Entin dan Taplak Meja


Entin[1], usai Salat Asar, menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk mulai “proyek” kecilnya yaitu membordir taplak meja hasil rancangannya sendiri. Entin menyadari perlu waktu paling tidak seminggu untuk menyelesaikan proyeknya ini: meja di ruang tamu di mana ia akan bermaksud meletakannya relatif besar. Tetapi dia tidak merasa perlu tergesa-gesa. Baginya proyek itu untuk mengisi waktu luang sambil menunggu suami-tercinta pulang kantor.

Begitu suami tiba Entin membereskan dengan sigap peralatan rendanya dan segera menyambut suami dengan hangat: mengambilkan tas, menyiapkan teh dan penganan kecil, dan menawarkan obrolan ringan. Biasanya Sang Suami merasa kurang nyaman ngobrol lama karena merasa dirinya tidak sebersih dan sewangi istri: “Biar habis magrib obrolannya di lanjutkan” bisiknya dalam hati. Keluarga ini dianugerahi berkah yang agaknya langka dan semakin langka: hubungan suami-istri yang dilimpahi kasih-sayang-tulus.

Sang Suami memiliki kesan mendalam. Ketika pulang kerja ia selalu menemui istrinya tengah mencurahkan perhatian pada pekerjaan renda itu, sepenuh hati, penuh passion.

Taplak meja-bordiran  itu kini sudah berada di tempat sesuai peruntukan pembuatnya. Tetapi Entin sudah tiada. Dan suasana kehidupan dan rutinitas Sang Suami jauh berbeda.

 

Sumber Gambar: Google

Ia pulang kerja masih pada jam biasanya. Bedanya, kini tidak ada lagi yang menyambut. Tidak ada lagi yang menyiapkan teh dan penganan hangat. Tidak ada lagi senyum-tulus. Tidak ada lagi kehangatan obrolan-ringan yang secara efektif mampu melepaskan kepenatan kantor.

Kini, pulang kerja ia duduk lunglai di sofa. Sambil menatapi taplak meja di depannya. Tatapan kosong. Ia selalu melakukan hal yang sama. Setiap hari. Pada jam-jam yang sama.

Taplak meja itu baginya bukan taplak meja biasa. tetapi representasi Entin. Lebih dari itu. Baginya taplak meja itu “menghadirkan Entin”–atau dalam bahasa lain– “tajalli Entin”. Itulah arti kata tajalli, sesederhana itu.

Bagi Sang Suami, demikian riil tajalli itu– atau dengan kata lain demikian intens “kesadaran kehadiran” itu– sehingga ia tidak jarang menangis sambil menciumi taplak meja itu dan menyebut-nyebut nama Entin. “Sudah gila”, pikir anaknya yang mendapati Sang Bapak berperilaku demikian.

Pertanyaan (1): Apakah Sang anak salah? “Tidak, dia obyektif”. Apakah Sang Suami salah? “Tidak juga, dia mampu melihat dimensi batiniah dalam sesuatu yang bersifat lahiriah”.

Pertanyaan (2): “Sudah mampukah kita melihat tajaliat Rabb SWT pada semua makhluk-Nya (Al-HUkam: al-Kaun)?

Jika belum maka itu terjadi karena daya pandang kita terlalu lemah di tengah kelimpahan cahaya-Nya. Kita layaknya kelelawar di siang hari yang tidak mampu melihat segala sesuatu di sekitar, bukan karena sesuatu itu tidak ada, tetapi karena daya pandangnya terlalu lemah di tengah terangnya cahaya matahari.

Wallahualam…..@

[1] Cerita ini diadaptasi dari Cermah Kiai Zezen ZA dalam pengajian Al-Hikam yang rekamannya dapat diakses di SINI.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.