Signifikansi Keindahan dalam Ajaran dan Peradaban Islam


Istilah keindahan dalam artikel ini merupakan terjemahan bebas kata Arab husn yang menunjukkan kualitas baik dan indah. Keindahan sangat terkait dengan cinta sebagaimana terungkap dalam sabda Junjugan: “Allah itu indah dan mencintai keindahan”. Artikel ini melihat secara sepintas lalu signifikasi keindahan dalam ajaran Islam— khususnya pilar Ihsan– dan dalam peradaban Islam, khusunya bidang kesenian. Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap (diedit terakhir 3/4/2010) silakan klik:  Cinta dan Keindahan

4 thoughts on “Signifikansi Keindahan dalam Ajaran dan Peradaban Islam

  1. Kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Jika demikian, Islam pasti mendukung kesenian selama penampilannya lahir dan mendukung fitrah manusia yang suci itu, dan karena itu pula Islam bertemu dengan seni dalam jiwa manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia di dalam Islam.

  2. Ihsan mencakup semua aspek kehidupan manusia,dan Islam mewajibkan ihsan pada semua aspek kehidupan tersebut tentunya salah satunya adalah seni. “Innallaha katabal ihsana ‘alakuli syaiin” hadist Rasulullah ini menjadi landasan bagi kita untuk mengisi kehidupan ini dengan ihsan. Ketika seni dimaknai cara menjalani hidup (style life)bukan sekedar seni mengungkapkan perasaan dengan karya seni maka bagi yang mengimani “Hal Jazaul ihsanu ilal ihsanu (Ar-Rahman, 60)” akan mengiringi seni hidupnya dengan Ihsan dalam niat (lillah), ihsan dalam pelaksanaan (ma’iyatullah untuk tidak ri’a), ihsan setelah pelaksanaan (untuk tidak sum’ah). Dalam Islam tidak ada celah yang memungkinkan untuk berbuat tidak ihsan. Dalam lanjutan hadits tersebut Rasulullah memberikan contoh yang paling ekstrim (menurut saya)dengan perbuatan yang seolah-olah orang tidak mungkin berbuat ihsan yaitu “ketika membunuh, bunuhlah dengan ihsan, ketika menyembelih sembelihlah dengan ihsan”. Apabila ihsan telah menyertai ‘seni hidup’ setiap muslim maka muslimlah orang yang paling profesional dengan melakukan aktivitas sebaik-baiknya dengan Allah sebagai tujuan, dengan cara yang Allah ridhai yang dijalankan, dan balasan serta penilain dari Allah yang hal utama yang diharapkan.

    Pandangan Ibnu Qoyyim Al Jauziah dalam Madarijus Shalihin, Ihsan merupakan inti iman, ruh dan kesempurnaannya. Tempat persinggahan ihsan ini menghimpun semua tempat persinggahan iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, yang berarti semuanya tercakup di dalamnya.

    Ada tiga derajat ihsan menurut beliau, yaitu:
    1. Ihsan dalam tujuan, dengan mengarahkannya dari sisi ilmu, menguatkannya dari sisi hasrat, dan membersihkannya dari sisi keadaan. Dengan kata lain, ihsan dalam tujuan ini dilakukan dengan tiga cara:
    a. Mengarahkannya dari sisi ilmu, yaitu menjadikannya mengikuti ilmu dan keharusan-keharusannya serta terbebas dari hal-hal keduniaan, sehingga tidak ada tujuan kecuali yang diperbolehkan ilmu. Yang dimaksudkan mengikuti ilmu di sini ialah mengikuti perintah dan ketentuan syariat.
    b. Menguatkannya dari sisi hasrat, atau menyertai tujuan dengan hasrat yang bisa memberikan dorongan, sehingga tidak ada kelemahan atau keloyoan.
    c. Membersihkannya dari sisi keadaan. Artinya, keadaan pelakunya harus bersih dari noda dan kotoran, yang menunjukkan tujuannya yang kotor. Karena keadaan menunjukkan tujuan. Jika keadaannya bersih, berarti tujuannya juga bersih.

    2. Ihsan dalam berbagai keadaan, yaitu menjaganya karena cemburu, menutupinya dari segala sisi, dan membenahinya dalam kenyataan. Menjaga keadaan karena cemburu maksudnya menjaga keadaan itu agar tidak berubah-ubah. Karena keadaan berlalu seperti awan yang berjalan. Jika hak-haknya tidak dipenuhi, maka ia akan berubah. Menjaga keadaan ialah dengan cara memenuhi hak-haknya. Menutupi keadaan dari segala sisi artinya menutupinya agar tidak diketahui manusia menurut kesanggupan, tidak memperlihatkannya kecuali ada alasan atau kebutuhan atau kemaslahatan yang jelas. Memperlihatkan keadaan kepada orang tanpa ada alasan-alasan ini, bisa mengakibatkan dampak yang kurang baik, apalagi jika mereka maling, perampok dan pecemburu. Memperlihatkan keadaan kepada manusia merupakan tindakan yang bodoh, karena ini merupakan aksi syetan. Orang-orang yang lurus lebih suka menutupi keadaan dirinya, terlebih lagi dalam masalah harta. Sehingga banyak di antara mereka yang justru memperlihatkan keadaan yang sebaliknya. Membenahi keadaan dalam kenyataan artinya berusaha membenahi dan meluruskan keadaan. Karena keadaan itu bisa dicampuri yang haq dan yang batil. Sementara tidak ada yang bisa membedakan antara yang haq dan batil ini kecuali orang yang memiliki ilmu dan ma’rifat.

    3. Ihsan dalam waktu, yaitu engkau tidak menghilangkan waktu yang ada, tidak menghadirkan seseorang dalam hasrat dan menjadikan hijrahmu hanya kepada Allah semata. Tidak menghilangkan waktu yang ada artinya tidak menyia-nyiakannya. Hal ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang tegar, yang dapat memotong perjalanan antara jiwa dan hati, antara hati dan Allah. Tidak menghadirkan seseorang dalam hasrat artinya tidak menggantungkan hasrat kepada seseorang selain Allah, karena yang seperti ini termasuk syirik dalam pandangan orang yang berjalan kepada Allah.
    Siapa pun yang berjalan kepada Allah secara lurus dan ikhlas, maka dia adalah orang yang berhijrah kepada-Nya. Dia tidak boleh terlewatkan dari hijrah ini, dia harus bergabung hingga dapat bersua Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s