Ayat Korupsi

Ayat Korupsi[1]

Syahwat Harta

Tidak ada negara yang tidak berupaya mencegah praktik korupsi. Tidak ada agama yang tidak mengutuk perilaku korupsi. Agama mungkin berbeda dalam hal perumusan ajaran teologis tetapi sama dalam hal semangat memerangi korupsi karena sifatnya yang sangat merusak tatanan masyarakat dan diakui luas sebagai “ibu” dari berbagai macam penyakit sosial (social evil), khususnya ketimpangan ekonomi. Lalu kenapa korupsi tetap merajalela? Jawaban singkatnya adalah karena kebanyakan kita tidak mampu mengendlikan syahwat harta yang melekat dalam sisi gelap kita, nafsu untuk memperoleh kekayaan material sebanyak-banyaknya dan berbangga dengan itu. Dalam frase qur’ani (102:1-2), syhawat itu, tidak akan berakhir “sampai kamu masuk dalam kubur”.

Penulis yakin banyak teks suci agama atau tradisi besar di luar Islam yang berbicara serius mengenai penyakit sosial yang satu ini. Dalam konteks Islam, teks suci itu mengenai korupsi dalam arti luas, dapat ditemukan antara lain dalam Surat al-Baqarah Ayat 188. Ayat ini yang dicoba dibahas secara singkat dalam tulisan ini.

Posisi Ayat.

Menarik utuk dicatat, posisi ayat ini terletak setelah ayat mengenai puasa (ayat 183-187), bentuk ibadah yang mendidik umat untuk dapat mengendalikan syhawat makanan, sebagai upaya mencapai derajat taqwa. Posisi ayat ini bagi penulis mengesankan ajaran bahwa untuk mencapai derajat ideal (taqwa) seseorang tidak cukup hanya dengan mengendalikan syahwat makanan tetapi harus diikuti oleh mengendalian syahwat harta, syahwat yang men-trigger praktek korupsi.

Menarik juga untuk dicatat, posisi ayat ini terletak sebelum ayat hajji (ayat 189-203), ibadah puncak dalam rukun Islam. Posisi ini bagi penulis mengisyaratkan bahwa ibadah haji tidak boleh menggunakan harta hasil korusi tetapi juga mengajarkan bahwa kita tidak layak bertemu dengan-Nya di padang mahsyar (yang diiulstrasikan oleh ritual berkumpul di padang Arafah) apalagi berada di sekitarat-Nya (diilustrasikan oleh ritual tawaf ifadah). Wallahu’alam.

Fungsi Sosial Harta

Ayat korupsi itu dimulai dengan larangan memakan harta: “Dan janganlah kamu makan hartamu di antaramu secara batil” (“Walaa ta’kuluu amwaalakum bil baathil…”). Ada tiga catatan penting mengenai potongan ayat ini:

  1. Istilah makan di sini tentu tidak hanya bermakna harfiah, “makan”, tetapi juga “memperoleh” dan “menggunakan”, atau menggunakan istilah teknis ekonomi, “mengkonsumsi” (makanan atau non-makanan);
  2. Istilah batil, menurut frase Qur’ani, mengandung dua makna: salah (sebagai lawan kata haqq[2] dan tanpa tujuan[3] (tanpa makna, berlebihan, iseng); dan
  3. Redaksi “di anatara kamu” (“bainakum”) mengisyaratkan fungsi sosial harta.

Mengenai yang terakhir ini Syihab memberikan ilustrasi[4]:

Harta yang dimilki oleh si A hari ini, dapat menjadi milik B esok. Harta seharusnya memiliki fungsi sosial, sehingga sebagian di antara apa yang dimiliki si A seharusnya dimiliki pula oleh B, melalui zakat maupun sedekah.

Singkatnya, Islam tidak mengizinkan harta pribadi secara eksklusif. Dalam konteks ini peran “hakim” (pemerintah) sangat penting dalam hal pengelolaan hak “pribadi” untuk menghindari gesekan sosial yang sangat mudah dipicu karena perbedaan kekayaan antar masyarakat.

Perilaku Korupsi

Potongan berikutnya dari ayat korupsi ini, hemat penulis, terkait dengan kekayaan negara, “harta manusia” dalam istilah Quani[5]:

… dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.

wa tudluu bihaa ilal hukkaami lita’kuluu fariqan min anwaalin annaas wa awantum ta’lamuun.

Terjamahan the Wisdom[6] terhadap frase “tudluu bihaa ilal hukkaami“ tampaknya lebih sesuai dengan situasi kontemporer paling tidak di Indonesia: “menyuap para hakim”. Ayat Korupsi sebagaimana tercantum dalam al-Baqarah 188 adalah sebagai berikut:

korupsi102

Makna lain potongan terakhir ayat ini menurut Syihab adalah sebagai berikut:

… dan janganlah menyerahkan harta kepada hakim yang berwenang memutuskan perkara bukan untuk tujuan memperoleh hak kalian, tetapi untuk mengambil hak orang lain dengan melakukan dosa, dan dalam keadaan mengetahui bahwa kalian sebenarnya tidak berhak”

Bagi penulis, dalam konteks ke-Indonesiaan kontemporer, kata hakim dalam ayat di atas dapat merujuk kepada yang menyandang profesi sebagai hakim, anggota dewan (semoga tidak termasuk anggota DKM), atau mungkin lebih jelas, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Yang terakhir ini dalam lembaga pemerintahan biasanya berkedudukan sebagai kepala lembaga atau pembantunya.  “Menyerahkan urusan” mungkin dapat diterjemahkan sebagai upaya “memanipulasi data atau keadaan” sedemikian rupa agar KPA memberikan izin untuk menggunakan “kekayaan negara” untuk kepentingan pribadi atau kelompok (korupsi berjamaah).

Naudzubillah min dzalik.…@

korupsi1

Sumber gambar: Google

[1] Tulisan ini diilhami oleh Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ali Khan yang bertajuk A Quranic Lesson in Religious Psychology: https://www.youtube.com/watch?v=S_spaSigisY

[2] Waqul jaaal haqqa wazahaqal baathila (Al-Isra:81).

[3] “Wama khalaqna assamaawaati wal ardha wamaa bainahuma baathila.. (ayat).

[4] M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 1: 413

[5] Shihab, ibid

[6] The Wisdom, Al-Mizan (2014: 58).

Catatan Akhir Tahun 2016: Catatan Bencana Alam dan Tragedi Kemanusiaan

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Tahun 2016 hampir berlalu yang bagi sebagian besar kita meninggalkan sejumlah kenangan manis maupun pahit; tahun 2016 mengantarkan kita ke tahun 2017 dengan yang bagi sebagian besar kita mengandung sejumlah harapan atau kecemasan. Frase “bagi sebagian besar kita” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil kita yang menduduki maqam atau kondisi-permanen spiritual istimewa, sedemikian istimewanya sehingga “bau” duniawi yang menggembirakan atau menyedihkan tidak berpengaruh terhadap kondisi jiwanya. Kalangan elitis ini “senantiasa berada dalam keadaan salat (“pray without ceasing[1]) atau tenggelam dalam dzikir. Maqam istimewa ini masih terlalu jauh bagi penulis dan mungkin bagi sebagian besar kita.

Sekalipun belum berada pada maqam istimewa, kita masih dapat berharap cukup bijak untuk dapat melihat masa lalu tidak hanya sekadar kenangan, tetapi juga ladang pembelajaran untuk menghadapi tantangan dan kesempatan yang akan datang. Hasilnya yang diharapkan: keadaan, capaian atau prestasi individual masing-masing kita pada tahun 2017 lebih baik dari pada tahun 2016 (I2017> I2016). Jika tidak, konon menurut Ali RA, kita “merugi” (I2017= I2016) atau bahkan “celaka” (I2017< I2016). Inilah yang pantas dijadikan sasaran “proyek 2017” bagi masing-masing kita secara individual. Di luar proyek individual tentu kita juga memiliki juga proyek kolektif yang bersifat global. Sasaran yang pantas dari proyek global adalah mengatasi sejumlah “warisan” tahun 2016 berupa sejumlah dampak bencana alam dan tragedi kemanusiaan.

Bencana Alam

Tahun 2016 menyaksikan sejumlah bencana alam yang berada di luar jangkauan kita untuk mencegahnya. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gempa baru-baru ini (6 Desember 2016) di Kabupaten Sigli dengan intensitas maksimum berkategori IX (violent, sangat parah): 245 bangunan runtuh, 990 terluka (136 diantaranya serius) dan 104 meninggal dunia. Bencana Sigli sama-sekali bukan satu-satunya gempa yang terjadi tahun ini: dilaporkan, sepanjang 2016 terjadi 15,711 gempa. (Angka ini catatan sampai 16 November 2016 sehingga tidak mencakup bencana Sigli[2].) Wilayah yang terkena gempa tahun ini mencakup semua benua. Luasnya cakupan bencana diilustrasikan oleh Tabel 1 yang mendaftar bencana yang terjadi bulan terakhir tahun ini[3].

Mengenai bencana alam ada dua pertanyaan retrospektif yang layak diajukan: (1) Apakah taraf iptek kontemporer sudah dapat mengantisipasi bencana semacam yang terjadi di Sigli? (2) Apakah bencana alam “murni alamiah” dalam arti tanpa “campur tangan” Dia_yang_Maha_Tinggi? Untuk pertanyaan pertama agaknya kita perlu memberikan jawaban negatif. Untuk yang kedua, kebanyakan kita mungkin cenderung menjawab positif: murni alamiah, tanpa keterlibatan Tuhan. Walaupun demikian, penulis yakin sebagian kecil dari kita meyakini keterlibatan Tuhan dalam setiap bencana alam sekalipun tidak memahami sepenuhnya hikmah dari kebijaksanaan-Nya: mereka tidak mempertanyakannya; bilaa kaifa, kata kalangan santri.

Tragedi Kemanusiaan

Tahun 2016 juga menyaksikan sejumlah tragedi kemanusiaan yang menyayatkan hati (sejauh kita masih memiliki hati). Faktor yang melatar belakanginya bemacam-macam, mulai dari fenomena el-nino, sampai pada konflik antar suku, ideologi atau faksi-keagamaan. Hebatnya, faktor latar belakang itu memiliki efek domino yang berkepanjangan. Sebagai ilustrasi, fenomena el-nino –khususnya di negara-negara berkembang dengan tingkat teknologi pertanian yang masih banyak-mengandalkan-kebaikan-alam– akan menyebabkan bencana kekeringan yang parah yang pada gilirannya menurunkan secara drastis produksi pangan serta meningkatkan harga pangan sehingga tidak terjangkau bagi kebanyakan. Sebagai ilustrasi lain, konflik antar faksi keagamaan menyebabkan perang saudara dan kekacauan politik dalam negeri sehingga mendorong migrasi masif antar negara bahkan antar benua.

Menurut Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum), kebanyakan orang yang bekerja di lembaga bantuan meyakini bahwa tahun 2016 memberikan warisan pada tahun 2017 dengan meningkatnya kebutuhan bantuan kemanusiaan. Diperkirakan, belasan negara akan membutuhkan bantuan kemanusiaan dengan “harga” sekitar $20.1 milyar:

There’s one prediction for 2016 that most aid workers can make with confidence – that the new year will usher in rising humanitarian needs. Besides displacement caused by long-term conflicts in places like Syria and South Sudan, there is also the threat of more violence in the Central African Republic and hunger caused by El Nino, which is expected to bring more drought to already-parched southern regions in Africa and potential flooding in the east. The United Nations projects that at least 87 million people in dozens of countries will require humanitarian aid next year, and is seeking a record $20.1 billion to meet their needs.

Ada satu prediksi untuk 2016 yang diyakini oleh sebagian besar pekerja bantuan bahwa tahun baru kebutuhan bantuan kemanusiaan akan meningkat. Selain untuk pengungsian yang disebabkan oleh konflik berkepanjangan di wilayah-wilayah seperti Suriah dan Sudan Selatan, juga untuk ancaman kekerasan lainnya di Republik Afrika Tengah dan kelaparan yang disebabkan oleh El Nino yang diperkirakan membawa kekeringan lebih parah di kawasan selatan yang sudah kering di Afrika dan potensi banjir di kawasan timur. PBB memperkirakan setidaknya 87 juta orang di berbagai negara akan memerlukan bantuan kemanusiaan tahun depan, dan mencari rekor $ 20,100,000,000 untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Upaya untuk mengumpulkan dana sebesar $20.1 milyar merupakan tantangan besar karena konon secara psikologis kita cenderung “tidak peduli” dengan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif: kita lebih prihatin dengan yang satu dari pada yang banyak. Dalam hal ini menarik untuk disimak tulisan David Ropeik yang berjudul agak provokatif: “Statistical Numbing: Why Millions Can Die and We Don’t Care[4]”. Dalam tulisan ini Ropeik mengutip ungkapan Paul Slovic yang menilai kecenderungan kita ini sebagai “cacat fundamental dalam kemanusiaan kita” (“a fundamental deficiency in our humanity“), cacat yang menyebabkan kita tidak peduli, mengetahui tetapi tidak bertindak memadai, untuk mencegah terjadinya penderitaan masif dan genosida di Kongo atau Kosovo atau Kamboja atau banyak yang lainnya. Dalam tulisan yang sama Ropeik mengutip ucapan Theresia dan Stalin: (1) Ibu Theresa: “If I look at the mass I will never act. If I look at the one I will”, dan (2) Stalin: “One death is a tragedy. One million is a statistic”. 

Seperti terungkap dalam Laporan Forum Ekonomi Dunia sebagaiman tercantum dalam kutipan di atas, tragedi kemanusiaan tampaknya tidak hanya akan “berlanjut” di kawasan Syria seperti yang memperoleh perhatian media masa, tetapi juga di Yaman dan kawasan Afrika yang sejauh ini kurang memperoleh perhatian media masa. Baru-baru ini, Yayasan Thomson Reuters melakukan jajak pendapat terhadap lembaga bantuan dunia yang utama. Masing-masing mereka diminta menyebutkan tiga prioritas kemanusiaan tahun 2016 yang paling penting. Hasilnya, tidak mengagetkan: Syria berada dalam puncak daftar keprihatinan mereka. Hal ini dapat dipahami karena, seperti yang diungkapkan lembaga Vatikan kepada Lembaga Hak Azai Manusia PBB, setelah berlangsung lima tahun, perang di Syria menimbulkan “perasaan yang tanpa saya di depan tragedi yang tanpa akhir” ( “feeling of helplessness in front of an endless human tragedy”)[5].

Ringkasan hasil jajak pendapat oleh yayasan itu disajikan pada Tabel 2. Catatan menarik yang diungkapkan tabel itu antara lain bahwa bahwa di luar Syria dan Yaman, sejumlah kawasan di Afrika juga berada dalam daftar puncak keprihatinan lembaga bantuan dunia. Isu-isu spesifik dari tragedi kemanusiaan menurut keprihatinan lembaga-lembaga bantuan itu ternyata sangat bervariasi dan hal ini menggambarkan luasnya spektrum tragedi kemausiaan sebagaimana diungkapkan oleh Tabel 3. Mengingat intensitas dan luas spektrum tragedi kemanusiaan 2016 yang dampaknya diduga masih akan kita hadapi tahun depan, maka tahun 2017 akan menjadi saksi nilai kesalehan sosial kita, nilai yang sejauh pemahaman penulis merupakan salah satu inti ajaran agama-agama besar, diukur dengan prestasi kita secara kolektif dalam merespon bencana dan tragedi itu. Wallahu’alam  …..@

Tabel 1: Gempa Desember 2016

  1. A magnitude 5.2 earthquake struck Costa Rica 6 km (3.7 mi) east northeast of Cartago on December 1 at a depth of 5.0 km (3.1 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[236] The earthquake caused landslides and damaged some homes, forcing at least 5 families to move to a community centre.[237]
  2. A magnitude 6.3 earthquake struck Peru 43 km (27 mi) northeast of Huarichancara, Puno Region on December 1 at a depth of 10.0 km (6.2 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[238] At least 40 houses in Lampa Province were damaged, with some suffering total collapse. One person died and 17 others were injured.[239]
  3. A magnitude 6.0 earthquake struck offshore of the United States 53 km (33 mi) south of Shemya Island, Alaska on December 3 at a depth of 26.9 km (16.7 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[240]
  4. A magnitude 6.3 earthquake struck Indonesia 148 km (92 mi) north northeast of Palu’e Island, East Nusa Tenggara on December 5 at a depth of 526.0 km (326.8 mi). The shock had a maximum intensity of III (Weak).[241]
  5. A magnitude 6.5 earthquake struck Indonesia 19 km (12 mi) southeast of Sigli, Aceh on December 6 at a depth of 8.2 km (5.1 mi). The shock had a maximum intensity of IX (Violent). About 245 buildings collapsed as a result of the quake. 104 people were killed and over 900 were injured,[243] of which 136 suffered serious injuries.
  6. A magnitude 5.9 earthquake struck China 57 km (35 mi) south southeast of Shihezi in the Xinjiang Autonomous Region on December 8 at a depth of 13.7 km (8.5 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[245] Two people were injured, and 25 houses suffered damage in Ürümqi region.
  7. A magnitude 6.5 earthquake struck offshore of the United States 160 km (99 mi) west of Ferndale, California on December 8 at a depth of 12.1 km (7.5 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[247]
  8. A magnitude 7.8 earthquake struck the Solomon Islands 69 km (43 mi) west southwest of Kirakira on December 8 at a depth of 41.0 km (25.5 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[248] Tsunami waves up to 5.0 cm (2.0 in) were measured in New Caledonia and Vanuatu.[249] More than 200 buildings in the southern part of Malaita were damaged and buildings collapsed in Makira; more than 7,000 people were affected by the quake. An eleven-year-old girl died when a building collapsed.
  9. A magnitude 6.5 earthquake struck the Solomon Islands 79 km (49 mi) west southwest of Kirakira on December 8 at a depth of 14.7 km (9.1 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).[253] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  10. A magnitude 4.4 earthquake struck Croatia 3 km (1.9 mi) east of Trogir, Split-Dalmatia county on December 9 at a depth of 21.9 km (13.6 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[254] The quake caused minor damage in the form of cracked walls and broken windows.[255]
  11. A magnitude 6.9 earthquake struck offshore of the Solomon Islands 94 km (58 mi) west southwest of Kirakira on December 9 at a depth of 20.6 km (12.8 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[256] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  12. A magnitude 6.1 earthquake struck Papua New Guinea 131 km (81 mi) west northwest of Arawa, Bougainville on December 10 at a depth of 157.1 km (97.6 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[257]
  13. A magnitude 6.0 earthquake struck offshore of the United States trust territory of the Northern Mariana Islands 97 km (60 mi) north northwest of Farallon de Pajaros on December 14 at a depth of 27.6 km (17.1 mi). The shock had a maximum intensity of III (Weak).
  14. A magnitude 7.9 earthquake struck Papua New Guinea 46 km (29 mi) east of Taron, New Ireland on December 17 at a depth of 103.2 km (64.1 mi). The shock had a maximum intensity of VIII (Severe).[259] Though tsunami waves up to 8.0 cm (3.1 in) were measured[260] and power was knocked out in some parts of the country, no reports of injuries or damage were reported.[261]
  15. A magnitude 6.3 earthquake struck offshore of Papua New Guinea 169 km (105 mi) southeast of Taron, New Ireland on December 17 at a depth of 35.9 km (22.3 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[262] This was an aftershock of the 7.9 quake.
  16. A magnitude 6.0 earthquake struck the Solomon Islands 83 km (52 mi) west northwest of Kirakira on December 18 at a depth of 39.1 km (24.3 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).[263] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  17. A magnitude 6.1 earthquake struck the Federated States of Micronesia 24 km (15 mi) east southeast of Ngulu Atoll on December 18 at a depth of 13.2 km (8.2 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).
  18. A magnitude 6.4 earthquake struck Peru‘s Ucayali Region 201 km (125 mi) south of Tarauaca, Brazil on December 18 at a depth of 619.4 km (384.9 mi). The shock had a maximum intensity of II (Weak).
  19. A magnitude 5.4 earthquake struck Ecuador 14 km (8.7 mi) south southwest of Propicia, Esmeraldas Province on December 19 at a depth of 10.0 km (6.2 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[266] This earthquake damaged houses, hotels, and caused some landslides in Atacames. Three people died and 47 others were injured.
  20. A magnitude 6.4 earthquake struck the Solomon Islands 80 km (50 mi) west northwest of Kirakira on December 20 at a depth of 11.3 km (7.0 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong). This was an aftershock of the 7.8 quake.
  21. A magnitude 6.7 earthquake struck offshore of Indonesia 278 km (173 mi) east northeast of Dili, East Timor on December 21 at a depth of 151.5 km (94.1 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).

Sumber: Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_earthquakes_in_2016

Tabel 2: Wilayah-wilayah Tragedi Kemanusiaan

Lembaga Bantuan Afrika Tengah Sudan Selatan Afrika lainnya Syria Yamen Wilayah lainnya
(1) Action against Hunger V Semenan-jung Afrika V
(2) ActionAid V Afrika Timur dan Selatan V
(3) Americares Afrika Barat V Kepulauan Pacifik
(4) Care International V V (El-Nino) V V
(5) Catholic Relief V V V (El-Nino)
(6) Cordaid V V V
(7) Danish Refugee Council V V Eropa
(8) International Committee of the Red Cross (ICRC) Burundi Israil dan wilayah penjajahan dan Afgha-nistan
(9) International Medical Corps (IMC) Semenan-jung Afrika dan Brundi V V
(10) Mercy Corp V V Nigeria Utara
(11) Norwegian Refugee Council V Wilayah Sahala V
(12) Plan International Ethiopia, Afrika bagian Selatan dan Brundi
(13) Save the Children V Ethiopia V
(14) Sightsavers V V Congo, dan Chad V
(15) World Vision UK V Congo V

Sumber: World Economic Forum, https://www.weforum.org/agenda/2015 /12/these-are-the-top-humanitarian-concerns-for-2016/

Table 3: Frase Keprihatinan Lembaga-lembaga Bantuan Dunia

Lembaga Frase Keprihatinan
(1) Action against Hunger “Central African Republic is a forgotten humanitarian crisis which is not making the front pages despite the violent conflict that has left over half the population in dire need of assistance. An alarming number of children are at risk of life-threatening malnutrition. As violence continues, access for aid workers is ever more restricted and food, water, and medical supplies in short supply,” said Juliet Parker, director of operations, Action Against Hunger UK.
(2) ActionAid “Climate, conflict and humanitarian crises continue to affect the lives of the poorest women and children in the world,” said Mike Noyes, ActionAid’s head of humanitarian response.
(3) Americares “Health system strengthening in west Africa is one of our top priorities for 2016. We need to ensure the health systems in these countries are not only prepared for the next major health emergency but are also better equipped to deal with everyday health crises,” said Garrett Ingoglia, vice president of emergency response.
(4) Care International “CARE continues to deepen its efforts (in the Middle East) to provide basic services to try to help people caught up in these conflicts, including housing, cash, water and sanitation. We also support government systems in neighboring countries hosting Syria refugees and partner with other INGOs to provide essential services to those most in need,” said Barbara Jackson, humanitarian director.
(5) Catholic Relief “We’re currently witnessing levels of food shortage that could turn into a full-blown humanitarian crisis not seen in Ethiopia since 1985,” said Jennifer Poidatz, vice president, humanitarian response department.
(6) Cordaid “In this rapidly changing world, you have to continuously reinvent yourself in order to achieve maximum social impact with limited resources. For us that means creating opportunities for everyone where the need is greatest as a result of war and natural disaster,” said Simone Filippini, CEO.
(7) Danish Refugee Council “In Europe refugees are crossing the Mediterranean in a scale, we haven’t seen before. We never imagined in the Danish Refugee Council that we would be required to operate in countries within the EU. At the same time we believe that this is a political crisis, and it is, therefore, essential to push for the EU to find a political solution to this,” said Ann Mary Olsen, international director.
(8) International Committee of the Red Cross (ICRC) “In addition to the crises widely covered in 2015, next year on my radar will be Burundi (and the Great Lakes area), Israel and the Occupied Territories and Afghanistan,” said Dominik Stillhart, director of operations at ICRC. “Having worked in Afghanistan for 30 years, we see that the conflict is far from over and civilians continue to pay a heavy price: 2015 was one of the deadliest years since 2001. A deteriorating security situation forces people to leave their homes and seek refuge in neighboring countries or try dangerous routes to Europe,” said Stillhart.
(9) International Medical Corps (IMC) “Sadly, we expect the already dire humanitarian situation in both Syria and Yemen to only worsen, the drought in the Horn of Africa to push food insecurity to a level not seen in decades, and the violence and heightened rhetoric in Burundi could potentially spiral into human tragedy in 2016,” said Rabih Torbay, senior vice president of international operations.
(10) Mercy Corp “Over 4 million Syrians are now registered refugees in other countries, over half of those are children. As 2015 draws to a close, protection and humanitarian aid in Syria have reached a record high, and in the absence of a viable peace, the situation is expected to deteriorate and require even more sustained humanitarian support in the coming year,” said Michael Bowers, vice president for humanitarian leadership and response.
(10) Norwegian Refugee Council “International relief agencies and underestimated local organizations are able to work with most of the needy in most of the not-so-difficult places. But we are still remarkably absent in hundreds of communities across war-torn Syria, Yemen, South Sudan and Central African Republic. Too few organizations are capable of expanding their presence in areas where armed opposition groups or designated terrorist organisations rule over millions of civilians,” said Jan Egeland, Secretary General.
(11) Plan International “Our experience in the 2011 Horn of Africa food crisis, particularly in Ethiopia, (showed) that children and pregnant women are doubly disadvantaged. Plan International will prioritise them through community-based food and nutrition assistance and school-based feeding programmes,” said Roger Yates, director of disasters and humanitarian response.
(12) Save the Children “In Ethiopia, the key concerns for Save the Children are to make sure that food is obtained and delivered to children and their families in the most affected areas to prevent malnutrition, to have rapid life-saving therapeutic feeding for those children who do fall into severe malnutrition and to provide basic access to water in affected communities,” said John Graham, Country Director for Save the Children in Ethiopia.
(13) Sightsavers

 

“It is in the field of the Neglected Tropical Diseases where we are most often in communities facing high levels of chronic insecurity, subject either to long-term conflict or frequent flashpoints,” said Dominic Haslam, director of policy and programme strategy.
(14) World Vision UK

 

“While the Syria crisis sometimes hits the headlines, our work — and the challenges facing hundreds of thousands of refugee families — carries on every day. We’ll continue to provide a huge amount of practical support in Syria and its neighboring countries, and now in Europe,” said Mark Bulpitt, head of humanitarian and resilience.

Sumber: World Economic Forum, https://www.weforum.org/agenda/2015 /12/these-are-the-top-humanitarian-concerns-for-2016/

[1] Judul buku yang diedit oleh Patrick Laude, 2006, World Wisdom. Judul lengkapnya “Pray Without Ceasing: The Way of the Invocation in World Religion”.

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_earthquakes_in_2016.

[3] Ibid

[4] https://www.psychologytoday.com/blog/how-risky-is-it-really/201108/statistical-numbing-why-millions-can-die-and-we-don-t-care

[5] http://visitor.stclouddiocese.net/tag/human-tragedy/

Makna Batiniah Wudu

Istilah wudu (abolition) merujuk pada aktivitas pembasuhan sebagian anggota tubuh tertentu khususnya pada bagian muka, kedua belah tangan sampai siku, dan kedua pasang kaki sampai pergelangan kaki. Secara lahiriah, tindakan pembasuhan itu bersifat fisikal atau duniawi (profan). Walaupun demikian, wudu mengandung makna beyond tindakan profan karena intensi, “niat-ingsun” atau motivasinya adalah membebebaskan, membersihkan atau menyucikan dari dari segala sesuatu yang bersifat tidak suci (hadats). Inilah yang penulis maksdukan dengan “makna batiniah” (the inner meaning) wudu.

Penegasan mengenai makna batiniah wudu dapat dilihat dari praktek para ulama yang melafalkan bacaan-bacaan tertentu ketika membasuh anggota tubuh tertentu ketika berwudu. Sebagai ilustrasi, ketika membasuh kaki, sebagian ulama membaca lafal doa “Allâhumma tsabbit qadamayya ‘alas shirâti yauma tazillul aqdâmu fin nâri”; yang artinya kira-kira, “Wahai Tuhanku, tetapkan kedua kakiku di atas shirat pada hari ketika banyak kaki manusia terpeleset di api neraka,”[1] Dalam lafal do’a itu tampak bahwa kaki melambangkan keseluruhan jalan hidup kita di dunia ini.

wudhu107

Menurut fikih wudu hukumnya bersifat anjuran (sunat) tetapi menjadi keharusan (wajib) ketika hendak melakukan salat (atau tawaf): wudu merupakan prasyarat sahnya salat (atau tawaf). Dengan berwudu seseorang menjadi terbebas dari ketidaksucian atau hadats kecil yang secara umum tidak kasat mata[2].

Dalam praktek, anggota tubuh yang dibasuh dalam berwudu tidak hanya mencakup wajah, tangan dan kaki, tetapi juga mulut, hidung dan telinga. Seperti disinggung sebelumnya, masing-masing anggota tubuh itu mengandung simbol kekotoran tertentu yang harus disucikan ketika seorang hamba siap menghadap-Nya. Tangan, misalnya, menurut Schuon menyimbolkan tindakan-tindakan duniawi (profan) secara umum. Untuk lengkapnya, berikut ini disajikan ungkapan Schuon mengenai makna simbolis anggota tubuh yang dibasuh ketika wudu:

In abolition, the hand refers to profane actions; the mouth to the impurities contracted knowingly; the nose to the impurities contracted unwillingly and unconsciously; the face to the shame of sin; the forearms to impure intention; the ears to deafness with regard to the divine Words; the head to pride; the ears to waywardness. Or in positive terms: the purified hand to spiritual actions; the mouth to active purity; the nose to passive and unconsciousness purity; the face to the state of grace; the forearms to purity of intention; the ears to the receptivity to the divine Words or to spiritual or angelic inspirations; the heads to humility before God, hence to awareness of our nothingness;the feet to our qualification for the path of contemplation (Schuon: 145-146)[3]

Dari kutipan di atas tampak bahwa masing-masing anggota tubuh melambangkan suatu aspek ketidaksucian atau ketidakmurnian tertentu yang melekat dalam diri kita sehingga perlu dimurnikan terlebih dahulu sebelum menghadap Dia yang Maha_Suci:

·      Tangan : Tindakan duniawiah (profan);
·      Mulut : Kekotoran yang dilakukan secara sengaja;
·      Hidung : Kekotoran yang dilakukan tanpa sengaja dan tanpa sadar;
·      Wajah : Keburukan aib dosa;
·      Lengan : Kekotoran niat; dan
·      Telinga : Ke-tidak-patuhan.

Dari kutipan di atas juga tampak bahwa setelah dimurnikan masing-masing anggota tubuh itu mengandung suatu aspek kesucian tertentu:

·      Tangan : Tindakan spiritual;
·      Mulut : Kemurnian yang bersifat aktif;
·      Hidung : Kemurnian yang bersifat pasif dan tanpa sadar;
·      Wajah : the state of grace;
·      Lengan : Kemurnian niat;
·      Telinga : Kesiapan menerima Firman ilahiah atau inspirasi spiritual;
·      Kepala : Kerendahan hati di hadapan Tuhan; dan
·      Kaki : Kualifikasi untuk menempuh jalan kontemplasi.

Keharusan wudu sebelum menghadap-Nya melalui salat menghendaki agar kita terbebas dari semua bentuk “kekotoran”: keterikatan terhadap semua urusan duniawi serta terbebas dari semua jenis kekotoran, aib dosa, kekotoran niat, dan dari semua bentuk ketidak-patuhan. Hemat penulis, semua ini mengisyaratkan bahwa Dia hanya berkenan menerima kita jika keseluruhan individualitas kita sudah murni dalam arti terbebas dari semua bentuk kekotoran itu. Pertanyaan restropektif: Apakah kualifikasi itu berlaku untuk mengahadap-Nya melalui pintu kematian? Astagfirullah…. @

[1] Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta; http://www.nu.or.id/post/read/66243/doa-basuh-kaki-kanan-saat-wudhu;

[2] Untuk terbebas dari hadats besar seseorang harus mandi dengan niat khusus yakni bersuci dari hadats besar.

[3] Frithjof Schuon, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom, Inc. Nama muslim Schuon adalah Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an. Schuon adalah Syech dari tarekat itu sampai akhir hayatnya (May, 1998).

Simbolisme Gua dan Gunung

Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama di Gua Hira, suatu gua kecil di Jabal Nur yang terletak 5 km di utara Mekah. Dikisahkan pula bahwa Nabi Musa As menerima wahyu Taurat di Gunung Thur, suatu gunung yang berlokasi di semenanjung Sinai, Mesir. Dalam dua konteks ini gua maupun gunung, selain memilki arti harfiah (geografis), tetapi juga makna simbolis. Makna kedua ini mudah dipahami karena terkait dengan penurunan wahyu yang berarti “pengungkapan ilahiah atau supernatural kepada manusia mengenai sesuatu yang terkait dengan eksistensi manusia atau dunia. Jalalyan ketika mengartikan kata at-tur (Ayat ke-1, Surat ke-52) menarasikan sebagai “bukit tempat Allah berfirman secara langsung kepada Nabi Musa”.

Di luar tradisi agama samawi, dalam banyak peradaban purba kata gua maupun gunung dimaknai sebagai representasi pusat spiritual.

  • Dalam Bahasa Sansekertakata gua (guhā) berasal dari akar kata guh yang berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Kata itu seakar kata dengan gup, karenanya gupta yang digunakan untuk apapun yang bersifat rahasia dan tidak tampak di permukaan.
  • Dalam Bahasa Latin kata itu sinonim dengan kata “crypt” yang  yang juga berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Ide dari kata-kata itu terkait dengan pusat, sejauh itu dilihat sebagai paling batini (inward) dan karenanya merupakan titik yang tersembunyi (hidden point).

Ide yang sama juga merujuk pada inisiasi (mistis) yang bersifat rahasia dalam kaitannya dengan peristiwa itu sendiri maupun dengan tempat di mana inisiasi itu berlangsung; keduanya tidak dapat diakses oleh orang kebanyakan yang masih berjiwa duniawi (profane) .

Dalam artian simbolis gua dilihat sebagai tempat yang terletak di bawah atau di dalam gunung sehingga keduanya saling melengkapi. Walaupun demikian, gunung menurut Guénon secara simbolis lebih purba (primordial) dibandingkan gua. Berbeda dengan gunung yang dapat terlihat secara kasat mata dari semua sisi, gua pada dasarnya tempat tersembunyi dan tertutup. Dari pengamatan ini Guénon menyimpulkan bahwa representasi pusat spiritual dari gunung terkait dengan periode di mana “kebenaran seluruhnya dapat diakses oleh semua”; pada periode sesudahnya kebenaran itu hanya dapat diakses oleh segelintir kalangan elit. Untuk memperoleh gambaran agak lengkap mengenai pikiran Guénon, berikut ini disajikan ungkapannya secara langsung :

It must be mentioned… that the mountain is more “primordial” in its significance than the cave: it is so in virtue of being outwardly visible, we might even say of being the most visible object from all sides, whereas the cave is, on the contrary, an essentially hidden and closed place. It can easily be deduced from this that the representation of the spiritual center by the mountain corresponds to the original period of earthly humanity, during which the truth was wholly accessible to all …; but when owing to the downward march of the cycle, this truth was no longer within the scope of more than a fairly restricted “élite” …. and had become hidden from the majority, the cave was a more fitting symbol of the spiritual center and therefore of the initiatic sanctuaries which are its images.

Harus disinggung… bahwa gunung lebih “primordial” signifikansinya dari gua: demikianlah karena gunung secara lahiriah terlihat, kita bahkan mungkin mengatakan menjadi objek yang paling terlihat dari semua sisi, sedangkan gua adalah, sebaliknya, pada dasarnya tersembunyi dan tertutup. Dari sini dapat dengan mudah disimpulkan bahwa representasi dari pusat spiritual oleh gunung sesuai dengan periode awal manusia di bumi ketika kebenaran sepenuhnya dapat diakses oleh semua; pada masa selanjutnya, karena siklus yang merngarah ke ke bawah, kebenaran ini tidak hanya dapat diakses hanya oleh kalangan “elite” yang cukup terbatas …. dan telah menjadi tersembunyi dari mayoritas, gua adalah simbol lebih pas dari pusat spiritual dan karenanya menggambarkan tempat inisiasi suci.

Ungkapan di atas tidak menujukkan gunung berubah atau pindah tempat; yang terjadi adalah “puncaknya” seolah-olah menyembunyikan diri ke bagian dalam. Bagi Guénon perubahan yang tampak terbalik ini (reversal) juga tidak berarti bahwa “dunia lebih tinggi dan lebih lebih dalam” (higher and inner world) telah berubah; yang berubah adalah “dunia luar” (external world), demikian juga hubungan antara keduanya. Oleh Guénon gunung diilustrasikan oleh segitiga yang mengarah ke atas sementara gua segitiga lebih kecal yang mengarah ke bawah yang lebih kecil. Gambar 1 meujukkan hubungan “terbalik” sekaligus “saling melengkapi” antara keduanya.

goa101

Bagaimana agar segitiga yang di bawah dimasukkan ke dalam segitiga yang di atas sedemikian rupa sehingga menutupi yang pertama secara sempurna. Menurut Guénon, yang kebetulan ahli matematika, caranya adalah dengan menarik satu garis tengah secara horizontal pada segitiga yang di atas dan menjadikan garis tengah itu sebagai “alas” bagi segitiga yang mengarah ke bawah. Hasilnya adalah “klop” dengan 4 segitiga: satu mengarah ke bawah, sisanyake atas sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2. Guénon  memaknai ini sebagai simbol “Segel Sulaiman” (“Seal of Solomon”). Wallahu’alam.

Guénon mengungkapkan bahwa segitiga terbalik juga melambangkan hati (heart) dan cawan (cup), khususnya dalam kaitannya dengan misteri Cawan Suci (Holy Grail). Selain itu dia mengungkapkan bahwa segitiga yang di bawah lebih kecil dibandingkan dengan yang di atas tetapi dalam kaitan ini kata kecil sekaligus bermakna besar, jauh lebih besar:

Moreover, in the present case, there is a more special reason: we have recalled, in connection with the relationship between the cave and the heart, the text of the Upanishads where it is said that the Principle, which resides at “the center of the being”, is “smaller than a grain of rice, smaller than a grain of barley, smaller than a grain of mustard, smaller than a grain of millet, smaller than the seed that is in a grain of millet”, but also at the same time “larger than the earth, larger than the atmosphere (or the intermediary world), larger than the heavens, larger than all the worlds together”…

Selain itu, dalam kasus ini, ada alasan khusus lainnya: kami ingat sehubungan dengan hubungan antara gua dan hati, teks Upanishad mengungkapkan bahwa Prinsip, yang berada di “pusat wujud”, “lebih kecil dari sebutir beras, lebih kecil dari sebutir gandum, lebih kecil dari sebutir mustar, lebih kecil dari sebutir milet, lebih kecil dari benih yang ada di sebutir millet “, tetapi juga di saat yang sama “lebih besar dari bumi, lebih besar dari atmosfer (atau dunia perantara), lebih besar dari langit, lebih besar dari semua dunia bersama-sama.

Terkait dengan kutipan di atas kita dapat menganalogikan makna “besar-kecil” dengan misteri hati seorang Mukmin yang sekalipun fisik kecil tetapi menurut satu hadits qudsi dapat menampung Tuhan: “Langit dan bumi tak dapat menampung-Ku. Hanya hati seorang Mukmin yang cukup luas untuk menampungku.”

Wallahu’alam ……@

xx

xx

← Back

Thank you for your response. ✨

Jaring dan Ikan

Jaring dan Ikan

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Sebagian besar ikan yang terjerat dalam jaring konon tidak menyadari terjerat sehingga tidak terpikir untuk membebaskan diri. Sebagian kecil ikan yang terjerat itu konon menyadari kondisinya sehingga berjuang keras untuk membebaskan diri: sebagian besar gagal, sisanya berhasil. Anggota dari kelompok ke-3 ini– yang berusaha membebaskan diri dan berhasil– relatif sangat sedikit jumlahnya. Tetapi ada kelompok ikan lain dengan jumlah anggota jauh lebih sedikit: anggota kelompok ini tidak tertarik oleh jaring sehingga sejak awal terbebas dari jeratannya. Dari uraian di atas kita dapat membagi ikan– dalam kaitannya dengan jaring– ke dalam empat kelompok: (1) mereka yang terjerat jaring tetapi “tidak menyadari” bahwa ia terjerat, (2) mereka yang “menyadari” terjerat dan berjuang keras untuk membebaskan diri, (3) mereka yang berhasil keluar dari jeratan dan bebas, dan (4) mereka yang sejak awal terbebas dari jeratan jaring.

Dalam cerita di atas yang dikemukanan oleh Ramakrishna itu[1] jaring melambangkan dunia, sedangkan ikan melambangkan jiwa manusia. Disini terlihat “kelincahan” tradisi India dalam memanfaatkan kasus pengalaman hidup sehari-hari sebagai titik tolak pemikiran filsafat; ini berbeda dengan tradisi Barat yang terlalu mengandalkan reasoning atau spekulasi intelektual sehingga Filsafat Barat oleh Swami Yasiwaranda dikritik sebagai hanya senam intelektuali yang tidak banyak bermafaat bagi kehidupan nyata sehari-hari[2]. Memberikan label filsuf kepada sosok Ramakrishna (1836-1886) mungkin tidak memadai karena beliau adalah seorang yogi dan mistis India, bergelar Bagawan dan Mahatma, dan dilaporkan sangat dihormati dan diakui kebesarannya oleh semua pemuka agama atau tradisi besar dunia termasuk Kristen (Ortodoks), Islam, Budha, dan Sikh[3].

Menggunakan analogi jaring-ikan itu Sang Bagawan membagi jivas atau jiwa-jiwa individual terbagi ke dalam empat kelas: (1) Badha (terikat, the bound), (2) Mumukshu (pencari kebebasan, the seeker after freedom), (3) Mukta (terbebas, emancipated) dan (4) Nitya-Mukta (bebas abadi, the eternally free). Seperti disinggung sebelumnya, anggota dari kelas jiwa ke-4 jumlahnya paling sedikit, mungkin setara dengan apa yang dikenal dalam kajian sufi sebagai “orang-orang khusus dari kelompok orang khusus” (khawasul-khawaas). Sebaliknya, kelompok ke-1 merupakan mayoritas sehingga memperoleh perhatian lebih dari Sang Bagawan.

Jiwa Badha

Menurut Sang Bagawan, ikan dalam kelompok pertama, ketika tertangkap, akan lari dan bersembunyi dalam lumpur dengan tetap berada dalam jeratan jaring, masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi ke dalam lumpur. Inilah gambaran orang yang berjiwa Badha. Selanjutnya Ramakrishna melukiskan mereka sebagai orang yang tidak mampu menarik pelajaran dari pengalaman hidup yang pahit seperti terungkap dalam kutipan langsung berikut[4]:

Those who are thus caught in the net of the world are the Baddha, or bound souls. No one can awaken them. They do not come to .their senses even after receiving blow upon blow of misery, sorrow, and indescribable suffering. …. The bound souls may meet with great grief and misfortune, but after a few days, they are just as they were before. The wife may die or become unchaste, the man will marry again; his son may die, he will be extremely sorrowful, but he will soon forget him. The mother of the boy may be overwhelmed with grief for a short time, but in a few days she will once more be concerned her personal appearance and will deck herself with jewels and finery.

Mereka yang terjerat dalam jaring dunia adalah Baddha, atau jiwa yang terbelenggu. Tidak ada yang bisa membangunkan mereka. Mereka tidak bergeming bahkan setelah menerima berbagai deraan penderitaan, kesedihan dan kesengsaraan yang tak terlukiskan. …. Jiwa yang terbelenggu (dunia) itu bisa saja mengalamai kesedihan dan kemalangan yang dahsyat, tapi setelah beberapa hari mereka akan kembali seperti sebelumnya. Istrinya bisa mati atau menjadi pelacur, tapi orang itu akan menikah lagi; anaknya bisa saja mati dan ia akan sangat bersedih karenanya tetapi akan segera melupakannya. Ibu dari anak itu mungkin akan mengalami kesedihan luar biasa (atas kematian anaknya) tetapi itu hanya untuk waktu singkat, dalam beberapa hari ia tidak akan peduli dan kembali lebih memperhatikan penampilan pribadi dengan segala aksesori perhiasan.

Ciri orang yang berjiwa Badha lainnya adalah standar moralnya yang rendah serta tidak memiliki apresiasi terhadap kehidupan beragama. Mengenai hal ini Ramakrishna mengungkapkan[5]:

There is another sign of a Baddha, or worldly soul. If you remove him from the world and put him in a better place, he will pine away and die. He will work like a slave to support his family, and he will not hesitate to tell lies, to deceive or to flatter in order to earn his livelihood. He looks upon those who worship God or who meditate on the Lord of the universe as insane. He never finds a time or opportunity to think of spiritual subjects. Even at the hour of death he will think and talk worldly things. Whatever thought is strongest in the minds of worldly people comes out at the time of death. If they become delirious, they rave of nothing but material objects.

Ada tanda lain dari Baddha, atau jiwa duniawi. Jika Anda memindahkan dia dari dunia dan menempatkannya di tempat yang lebih baik, ia akan merana dan mati. Dia akan bekerja seperti budak untuk mendukung keluarganya, dan ia tidak akan ragu untuk berbohong, menipu atau untuk menyanjung dalam rangka untuk memperoleh penghasilan. Dia memandang orang-orang yang menyembah Allah atau yang merenungkan Tuhan alam semesta sebagai gila. Dia tidak pernah menemukan waktu atau kesempatan untuk memikirkan pelajaran spiritual. Bahkan pada saat kematian ia akan berpikir dan berbicara mengenai hal-hal yang bersifat duniawi. Apapun yang menjadi pikiran terkuat di benak orang-orang duniawi akan terungkap pada saat kematian. Jika mereka menjadi mengigau, mereka igauannya hanya terkait dengan benda-benda material.

Sayangnya Ramakrishna yang hidup di abad ke-19 sehingga tidak sempat menyaksikan gaya hidup manusia kontemporer. Seandainya kesempatan itu ada, penulis menduga beliau akan memasukkan para elit berikut sebagai contoh kasus orang yang berjiwa Badha: penguasa negara yang berani merampok secara kasar hak-hak dasar rakyatnya, pejabat publik dengan fasilitas wah tetapi masih berani mengkorupsi uang rakyat, para pengusaha “sukses” tetapi tega mengambil hak-hak pekerja, profesional muda “sukses” yang menghabiskan hampir seluruh waktu dan energinya untuk menata karir duniawi tanpa menyisakan ruang dan waktu untuk berpikir hal-hal yang luhur.

Kebanyakan kita tampaknya tidak layak bermimpi untuk memiliki jiwa ke-4 (Nitya Mukta) tetapi patut berlindung kepada-Nya dari sifat-sifat  orang berjiwa ke-1 (Badha). Kita dapat berharap minimal memilki jiwa ke-2 (Mumukshu) sambil terus berupaya dan berharap pertolongan-Nya agar diangkat ke kelas jiwa ke-3 (Mukta). Kenapa perlu pertolongan-Nya? Karena jiwa kita berada dalam genggaman-Nya seperti terungkap dalam ujung doa tahiyat akhir dalam tradisi Islam: “Wahai yang membolak-balikan jiwa, tetapkanlah jiwaku dalam agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu (Ya muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘ala a diinika wa’ala thaa’atika).

Apa kata agama?

Konon semua agama berbeda dalam hal perumusan teologi tetapi mempunyai bahasa yang sama ketika terkait dengan kesalehan moral pribadi dan sosial. Hemat penulis semua agama mengajarkan hidup sederhana, menentang kemewaahan berlebihan, dan merasa prihatin dengan moralitas masyarakat yang berjiwa Badaha.

Islam, sejauh yang penulis pahami, tidak menentang secara serta merta kehidupan dunia: secara fisikal kita merupakan bagian dari dunia sehingga kehidupan dunia tak terhindarkan. Kita tidak mungkin menghindari ketertarikan kepada “harta” dan “wanita”;  by design itulah sifat-dasar kita:

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan anak-anak, harta benda yang bertumpuk berpa emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan dunia dan sisi Allahlah tempat kembali yang baik[6].

Tantangannya adalah bagaimana mengendalikan sifat-dasar kita itu sehingga keduanya tidak menguasai dan memperbudak jiwa kita. Menghadapi tantangan ini jalan Islam secara umum– ini mungkin berbeda dengan jalan Kristen atau Hindu—mengambil “jalan tengah” atau moderat. Hal ini diilustrasikan oleh kisah Usman Ibn Mazhun (adik Umar Ibn Khattab), seorang sahabat Nabi Saw yang dikenal paling zuhud, bahkan sebelum masa turunnya wahyu. Dia sangat tertekan oleh hasrat-hasrat duniawi sehingga suatu saat dia meminta izin kepada Nabi SAW untuk bertapa dan menghabiskan sisa hidupnya untuk menjadi sorang fakir. Jabawan Nabi Saw[7]:

“Tidakkah engkau jadikan aku sebagai teladan bagimu?” “Aku menikah, aku makan daging, dan aku juga berpuasa, dan aku juga berbuka. Bukan dari kaumku orang yang menjadikan dirinya dan orang lain fakir”. “Engkau berpuasa setiap hari dan asyik beribadah sepanjang malam”. “Tidak begitu, dan jangan lakukan itu karena sesungguhnya matamu memilki hak atas dirimu, dan tubuhmu juga memiliki hak-haknya, demikian juga keluargamu memiliki hak-hak yang harus kau penuhi. Maka salat dan tidurlah, berpuasa dan berbukalah”.

Dalam ajaran moderatnya, Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sendau gurau (la’ib dan lahw)[8] seingga sangat tegas mengecam:

  • Sikap hidup yang lebih mengedapankan kehidupan dunia dari kehidupan ahirat padahal yang terakhir “lebih baik” dan “lebih kekal” (al-A’la:16-17);
  • Orientasi hidup dengan menempatkan sukses kehidupan dunia sebagai tujuan final sehingga di akhirat “tidak memperoleh apa-apa”( al-Baqarah: 200); dan
  • Kecintaan kepada harta yang berlebihan (al-Fajr:20).

serkah101

Itulah ajaran-ajaran pokok Islam, sejauh yang penulis pahami, mengenai kehidupan dunia yang sangat jelas dan realistis dalam arti sesuai dengan fitrah manusia: “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam) yang sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu…” (Ar-Rum:30). Cinta berlebihan kepada dunia jelas bukan bagian dari fitrah manusia; ia  menurut Nabi Saw(*) merupakan “pangkal dari segala kesalahan”.  Wallahu’alam ….@

[1] The Gospel of Ramakrishna (1907:44-45), The Vedanta Society, New York.

[2] Lihat tulisan penulis “Senam Filsafat” dalam posting sebelumnya.

[3] The Gospel, halaman 8-9.

[4] Ibid, halaman 45-46.

[5] Ibid, halaman 46-47.

[6] Al-Quran, al-Imran ayat 14, The Wisdom, Al-Mizan Publishing House, 2013.

[7] Martin Lings (Abu Bakar Siraj al-Din), Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Halaman 309-310, PT Serambi Ilmu Semesta, 1991

[8] Al-Hadid (20).

(*) Menurut satu sumber sabda Nabi Isa AS: Abu Nu’aim al Ashbahâny (w. 430 H), Hilyatul Awliya wa Thabaqâtul Ashfiyâ’, Juz 6 hal 338, sebagaimana dikemukakan dalam https://mtaufiknt.wordpress.com/2011/12/19/cinta-dunia-adalah- pangkal-kesalahan/