Renungan Puasa (4): Kekayaan Makna Takwa

Umat Islam kini tengah mendekati garis finish dari lintasan panjang puasa mereka selama sebulan penuh. Kondisi fisik mereka boleh jadi berada pada titik rendah tetapi status spiritual mereka tinggi. Apa pun kasusnya, menjelang garis finish itu, mereka tidak mengendurkan amalan, malah melakukan akselerasi pengerahan energi fisik dan dan spiritual untuk memenangkan piala takwa (QS 2:183). Yang mereka lakukan adalah mengintensifkan amalan-amalan Nawafilah yang menjadi amalan utama Puasa termasuk tadarus dan sedekah.

Demikian besar daya tarik takwa sehingga para shoimun berani terjun dalam peperangan terberat, peperangan melawan hawa nafsu (Hadits). Mereka berusaha keras untuk tidak bertindak bodoh dengan menempatkan hawa sebagai Tuhan yang mendikte arah perjalanan hidup (QS 25:43).

Istilah takwa kaya makna. Tulisan ini mengulas secara sekilas kekayaan makna yang dimaksud.

Takwa, Taat dan Ihsan

Takwa identik dengan taat; artinya, melakukan apa yang diperintah dan menghindari dilarang. Jika setelah puasa ketaatan tidak meningkat maka puasa tidak kena sasaran. Dengan kata lain, indikator keberhasilan Puasa adalah peningkatan ketaatan. Demikianlah arti takwa secara istilahi menurut para ulama.

Dalam tingkatnya yang lebih tinggi takwa mengandung tiga unsur Ihsan: (1) berani bersedekah ketika susah, (2) mampu mengendalikan amarah ketika tengah pada puncak-puncaknya, dan (3) berlapang dada ketika “harga-diri” tercedera orang lain dengan memaafkan pelakunya  QS (3:133-4).

۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langi dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai Muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan atau Ihsan).

Demikianlah antara lain makna takwa menurut versi qurani.

Takwa, Kemuliaan dan Kesamaan Derajat

Masyarakat jahiliyyah dulu sangat mengenal konsep murah hati. Secara alami mereka menghormati seseorang yang memiliki sifat pemurah; karim, istilah mereka. Walaupun demikian mereka kaget ketika turun ayat yang mengaitkan kata kemuliaan dengan ketakwaan (QS 17:27). Pesan ayat ini revolusioner bahkan dalam standar masa kini. Agar jelas, berikut ini disajikan ayat dan terjemahan lengkapnya.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Surat Al-Hujurat (49) ayat 13]

Ada beberapa catatan yang layak dikemukakan terkait dengan ayat itu.

  • Lawan bicara (Arab: Mukatabah) ayat adalah manusia secara keseluruhan (Teks: annnas), bukan hanya orang yang beriman. Di sini terlihat universalitas audiensi Al-Quran.
  • Perbedaan gender dan keragaman suku dan budaya bagi manusia bersifat alamiah, fitrah. Masing-masing gender dan suku-budaya memiliki bakat (Arab: syakilah, lihat QS (17:84) yang khas sehingga masing-masing dapat saling mengenal, saling belajar, saling melengkapi.
  • Variabel suku-bangsa tidak valid sebagai ukuran kemuliaan seseorang atau bangsa. Ketiga catatan ini agaknya masih terlalu revolusioner bahkan bagi peradaban masa kini.

Singkatnya, kecenderungan primordial kesukuan, rasa kebangsaan yang berlebihan sebagai imbas negatif dari konsep negara bangsa, supremasi ras, semuanya tidak ada hubungan dengan kemuliaan seseorang atau bangsa sehingga tidak sesuai konsep takwa versi qurani. Konsep kemuliaan menurut QS(49:13) lebih sejalan dengan semangat kesatuan kemanusiaan tanpa batas buatan seperti negara, semangat yang agaknya ingin disampaikan Covid-19.

Murah Hati yang Sederhana

Q(3:134) sebagaimana dikutip di atas menunjukkan hubungan antara takwa dengan murah hati. Walaupun demikian, agar bermakna, murah hati perlu disertai keikhlasan (QS 2:164) dan proporsional dalam arti tidak berlebihan (QS 17:29) sehingga tidak mubazir (QS 17:27).

Keikhlasan dan proporsional ini dapat dikatakan syarat perlu bagi murah hati agar bermakna. Di luar dua syarat ini dapat ditambahkan syarat ketiga yaitu kerendahan hati. Murah hati yang rendah hati, humble charity. Mengenai Mengenai syarat ketiga ini dikemukakan oleh Schuon:

Humble charity will avoid exhibiting itself without any useful purpose; man must not pride himself on his generosity: “Let not thy left hand know what thy right hand doeth.” The gift of self should be above all inward; without this gift outward charity is devoid of spiritual value and blessing.

Murah hati yang sederhana akan menghindari sikap memperlihatkan diri tanpa tujuan yang bermanfaat; manusia tidak boleh membanggakan dirinya atas kemurahan hatinya: “Jangan biarkan tangan kiri kamu tahu apa yang dilakukan tangan kananmu.” Pemberian di atas segalanya harus berorientasi ke dalam; tanpa ini, pemberian lahiriah tidak memiliki nilai dan berkah spiritual.

*****

Demikianlah makna takwa dalam berbagai level: level individual, level komunitas, dan level kemanusiaan. Dua level terakhir ini agaknya masih perlu memperoleh perhatian.

Wallahualam….. @

← Back

Thank you for your response. ✨

Renungan Puasa (2): Konsistensi Doa

Muslim yang saleh meyakini setiap doa akan terkabul. Dalilnya dapat ditemukan dalam QS(2:186). Masalahnya penulis belum Muslim saleh, Muslim kebanyakan, sehingga keyakinan itu tipis. Sedikit penjelasan rasional diharapkan dapat mempertebal sedikit keyakinan. Inilah misi tulisan ini: diarahkan terutama untuk kepentingan pribadi, di-share karena ada kemungkinan ada yang lain yang dapat mengambil manfaat. Sebagai catatan awal, ayat itu disisipkan dalam rangkaian ayat Puasa QS (2: 182-187). Ini memberi kesan kuat bahwa bulan puasa adalah bulan yang tepat untuk berdoa. Agaknya semua ulama menyepakati hal ini.

Dalam ayat itu terlihat ketegasan bahwa setiap doa terkabul dan hal itu dinyatakan secara eksplisit. Yang penulis baru sadar, ayat itu juga menegaskan dua persyaratan: (1) perilaku atau amal; yakni, memenuhi perintah-Nya, dan (2) iman. (Jadi, memenuhi perintah dikemukakan terlebih dulu.) Tanpa pemenuhan syarat itu akan terjadi semacam inkonsistensi. Dengan kata lain, konsistensi doa-amal diperlukan agar janji-Nya berlaku.

Konsistensi ini doa-perilaku ini dikemukakan secara indah oleh seorang Sufi Besar abad ke 8 Masehi yaitu  Ibrahim Ibn Adham. Ketika itu kepada Sang Sufi diajukan pertanyaan sangat sulit: “Jika Allah mengabulkan semua doa (agaknya dia merujuk pada QS (2:186), kenapa dia tidak pernah mengabulkan doa-doaku selama ini”. Tapi bukan seorang Mursyid (guru Sufi) jika tidak mampu menjawab sesuai kualitas batin dan kapasitas ilmu si penanya. Sang Mursyid tidak mengemukakan jawabannya “teoretis”,  tetapi praktis, dan –ini yang mungkin kelebihan seorang Sufi– bersifat edukatif. Inilah kira-kira jawaban beliau.

1)       You know Allah,

Yet you do not obey him.

2)       You recite the Quran,

Yet you do not according to it.

3)       You know the Satan,

Yet you have agreed with him.

4)       You proclaim to love the messenger of Allah,

Yet you abandon his Sunnah.

5)       You proclaim your love for paradise,

Yet you do not act to gain it.

6)       You proclaim you fear the fire,

Yet you don not prevent yourselves from sins.

7)       You say “Indeed death is true”,

Yet you don not prepare of it.

8)       You busy yourselves with finding faults with others,

Yet you do not look your own fault.

9)       You eat that which Allah has provide for you,

Yet you don not thanks Him.

10)You bury your dead,

Yet you do not take a lesson from it.

1)       Anda mengenal Allah,

Namun Anda tidak mematuhinya.

2)       Anda membaca Quran,

Namun Anda tidak sesuai dengan itu.

3)       Anda tahu Setan,

Namun Anda telah setuju dengannya.

4)       Anda menyatakan untuk mencintai utusan Allah,

Namun Anda meninggalkan Sunahnya.

5)       Anda menyatakan cinta Anda untuk surga,

Namun Anda tidak bertindak untuk mendapatkannya.

6)       Anda mengatakan takut api neraka,

Namun kamu tidak mencegah dirimu dari perbuatan dosa.

7)       Anda mengatakan “Memang kematian itu benar”,

Namun Anda tidak mempersiapkannya.

8)       Anda sibuk sendiri dengan menemukan kesalahan dengan orang lain,

Namun Anda tidak melihat kesalahan Anda sendiri.

9)       Anda memakan apa yang disediakan Allah untuk Anda,

Namun Anda tidak berterima kasih kepada-Nya.

10)Anda menguburkan mayat,

Namun Anda tidak mengambil pelajaran darinya.

Berikut adalah terjemahan dan teks QS (2:186) sebagaimana dirujuk di atas:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu kepadamu (Muhamad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dari terjemahan di atas jelas bagian awal ayat adalah mengenai dialog antara Allah SWT sebagai pihak pertama atau “pembicara” (Arab: mutakallim) dan Muhammad SAW sebagai pihak kedua atau “lawan bicara” (Arab: mukhatab). Dalam konteks ini hamba yang berdoa sebagai pihak ketiga.

Yang layak catat, dalam bagian bagian akhir ayat adalah perubahan posisi pihak ketiga menjadi pihak kedua dalam lanjutan ayat: “Aku dekat… dan seterusnya”. Perubahan ini tak pelak memberikan kesan kuat bahwa dalam hal doa, tidak ada perantara antara hamba dengan Rabb SWT. Ini agaknya khas Islam yang menegaskan kedekatan Rabb SWT dengan hamba, “lebih dekat dari urat nadi” manusia (QS 50:16).

Demikianlah penjelasan singkat mengenai doa. Dalam hal ini istilah doa merujuk pada apa yang dikenal sebagai doa personal, doa petisi, mode komunikasi vertikal ke Rabb SWT. Tulisan mengenai doa personal dapat diakses di SINI. (Silakan klik jika berminat baca.)

Wallahualam…@

← Back

Thank you for your response. ✨

Renungan Bulan Puasa (1): Mengurus Visa

Alkisah, pada suatu hari ada sekelompok individu dari Negeri S yang datang berbaris mengurus visa masing-masing untuk melancong ke Negeri B. Visa diberikan hanya kepada mereka yang menyetujui dan menandatangani surat perjanjian. Kepada penandatangan perjanjian diberikan informasi dasar mengenai kehidupan di B:

  1. Di sana tidak akan kelaparan karena penguasa S menjaminnya,
  2. Tidak seperti di S di mana makanan melimpah dan lingkungan hidup dengan serba nyaman, di B ada ada sedikit kesulitan mencari makan dan cuacanya bisa tidak nyaman bagi spesies mereka,
  3. Di B mereka akan diberi juklak mengenai bagaimana menempuh perjalanan pulang yang aman dan nyaman, serta peringatan kemungkinan harus melalui dan tinggal di dalam jurang-dalam-sangat-mengerikan,
  4. Di B mereka akan memiliki segala sumberdaya negeri itu dan kemampuan tinggi bahkan untuk menguasai lautan, dan
  5. Di B mereka akan didampingi utusan negeri S yang secara berkala membawa kabar gembira dan peringatan sebagaimana tercantum dalam butir 3 dan 4 di atas.

Surga dan Bumi

Dalam kisah di atas, S merujuk pada Surga, sementara B pada Bumi. S adalah warisan manusia karena leluhur mereka, Nabi Adam AS dan Hawa AS, pernah tinggal di sana. Berbeda dengan kehidupan di S yang serba nyaman karena “dekat” dengan al-Rahman, kehidupan di B menuntut perjuangan hidup yang keras dan tanpa jeda: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. [Surat Al-Balad (90) ayat 4]”

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ فِى كَبَدٍ

Tetapi cobaan itu diperlukan untuk menghasilkan amal terindah (teks: ahsanu ‘amala):

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, [Surat Al-Mulk (67) ayat 2]

Hari Alastu

Hari ketika perjanjian itu dibuat adalah Hari Alastu. Yang “mengurus visa” datang berbaris walaupun perjanjian dan pertanggungjawaban berlaku secara individual:

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. [Surat Al-Kahfi (18) ayat 48].

Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. [Surat Maryam (19) ayat 95]

Isi perjanjian hanya satu: pengakuan bahwa Dia SWT adalah tuhan mereka dan satu-satunya:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu [teks: alastu birabbikum]?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, [Surat Al-A’raf (7) ayat 172]

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

Hari itu dipersepsikan oleh manusia sudah sangat lama sehingga belum bisa “disebut”; manusia pada tataran fisik  bahkan ada:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? [Surat Al-Insan (76) ayat 1]

Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali“. [Surat Maryam (19) ayat 9]

Jaminan Hidup

Sebenarnya manusia di bumi tidak akan pernah kelaparan dalam artian mutlak dan permanen karena ada jaminan dari Dia SWT mengenai rezeki mereka:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [Surat Hud (11) ayat 6].

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan Shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Surat Ta-Ha (20) ayat 132]

Semua isi bumi diperuntukkan bagi manusia; mereka dibekali kemampuan untuk “menaklukkan” lautan:

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Surat Al-Baqarah (2) ayat 29].

Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. [Surat An-Nahl (16) ayat 14].

Dalam ayat terakhir langit angkasa tidak disebutkan[1] sekalipun dimungkinkan dijelajahi dengan bantuan iptek:

Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (Iptek). [Surat Ar-Rahman (55) ayat 33].

Jalan Pulang

Utusan negeri S dalam kisah di atas adalah para rasul-Nya. Tugas utama mereka adalah mengingatkan manusia mengenai Hari Alastu serta (butir 1), menunjukkan jalan pulang ke S secara aman melalui, serta kabar baik dan peringatan (butir 5) mengenai perjalanan pulang itu [Surat Ta-Ha (20) ayat 123-127]:

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama (Adam AS-Hawa AS), sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”.

Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنۢ بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِۦ ۚ وَلَعَذَابُ ٱلْـَٔاخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰٓ

Naudzubillah min dzalik…@

[1] Alasan tidak disebutkan mungkin karena planet di luar bumi bukan habitat manusia secara alami. Dalam konteks ini, menanamkan investasi sumberdaya besar-besaran untuk riset luar angkasa mungkin pemborosan, sejauh manusia dianggap sebagai tujuan akhir pemanfaat iptek. Isunya di sini adalah prinsip proportionality: berapa rasio investasi yang masuk akal untuk riset luar angka dibandingkan yang untuk penyediaan air bersih, misalnya.

← Back

Thank you for your response. ✨

Wahyu Pertama Al-Quran dalam Perspektif Seorang Agnostik

Para ulama sepakat wahyu pertama Al-Quran adalah sebagaimana diabadikan dalam QS (96:1-5). Para ulama juga sepakat proses pewahyuan itu sangat memberatkan bagi Nabi SAW: “Ia (Malaikat Jibril) pun memegangku (Nabi SAW) dan mendekapku dengan erat untuk yang ketiga kalinya hingga aku pun sangat kepayahan”. Dasar pandangan para ulama adalah sejumlah Hadits yang dapat diandalkan termasuk yang diriwayatkan oleh Muslim (No.: 2277) dan Bukhari (No.:6982).

Lanjutan tulisan ini bukan mengenai substansi wahyu pertama, tetapi mengenai bagaimana respons Nabi SAW ketika dan setelah menerimanya; bukan menurut pandangan ulama, tetapi dari perspektif seorang cendekiawan Yahudi yang juga mengaku seorang psikolog dan agnostik. Cendekiawan yang dimaksud adalah Hazelton Lesly.

Sebagai catatan, agnostik adalah orang yang beranggapan tidak ada bukti yang cukup untuk mengakui atau tidak mengakui adanya Tuhan. Menurut Kamus Meriam-Webster mereka adalah yang “berpandangan bahwa setiap realitas tertinggi (seperti Tuhan) tidak diketahui dan mungkin tidak dapat diketahui” (a person who holds the view that any ultimate reality (such as God) is unknown and probably unknowable. “Agama” agnostik bersama ateis tergolong kelompok yang mengaku tidak menganut agama tertentu (unaffiliated) yang menurut PEW Research Center adalah agama terbesar ke-3 setelah Kristen dan Islam. Untuk rujukan lihat antara lain tautan ini: https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge.

Bagi Hazelton peristiwa pewahyuan adalah “sesuatu di luar pemahaman manusia, hanya bisa disebut kekaguman yang mengerikan (a terrible awe)” dan ketakutan adalah “satu-satunya respons yang waras, satu-satunya respons manusiawi”. Hal itu dikemukakan Hazelton dalam suatu ceramah umum. Dia agaknya fokus pada sisi manusiawi dari sosok Nabi SAW, sisi yang juga ditegaskan dalam QS (18:110): “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa seperti kamu, yang telah menerima wahyu)””.

Dalam ceramah yang sama ia mengemukakan pandangannya mengenai bagaimana kira-kira suasana psikologis Nabi SAW ketika turun dari gunung (Goa Hira) setelah menerima wahyu pertama:

…. Muhammad tidak turun dari gunung (Goa Hira) seolah berjalan di udara. Dia tidak berlari sambil berteriak, “Haleluya!” dan “Berkatilah Tuhan!” Dia tidak memancarkan cahaya dan sukacita. Tidak ada paduan suara malaikat, tidak ada musik, tidak ada kegembiraan, tidak ada ekstasi, tidak ada aura emas yang mengelilinginya, tidak ada perasaan mutlak, peran yang ditahbiskan sebelumnya sebagai utusan Allah…

… Muhammad did not come floating off the mountain as though walking on air. He did not run down shouting, “Hallelujah!” and “Bless the Lord!” He did not radiate light and joy. There were no choirs of angels, no music of the spheres, no elation, no ecstasy, no golden aura surrounding him, no sense of an absolute, fore-ordained role as the messenger of God…

Demikian gaya retorika Hazelton. Dia tidak terlalu tertarik dengan apa yang dapat diantisipasi terjadi, tetapi dengan apa yang tidak terjadi sekalipun mungkin diharapkan. Selanjutnya ia menambahkan:

… Dalam kata-katanya sendiri yang dilaporkan, dia pada awalnya yakin bahwa apa yang terjadi tidak mungkin nyata. Paling-paling, pikirnya, itu pasti halusinasi – tipuan mata atau telinga, mungkin, atau pikirannya sendiri bekerja melawannya.

… In his own reported words, he was convinced at first that what had happened couldn’t have been real. At best, he thought, it had to have been a hallucination — a trick of the eye or the ear, perhaps, or his own mind working against him.

Yang layak dicatat, pandangan Hazelton ini sejalan dengan Hadits Bukhari (No.: 6982):

… Beliaupun pulang dalam kondisi gemetar dan bergegas hingga masuk ke rumah Khadijah. Kemudian Nabi berkata kepadanya: Selimuti aku, selimuti aku. Maka Khadijah pun menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kemudian Nabi bertanya: ‘wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku ini?’ Lalu Nabi menceritakan kejadian yang beliau alami kemudian mengatakan, ‘aku amat khawatir terhadap diriku’. Maka Khadijah mengatakan, ‘sekali-kali janganlah takut! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang lain yang susah, pemberi orang yang miskin, penjamu tamu serta penolong orang yang menegakkan kebenaran….

Wallahualam…@

← Back

Thank you for your response. ✨

Pengetahuan Primordial

Istilah primordial dalam tulisan ini mengacu pada pengetahuan sesuatu sudah pernah dan selalu kita ketahui: sudah pernah, karena kita ketahui sejak zaman azali, era pra-ada kita, atau mungkin sesaat sebelum kita ada; selalu karena pengetahuan itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Sudah Lupa

Tetapi kita sudah melupakan zaman itu karena kejadiannya sudah sangat lama. Dalam hal ini Aivanhov menarasikannya secara apik sebagai berikut:

You already know many things, but you do not know that you know. This knowledge comes from a very long time ago, when you still dwelt in the bosom of the Eternal, in light, love and beauty.

Anda sudah tahu banyak hal, tetapi Anda tidak tahu bahwa Anda tahu. Pengetahuan ini berasal dari waktu yang sangat lama, ketika Anda masih berdiam di pangkuan Abadi, dalam cahaya, cinta dan keindahan.

Substansi Pengetahuan

Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, Aivanhop menyebut asal-usul ilaihan dan misi kita di bumi ini:

There you learned everything about your divine origin, your predestination, the work you would have to do on earth to give expression to all the powers of your soul and your spirit.

Di sana Anda mempelajari segala sesuatu tentang asal usul ilahi Anda, takdir Anda, pekerjaan yang harus Anda lakukan di bumi untuk memberikan ekspresi kepada semua kekuatan jiwa dan roh Anda.

Kenapa Lupa

Bagi Aivanhop, alasan kita melupakan pengetahuan primordial adalah bahwa kita terlalu fokus pada pengetahuan yang tidak akan bertahan lama:

True, there are so many interesting things in the world to see, hear, read and so on. But try, all the same, not to focus too much on subjects that cannot help you change your life; apply yourself instead to improving the way you live. For that is the way you will attract true knowledge. Otherwise, what will happen is this: you will spend your time accumulating knowledge by all the means at your disposal – books, radio, cinema, television – but what you take in you will not retain for long.

“Benar, ada begitu banyak hal menarik di dunia untuk dilihat, didengar, dibaca, dan sebagainya. Tetapi cobalah… untuk tidak terlalu fokus pada mata pelajaran yang tidak dapat membantu Anda mengubah hidup Anda; terapkan diri Anda sebagai gantinya untuk meningkatkan cara hidup Anda. Karena itulah cara Anda akan menarik pengetahuan sejati. Kalau tidak, yang akan terjadi adalah ini: Anda akan menghabiskan waktu mengumpulkan pengetahuan dengan segala cara yang Anda inginkan – buku, radio, bioskop, televisi – tetapi apa yang Anda peroleh tidak akan bertahan lama.

Weltanshauung Al-Quran

Pandang-dunia, world view atau tepatnya (secara epistemologi) Weltanshauung (Bahasa Jerman, dengan huruf W kapital) Al-Quran terkait pengetahuan primordial dapat dikatakan khas. Terkait dengan zaman azali ketika pengetahuan primordial itu kita kuasai, misalnya, Al-Quran mengilustrasikan kita ketika bahkan belum punya bahkan telinga (samii’an) dan mata (bashira) (QS (76:1). Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, sebagai ilustrasi lain, Al-Quran menyebut pengetahuan mengenai Rabb SWT dan kesaksian bahwa se. iap kita memberikan kesaksian mengenai posisi kehambaan kita di hadapan-Nya (QS 7:172):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku in Tuhanmu”? Mereka menjawab “Betul (engkau Tuhan kami), kami bersasi”. (Kami lakukan yang demikian itu agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”.

Bagaimana mengenai alasan kita melupakan primordial? Al-Quran mengisyaratkan antara lain  ketebalan daki di hati kita karena kedurhakaan (Arab: fujjar) kepada-Nya.

Wallahualam…@

← Back

Thank you for your response. ✨