Makna Batiniah Wudu


Makna Batiniah Wudu

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Istilah wudu (abolition) merujuk pada aktivitas pembasuhan sebagian anggota tubuh tertentu khususnya pada bagian muka, kedua belah tangan sampai siku, dan kedua pasang kaki sampai pergelangan kaki. Secara lahiriah, tindakan pembasuhan itu bersifat fisikal atau duniawi (profan). Walaupun demikian, wudu mengandung makna beyond tindakan profan karena intensi, “niat-ingsun” atau motivasinya adalah membebebaskan, membersihkan atau menyucikan dari dari segala sesuatu yang bersifat tidak suci (hadats). Inilah yang penulis maksdukan dengan “makna batiniah” (the inner meaning) wudu.

Penegasan mengenai makna batiniah wudu dapat dilihat dari praktek para ulama yang melafalkan bacaan-bacaan tertentu ketika membasuh anggota tubuh tertentu ketika berwudu. Sebagai ilustrasi, ketika membasuh kaki, sebagian ulama membaca lafal doa “Allâhumma tsabbit qadamayya ‘alas shirâti yauma tazillul aqdâmu fin nâri”; yang artinya kira-kira, “Wahai Tuhanku, tetapkan kedua kakiku di atas shirat pada hari ketika banyak kaki manusia terpeleset di api neraka,”[1] Dalam lafal do’a itu tampak bahwa kaki melambangkan keseluruhan jalan hidup kita di dunia ini.

wudhu107

Menurut fikih wudu hukumnya bersifat anjuran (sunat) tetapi menjadi keharusan (wajib) ketika hendak melakukan salat (atau tawaf): wudu merupakan prasyarat sahnya salat (atau tawaf). Dengan berwudu seseorang menjadi terbebas dari ketidaksucian atau hadats kecil yang secara umum tidak kasat mata[2].

Dalam praktek, anggota tubuh yang dibasuh dalam berwudu tidak hanya mencakup wajah, tangan dan kaki, tetapi juga mulut, hidung dan telinga. Seperti disinggung sebelumnya, masing-masing anggota tubuh itu mengandung simbol kekotoran tertentu yang harus disucikan ketika seorang hamba siap menghadap-Nya. Tangan, misalnya, menurut Schuon menyimbolkan tindakan-tindakan duniawi (profan) secara umum. Untuk lengkapnya, berikut ini disajikan ungkapan Schuon mengenai makna simbolis anggota tubuh yang dibasuh ketika wudu:

In abolition, the hand refers to profane actions; the mouth to the impurities contracted knowingly; the nose to the impurities contracted unwillingly and unconsciously; the face to the shame of sin; the forearms to impure intention; the ears to deafness with regard to the divine Words; the head to pride; the ears to waywardness. Or in positive terms: the purified hand to spiritual actions; the mouth to active purity; the nose to passive and unconsciousness purity; the face to the state of grace; the forearms to purity of intention; the ears to the receptivity to the divine Words or to spiritual or angelic inspirations; the heads to humility before God, hence to awareness of our nothingness;the feet to our qualification for the path of contemplation (Schuon: 145-146)[3]

Dari kutipan di atas tampak bahwa masing-masing anggota tubuh melambangkan suatu aspek ketidaksucian atau ketidakmurnian tertentu yang melekat dalam diri kita sehingga perlu dimurnikan terlebih dahulu sebelum menghadap Dia yang Maha_Suci:

·      Tangan : Tindakan duniawiah (profan);
·      Mulut : Kekotoran yang dilakukan secara sengaja;
·      Hidung : Kekotoran yang dilakukan tanpa sengaja dan tanpa sadar;
·      Wajah : Keburukan aib dosa;
·      Lengan : Kekotoran niat; dan
·      Telinga : Ke-tidak-patuhan.

Dari kutipan di atas juga tampak bahwa setelah dimurnikan masing-masing anggota tubuh itu mengandung suatu aspek kesucian tertentu:

·      Tangan : Tindakan spiritual;
·      Mulut : Kemurnian yang bersifat aktif;
·      Hidung : Kemurnian yang bersifat pasif dan tanpa sadar;
·      Wajah : the state of grace;
·      Lengan : Kemurnian niat;
·      Telinga : Kesiapan menerima Firman ilahiah atau inspirasi spiritual;
·      Kepala : Kerendahan hati di hadapan Tuhan; dan
·      Kaki : Kualifikasi untuk menempuh jalan kontemplasi.

Keharusan wudu sebelum menghadap-Nya melalui salat menghendaki agar kita terbebas dari semua bentuk “kekotoran”: keterikatan terhadap semua urusan duniawi serta terbebas dari semua jenis kekotoran, aib dosa, kekotoran niat, dan dari semua bentuk ketidak-patuhan. Hemat penulis, semua ini mengisyaratkan bahwa Dia hanya berkenan menerima kita jika keseluruhan individualitas kita sudah murni dalam arti terbebas dari semua bentuk kekotoran itu. Pertanyaan restropektif: Apakah kualifikasi itu berlaku untuk mengahadap-Nya melalui pintu kematian? Astagfirullah…. @

[1] Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta; http://www.nu.or.id/post/read/66243/doa-basuh-kaki-kanan-saat-wudhu;

[2] Untuk terbebas dari hadats besar seseorang harus mandi dengan niat khusus yakni bersuci dari hadats besar.

[3] Frithjof Schuon, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom, Inc. Nama muslim Schuon adalah Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an. Schuon adalah Syech dari tarekat itu sampai akhir hayatnya (May, 1998).

2 thoughts on “Makna Batiniah Wudu

  1. “Tidak diterima sholatmu tanpa bersuci atau Wudhu (HR. Muslim), dan Bersuci atau berwudhu adalam sebagian dari iman (HR. Muslim)”. Barangkali hadis ini memperkuat bahw statemaent Bapak: “Menurut fikih wudu hukumnya bersifat anjuran (sunat) tetapi menjadi keharusan (wajib) ketika hendak melakukan salat (atau tawaf): wudu merupakan prasyarat sahnya salat (atau tawaf)”.
    Mengutip komentar Bapak yang pernah dilontarkan pada topik sebelumnya, bahwa do’a tetap esensial, maka meskipun kita telah melakukan wudhu, barangkali untuk memperoleh makna wudhu-“suci”, kita tetap berdoa setelahnya yang kira-kira artinya:

    “Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci (sholeh)”.

    Apakah kualifikasi itu berlaku untuk mengahadap-Nya melalui pintu kematian?
    Komentarnya, bisa jadi ‘suci’ adalah syarat perlu tetapi belum cukup. Suci yang berarti bebas dari dosa-dosa itu akan lebih lagi bila kita sudah investasi amalan yang nantinya tak kan terputus ketika kita telah melalui pintu kematian sekali pun: sedekah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh.

    1. Tkb komentarnya yg bagus. Pertanyaan retrospektif dimaksudkan u/ mengingatkan kita semua, khususnya yang tua2 ini seperti penulis, agar tidak terlalu “semangat” mengejar sukses keduaniaan, apalagi diserati hasrat dan nafsu yang aneh2, karena hal itu tidak relevan dalam persiapan untuk –bahkan membebani diri saat– bertemu dengan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s