Terus Bergerak: Refleksi Akhir Tahun 2018

“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” (Albert Einstein).

Kutipan di atas adalah nasehat seorang genius abad ke-20 yang mungkin paling dihormati. Ungkapannya khas: padat dan jelas. Terkait dengan kepadatan ini konon, jika ada mahasiswa atau rekannya datang berkonsultasi dengan membawa rumus teori fisika-teoretis yang panjang dan kompleks,  maka dia akan segera meminta menyempurnakannya. Komentarnya kira-kira: alam ini indah dan sederhana, rumus mengenai hukum alam yang benar harus memenuhi dua syarat itu.

Terkait dengan kejelasan, ungkapannya begini: “You do not really understand something unless you can explain it to your grandmother.” Jadi, untuk memeriksa apakah penulis benar-benar mengerti posting ini, ada baiknya perlihatkan tulisan ini kepada nenek Anda, jika masih ada.

Gerakan Bertujuan

Inti nasehat Eisntein di atas adalah kita harus terus bergerak. Nasehat Iqbal kepada kalangan pemuda juga sama: “Kalau Anda berhenti di tengah jalan maka Anda akan tergilas zaman”. Semuanya memang bergerak. Ini alamiah (atau lebih pas mungkin Sunnatullah).

Pergantian tahun yang akan terjadi dalam hitungan jam kedepan juga terjadi akibat pergerakan, pergerakan tanpa henti dari bumi mengelilingi matahari, gerakan revolusioner bumi.

Pergantian hari dari 31/12/2018 ke 1/1/2019 juga alamiah karena pergerakan, pergerakan rotasi bumi mengelilingi porosnya. Pergerakan rotasi sedemikian pentingnya bagi Muslim sehingga dijadikan acuan penetapan waktu salat:

Saat matahari terbenam ada Magrib, saat matahari matahari terbit ada Shubuh. Magrib dan Subuh mempertemukan dua ekstrem: yang pertama menandai waktu malam, yang kedua waktu siang. Tetapi Magrib masih agak terang dan belum benar-benar malam; demikian juga, Shubuh masih agak gelap sehingga belum benar-benar siang.

Salat Isya (fardhu) dan Salat Isyraq (sunnah, kurang populer) dilakukan untuk memastikan waktu: yang pertama ketika siang sudah hilang sempurna, yang kedua ketika malam sudah hilang sempurna.

Salat Zuhur dilakukan ketika gerakan rotasi pada posisi sedemikian rupa sehingga paparan matahari mencapai titik maksimal. Salat Ashar dilakukan ketika matahari condong ke Barat dan memberikan aba-aba kedatangan kehidupan malam.

Apa arti semua ini bagi Muslim? Salah satunya, sebagai sarana edukasi agar senantiasa memiliki kesadaran waktu, melalui gerakan ritual, dan pada momen yang sejalan dengan irama alam. Tujuannya, memperbaharui konektivitas dengan Rabb SWT. Dapat dikatakan, gerakan salat menyeimbangkan aspek fisikal, tujuan salat menyeimbangkan aspek mental-spiritual.

…. gerakan salat menyeimbangkan aspek fisikal, tujuan salat menyeimbangkan aspek mental-spiritual.

Daya Internal

Bumi melakukan gerakan rotasi (pada sumbunya) tetapi juga, pada saat yang sama tanpa henti (gerakan revolusioner mengelilingi matahari). Demikian juga dengan semua planet lain dalam sistem matahari (solar system), semua bergerak menurut garis edar masing-masing, mengelilingi matahari yang berumur 4.6 milyar tahun dan memiliki massa 332,900 massa bumi itu [1]. Planet-palent ini seakan-akan bertawaf mengelilingi “Ka’bah” matahari, tanpa henti. 

   Sumber: Wikipedia

Matahari menjadi pusat gerakan revolusi planet karena massanya relatif sangat besar. Planet tidak “terserap” matahari karena letak matahari relatif sangat jauh dan juga karena daya gerakan internalnya. Hikmahnya, tanpa daya internal, kita tidak akan memiliki garis edar sendiri bahkan berisiko “hilang” terserap oleh pihak lain. Bagi Muslim, salat teratur memperbaharui daya internal yang dimaksud.

Kerdil

Seperti planet, matahari juga bergerak melingkari Galaksi Bima Sakti. Galaksi ini berdiameter 100,000 tahun cahaya dan tetangga terdekatnya, Galaksi Andromeda berjarak 2,5 juta tahun cahaya. Lebih dari itu, di alam ini terdapat sekitar 200 milyar-2 triliun galaksi yang dapat diamati [2]. Kita terlalu angkuh jika angka-angka ini tidak dapat membantu melihat kebesaran Pencipta Alam dan betapa kekerdilan diri.

Sebagai catatan, galaksi adalah sistem bintang yang terikat secara gravitasi, sisa-sisa bintang, gas antar bintang, debu, dan materi gelap. Jumlah bintang dalam suatu galaksi bervariasi dan berkisar antara beberapa ratus juta bintang sampai seratus triliun bintang. Masing-masing bintang ini mengorbit pusat massa galaksi. Pola pergerakan bintang-bintang mengelilingi pusat Galaksi konon sangat menyerupai pergerakan tawaf mengelilingi Ka’bah.

Pola pergerakan bintang-bintang mengelilingi pusat Galaksi konon sangat menyerupai pergerakan tawaf mengelilingi Ka’bah.

Mengenai orbit benda langit  teks suci telah mengilustrasikannya sekitar 1.5 milenium yang lalu (Quran 36:38-40):

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.

Ulul Albab

Tetapi manusia, sekalipun kerdil dalam konteks kosmos, adalah makhluk pilihan untuk menyandang amanah-Nya. Ia diciptakan, dalam bahasa agama-agama samawi (jadi bukan hanya Islam), menurut gambar-Nya. Posisinya mulia. Keseluruhan alam ini diciptakan “untukmu” (Quran 2:29). Manusia terikat kontrak primordial untuk menyandang misi-ganda: sebagai hamba dan khalifah-Nya (Quran 2:30).

Untuk mengemban misi-ganda ini manusia diberi akal. Orang yang berakal dalam konteks ini disebut ulul-albab, suatu istilah qurani yang merujuk pada orang yang mampu memadukan dzikir dan pikir, mampu memikirkan fenomena alam sambil terus mengingat-Nya, serta mampu menarik kesimpulan mengenai makna penciptaan alam ini. [Bacaan lanjut mengenai ulul albab dapat diakses di SINI.] Untuk keperluan tulisan ini, teks suci berikut ini (Quran 3:190-191) menjeaskan istilah ulul albab yang dimaksud: 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malan dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi orang yang berakal.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Dinyatakan secara berbeda, uluil-albab adalah orang yang dapat memberikan respons positif terhadap teks suci ini (Quran 41:53):

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru (*) dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidak cukupkan (bagi kamu) bahwa Tuhan-Mu saksi atas segala sesuau.

(*) Jalalain menafsirkan afak dengan aqtaaris as-samawat wal-ardh; agaknya sejalan dengan konsep kita mengenai alam keseluruhan. Wallahualam bimuradih.

Gaya Al-Quran agaknya dimaksudkan agar Al-Quran dibaca oleh sebanyak mungkin orang sehingga sebanyak mungkin yang diselamatkan (tanpa mengabaikan kebutuhan khusus  elit yang memiliki inteleksi di atas rata-rata). Dan ini berhasil. Menurut (Hitti 1960:126 [3]) Al-Quran adalah buku paling banyak dibaca. Selain itu, seperti dikatakan Ramadan [4], Al-Quran miliki semua:

… The Koran belongs to everyone, free of distinction and of hierarchy. God responds to whoever comes to his Word..The Koran is a book for both heart and mind… No sheik is needed, no wise man, no confidant. Ultimately, the heart knows.” Such a heart, humble and alert, is the faithful friend of the Koran.

Kutipan di atas sengaja tidak diterjemahkan. Alasannya, kemampuan berbahasa Sunda penulis belum tentu lebih baik dari pada kemampuan Bahasa Inggris pembaca.

Wallahualam…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Sun.

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Galaxy.

[3] Hitti, Philip K. (1960), History of the Arabs, MacMillan & Co Ltd.

[4]. Lihat http://www.virtualmosque.com/islam-studies/islam-101/belief-and-worship/reading-the-Koran-by-tariq-ramadan/.

[Bagi yang menghendaki versi pdf dari posting ini silakan klik INI]

 

Bencana Alam dan Mata-Batin: Catatan Akhir 2018

Anak Luar Biasa

Catatan akhir tahun kali ini sulit mengabaikan musibah yang baru saja terjadi, musibah yang merupakan sidik jari dari karya seorang anak, Anak Krakatau. Sidik jarinya tersebar di mana-mana di sekitar TKP. Sidik jari itu antara lain berupa puing-puing bangunan, reruntuhan pepohonan, sekitar 1,500 saksi mata yang terluka, dan lebih dari 400 jenazah manusia[1]. Singkatnya, sidik jarinya banyak dan kasat mata. Agaknya tidak ada celah bagi anak itu untuk mengelak dari “tuduhan” publik.

“Anak” ini luar biasa. Proses kelahirannya berlangsung lama dari Agustus 1883 sampai Februari 1884, melalui letusan “perut ibu” yang disertai tsunami sehingga menelan korban setidaknya 36,417 jiwa manusia[2]. Letusan ini dianggap paling mematikan dan paling merusak. Tetapi ini dalam sejarah Indonesia sebenarnya kedua terbesar setelah letusan Gunung Tambora yang terjadi tahun 1815 (lihat Tabel).

Dari tabel di atas tampak Indonesia memberikan kontribusi “lumayan”: 2 dari 12 letusan gunung terdahsyat.

Kembali ke karya Anak Krakatau. Karya terakhirnya  diciptakan 22 Desember 2018 yang lalu dengan cara meletuskan diri. Cara ini bagi Anak Krakatau sesuatu yang biasa-biasa saja, normal, alamiah, atau sesuai kodratnya. Letusan ini memicu longsor di bawah laut yang bagi tanah longsor normal sesuai kodratnya. Longsor ini memicu tsunami yang bagi laut juga sesuatu yang normal. Tsunami itulah yang meninggalkan sidik jari yang bermasalah– tepatnya dimasalahkan oleh ras manusia—bagi “kemanusiaan”. Kita menyebutnya tragedi kemanusiaan. (Berhakkah kita menyebut demikian?)

Terlepas dari masalah bahasa, yang jelas “tragedi” ini riil, masif dan dikhawatirkan belum akan segera berakhir[3].  Yang juga jelas, tragedi ini tragedi ini mendorong semua komponen bangsa untuk bersatu-padu berupaya untuk mengatasinya. Kita menyaksikan keseriusan pemerintah, kedermawanan pihak swasta, dan keikhlasan para relawan baik yang bersifat individu maupun yang tergabung dalam NGOs, semuanya berupaya untuk mengatasi tragedi ini. Jangan diabaikan peran remaja dan kaum ibu yang secara spontan menggalang dana untuk membantu para korban. Inilah modal sosial bangsa ini yang besarnya tampak ketika terjadi ketika tragedi tsunami Aceh akhir 2014 yang lalu.

…. besarnya modal sosial bangsa ini tampak ketika terjadi tragedi tsunami Aceh akhir 2014 yang lalu.

Tragedi ini riil dan masif sehingga memperoleh sorotan media masa internasional secara luas. Demikian riilnya tragedi ini sehingga ia mengundang rasa empati, belasungkawa dan pernyataan siap membantu dari tokoh-tokoh dunia: PM Australia, PM India, Wakil PM Malaysia, Presiden AS, Presiden dan PM Rusia, Ratu Inggris dan Suami, Presiden dan Menlu Turki, dan Presiden Taiwan. Sekadar untuk memberikan gambaran mengenai ucapan belasungkawa mereka, berikut ini ungkapan dari Menlu Turki: “We wish the mercy of Allah be upon those who lost their lives, speedy recovery to the injured and convey our condolences to the brotherly people of Indonesia”.

Bukan Satu-satunya

Tragedi Tsunami Selat Sunda riil dan masif. Tetapi ini bukan satu-satunya bencana yang melanda Indonesia selama 2018. Sebelumnya terjadi dua bencana lainnya yaitu Gempa Lombok dan Tsunami Palu dan Sekitar. Yang pertama berupa gempa darat yang berkekuatan 6,4 SR di Pulau Lombok pada tanggal 29 Juli 2018 pukul 06.47 WITA. Pusat gempa terletak sekitar 47 kilometer di Timur Laut Kota Mataram dengan kedalaman 24 kilometer. Guncangan gempa ini dirasakan di seluruh Pulau Lombok, Pulau Bali dan Pulau Sumbawa. Korban dilaporkan 20 orang meninggal dunia dan sekitar 10,000 rumah rusak Berat[4].

Bencana kedua dimulai dengan gempa bumi di Semenanjung Sulawesi pada tanggal 28 September 2018. Pusat gempa terletak di kawasan pegunungan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, dengan kekuatan 7.5. diikuti dengan gempa susulan 6.1. Gempa dirasakan di di Samarinda (Kalimantan Timur) dan Tawau (Malaysia). Bencana diikuti dengan tsunami dekat Selat Makassar sekitar 30 menit kemudian. Dahsyatnya bencana ini– gabungan gempa bumi dan tsunami—terlihat dari besarnya korban jiwa manusia: 2,245 meninggal, 4,488 terluka dan 1,075 hilang. Korban ini tersebar di empat kota/kabupaten: Palu, Sigi, Donggala, Parigi Moutong[5] .

Yang perlu dicatat, semua bencana ini mempertontonkan selain tragedi kemanusiaan tetapi juga kebesaran modal sosial Bangsa Indonesia.

Korban dan Anugerah

Kenapa bencana alam sering melanda Indonesia? Karena wilayah geografis Indonesia terletak dalam jalur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Dengan kondisi ini Indonesia termasuk rawan bencana alam. Ini takdir bangsa ini.  Yang tidak boleh luput dari perhatian adalah bahwa kondisi geologis yang rawan ini tidak hanya meminta korban tetapi juga melimpahi banyak anugerah. Anugerah itu antara lain berupa kesuburan lahan pertanian, kekayaan hutan, aneka-ragam hayati-nabati, kekayaan mineral, dan sebagainya.

Respons budaya berupa “sesajen” bagi gunung atau “tempat keramat” dari masyarakat tradisional dapat dilihat sebagai perwujudan kesadaran kolektif mengenai aspek positif bencana berupa limpahan anugerah alam ini. Agama tentu dapat memberikan kerangka teologis yang sesuai tetapi semangatnya sama yaitu sikap syukur.

Bencana dan Syukur. Apa ada hubungan antara keduanya? Bagi yang memiliki perspektif modern jawabannya negatif: tidak ada hubungan antara keduanya; “ngak nyambung”, istilahnya. Bagi orang beragama jawabannya positif: dalam analisis terakhir setiap peristiwa, termasuk bencana alam, terjadi karena izin-Nya. Dalam bahasa teologis: “Tuhan adalah sebab efisien setiap peristiwa”.

Atas dasar pemikiran semacam itu orang beragama akan melakukan upaya maksimal untuk mengatasi akibat bencana alam tetapi disertai doa memohon perlindungan kepada Penguasa-alam.

Malampaui al-Kaun

Secara teknis geologis kasus Tsunami Palu dan Tsunami Selat Sunda konon berbeda. Dalam kasus pertama tsunami dipicu oleh Gempa Bumi (seperti halnya Tsunami Aceh akhir 2004), sementara yang kedua oleh longsor bawah laut akibat letusan gunung.

  • Kasus Pertama: Gempa Bumi —>Tsunami;
  • Kasus Kedua: Letusan Gunung —> Longsor di Bawah Air —> Tsunami

Pertanyaannya: Apa faktor yang memicu gempa bumi (kasus pertama) atau letusan gunung (kasus kedua)? Sains tidak dapat menjawab pertanyaan ini.

Lalu apa jawabannya?

Penulis tidak dapat menjawabnya tetapi berkeyakinan masing-masing kita dapat menjawabnya, tepatnya merasakannya.

Upaya untuk merasakan adanya faktor yang memicu gempa bumi atau letusan gunung dapat dimulai dengan mencermati istilah al-kaun yang menurut para sufi mencakup semua apa yang dapat kita lihat, kita dapat rasakan dan dapat kita ukur. Jadi termasuk dalam al-kaun ini adalah topik yang kita bicarakan: gempa bumi, letusan gunung, tanah longsor, dan tsunami. Mata fisik hanya mampu menjangkau al-kaun ini; demikian juga Sains.

Tetapi manusia berpotensi melampaui al-kaun ini. Rahasianya, menurut para sufi, kita memiliki selain mata-lahir juga mata-batin (Arab: bashirah). Sayangnya, daya lihat mata-batin kita sering terhalangi oleh apa yang menurut istilah Al-Hikam “awan-awan al-kaun”. Untuk menghalaunya kita perlu cahaya makrifat.

…. daya lihat mata-batin kita sering terhalangi oleh apa yang menurut istilah Al-Hikam “awan-awan al-kaun”.

Agar memperoleh sedikit gambaran mengenai hal berikut ini disajikan terjemahan Hikmah ke-14 dari hikmah ke-14 Al-Hikam karya Ibn Athaillah (Serambi, 2003):

Siapa yang melihat alam namun tidak menyaksikan Tuhan di dalamnya, padanya, sebelumnya, atau sesudahnya, maka ia benar-benar memerlukan cahaya, dan ‘surya” makrifat terhalangi baginya oleh “awan” benda-benda ciptaan.

(Faman raa al-kaun walam yasyhad fihi ao ‘indahu ao qablahu ao ba’dahu faad ‘a wazahu wujudul anwar, wahjibatu ‘anhu syumusul al-ma’arifi bisuhubi al-autsar).

Wallahualam….@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/2018_Sunda_Strait_tsunami.

[2] https://www.liputan6.com/news/read/3855865/letusan-gunung-krakatau-1883-guncangkan-dunia-hingga-bulan-menjadi-biru.

[3] Citra satelit NASA memperkuat kekhawatiran ini.

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Lombok_Juli_2018.

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/2018_Sulawesi_earthquake_and_tsunami..

Tsunami, Lagi

Pray for seventeen band… terkena ombak saat manggung di pantai carita… beberapa crew dan personil blm ditemukan… mohon do’a agar semuanya baik2 saja

Kembali kita dikagetkan oleh berita bencana alam yang melanda kawasan nusantara ini. Untuk ke sekian kalinya. Kali ini bencana itu adalah tsunami yang melanda sebagian kawasan Lebak, Serang dan Lampung. CNN, berdasarkan laporan resmi per Sabtu pagi, melaporkan bencana ini mengakibatkan korban meninggal paling tidak 20 orang, cedera 165 orang dan hilang 2 orang. Informasi terakhir ini (kasus yang hilang) agaknya patut dipertanyakan. Indikasinya terlihat dari kutipan di atas yang ditulis Rian (dikutip Kompas Minggu 23/12/2018)[1]. Tetapi kita memakluminya karena peristiwanya baru terjadi.

Kita yang jauh dari lokasi kejadian hanya dapat turut prihatin serta berdoa: semoga para korban memperoleh bantuan pelayanan yang layak dari pihak berwajib dan keluargan mereka diberkati-Nya kesabaran dan keikhlasan untuk menerima ketentuan takdir ini secara ikhlas.

Paling tidak ada dua catatan pinggir yang yang layak kita direnungkan. Pertama, Indonesia ditakdirkan dilewati oleh apa yang dikenal sebagai kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Dikatakan cincin karena bentuk kawasan ini secara keseluruhan berbentuk cincin (tidak mirip-mirip amat sih, terbuka lagi). (Lihat Gambar).

 

Seperti terlihat pada gambar, hampir semua kawasan Indonesia tercakup dalam kawasan ini. Artinya, Indonesia ditakdirkan rawan bencana alam khususnya gempa vulkanik, gempa tektonik serta bencana “turunannya” termasuk tsunami.

Kedua, bencana semacam ini sulit (kalau dapat) diprediksi. Taraf sains-teknologi kita sejauh ini tak berdaya memprediksi kejadiannya, apalagi mencegahnya.

Singkatnya, dua catatan itu adalah takdir dan ke-tak-berdaya-an manusia. Ini fakta sederhana, plain and simple. Jadi, jelas keliru istilah-gagah “kita mengendalikan alam”; yang realistis “kita dikendalikan alam”. Jika tertarik lebih lanjut mengenai hal ini klik saja di SINI.

Menghadapi fakta plain-and-simple ini, bagaimana menyikapinya? Yang realistis adalah berserah diri kepada penguasa alam ini; aslama dalam Bahasa Arab-nya, seakar kata dengan Islam…..@

[1] https://entertainment.kompas.com/read/2018/12/23/050900410/tsunami-banten-grup-band-seventeen-belum-ditemukan#utm_source=insider&utm_medium=web_push&utm_campaign=band_seventeen_231218_07.00&webPushId=MzA3MA==#insider-primary-action=insider-primary-action

Natal dalam Al-Quran

Umat Kristiani tengah bersiap merayakan Natal. Bagi Muslim, paling tidak di Indonesia, berpartisipasi dalam perayaan ini masih diperdebatkan hukumnya. Ada ulama yang membolehkannya, ada pula yang melarangnya. Bagi yang membolehkan agaknya berpendapat bahwa perayaan natal bukan merupakan bagian dari ritual keagamaan, tetapi bentuk peringatan atau perayaan. Bagi yang melarang, pertimbangannya mungkin, partisipasi dalam perayaan natal dikhawatirkan menggelincirkan Umat dalam hal tauhid atau keyakinan mengenai keesaan Tuhan YME. Yang kedua dapat dipahami karena Islam sangat tegas dalam hal tauhid ini.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas masalah hukum ini selain karena bukan merupakan topik tulisan, juga karena penulisnya tidak memiliki kapasitas untuk membahasnya. Tulisan ini terfokus pada fakta Qurani yang sederhana: Al-Quran menyinggung masalah kelahiran Nabiyullah Isa Ibn Maryam Alahim as-Salam (AS).

  • Nabiyullah (artinya, Nabi Allah): Menegaskan status kenabian Nabi Isa AS;
  • Maryam (Inggris: Maria): Penegasan bahwa Nabi Isa adalah putra Maryam; Al-Quran hampir tidak pernah menyebut nama Isa tanpa menyebut Ibn Maryam; dan
  • AS: Ucapan salam bagi para Nabi; bagi Muslim tidak sopan (Arab: suul adab) menyebut nama seorang nabi tanpa dibarengi ucapan salam ini.

Selamat Lahir-Wafat-Bangkit

Jika kata Natal diartikan sebagai ucapan Selamat Lahir maka kita dapat menemukannya dalam Al-Quran. Kata ini diucapkan secara langsung oleh Nabi Isa AS ketika masih bayi. Ini tentu merupakan salah satu mu’jizat nabiyullah ini. Ini ayatnya (Al-Quran 19:30-33):

Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang Nabi (ayat ke-30),

Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup (ayat ke-31),

Dan berbakti kepada ibuku, Dan Dia tidak menjadikan aku seorang sombong lagi celaka (ayat ke-32),

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan kembali (Quran 19: 33)

Redaksi ayat ke-31 dan  ke-33 dalam kondisi umum dapat mencerminkan kesombongan. Tetapi itu mustahil bagi seorang nabi dan secara eksplisit ditentang oleh ayat ke-32. Dengan demikian, redaksi ayat secara keseluruhan mencerminkan kalimat berita, berita kenabian (Arab: nubuwwah). Ayat ke-33, misalnya, nubuwwah mengenai tradisi peringatan atau perayaan kelahiran (natal), kewafatan dan kebangkitan nabi Isa AS. Nubuwat ini terbukti: Umat Kristiani sejagat merakan ketiganya

Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS

AL-Quran menyebutkan ucapan selamat lahir-wafat-bangkit tidak hanya merujuk pada Nabi Isa AS, tetapi juga pada Nabi Yahya AS (Inggris: Yohannes). Yang terakhir ini dalam tradisi Kristiani dikenali sebagai nabi yang membaptis Nabi Isa AS.

Fakta linguistik yang menarik untuk dicatat adalah bahwa ucapan selamat lahir-wafat-bangkit kepada Nabi Isa AS menggunakan kata orang-pertama (Arab: mutakallim) seperti terlihat dalam kutipan ayat di atas (ayat ke-33). Ini berbeda dengan ucapan selamat kepada Nabi Yahya AS yang menggunakan kata orang-ketiga (Arab: gaib). Ini ayatnya:

Dan kesejahteraan bagi dirinya (Nabi Yahya AS) pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dibangkitkan hidup kembali (Quran 19:15).

Fakta perbedaan linguistik ini, sejauh pengetahuan penulis, luput dari perhatian para para teolog (Ahli Kalam) di kalangan Ahli Kitab (sebutan untuk Yahudi dan Nasrani, sebutan terhormat) maupun Islam. Dugaan penulis, kajian mendalam dan kritis mengenai hal ini, akan memperkaya tafsir teologis sosok kedua nabiyullah ini. Wallahualam

Menyegarkan Keteladanan Nabi

Secara kebahasaan, redaksi ayat ke-33 bersifat pemberitaan dan sama-sekali tidak terkesan anjuran maupun perintah untuk merayakan natal. Di dalam Al-Quran tidak ada ayat yang berisi anjuran apalagi perintah untuk memperingati hari kelahiran seseorang, termasuk kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW.

Fakta Umat Islam, paling tidak di Indonesia, menyelenggarakan peringatan maulid dapat dilihat sebagai respons budaya untuk menghormati Nabi mereka. Selain itu, mayoritas Umat (paling tidak di Indonesia) melihat peringatan maulid sebagai sarana untuk menyegarkan ingatan manusia (bukan hanya Umat Islam) mengenai keteladanan hidup Nabi SAW, dalam semua aspek kehidupan. Mengenai hal ini ada satu ayat yang menyebutkannya secara eksplisit yaitu Ayat ke-21 Surat ke-33.

Sebenarnya menurut Al-Quran bukan hanya Nabi Muhammad SAW yang menjadi “teladan yang baik” (Arab: uswah hasanah), tetapi juga Nabi Ibrahim AS (dan para pengikutnya). Mengenai Nabi Ibrahim AS yang merupakan leluhur para penganut agama samawi[1] ini bahkan ada dua ayat: ayat ke-4 dan ayat ke-6 Surat ke-60.

Wallahualam….@

 

[1] Bahasan lebih lanjut terkait dengan isu ini dapat dilihat di https://uzairsuhaimi.blog/2018/04/30/titik-temu-agama-samawi/.

Bermain Sepak Bola Tanpa Gawang

Dalam suatu ceramah, seorang kiai besar menganalogikan kita semua tengah bertanding sepak bola. (Bola Sepak, kata orang di negeri Jiran.) Tapi anehnya, sebagian kita tidak sadar tengah melakukannya. Sebagian lagi– sekalipun menyadari tengah melakukan pertandingan bola, dibekali keterampilan tinggi, serta dipenuhi semangat bermain– tidak mengenali tujuan atau gawang ke mana bola harus diarahkan. Sebagian di ataranya– sekalipun mengenali tujuan– tidak menatai aturan bermain Sepak Bola. Sisanya–  sekalipun bersedia menaati aturan– berharap memperoleh kemenangan tanpa lawan, cobaaan atau tantangan dari kesebalan lawan.

Sang Kiai, ketika menggunkan analoginya, sebenarnya tengah mengajarkan ilmu hikmah menggunakan satu kitab klasik yang sangat populer sedunia; yaitu, Al-Hikam. Kitab ini adalah karya Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari (Iskandariah, Mesir, 1250-1309), mursyid ketiga dari Thariqah Syadziliyah, yang hidup di masa kekuasaan Dinasti Mamluk[1].

Tetapi berbeda dengan model penceramah lain, ia menghendaki agar pelajaran AL-Hikam tidak hanya bersifat teoretis apalagi sekadar berfungsi sebagai aksesoris, untuk “gaya-gayaan”. Sebaliknya, Sang Kiai berkomitmen agar pelajaran Al-Hikam dapat memandu kehidupan  praktis sehari-hari para Salik.

Sang Kiai berkomitmen agar pelajaran Al-Hikam dapat memandu kehidupan praktis sehari-hari para Salik.

Apa itu Salik? Untuk mudahnya, Salik adalah orang yang tengah berada dalam perjalanan pulang kembali kepada Tuhan (istilah Qurani, rajiun). Dalam pengertian ini, Salik berlaku bagi semua orang, tanpa kecuali. Orang yang tidak menyadari status Salik ini yang dimaksudkan Sang Kiai dengan pemain bola yang tidak sadar tegah bermain bola.

Jalan yang ditempuh oleh Salik disebut Suluk. Karena Salik berlaku bagi semua orang maka hukum mempelajari Ilmu Suluk fardhu ‘aini, kata Sang Kiai; artinya juga berlaku umum. Dengan kata lain, bagi Sang Kiai, Ilmu Suluk bukan ilmu elitis!

Salik berlaku bagi semua orang,… hukum mempelajari Ilmu Suluk fardhu ‘aiani,… Ilmu Suluk bukan ilmu elitis!

Tanpa ilmu Suluk hidup kita jadi random (istilah orang statistik), tidak memiliki probability density function atau pdf (kata orang statistik), tidak memiliki pola, tidak memiliki tujuan. Itulah yang dimaksud dengan pemain bola yang tidak memiliki gawang (gawang lawan), ke mana bola harus diarahkan dengan mengerahkan segala daya-upaya-semangat (himmah, dalam istilah Al-Hikam, Hikmah ke-2).

Dalam menjalani Suluk tentu ada aturan yang harus ditaati berupa syariah (aturan umum) dan arahan mursyid (pembimbing Salik). Tanpa ketaatan itu maka mustahil bagi Suluk untuk menuju ke arah yang benar, bahkan berbahaya, serta sampai dengan selamat (wusul, istilah Sufi) ke tujuan akhir Suluk yaitu (keredaan) Tuhan. Itulah analogi dari ke-tidak-taat-an pada aturan permainan sepak bola.

Itulah “keanehan” sebagian besar kita. Ada lagi keanehan yang luar biasa, yang benar-benar absurd: ingin memperoleh kemenangan, bahkan ingin menjadi juara, tetapi tidak menghendaki tantangan dari kesebelasan lawan.

Tantangan dari kesebelasan lawan ini yang dalam kehidupan beragama disebut dengan cobaan (Rab: balaa). Tantangan ini harus dihadapi oleh semua orang, tanpa kecuali, suka atau tidak suka.

Mengenai cobaan ini Sang kiai mengutip ayat berikut (Quran 2:155-157):

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Inna lillahi “wa inna ilahi wa iian ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami miliki Allah dan kepada-Nya kami kembali).

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petujnjuk.

Dari ayat ini jelas status Salik kita yang tengah “kembali” ke Tuhan (rojiun). Istilah rojiun  berlaku umum dalam semua situasi, bukan hanya dalam konteks kematian. (Menurut penuturan Sang Kiai, “kelas” Umat kebanyakan, bahkan  kebanyakan  kalangan cendekia dan pembesar kerajaan di negara Jiran, sampai saat ini, baru memahami rojiun dalam konteks peristiwa kematian.)

Istilah rojiun  berlaku umum dalam semua situasi, bukan hanya dalam konteks konteks kematian.

Sang Kiai menafsirkan ayat di atas sangat kontekstual.

Ketakutan: Kamtibmas;

Kelaparan dan kekurangan buah-buahan: Kecukupan pangan serta kecukupan gizi; dan

Kekurangan harta: kemiskinan struktural.

Dengan tafsir kontekstual semacam ini maka tidak mengherankan jika untuk menangani “cobaan” Sang Kiai berharap lebih banyak kepada kalangan negarawan-ilmuan-cendekiawan-birokrat dari kepada ulama.  Wawasan luar biasa bagi seorang kiai pesantren tradisional (salafiyah).

Sumber Gambar: Google

Sebagai catatan akhir, Sang Kiai yang dimaksudkan dalam tulisan ini bukan tokoh fiktif. Dia adalah tokoh riil, masih hidup, masih mengelola pesantren tradisional, ulama besar kalangan Nahdiyin yang akrab dengan Muhammadiyah, tokoh karismatik MUI, populer di negara-negara Jiran termasuk Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Nama beliau adalah K.H. Zezen Zaenal Abidin. Bagi yang berminat mengakses rekaman pengajian beliau mengenai AL-Hikam, silakan kunjungi alamat ini:

https://ceramahhikmah.blogspot.com/2015/05/ceramah-hikam-mp3-kh-zezen-zaenal-abidin.html#more.

[1] Lihat  https://www.qudusiyah.org/id/kajian/al-hikam/; juga http://nurulmakrifat.blogspot.com/2013/09/terjemah-kitab-al-hikam-ibnu-athaillah.html.