Misteri Malam Qadar


Misteri Malam Qadar

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Bagi kaum muslimin, jika ada bulan istimewa maka itu adalah Bulan Puasa (Ramadhan), dan jika ada malam istimewa maka itu adalah Malam Qadar (lailat al-qadr). Para ulama sepakat Malam Qadar terjadi suatu malam dalam Puasa walaupun mereka berbeda pendapat mengenai ketepatan tanggalnya: ada yang berpendapat malam ke-17 (seperti halnya Perang Badar yang terkenal), ada yang ke-27, ada yang satu malam 2/3 bulan terakhir, atau mungkin ada lainnya. Perbedaan pendapat semacam itu dapat dipahami mengingat al-Qur’an tidak menyebutkan secara spesifik tanggal itu. Al-Qur’an– mungkin berbeda dengan kitab suci sebelumnya- agaknya lebih mengedepankan aspek substansi dari pada detail historis suatu peristwa. Gaya ini membuka ruang interpretasi dalam kalangan umat; akibatnya, terciptalah pluralisme tafsir mengenai Malam Qadar.

Ulama Salaf (sampai abad ke-3 Hijriah), karena sikap hati-hati, pada umumnya merasa enggan menafsirkan Malam Qadar dan ini bukan tanpa argumen. Bagi mereka Malam Qadar terkait dengan Kalam Ilahi yang bersifat abadi (qadim); konsekuensinya, tidak tepat berbicara mengenai ruang dan waktu mengenai “peristiwa” itu. Mereka cenderung mengatakan wallâhu’alam ( “Allah lebih tahu artinya”) jika diminta menafsirkan suatu ayat al-Qur’an yang bagi kebanyakan memerlukan tafsir.

Berbeda dengan Ulama Salaf, para ulama Khalaf (setelah abad ke-3 H) merasa bebas menafsirkan Malam Qadar walaupun selalu dilakukan secara hati-hati dan rendah hati[1]. Kajian mereka mengenai Malam Qadar sangat mendasar dan kritis Bahasan mereka mencakup isu-isu, misalnya, (1) Apakah Malam Qadar terjadi hanya sekali yaitu ketika turun lima ayat pertama Surat Al-‘Alq kepada Nabi Muhammad SAW di Guha Hira, atau terjadi berulang setiap datang Bulan Puasa? dan (2) Apakah al-Qur’an sekaligus (yakni pada Malam Qadar), atau bertahap selama 22 tahun, 2 bulan, 2 hari. Mengenai isu-isu ini pendapat para ulama yang tampaknya diterima oleh mayoritas umat adalah bahwa Malam Qadar terjadi setiap Bulan Ramadhan dan al-Qur’an turun sekaligus ke langit kedua tetapi selanjutnya disampaikan kepada Muhammad saw melalui malaikat Jibril secara bertahap.

Seperti disinggung sebelumnya, para ulama terdahulu selalu hati-hati dalam mengkaji masalah keagamaan. Khusus mengenai Malam Qadar, kehatian-hatian mereka sesuai dengan ayat ke-2 Surat al-Qadr[2]. Dalam kaitan ini layak dicermati pendapat Shihab[3]:

(Ketika menerjemahkan ayat ke-2) “Dan apakah yang menjadikan engkau siapapun engkau walaupun Nabi Muhammad saw tahu apa Lailat al-Qadar? Engkau tidak akan mampu mengetahui dan menjangkau secara keseluruhan betapa hebat dan mulianya malam itu. Kata-kata yang digunakan manusia tidak dapat melukiskannya dan nalarnya sukar menjangkaunya…” (Shihab, 426).

(Di bagian lain) “Ungkapan wa ma adraka tidak digunakan al-Qur’an kecuali menyangkut persoalan-persoalan besar dan hebat yang tidak mudah diketahui hakikatnya …” (Shihab, 427).

Pada Malam Qadar, diturunkan selain al-Qur’an (yang tidak disebutkan secara eksplisit), juga malaikat dan Ruh[4]. Seperti halnya, mengenai tanggal tepat Malam Qadar, al-Qur’an tidak merinci “peristiwa” “turunnya” malaikat dan Ruh yang konon, karena banyaknya malaikat yang “turun” menyebabkan Malam Qadar menjadi gelap gulita. Inilah misteri Malam Qadar! Perlu dicatat, istilah misteri dalam koneks ini dipahami dalam perspektif para tradisionalis sebagai terefleksikan dalam kutipan berikut[5]:

By ‘mystery’ we do not mean something incomprehensible in principle – unless it be on the purely rational level – but something which opens on to the Infinite, or which is envisaged in this respect, so that intelligibility becomes limitless and humanly inexhaustible. A mystery is always ‘something of God’.

Dengan ‘misteri’ dimaksudkan bukan sesuatu yang pada prinsipnya tidak dapat dimengerti – kecuali pada tingkatan rasional murni- tetapi sebagai sesuatu yang terbuka bagi yang Tak_terhingga, atau yang dibayangkan dalam semangat ini, sedemikian sehingga inteligibilitas menjadi tanpa_batas dan secara manusiawi tidak habis-habis. Suatu misteri selalu ‘sesuatu mengenai Tuhan’.

Apa yang patut dilakukan untuk menyongsong Malam Qadar? Wallahu’alam. Bagi penulis, “diturunkanya” (unzila) rahmat dan keberkahan dari “langit” pada Malam Qadar [berupa al-Qur’an, malaikat atau yang lain], layak direspon dengan cara “menaikkan” (mikraj, ta’ruju) jiwa penghuni “bumi” ke langit. Caranya, terserah kepada penghuni bumi itu sesuai dengan kapasitas dan tendensi spiritual masing-masing. Bentuknya, dapat beragam:

·         dengan memperbanyak ibadah, atau mempercantiknya;

·         dengan mempererat “tali Allah”, atau “tali manusia”;

·   dengan cara seorang hamba (Sansekerta: Bhakta) atau cara seorang ‘arif (Sanskerta: Jnâna);  atau

·         dengan sibuk melakukan “aksi” mentadabburi “rahasia” Ilahi, atau “non-aksi” secara damai (peace, serenity), salam[6] (Sanskerta: Shanti), menonaktifkan agitasi pikiran dengan harapan dapat mempermudah menerima curahan rahmat-Nya.

Hemat penulis, semua cara sama baiknya. Yang pasti, Malam Qadar terlalu berharga untuk dibiarkan lewat tanpa respon positif. Bukankah “harga”nya lebih baik dari pada 1000 bulan[7] atau 83 tahun? Wallâhu’alam bimuâdih….. @.


[1] Sejalan dengan semangat Ulama Salaf, para Ulama Khalaf memiliki tradisi kuata untuk mengucapkan atau menuliskan wallâhu’alam ketika mengakhiri kajian keagamaan mereka.

[2]وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

[3] M. Quraish Shihab (2003), Tafsir Al-Mishbah: Juz’Amma (Volume 15).

[4]تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

[5] Frithjof Schuon (2006:119), Gnosis Divine Wisdom, “Christic and Virginal Mystery”, World Wisdom.

[6] Kata “salam” tercantum dalam Surat al-Qadr ayat ke-5: سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ.

[7]لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

3 thoughts on “Misteri Malam Qadar

  1. Assalammu’alaikum Wr.Wb.

    Pak Uzair…
    Bagi saya orang awam…seperti halnya kaum Muslim kebanyakan :
    …jika ada bulan istimewa maka itu adalah Bulan Puasa (Ramadhan), dan jika ada malam istimewa maka itu asepertidalah Malam Qadar (lailat al-qadr).
    Namun demi kehati2an, jika kita berbicara tentang malam Qadar…maka saya cederung menjawab : wallahu’alam….saya tidak berani mengatakan pd siapapun kapankah terjadinya…..kapankah tepatnya….karena sesuatu yang pasti apalagi menyangkut hukum dunia Maya yang abadi keberadaannya yang tak terukur ruang danwaktunya….

    1. Maaf terpost…Belum.selesai.

      Bagi Saya sesuatu yang agung…..hanya akan terjawab oleh sesuatu yg tak ternoda, dialah sang hati nurani…..bagiian hati yg selalu mengingatkan pada kebenaran….yang tersembunyi tapi diyakini hanya oleh pemilik hati itu bagian hati yg tak terbantahkan oleh kondisi apapun. Karena Dia selalu hadir dalam hati setiap manusia.
      Kejujuran akan keyakinan…..itulah rahasianya.

      Pak Uzair……hati nurani saya mengantarkan saya untuk menyakini adanya malam qadar……malam yg lebih baik dari 1000 malam. Namun lisan saya tak kan sanggup mengatakan keberadaannya….saya tidak sanggup menyataan sesuatu yg agung……krn saya terlampau hina untuk itu.

      Tapi entahlah disetiap bulan yang agung….bulan ramadhan, saya selalu merindukan kehadirannya….seolah ingin merasakan malam yang penuh rahmat itu hadir dan saya rasakan……saya selalu menantinya.
      Menyiapkan hati yg damai….tenang……mempersiapkan kehadirannya……

      Tapi layakkah saya mendapatkannya…..jwb itupun hanya ada dalam hati nurani msg2 ybs.
      Wallahu’alam….

      Salam,
      Chryssanti

  2. Berita lailatul-qadr datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, karenanya terkait kapan dan apa yang mesti dilakukan sepatutnya merujuk kabar dari al Qur’an dan sunnah. Berikut beberapa hadits terkait yang bersumber dari Riyadhus Shalihin.
    Waktu Terjadinya Lailatul-Qadr
    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya beberapa orang lelaki dari para sahabat Nabi s.a.w. diberitahu dalam impian mengenai tibanya lailatul-qadri yaitu dalam tujuh yang terakhir – yang dimaksudkan ialah antara malam ke 22 sampai malam ke 28. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Saya melihat impian-impianmu semua itu cocok yaitu pada tujuh yang terakhir. Maka barangsiapa hendak mencari lailatul-qadri itu, hendaklah mencari-nya pada tujuh yang terakhir itu juga.” (Muttafaq ‘alaih)
    Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu beri’tikaf dalam sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan dan beliau s.a.w. bersabda: “Carilah lailatul-qadri itu dalam sepuiuh yang terakhir – yakni antara malam ke 21 sampai malam ke 30 – dari bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)
    Dari Aisyah radhillahu ‘anha pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Carilah lailatul-qadri itu dalam malam ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan – yakni malam ke 21,23, 25, 27 dan 29. (Riwayat Bukhari)
    Ibadah yang Dilakukan
    Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila telah masuk sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan, maka beliau menghidup-hidupkan malamnya – yakni melakukan ibadat pada malam harinya itu, juga membangunkan isterinya, bersungguh-sungguh – dalam ibadat – dan mengeraskan ikat pinggangnya – maksudnya adalah sebagai kata kinayah men-jauhi berkumpul dengan isterinya.” (Muttafaq ‘alaih)
    Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu bersungguh-sungguh dalam beribadat dalam bulan Ramadhan yang tidak demikian bersungguh-sungguhnya kalau dibandingkan dengan bulan lainnya, juga di dalam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan itu beliau s.a.w. bersungguh-sungguh pula yang tidak demikian bersungguh-sungguhnya kalau dibandingkan dengan hari-hari Ramadhan yang lainnya.” (Riwayat Muslim)
    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu mengerjakan i’tikaf pada sepuluh hari yang penghabisan dari bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)
    Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. mengerjakan i’tikaf pada sepuluh hari penghabisan dari bulan Ramadhan, sehingga Allah ‘Azzawajalla mematikannya, kemudian beri’tikaflah para isteri beliau s.a.w. itu sesudahnya.” (Muttafaq ‘alaih)
    Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. itu mengerjakan i’tikaf dalam setiap bulan Ramadhan sebanyak sepuluh hari. Ketika pada tahun beliau s.a.w. dicabut ruhnya – yakni tahun wafatnya, maka beliau s.a.w. mengerjakan i’tikaf sebanyak duapuluh hari.” (Riwayat Bukhari)
    Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya mengetahui pada malam apa tibanya lailatul-qadri itu, apakah yang harus saya ucapkan pada malam itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Ucapkanah: Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, gemar memberikan pengampunan, maka ampuniiah saya. Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s