Natal dalam Al-Quran


Umat Kristiani tengah bersiap merayakan Natal. Bagi Muslim, paling tidak di Indonesia, berpartisipasi dalam perayaan ini masih diperdebatkan hukumnya. Ada ulama yang membolehkannya, ada pula yang melarangnya. Bagi yang membolehkan agaknya berpendapat bahwa perayaan natal bukan merupakan bagian dari ritual keagamaan, tetapi bentuk peringatan atau perayaan. Bagi yang melarang, pertimbangannya mungkin, partisipasi dalam perayaan natal dikhawatirkan menggelincirkan Umat dalam hal tauhid atau keyakinan mengenai keesaan Tuhan YME. Yang kedua dapat dipahami karena Islam sangat tegas dalam hal tauhid ini.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas masalah hukum ini selain karena bukan merupakan topik tulisan, juga karena penulisnya tidak memiliki kapasitas untuk membahasnya. Tulisan ini terfokus pada fakta Qurani yang sederhana: Al-Quran menyinggung masalah kelahiran Nabiyullah Isa Ibn Maryam Alahim as-Salam (AS).

  • Nabiyullah (artinya, Nabi Allah): Menegaskan status kenabian Nabi Isa AS;
  • Maryam (Inggris: Maria): Penegasan bahwa Nabi Isa adalah putra Maryam; Al-Quran hampir tidak pernah menyebut nama Isa tanpa menyebut Ibn Maryam; dan
  • AS: Ucapan salam bagi para Nabi; bagi Muslim tidak sopan (Arab: suul adab) menyebut nama seorang nabi tanpa dibarengi ucapan salam ini.

Selamat Lahir-Wafat-Bangkit

Jika kata Natal diartikan sebagai ucapan Selamat Lahir maka kita dapat menemukannya dalam Al-Quran. Kata ini diucapkan secara langsung oleh Nabi Isa AS ketika masih bayi. Ini tentu merupakan salah satu mu’jizat nabiyullah ini. Ini ayatnya (Al-Quran 19:30-33):

Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang Nabi (ayat ke-30),

Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup (ayat ke-31),

Dan berbakti kepada ibuku, Dan Dia tidak menjadikan aku seorang sombong lagi celaka (ayat ke-32),

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan kembali (Quran 19: 33)

Redaksi ayat ke-31 dan  ke-33 dalam kondisi umum dapat mencerminkan kesombongan. Tetapi itu mustahil bagi seorang nabi dan secara eksplisit ditentang oleh ayat ke-32. Dengan demikian, redaksi ayat secara keseluruhan mencerminkan kalimat berita, berita kenabian (Arab: nubuwwah). Ayat ke-33, misalnya, nubuwwah mengenai tradisi peringatan atau perayaan kelahiran (natal), kewafatan dan kebangkitan nabi Isa AS. Nubuwat ini terbukti: Umat Kristiani sejagat merakan ketiganya

Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS

AL-Quran menyebutkan ucapan selamat lahir-wafat-bangkit tidak hanya merujuk pada Nabi Isa AS, tetapi juga pada Nabi Yahya AS (Inggris: Yohannes). Yang terakhir ini dalam tradisi Kristiani dikenali sebagai nabi yang membaptis Nabi Isa AS.

Fakta linguistik yang menarik untuk dicatat adalah bahwa ucapan selamat lahir-wafat-bangkit kepada Nabi Isa AS menggunakan kata orang-pertama (Arab: mutakallim) seperti terlihat dalam kutipan ayat di atas (ayat ke-33). Ini berbeda dengan ucapan selamat kepada Nabi Yahya AS yang menggunakan kata orang-ketiga (Arab: gaib). Ini ayatnya:

Dan kesejahteraan bagi dirinya (Nabi Yahya AS) pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dibangkitkan hidup kembali (Quran 19:15).

Fakta perbedaan linguistik ini, sejauh pengetahuan penulis, luput dari perhatian para para teolog (Ahli Kalam) di kalangan Ahli Kitab (sebutan untuk Yahudi dan Nasrani, sebutan terhormat) maupun Islam. Dugaan penulis, kajian mendalam dan kritis mengenai hal ini, akan memperkaya tafsir teologis sosok kedua nabiyullah ini. Wallahualam

Menyegarkan Keteladanan Nabi

Secara kebahasaan, redaksi ayat ke-33 bersifat pemberitaan dan sama-sekali tidak terkesan anjuran maupun perintah untuk merayakan natal. Di dalam Al-Quran tidak ada ayat yang berisi anjuran apalagi perintah untuk memperingati hari kelahiran seseorang, termasuk kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW.

Fakta Umat Islam, paling tidak di Indonesia, menyelenggarakan peringatan maulid dapat dilihat sebagai respons budaya untuk menghormati Nabi mereka. Selain itu, mayoritas Umat (paling tidak di Indonesia) melihat peringatan maulid sebagai sarana untuk menyegarkan ingatan manusia (bukan hanya Umat Islam) mengenai keteladanan hidup Nabi SAW, dalam semua aspek kehidupan. Mengenai hal ini ada satu ayat yang menyebutkannya secara eksplisit yaitu Ayat ke-21 Surat ke-33.

Sebenarnya menurut Al-Quran bukan hanya Nabi Muhammad SAW yang menjadi “teladan yang baik” (Arab: uswah hasanah), tetapi juga Nabi Ibrahim AS (dan para pengikutnya). Mengenai Nabi Ibrahim AS yang merupakan leluhur para penganut agama samawi[1] ini bahkan ada dua ayat: ayat ke-4 dan ayat ke-6 Surat ke-60.

Wallahualam….@

 

[1] Bahasan lebih lanjut terkait dengan isu ini dapat dilihat di https://uzairsuhaimi.blog/2018/04/30/titik-temu-agama-samawi/.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.