Hidup: Jalan Menyempit


Hidup: Jalan Menyempit[1]

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Jauh dari yang dipercayai dan diobesesikan oleh anak-anak dan kebanyakan kita (wordly man), hidup bukanlah ruang yang penuh kemungkinan yang menjanjikan untuk memperoleh aneka kesenangan hidup duniawi. Jauh dari itu. Hidup adalah satu jalan yang terus semakin menyempit: dari kekinian (present moment), sampai ke kamatian. Di ujung jalan ini ada kematian dan pertemuan dengan Tuhan, kemudian keabadian (eternity). Semua realitas ini sudah hadir dalam Salat, aktualitas nirwaktu (timeless) dari kehadiran yang Ilahi.

Jauh dari yang dipercayai dan diobesesikan kebanyakan kita, yang diperhitungkan dalam hidup bukanlah diversitas pengalaman sepanjang jalur magis yang kita kenal sebagai durasi. Jauh dari itu. Yang diperhitungkan adalah menjaga kesucian diri (perseverance) dan dzikir (remembrance) yang membawa kita keluar dari kungkungan waktu, serta mengatasi semua harapan kehawatiran kita. Dzikir ini sudah hadir dalam keabadian; di dalamnya, suksesi aksi hanyalah ilusi, Salat menyatukannya. Salat karenanya sudah merupakan suatu kematian, pertemuan dengan Tuhan, suatu kebahagiaan abadi (an eternity of bliss).

Bagi kita, empat hal sudah pasti: kekinian, kematian, pertemuan dengan Tuhan, dan keabadian. Kematian adalah jalan keluar dari suatu dunia yang tertutup, pertemuan dengan Tuhan adalah langkah pertama pada keabadian yang kekal, keabadian adalah kepenuhan wujud cahaya murni, dan kekinian adalah “tempat” dalam durasi kita yang hampir tidak dapat dipahami (ungraspable) ketika kita sudah berada dalam keabadian, satu titik waktu dalam rentang keabadian yang tak terhingga.

Dalam konteks ini, apa fungsi Salat? Salat memberi kita kesempatan penuh dan seketika untuk menikmati keabadian dan nilai-nilai ilahiahnya, kapal suci yang mengantarkan kita ke pelabuhan berikutnya, ke keheningan cahaya:

Prayer gives to the terrestrial instant of full weight of eternity and its divine value; it is a sacred ship that bears its load, through life and death, toward the further shore, toward the silence of light.

Wallâhu’alam….@


[1] Refleksi dari tulisan Schuon “Mode of Prayer” dalam Prayer Fashions Man, World Wisdom (2005:75)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s