Ini eBook m/ Sejarah Muslim Awal

 

Buku ini (edited) gratis diakses tetapi “charitable donation” untuk “opportunity cost” penyiapannya disyukuri penulis.

Here is the link: https://drive.google.com/file/d/1SyDmxwUH9daKWbPRU6gViWeo5tRyy1pt/view?usp=sharing Note: the latest edit, 9 October 2018

$2.00

Advertisements

Kesultanan Utsmaniyah: Sejarah Singkat dan Refleksi

utsmani1

Sumber Gambar: Google

Kalau kita diizinkan membuat penyederhanaan-berlebihan mengenai sejarah peradaban muslim sebagai suatu kesatuan Umat, agaknya tidak terlalu keliru jika kita membaginya ke dalam empat babakan sejarah berikut: (1) 1.5 milenium yang lalu: Lahir, (2) Satu milenium berikutnya: tumbuh, berkembang, dan mencapai titik puncak, (3) 0.6 milenium selanjutnya: melemah; dan (4) Satu abad terakhir: “mati”. Di sini istilah kestuan Umat dilihat pada level sosiologis-politis yang konkret; jelasnya, ketika Umat Islam (selanjutnya: Umat) secara keseluruhan memiliki faktor pemersatu berupa sistem pemerintahan tertentu, kekhalifahan atau kesultanan. Dalam konteks ini Kesultanan Utsmaniah (Inggris: Ottoman Empire) menarik untuk ditelisik karena periodenya mencakup era ketika peradaban Umat bergerak maju ke titik puncak, melemah dan “mati” [1].

Kesultanan Utsmaniah termasuk salah satu entitas politik negara adikuasa (superpower) termegah dan terlama dalam sejarah dunias selama lebih dari 600 tahun. Kekuasaannya mencakup wilayah yang sangat luas: Timur Tengah, Eropa Timur dan Afrika Utara. Puncak kekuasaan terletak pada Sultan yang memiliki otoritas keagamaan dan politik terhadap rakyat. Sementara Eropa menganggapn kekuasaan Kesultanan ini sebagai ancaman, banyak para ahli sejarah melihatnya sebagi sumber stabilitas regional yang juga memberikan sumbangan positif terhadap kemajuan bidang-bidang seni, sains, agama dan kebudayaan.

Kesultanan ini mulai dibangun oleh pimpinan suku Turki di Anatolia sekitar tahun 1299. Perluasan pemerintahan formal Kesultanan ini dibangun di bawah sultan-sultan berikutnya khususnya Osman I, Orhan, Murad I dan Beyazid I. Era Sultan Mehmed II, Kesultanan ini merebut kota kuno Konstantinopel, Ibu Kota Imperium Bizantium, pada tahun 1517. Sultan mengganti namanya menjadi Istambul yang berarti ‘Kota Islam”. Penaklukkan ini mengakhiri kekuasaan 1000-tahun Imperium Bizantium. Pada awal abad ke-17, kesultanan ini terdiri dari 32 provinsi dan sejumlah negara vasal, sisanya diberikan otonomi dalam berbagai tigkat[2].

Puncak kejayaan Kesultanan ini –dilihat dari luasnya wilayah kekuasaan, stabilitas sosial-politik, dan kemakmuran rakyat–  dicapai dalam Era Sultan Sulaiman Agung (1520-1566). Di bawah kepemimpinannya, kekuasaan Kesultanan mencakup wilayah-wilayah Turki, Yunani, Bulgaria, Mesir, Hongaria, Mecedonia, Romania, Yordania, Palestina, Lebanon, Syiria, beberapa wilayah Arab, dan sejumlah wilayah garis pantai Afrika Utara.

Sesuai “hukum sejarah”, gerak maju dan mencapai titik puncak pasti dikuti oleh gerak mundur. Bagi Kesultanan Utsmaniah, gerak mundur ini dimulai sekitar tahun 1600 karena dominasi ekonomi dan militer Eropa. Sekitar tahun ini Eropa mengalami kemajuan cepat karena menguatnya semangat zaman Renaisans (Renaissance)[3] dan fajar revolusi industri.

Terkait dengan istilah Renaisans kita dapat menyisipkan catatan singkat berikut. Istilah ini merujuk pada suatu gerakan budaya di benua Eropa pada abad 14-17. Sebagai gerakan budaya, Renaisans tidak bergerak serempak di seluruh Eropa tetapi semangatnya satu: pencarian alternatif budaya dari yang sepenuhnya diwarnai ajaran Kristen dan beralih ke kebudayaan-Yunani-Romawi sebagai model. Zaman Renaisans diikuti oleh Zaman Pencerahan sekitar abad ke-18 ketika masyarakat mulai menyadari pentingnya diskusi-diskusi ilmiah. Zaman ini—dengan tonggak Sekularisme—merupakan masa produktif bagi Eropa dan pada masa ini ditemukan bubuk mesiu, mesin cetak, dan kompas yang sangat bepegaruh terhadap peradaban manusia[4].

Kembali kepada Kesltanan Utsmaniah. Pelemahan Kesultanan ini juga terjadi karena buruknya kepemimpinan dan kekalahan dagang dalam berkompetisi dengan pihak-pihak Amerika dan India. Kemunduran kekuasaan Kesultanan ini ditandai oleh lima peristiwa menentukan berikut:

  • 1683: Kekalahan dalam Pertempuran Viena (the Battle of Vienna);
  • 1830: Kemenangan Yunani dalam melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan;
  • 1878: Kemerdekaan Romania, Serbia dan Bulgaria yang dideklarasikan dalam Kongres Berlin;
  • 1912-1913: Kesultanan kehilangan kekuasaan hampir di seluruh daratan Er opa;
  • 1918: Kekalahan dalam Perang Dunia ke-I. Kesultanan, bersama Jerman dan Austria-Hongaria, berada di pihak Kekuatan Terpusat (the Central Power). Sesuai kesepakatan, hampir semua wilayah kekuasaan Kesultanan dibagi-bagi antara Inggris, Prancis, Yunani dan Rusia.

Kesultanan secara resmi berakhir tahun 1922 ketika istilah Kesultanan Utsmaniah dihapuskan dan Turki mendeklarasikan sebagai Negara Republik pada tahun 1923. Dalam perjalanan sejarahnya dalam periode 1299-1922, Kesultanan dipimpin oleh 36 Sultan.

Sebagai penutup agaknya layak direnungkan teks suci berikut yang diturunkan terkait dengan kekalahan bala tentara Rasul SAW dalam perang Uhud.

Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuhmu pada peperangan Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS 3:165).

Wallahualam….@

[1] Rujukan utama tulisan ini diperoleh dari https://www.history.com/topics/ottoman-empire

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Renaisans

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Pencerahan

Bibit Umat yang Berbobot

Sejarah membuktikan bahwa cikal-bakal atau bibit Umat Islam sangat berkualitas atau berbobot. Bobotnya dapat dianalogikan dengan, mengambil istilah dalam tanaman padi, VUTW (Varitas Unggul Tahan Wereng). Layaknya bibit VUTW, bibit Umat ini bukan saja mampu bertahan dari berbagai faktor yang mengancam kelangsungan hidup, tetapi juga mampu berkembang pesat dalam waktu yang sangat cepat dalam ukuran sejarah peradaban manusia.

Komunitas Kecil yang Berkarakter

Sulit membayangkan bahwa benih Umat berasal dari komunitas Kaum Muhajirin yang sangat kecil jumlahnya, mungkin kurang dari 100 keluarga. Indikasi kecilnya komunitas itu  terlihat menjelang Perang Badar ketika “ada 77 orang muhajirin di Madinah, dan semuanya turut serta kecuali tiga orang: menantunya Utsman, yang diminta menjaga isterinya yang sedang sakit, Thalhah dan Sa’id yang belum kembali dari pesisir” (Ling, 1991:257)[1]. Komunitas kecil ini terusir dari kampung-halamannya karena alasan keyakinan, “karena beriman kepada Allah, Tuhanmu” (al-Mumtahanah:1). Sekali pun kecil karakter mereka luar biasa sehingga memperoleh gelar “shaadiquun”:

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir dari kaum Muhajirin (yang berhijrah) yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah shaadiquun, orang-orang yang benar (al-Hasyr:8).

Sebenarnya sulit memastikan besarnya komunitas ini karena mereka hijrah secara tersembunyi, dalam kelompok kecil, keluarga atau bahkan sendirian. Bagi sebagian Umat yang memutuskan tidak pindah, mereka terpaksa  melakukan ibadah, dakwah dan bahkan identitas keyakinan secara tersembunyi pula. Dengan alasan inilah–keterpaksaan beribadah dan dakwah secara tersembunyi-—maka konsep Umat sebagai suatu kolektif sosial baru dapat dikenakan secara kongkrit dalam Era Madinah.

Pada awalnya, benih Umat hanya dapat mengandalkan Kaum Muhajirin karena, sesuai Perjanjian Akabah, Kaum Ansar hanya berkewajiban untuk melindungi muhajirin ketika berada di dalam Kota Madinah. Walaupun demikian, menjelang Perang Badar, atas kehendak sendiri Kaum Ansar bergabung dengan pasukan Umat sehingga Rasul saw dapat mengerahkan secara total sekitar 350 anggota pasukan[2]. Mengingat kecilnya jumlah Kaum Muhajirin, maka bergabungnya Kaum Ansar tentunya sangat penting bahkan menentukan bagi kelangsungan hidup Umat, apalagi mengingat karakter mereka juga luar biasa sebagaimana didokumentasikan dalam nash:

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari syukhah (kekikiran), maka mereka itulah muflihuun, orang-orang yang beruntung (Al-Hasyr:9).

Dengan bergabungnya Kaum Ansar yang bergelar muflihuun itu, bibit Umat semakin berbobot. Kaum ini merupakan mayoritas dalam formasi pasukan Perang Badar yang secara keseluruhan, menurut suatu riwayat,  berkekuatan 313 prajurit, 70 ekor unta, dan tidak lebih dari 3 ekor kuda. Dalam perang ini pasukan Umat seringkali harus mengendarai tunggangan secara bergantian karena sangat tarbatasnya sarana tunggangan yang tersedia ketika itu. Dalam kalkulasi manusiawi, kekuatan pasukan ini jelas terlalu kecil untuk menghadapi pasukan musuh yang diperkirakan berkekuatan 1,000 pasukan tentara dari Makkah dengan 600 orang pasukan berkuda (kavaleri) dan logistik, dilengkapi dengan 300 orang tentara cadangan yang merangkap sebagai regu musik dan 700 ekor unta[3].

Perang Badar adalah salah satu ujian terberat bagi Umat untuk menunjukkan diri sebagai Umat yang unggul. Tetapi itu bukan satu-satunya. Sejarah mencatat, selama masa kenabiannya Rasul saw terlibat langsung dalam 27 peperangan (besar atau kecil, termasuk semacam operasi militer dalam rangka mempersiapkan suatu peperangan), tujuh di anatarnya dipimpin langsung oleh beliau: Perang Badar Al-Kubra, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Bani Quraidhah, Perang Bani Musthaliq dari Bani Khuza’ah, Perang Khaibar, Perang Fath Makkah, Perang Hunain dan Perang Tabuk[4]. Dalam ajaran Islam perang diizinkan untuk membela diri dan dengan alasan yang tepat (Al-Hajj:39).

Pertolongan Rabb

Kembali ke soal Perang Badar, sekali pun kalah telak dalam hal kekuatan, pasukan Umat yang lemah (Arab: adzillah) ini dapat memenangkan peperangan ini secara meyakinkan. Kenapa menang? Utamanya karena pertolongan Rabb, Allah swt, sebagaimana diabadikan dalam Al-‘Imran (123-125):

Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukurinya.

(Ingatlah) ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apa tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”

“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.

Di luar faktor pertolongan Rabb, faktor internal Umat tentunya juga penting, menjadi faktor sababiah (meminjam istilah kaum santri) bagi kemengan itu. Hal ini terlihat dari Ayat 125 yang mengesankan bahwa bantuan malaikat mensyaratkan kesabaran dan ketakwaan dari pihak Umat. Dua kualifikasi ini– kesabaran dan ketakwaan– yang antara lain mencirikan keunggulan dan ketahanan Umat dalam menghadapi ancaman “hama wereng” dalam wujud Kaum Kafir Quraisy, Kaum Kafir Ahli Kitab (khususnya Yahudi), Kaum Munafik, dan suku-suku di jazirah Arabia yang karena kejahilyahnnya bersikap memusuhi Umat. Mengenai Ahli Kitab nash mengingatkan bahwa sebagian mereka sebenarnya tergolong saleh: “membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat)”, “beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegara (mengerjakan) berbagai kebaikan”  (Al-Imran:113-114).

Mengenai unsur kesabaran ini Al-Imran (152) mengesankan bahwa kekalahan Perang Uhud (sekalipun kekalahannya tidak fatal) terkait antara lain dengan ketidaksabaran sebagian pasukan Umat– regu pemanah yang diperintahkan Rasul saw untuk tidak meninggalkan tempat yang ditetapkan—yang tergoda untuk segera mengumpulkan harta rampasan perang padahal pertempuran belum usai. Mengenai hakikat kemenagan ini ayat lain mengungkapkan:

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Anfal:17).

Ayat ini sangat penting untuk menjaga kemurnian tauhid (ajaran keesaan Rabb) Umat. Ayat ini juga, seperti ayat lain yang serupa, tak pelak telah membantu membangun sikap rendah hati (humble) di kalangan Umat, suatu sikap yang didorong oleh kesadaran kongkrit bahwa di hadapan Rabb dirinya sangat kerdil[5]. Sikap rendah hati ini lah yang didemonstrasikan oleh Umat ketika terjadi peristiwa pembebasan Kota Mekah yang dramatis pada tahun 8 Hijriyah yang bertepatan dengan tahun 630 Masehi. Kenapa dramatis? Karena dalam ukuran normal manusia (apalagi pada era itu) tidak masuk akal pasukan pemenang menaklukkan musuh bebuyutan tanpa meneteskan darah. Ini sejarah, bukan fiksi, yang membuktikan bahwa penyelesaian politik tanpa kekerasan bukan merupakan sesuatu yang utopis, melainkan dapat diterpakan dalam dunia nyata. Hal serupa, dalam era modern, juga dibuktikan oleh Mahatma Gandhi di India dan Nelson Mandela di Afrika Selatan.

Sumber: Google

Ekspansi dan Sumbanga Umat terhadap Peradaban

Jika di era awal hijriyah Umat memiliki pijakan konstitutional berupa Piagam Madinah (yang konon merupakan dokumen konstitusional modern yang pertama), maka di Era pembebasan Mekah Umat memiliki pijakan geografis dan demografis sehingga secara leluasa melaksanakan ajaran Islam, dakwah dan ekspansi di seluruh Jazirah Arabia. Yang terakhir ini sudah diinisiasi dalam era Rasul saw tetapi kelanjutannya berlangsung dalam era khulafaur rasyidin, era Khalifah-khalifah Abu Bakar RA, Umar RA, Ustman RA dan Ali RA. Di era-era berikutnya– Era Dinasti Ummayah[6], Abbasyiah, dan Utsmani[7]—perkembangan Umat mencapai sebagian kawasan Afrika, Asia bahkan Eropah. Umat terus berkembang sehingga kini diperkirakan berjumlah sekitar 2.4 milyar jiwa atau 31.5% dari populasi global. Lebih dari separuh dari total ini tinggal di empat negara: Indonesia (15.7%), India (12.5%), Pakistan (12.4%) dan Bangladesh (9.8%)[8].

Melalui pembebasan Mekah, keberadaan Umat sebagai suatu kolektif sosial[9] telah semakin kongkrit dan siap untuk tumbuh, berkembang dan berekspansi[10]. Hal ini dimungkinkan karena beberapa faktor yang unik dalam sejarah peradaban manusia:

  1. Pertama, setelah pembebasan Mekah, Umat masih sempat dibimbing langsung oleh Rasul saw sekitar dua tahun (beliau wafat tahun ke-3 Hijriyyah). Faktor ini krusial karena–dengan akhlaqnya yang agung (Al-Qalam:4) dan bertemparamen lemah-lembut (Al-“Imran:159)– Rasul saw mampu menyatukan suku-suku Arab yang secara historis suka bertikai dan berperang[11].
  2. Kedua, selama sisa hidup beliau masih berlanjut turunnya wahyu surat-surat Madaniyah (surat yang turun sejak era Madinah) yang sarat dengan ajaran-ajaran sosial dalam arti luas, mulai dari soal kehidupan keluarga yang islami, pengaturan harta warisan, sampai pada soal pengaturan penyelenggaraan kebijakan publik. Dengan surat-surat ini Umat beruntung dapat bimbingan “ajaran langit” secara berthap dan sistematis.
  3. Ketiga, Umat berkesempatan berinteraksi dengan wahyu dalam pengertian relatif banyaknya wahyu yang ditujukan langsung kepada mereka dan bersifat edukatif dan intsruktif. Sebagai ilustrasi, ketika sebagian umat merasa bersalah karena merasa tidak berdisiplin dalam mengikuti komando Rasul saw di tengah berlangsungnya Perang Uhud, nash secara tegas memaafkan mereka (Al-‘Imran:155), suatu penegasan yang secara manusiawi sangat penting dalam menjaga moral juang Umat. Sebagai ilustrasi lain, di tengah Perang Uhud ketika Umat berada di puncak kelelahan dan kesedihan, mereka diberi “rasa aman” berupa “kantuk” (Al-‘Imran:154), kantuk yang dapat memulihkan kebugaran mereka sehingga siap melanjutkan petempuran yang urung karena pasukan musuh terlanjur meninggalkan arena peperangan; dan
  4. Keempat, ajaran Islam yang unik dapat diterima dan dapat didakwahkan secara relatif mudah bagi umat-umat lain. Keunikannya antara lain terletak dalam hal: (a) ketegasan doktrin dan kesederhanan perumusannya (doktrin Tauhid), (b) ajaran sosialnya yang praktis, egalitarian dan bias pada kelompok mustadh’afiin (kaum terpinggirkan); dan (c) vitalitas ajaran yang mendorong secara optimal pemanfaatan seluruh fakultas ruhaniah yang khas manusia (inteligensi-hati; cipta-karsa).

Dua yang pertama dapat dilihat sebagai faktor daya tarik luar biasa bagi masyarakat di luar Umat yang selama ini berada dalam tekanan kekuasaan salah satu dua imperium yang sudah sangat mapan yaitu Imperium Romawi dan Imperium Persia. Yang terakhir memungkinkan tumbuh-suburnya perdaban manusia dalam hampir semua bidang kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan dan filsafat, yang mencapai puncaknya dalam era Kahlifah Harus Ar-Rasyid dan anaknya Khalifah Makmun.

Yang layak dicatat di sini adalah bahwa dalam dinasti Ababasyiah energi Umat difokuskan pada upaya-upaya yang terkait dengan perkembangan ilmu dan filsafat. Dalam dinasti inilah hidup Imam-imam madzhab hukum Islam yang empat: Imam Abu Hanifah (700-767 M), Imam Malik (713-795 M), Imam Syafi’i (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M). Yang juga layak dicatat, popularitas Dinasti Abbasiyah mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M):

Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun ar-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi[12].

Bobot Umat yang unggul juga terlihat dari sumbangan mereka terhadap perkembangan filsafat yang juga sangat signifikan sebagaimana tersirat dalam kutipan berikut ini[13]:

Those familiar with this tradition have long recognized its profound influence on medieval Christian and Jewish thought, as well as the pivotal role that Islamic philosophers played in preserving and transmitting the legacy of classical Greek thought to Europe. True as this picture is, it is incomplete, because it overlooks the intrinsic value of Islamic philosophy. This is a vital, flourishing tradition in its own right, one that needs to be approached not just from the perspective of its European beneficiaries, but on its own terms as well (page: ix)

Mereka yang akrab dengan tradisi ini telah lama menyadari pengaruh mendalamnya pada pemikiran Kristen dan Yahudi abad pertengahan, serta peran penting yang dimainkan oleh para filsuf Islam dalam melestarikan dan mentransmisikan warisan pemikiran Yunani klasik ke Eropa. Gambar ini benar tetapi tidak lengkap karena mengabaikan nilai intrinsik filsafat Islam. Ini adalah tradisi yang vital dan berkembang dengan sendirinya, yang perlu didekati tidak hanya dari perspektif penerima manfaat Eropa, namun juga berdasarkan persyaratannya sendiri (halaman: ix).

Kesimpulan dan Pertanyaan

Uraian di atas menujukkan keunggulan Umat yang telah membuktikan diri mampu memberikan sumbangan bagi kemajuan peradaban manusia. Tetapi ini cerita dulu. Kini, sekalipun dengan populasi mencapai 2.4 milyar jiwa, agaknya tidak realistis bagi Umat untuk mengklaim sebagai “umat terbaik” (khaira ummah) (Al-Imran 110) dan berperan sebagai umat penengah (ummatan wasathan) (Al-Baqarah:143) sebagaimana dituntut agamanya[14]. Sebagai ilustrasi, dalam menghadapi tragedi Syria, Yaman dan Rohingya, kita belum melihat respon Umat secara agregat yang memadai bagi Umat terbaik dan Penengah.

Pertanyaan: Apakah sudah tiba masanya bagi Umat untuk menyandang kualitas “seperti buih mengapung” sebagaimana diramalkan oleh Rasul saw?

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Wallahu’alam……@

[1] Menurut Ling (1991: 268), hari H-nya Perang Badar adalah Jum’at 17/3/623M yang bertepatan dengan 17 Ramadhan 2H. Lihat Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din), Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, PT Serambi Ilmu Semesta.

[2] Ibid, halaman 257.

[3] http://islamadalahrahmah.blogspot.co.id/2011/12/perang-yang-pernah-dilalui-rasulullah.html

[4] Ibid

[5] Perasaan kerdil di hadapan Rabb biasanya dibarengi oleh sikap bermartabat (dignity) di hadapan sesama, suatu sikap yang menurut catatan sejarah sangat menonjol di kalangan pimpinan prajurit Umat.

[6] https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Umayyah

[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah

[8] https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[9] Kita belum bisa berbicara mengenai negara karena konsepnya—sebagaimana yang sekarang kita pahami — dalam era itu belum ada.

[10] Sejarah mencatat kemempuan ekspansi Umat yang luar biasa dari sisi waktu dan keluasan wilayah. Dalam era Dinasti Umayah yang menggantikan era khulafaur-rasyidin( Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA dan Ali RA), Umat dapat mencapai Afrika Utara dan masuki wilayah benua Eropa (Sepanyol). Dalam era Dinasti Utsmaniah, Umat menundukkan pusat imperium Romawi Timur (Bizantium) dan bahkan mendekati pusat peradaban Eropa melalui kawasan Eropa Timur, suatu peristiwa yang sudah diramalkan jauh sebelumnya (Ar-Ruum:1).

[11] Mengenai isu serupa lihat https://uzairsuhaimi.blog/2012/02/08/wahai-rasul/

[12] https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Abbasiyah

[13] Groff, Peter S. with Oliver Leaman (2007), Islamic Philosophy A–Z, Edinburgh University Press Ltd, 22 George Square, Edinburgh.

[14] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2011/11/10/ummatan-wasataan/.

Estimasi Populasi Muslim 2017

Umat Islam atau muslim baru saja merayakan iedul fitri untuk menandai berakhirnya bulan puasa yang prosesinya menurut ajaran otentik sangat sederhana: salat dua rakaat (tanpa adzan) dan melantuntkan takbir, allahu’akbar, Allah Maha Besar. Takbir ini[1] mengaskan kesadaran individu umat mengenai kebesaran rabb, sekaligus kekerdilan dirinya di hadapan-Nya. Kesederhanaan ajaran ini tidak membelenggu umat untuk mengekspresikan kegembiraan mereka secara kreatif sehigga tumbuh beragam tradisi ied antar kelompok umat. Di Indonesia, misalnya, ada tradisi halal-bi-halal dan “pulang kampung” yang menghebohkan itu semata-mata untuk memeriahkan hari raya itu.

Dalam ied semua diharapkan mampu berpartisipasi, semua, tanpa kecuali, termasuk kelompok mustadh’afin: kaum papa yang serba tidak berkecukupan, anak-anak yatim tidak punya pelindung, dan kaum “terpinggirkan” lain. Ini adalah sebagian hikmah dari kewajiban zakat fitrah yang relatif sangat ringan yaitu setara 2.7 kilogram makanan pokok atau sekitar Rp 40,000. Dengan kewajiban minimalis ini hampir setiap keluarga mampu memenuhi; disisi lain, karena kewajiban ini berlaku bagi hampir setiap jiwa, maka akan segera terkumpul dana komunitas umat dalam jumlah yang cukup untuk memastikan setiap orang, tanpa kecuali, paling tidak memperoleh makanan layak pada hari raya. Ini adalah dimensi sosial dari ibadah puasa, dimensi yang juga melekat pada semua ibadah-ibadah lain dalam Islam.

Pertanyaan yang layak diajukan adalah kira-kira berapa banyak orang yang merayakan ied tahun 2007 ini. Ini jelas bukan pertanyaan yang workable karena kita harus mendefinisikan “merayakan” dalam kasus ini dan tidak ada survei mengenai ini. Oleh karena itu, tulisan ini mengasumsikan semua umat muslim merayakannya. Asumsi ini sepintas lalu tampak overestimate karena kita mungkin perlu mengeluarkan sebagian kelompok umat dalam perhitungan: bayi yang belum tahu apa-apa, mereka yang sudah udzur karena usia, sakit parah, yang berada dalam situasi yang sangat rawan dari sisi keamanan, kaum papa yang tidak berdaya secara ekonomi dan terlupakan, yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kehidupan dasar termasuk mereka kesulitan bahkan untuk mengakses bersih seperti yang banyak ditemukan di kawasan gurun Afrika. Walaupun demikian, overestimasi ini dikompensasikan oleh kelompok non-muslim yang turut merayakan ied yang jumlahnya sulit didefinisikan dan ditebak. Singkatnya, menggunakan estimasi populasi muslim sebagai proksi untuk memperkirakan orang yang ikut merayakan ied tampaknya lumayan realistis. Tetapi ini bukan tanpa tantangan karena data otentik mengenai populasi muslim tidak tersedia. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan ini.

Estimasi populasi global

Sebagai titik tolak kita dapat mulai menganalisis dengan mencermati estimasi populasi manusia secara keseluruhan. Untuk keperluan ini banyak sumber data yang dapat diakses secara relatif mudah. Tulisan ini mengandalkan  salah satu sumber yang dapat diakses:  http://www.worldometers.info/world-population/.

Menurut sumber ini estimasi populasi manusia global pada tahun 2017 diperkirakan sekitar 5.3 milyar jiwa. Angka ini sudah memperhitungkan angka kelahiran (komponen pertambahan jumlah penduduk), angka kematian (komponen pengurangan jumlah penduduk), tetapi mengabaikan unsur migrasi (komponen pertambahan atau pengurangan jumlah penduduk). Kenapa komponen terakhir diabaikan? Karena sejauh ini tidak ada laporan mengenai migrasi antar-planet.

Jumlah penduduk bervariasi antar negara tetapi menonjol di 20 negara sebagaimana disajikan dalam Grafik 1. Dua negara terbesar yaitu China dan India sudah mencakup sekitar 2.7 milyar atau lebih dari sepertiga penduduk global.

Dibandingkan dengan angka tahun 1998[2], total penduduk global bertambah sekitar 2.2 milyar dari sekitar 5.3 milyar. Dinyatakan secara berbeda, rata-rata angka pertumbuhan populasi global per tahun sekitar 1.8 persen. Angka terakhir ini diperoleh dari perhitungan menggunakan rumus standar dalam demografi yaitu

r = (1/t) ln (Pt/P0) ……… (1)

dimana

Pt : Populasi tahun 2017

P0: Populasi tahun 1998

r: rata-rata pertumbuhan populasi

t: jarak tahun antara 1998 dan 2017

Persamaan ini diturunkan dari persamaan yang lebih umum:

Pt = P0ert ……… (2)

muslim_gr1

Tidak ada sumber data otentik mengenai populasi muslim secara global pada tahun 2017. Oleh karena itu tulisan ini mengandalkan sumber yang tersedia mengenai populasi muslim global dan itu pun merujuk pada angka tahun 1998[3]. Data ini dilaporkan memanfaatkan berbagai sumber yang tersedia yang sebagai besar adalah CIA[4]. Sumber ini hanya  dapat memanfaatkan sumber data yang “seharusnya” untuk keperluan semacam ini– sensus penduduk atau sumber kredibel lain dari kantor statistik suatu negara– untuk 11 negara: Singapore, Canada, Australia, Hongkong, Hungary, Austria, Macau, Fidlandia dan Barbados. Indonesia tidak termasuk dalam daftar pendek ini padahal dalam kuesioner Sensus Penduduk Indonesia 1990 dan 2000 ada pertanyaan mengenai agama. Ini tampaknya perlu dicatat oleh otoritas statistik yang sebagian besar akan  menyelenggarakan sensus penduduk pada atau sekitar tahun 2020. 

Estimasi Populasi Muslim

Berdasarkan sumber data ini dapat diketahui bahwa estimasi populasi muslim pada tahun 1998 berjumlah sekitar 1.3 milyar juta jiwa. Mereka tersebar di lima benua sebagaimana diperlihatkan oleh Grafik 2. Pada grafik itu tampak tingginya konsentrasi populasi muslim di kawasan Afrika Utara, Timur Tengah dan Indonesia. Di kawasan-kawasan ini proporsi muslim mencapai 75%-100% dari total penduduk.

Grafik 2: Persebaran Geografis Populasi Muslim

muslim_gr2

Sumber: http://www.jannah.org/popstatistics/muslimpopworld.html

Menurut sumber yang sama, persebaran geografis populasi muslim sangat tidak merata. Sekitar dua-pertiga populasi Muslim tinggal hanya di 21 negara “besar”, besar dalam arti berpenduduk muslim di atas 10 juta jiwa. Grafik 3 memperlihatkan hal itu.

Konsentrasi populasi Muslim, diukur dari proporsi terhadap populasi secara keseluruhan di negara yang bersangkutan, juga tidak merata.

  • Proporsi muslim mecapai 100% di enam negara: Arab Saudi, Somalia, Mauitia, Bahrain, Maldives dan Western Sahara.
  • Proporsi di India hanya 14% tetapi totalnya mencapai angka 137,7juta jiwa, lebih besar dari populasi Pakistan secara keseluruhan yaitu 135,1 juta jiwa.
  • Total populasi Muslim di Amerika Serikat (1998) diperkirakan sekitar 5.7 juta jiwa atau hanya 2.1% dari total populasi. Angka proporsi ini lebih kecil dari angka persentase untuk, misalnya, China (3.0%) apalagi Federasi Rusia (4.7%).

Estimasi 2017

Estimasi populasi global dalam 29 terakhir bertambah sekitar 2.2 milyar dari sekitar 5.3 milar pada tahun 1998 menjadi 7.5 milyar pada tahun 2017. Dinyatakan secara berbeda, populasi global meningkat sekitar 1.81% per tahun daalm kurun waktu itu. Dalam kurun waktu yang sama populasi di 21 negara “muslim” –disini didefinsikan sebagai negara dengan populasi muslim di atas 10 juta jiwa- meningkat jauh lebih lambat yaitu 1.34% per tahun (lihat Tabel 1). Ini tampaknya tidak mendukung convetional wisdom yang mengkhawatirkan populasi muslim akan segera mendominasi populasi dunia.

Bagi 21 negara muslim (dengan definisi di atas), rata-rata pertumbuhan per tahun populasi secara keseluruhan (bukan hanya muslim) 1.34%, dengan rentang antara  0.61% untuk China dan sampai 3.26% untuk Tanzania (lihat kolom 3 Table 1).

Kita dapat mengestimasi populasi muslim tahun 2017 berdasarkan angka-angka itu. Hasilnya adalah daftar estimasi populasi muslim di negara-negara muslim tadi sebagaimana ditunjukkan oleh kolom 5 Tabel 1. Secara keseluruhan total populasi di negara-negara itu mencapai 1.3 milyar. Dalam hal ini Indonesia “paling unggul” dengan mencakup 15.7% dari total, diikuti India (12.5%) dan Pakistan (12.4%). Di sini kita mengasumsikan pertumbuhan penduduk populasi muslim dan non-muslim di negara yang bersangkutan sama.

Proporsi populasi 21 “negara muslim” –negara dengan populasi di atas 10 juta jiwa– terhadap total populasi global adalah sekitar 4.3 berbanding 7.5 atau 57.2% (lihat angka pada dua baris terakhir kolom 2. Jika kita menggunakan proporsi ini untuk menghitung populasi muslim global maka kita akan memperoleh angka sekitar 2.4 milyar [=(7.5151/4.2984)*1.35545] atau 31.5% dari total populasi global secara keseluruhan. Inilah estimasi populasi muslim global pada tahun 2017. Di sini kita mengasumsikan angka rata-rata pertumbuhan di ke-21 negara itu sama dengan angka untuk negara-negara lainnya.

Kesimpulan dan Pilihan Umat

Sebagai kesimpulan ringkas dapat dikemukakan bahwa estimasi populasi muslim pada tahun 2017 sekitar 2.4 milyar atau 31.5% dari populasi global secara keseluruhan. Ini merupakan angka yang besar. “Bola” berada di tangan muslim untuk mempersepsikan diri apakah angka ini perlu dilihat sebagai beban atau modal. Selain itu, umat memiliki pilihan untuk menentukan pilihan alternatif ini: apakah berkomitmen untuk menjadi “umat terbaik” (al-Baqarah: al-‘Imran:110) dan menjadi “wasit” (al-Baqarah:143) yang berkemapuan mewasiti pertandingan “permainan global”, atau, menjadi pihak yang diwasiti karena pertentangan internal umat yang timbul dari permasalahan trivial, dengan mempertahankan tradisi kesukuan (sy’ubiah) dan buta terhadap ajaran universal agamanya yang by design diturunkan sebagai rahmat bagi alam (al-Anbiya:107). Terserah!

Sangat tidak realistis berharap mampu berperan sebagai wasit jika kualitas umat seperti “buih” yang tidak punya kendali, atau, berkulitas sebagai “makanan-siap-santap” bagi umat lain.  Ini bukan mengada-ngada tetapi telah diramalkan oleh Rasul saw akan dialami umat melalui salah satu haditsnya, hadits yang agaknya kurang diminati oleh para muballig untuk mempopulerkannya kepada umat……. @

[1] Menurut catatan sejarah, lafal takbir (di-senafas-kan dengan lafal tahlil dan tahmid), bergema ketika peristiwa penaklukan Kota Mekah dari kekuasaan kafir quraisy yang berlangsung secara damai tanpa pertumpahan darah. Ini miracle mengingat tradisi berperang bagi suku-suku Arab saat itu dan mengingat kelompok “penakluk” sebelumya telah diperlakukan secara sangat brutal bahkan dalam standar budaya saat itu. Kekuatan “magis” takbir, selain kehadiran wajah-damai Rasul saw, tampaknya turut membantu mengendalikan efora kemenangan ke arah yang sangat positif, penuh dignity, dan religious.

Wallahu’alam.

[2] Tahun 1998 memperoleh perhatian khusus karena akan digunakan dalam analisis selanjutnya seperti yang akan jelas nanti.

[3] http://www.jannah.org/popstatistics/muslimpopworld.html

[4] CIA World Factbook Website http://www.odci.gov/cia/publications/factbook/