntur, letusan gunung dan tsunami melambangkan amarah-Nya;
  • keragaman flora, fauna, ras manusia –juga agama, melambangkan implikakasi alamiah atau logis dari multiplisitas ciptaan dari satu-satunya yang Esa; dan
  • “aku”, tetangga, orang lain, melambangkan keunikan atau subyektivitas dari Subyek Murni (Pure Subject), satu-satunya yang berhak mengakatakan Aku dalam pengertian sebenarnya.

Dimenesi Islam dan Ihsan

Menurut Hadits Jibril, Iman bukan satu-satunya dimensi agama: agama harus mencakup dua dimensi lainnya yaitu Islam dan Ihsan. Dalam konteks ini Islam bukan merujuk pada Agama Islam secara keseluruhan (yang mencakup juga dimensi Iman dan Ihsan), melainkan dalam pengertian ketundukan keseluruhan diri terhadap Kehendak Ilahi (Divine Will) yang diwujudkan dalam hukum syari’at. Sikap ini hanya mungkin dicapai jika ada sensibilitas mengenai proporsionalitas terhadap yang Mutlak. Ketaatan terhadap hukum atau syrai’at agama hanya efektif jika didasari oleh sikap tunduk semacam ini.

Berbeda dengan dimensi Iman yang “menghidupaknan” inteligensi, dimensi Islam “menghidupkan” dan mengarahkan kehendak: untuk beriman inteligensi harus mengikuti kecenderungan alamiahnya, untuk ber-Islam kehendak harus “melawan” kecenderungan alami egoseismenya. Risalah Islam dimaksudkan untuk menghidupkan semua fakultas rohaniah manusia, termasuk inteligensi dan kehendak. Hemat penulis, inilah yang antara lain yang diisyaratkan oleh teks scuci berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ….. ٢٤

Wahai orang-orang yang beriman! Penuhuilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu… (al-Anfal: 24)

Bagaimana dengan Dimensi Ihsan[2]? Secara esensial Ihsan dapat didefinisikan sebagai segala upaya untuk menyempurnakan atau membuat indah semua apa yang merupakan keyakinan imani dan tindakan islami. Wujud ihsani yang penting adalah kapasitas dalam hal sensibilitas mengenai keindahan (sense of beauty), suatu kapasitas yang muncul karena daya tarik atau atraksi Dia yang Maha Indah (Jammal, Beautitude). Wujud ihsani yang juga penting adalah kapasitas memperluas diri (self-extension) atau kemampuan untuk berempati terhadap orang lain, sehingga melihat orang lain seperti dirinya sebagai sama-sama “citra” Tuhan. Dimensi Ihsan dalam pengertian esnsial inilah yang membuat suatu agama –termasuk Agama Islam– berwajah teduh.

Segitiga Sama Sisi

Terniari Iman, Islam dan Ihsan merupakan dimensi agama bagi Agama Islam. Dalam pengertian yang esensial, masing-masing dimensi itu, hemat penulis, berlaku juga bagi agama lain, paling tidak dalam lingkungan agama-agama samawi yang masih memiliki leluhur geneologis dan sumber pewahyuan yang sama. Jelasnya, Milah Ibrahim, Agama Yahudi dan Agama Nasrani, semuanya memiliki unsur-unsur keimanan, keislaman dan keihsanan sebagai dimensinya. Yang memberdakan adalah penekanan atau signifikansi relatif dari masing-masing dimensi. Dalam Milah Ibrahim yang ditekankan adalah dimensi Iman sehingga jika dianalogikan dengan segitiga maka konfigurasi milah Ibrahim dapat digambarkan sebagai segitiga siku dengan sudut siku pada dimensi Iman. Atas dasar ini Ibrahim AS dikenal sebagai tokoh monoteisme[3] yang diakui tidak hanya oleh Islam, tetapi juga oleh agama lain.

Dengan alasan-alasan yang secara manusiawi tidak sepenuhnya dapat dipahami, penekanan pada dimensi Iman dalam Milah Ibrahim bergeser pada dua agama samawi berikutnya: sudut siku pada Agama Yahudi merepresentasikan dimensi Islam (Hukum), sementara pada Agama Nasrani merepresentasikan Ihsan (Kebaikan).

Bagaimana dengan konfigurasi Agama Islam? Hemat penulis, konfigurasi Agama Islam tidak dapat digambarkan oleh segitiga siku (dengan merepresentasikan konfigurasi dengan penekanan pada dimensi agama tertentu), melainkan oleh segitiga sama-sisi(*). Apa artinya? Artinya, sejauh pemahaman penulis, Agama Islam menekankan keseimbangan tiga dimensi agama. Sebagai ilustrasi, dalam Agama Islam, perintah beriman (dimensi Iman) hampir selalu diikuti oleh perintah beramal shaleh (dimensi Islam). Dalam agama samawi terakhir ini, dimensi Ihsan sangat tegas: Surat al-Mâûn menegaskan bahwa kepedulian terhadap orang miskin (dimensi Ihsan) ibarat lakmus untuk membedakan seseorang tergolong beragama atau pendusta agama.

Wallâhu’alam.


[1] Tulisan ini merupakan bagian dari draft tulisan yang berjudul Seputar Hadis Jibril: Kandungan, Makna dan Implikasi yang tengah dipersiapkan.

[2] Dimensi agama yang ketiga ini relatif tidak populer. Lihathttps://uzairsuhaimi.blog/2009/10/31/ihsan-pilar-islam-yang-terabaikan-2/

[3] Lihat “Mengenal Tokoh Ibrahim AS”, uzairsuhaimi.wordpress.com

(*) Tulisan mengenai perbedaan penekanan dalam agama-agam samawi lihat https://wordpress.com/post/uzairsuhaimi.blog/645

 

Standard
Refleksi

Signifikansi Keindahan dalam Ajaran dan Peradaban Islam

Istilah keindahan dalam artikel ini merupakan terjemahan bebas kata Arab husn yang menunjukkan kualitas baik dan indah. Keindahan sangat terkait dengan cinta sebagaimana terungkap dalam sabda Junjugan: “Allah itu indah dan mencintai keindahan”. Artikel ini melihat secara sepintas lalu signifikasi keindahan dalam ajaran Islam— khususnya pilar Ihsan– dan dalam peradaban Islam, khusunya bidang kesenian. Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap (diedit terakhir 3/4/2010) silakan klik:  Cinta dan Keindahan

Standard
Refleksi

Ihsān: Pilar Islam yang Terabaikan

Berdasarkan salah satu hadits Nabi saw Islam dapat dikatakan memiliki tiga cabang, logi, atau pilar yaitu Īmān, Islām dan Ihsān . Dua cabang pertama sangat populer karena terkait dengan apa yang dikenal sebagai Rukun Iman dan Rukun Islam. Cabang terakhir, cabang yang kurang populer, dalam hadits itu dinyatakan dalam kalimat yang sangat padat yang kira-kira berarti: “Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak mampu melihat-Nya, percayalah Dia senantiasa melihatmu”. Layaknya fungsi cabang pada pohon, kekurangan cabang pasti akan mengurangi ‘keteduhan’ pohon Islam. Layaknya bangunan gedung, kekurangan satu pilar dari yang seharausnya akan mengurangi nilai seni arsitektur, mengganggu keseimbangan daya tahan atau bahkan merobohkan bangunan Islam.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik: ihsanrev21

 

Standard