Islam, Isu HAM dan Lingkungan Hidup


Dalam perspektif Islam, hakikat manusia– sebagai individu maupun kolektif– adalah hamba Rabb SWT; artinya, alasan keberadaannya di muka bumi adalah untuk menghambakan diri kepada-Nya. Mengenai hal ini Al-Quran sangat eksplisit: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menghambakan-diri (beribadah) kepada-Ku” (QS 51:56).

Bagaimana dengan fungsi kekhalifahan manusia sebagaimana yang juga disebut dalam Kitab Suci itu (QS 2:30)? Fungsi ini adalah bagian dari hakikat keberadaannya sebagai hamba dalam arti direalisasikan atas nama-Nya. Itulah sebabnya Muslim dianjurkan mengucapkan bismillah (atas nama Allah SWT) sebelum melakukan suatu kegiatan.

Anjuran baca bismillah ini– jika dilakukan dengan penuh kesadaran– akan menyadarkan kehadiran-Nya setiap saat. Inilah makna kesadaran agama dalam tataran praktis kehidupan sehari-hari. Kesadaran mengenai kehadiran-Nya mestinya berfungsi sebagai daya cegah perbuatan yang bertentangan dengan norma kebaikan umum (Arab: makruf) maupun norma kebaikan universal (Arab: khair).

Kesadaran mengenai kehadiran-Nya mestinya berfungsi sebagai daya cegah perbuatan yang bertentangan dengan norma kebaikan umum maupun universal.

Contoh kebaikan umum (berlaku dalam konteks sosial-budaya tertentu) adalah menghormati orang tua dan hak-hak tetangga yang sebenarnya berlaku secara universal tetapi cara atau ekspresinya dapat berbeda antar budaya. Contoh kebaikan universal adalah menghormati hak-hak asasi manusia (HAM) dan mencegah kerusakan “bumi”.

Ayat Lingkungan hidup

Soal kerusakan bumi bukan soal sepele: ayat-ayat pertama Al-Quran secara eksplisit mengaitkan ciri-ciri orang munafik dengan perilaku merusak tetapi selalu mencari pembenaran (misalnya dengan alasan pertumbuhan ekonomi-tidak-berkelanjutan):

Dan apabila dikatakan kepada mereka “Jangan berbuat kerusakan di bumi” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan. Ingatlah sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya (QS 2:11-12).

Banyak ayat serupa, antara lain yang berikut ini:

(orang fasik yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah… dan berbuat kerusakan di bumi (QS:2:27)

Dan orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diikrarkannya, … dan berbuat kerusakan di bumi, mereka itu memperoleh kutukan dan tempat kediaman yang buruk (QS13:25).

(Umat Nabi Saleh AS) .. yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan (QS26:152)

Mereka berkata, ‘Wahai Zulkarnain! Sungguh Yakjuj dan Makjuj itu makhluk yang berbuat kerusakan di bumi... (QS 18:94).

Ada satu ayat lagi yang layak kutip:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia … (QS 30:41).

Ayat terakhir memperlihatkan peran manusia dalam hal kerusakan alam. Pertanyaannya: Bagaimana penjelasannya Al-Quran sudah bicara soal ini ketika manusia secara kolektif masih sangat langka, belum ada teknologi berbasis motor-mesin, belum ada barang pabrikan?

Sumber Gambar: Google

Keprihatinan Global dan Datar Pertanyaan

Fakta bahwa isu HAM dan lingkungan hidup telah menjadi keprihatinan global menunjukkan bahwa kita secara kolektif telah berada dalam jalur yang tepat menjalankan fungsi kekhalifahan-Nya. Walaupun demikian, kesadaran kongkret mengenai dua isu global ini masih perlu ditumbuh-suburkan. Terkait dengan dua isu mendasar ini, daftar pertanyaan berikut ini layak direnungkan:

  • Kenapa isu kerusakan lingkungan baru muncul belakangan ketika kerusakan telah sedemikian parah, padahal hampir 1.5 milenium lalu Al-Quran telah mengingatkan?
  • Kenapa para ulama dan intelektual Muslim tidak mengambil peran prakarsa dalam upaya mengatasi isu lingkungan dan HAM, padahal mereka baca Al-Quran yang sangat inetens berbicara mengenai keduanya?
  • Kenapa mereka (ulama dan intelektual Muslim) tidak menyuarakan isu-isu HAM secara lantang ke arah para “penguasa” Muslim yang dicitrakan secara luas– paling tidak di langan masyarakat umum Barat– “tidak ramah HAM”?
  • Mereka “salah-baca” Al-Quran?

[Mungkin ini yang melatarbelakangi Abduh RA ketika menegaskan kira-kira begini: “Di Barat kutemukan Islam tetapi tidak Muslim; di Timur kutemukan Muslim tetapi tidak Islam”.]

Siapa bisa jawab?

Wallahualam... @

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

One thought on “Islam, Isu HAM dan Lingkungan Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.