Simbolisme Jam Pasir

Sebelum mengenal jam, manusia menggunakan “jam pasir” (hourglass) untuk mengukur waktu. Bejana jam pasir terdiri dari dalam tiga bagian: bagian atas, bagian bawah, dan selat atau rongga sempit yang menghubungkan bagian atas dengan bagian bawah. Untuk mengukur waktu, pasir dalam jumlah tertentu diletakkan di bagian atas yang segera akan mengalir ke bagian bawah melalui rongga sempit itu. Waktu ditentukan berdasarkan durasi dari keseluruhan proses perpindahan pasir dari bagian atas ke bagian bawah.

200px-Wooden_hourglass_2

Sumber gambar: Google

Bagi kebanyakan kita yang terlanjur terdidik “modern”, fenomena jam pasir cenderung ditanggapi sebagai sekadar penggalan sejarah peradaban manusia; tidak ada yang istimewa mengenainya. Lain halnya bagi yang memiliki bakat kepekaan spiritual yang istimewa[1] ; bagi mereka fenomena jam pasir mengandung sejumlah simbolisme yang layak untuk direnungkan.

Simbol Waktu dan Kematian

Aliran pasir yang mengukur durasi sungguh menunjukkan waktu dalam aspeknya yang fatal dan tak dapat dibalik (irreversible), tidak dapat dihentikan dan tidak ada yang dapat menganulir finalitasnya. Sterilitas pasir mengungkapkan “keremehan duniawi” (earthly accidents, tidak substantif), dan berakhirnya aliran pasir mengingatkan kita akan berhentinya detak jantung, berakhirnya kehidupan,   terminal terakhir kita yang ditakdirkan merangkak sejak lahir ke arah kematian (istilah Shakespeare), penjemputan ‘malaikat maut’, ajal, atau apapun istilahnya.

Simbol Dua  Kutub

Kenapa pasir itu turun? Karena atraksi atau daya tarik gravitasi bumi yang mengarah ke bawah. Inilah satu-satunya kutub daya tarik (pole of attraction) yang dapat ditawarkan pada ranah fisikal. Tetapi selain kutub “bawah” sebenarnya ada kutub “atas”: yang pertama menarik ke arah bawah (descending), ke arah “bumi”, ke luar (outward) atau  ke arah kesenangan_sementara duniawi (earthy joys), yang kedua ke arah atas (ascending), ke arah “langit”, ke dalam (inward) atau arah  kebahagiaan abadi surgawi (heavenly pleasure).

Apa yang menjadi daya tarik gerak ke atas? Kebenaran (Truth, dengan T besar) dan Kecantikan (Beauty, dengan B besar), dua sisi dari Realitas yang sama.

Terserah Kita

Pesan semua agama mungkin dapat disederhanakan sebagai pengingat adanya kutub atas itu, mendorong serta memberikan petunjuk (hudâ) mengenai cara untuk merespons secara positif dan memadai. Kita dianugerahi kapasitas, sekalipun tetap membutuhkan anugerah-Nya, untuk merespons sejauh kita menghendakinya. Jadi, pada analisis terakhir terserah kita!

Wallahu’alam ….@


[1] Salah satunya adalah F. Schuon. Artikel pendek ini diilhami tulisannya “The Symbolism of Hourglass” dalam Logic and Transcendence (2009), halaman 143-149.

Malu, Standar Moral dan Kesehatan Mental

Malu, Standar Moral dan Kesehatan Mental

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Malu Aku

Kata Arab untuk malu konon ‘hayâ’ yang dari segi fonetik sangat dekat denggan “hayâh” yang berarti hidup. Kedekatan itu mendorong sebagian ahli untuk menyimpulkan bahwa hakikat hidup adalah rasa malu; atau kalau dirumuskan secara negatif, orang tidak layak dikatakan hidup jika tidak lagi memiliki rasa malu. Malu karena apa? Karena berbuat salah.

  • Ketika teks suci kata yastahyî –bentuk kata kerja yang seakar kata hayâh– yang merujuk pada kaum wanita Bani Israil, oleh mufasir pada umumnya diartikan sebagai “dibiarkan hidup” (kaum laki-laki dibunuh); tetapi sebagian mengartikannya “dipermalukan’. Tafsiran ini masuk akal karena kata yang sama digunakan untuk “malu”[1], juga karena dugaan rendahnya standar moral bala tentara Fir’aun.  Wallahu’alam.
  • Umat Yahudi yang melanggar hari suci (Hari Sabâth) konon dikutuk menjadi kera. Kenapa kera? Salah satu tafsirnya, kera adalah satu-satunya binatang yang tidak memiliki rasa malu mempertontonkan “aurat”-nya. Wallahu’alam.

Jika alur penalaran di atas dapat diterima maka dapat didefinisikan bahwa orang yang paling hidup adalah orang yang paling besar rasa malunya untuk berbuat salah (dalam pengertian etis). Orang itu tercegah dari perbuatan salah bukan karena faktor eksternal (hukum, norma, perintah agama, dsb) tetapi karena kekuatan internal (karena kepekaan spiritual, internalisasi norma agama, atau sumber lain). Dia yang ‘paling hidup” adalah dia tidak punya nyali berbuat dosa karena dorongan hati: “Malu Aku sama Tuhan”.

Dimaafkan

Nasib suatu umat ditentukan oleh akhlak-nya. Dalam kontkes kontemporer “rumus sosial” yang konon hadits ini mungkin dapat dinarasikan ulang: “Derajat suatu negara ditentukan oleh standar moral bangsa itu”, atau mungkin lebih operasional, “… oleh sensivitias pejabat publik terhadap norma umum yang berlaku dalam masyarakat”.

  • Kenapa pejabat publik? Karena mereka penandatangan kontrak politik untuk mengawal standar moral bangsa agar dipastikan –bukan dibiarkan- tetap terjaga. Dengan kontrak itu pejabat publik memiliki kekuasaan yang cukup serta “kemewahan” yang ekslusif dibandingkan warga bangsa lain.
  • Apakah semua ini berhubungan dengan malu? Jelas karena malu bukan apa-apa kecuali sensivitas terhadap norma umum dalam arti luas yang berlaku dalam masyarakat.

Jika alur penalaran di atas dapat diterima maka negara-negara seperti Jepang dan Jerman, paling tidak pasca PD-II, boleh dikatakan “ber_Nasib_baik” atau “ber-Derajat_tinggi”.

  • Pejabat publik di kedua negara itu “terlalu pemalu” untuk berbuat salah sehingga tidak segan dan secara ksatria mengundurkan diri karena diberitakan –tanpa menunggu proses pengadilan- terlibat dalam suatu kesalahan yang terkait dengan jabatannya.
  • Presiden Jerman baru saja mengundurkan diri karena diberitakan memperoleh kemudahan dana dari suatu perusahaan sebelum dia menjabat Presiden (Kompas, 18/2/2012), suatu tingkat kesalahan yang dalam standar moral bangsa Indonesia yang berlaku tampaknya masih dapat “dimaafkan”

Semakin Kabur

Almarhum Cak Nur mungkin benar ketika mengatakan bagsa kita adalah bangsa lembek (soft society) karena mudahnya “memaafkan” penyimpangan atau kesalahan dari aturan atau norma yang berlaku dalam masyarakat termasuk norma hukum, tanpa sense proportionalitas yang memadai. Pembiaran sikap lembek dalam konteks ini bersifat koruptif dalam arti menggerus –dan akhirnya mengaburkan- standar moral yang pada gilirannya jelas merusak kesehatan mental masyarakat.

Berapa tinggi derajat kesehatan masyarakat Indonesia? Indikator yang sederhana adalah angka kriminal (crime rate) yang dilaporkan naik drastis akhir-akhir ini. Yang mengiriskan, angka itu juga tinggi juga bagi generasi penerus -dan aset paling berharga- bangsa yaitu anak-anak (Kompas, 18/2/2012). Alasannya tidak mustahil karena mereka terlalu sering dipertontonkan prilaku penyimpangan moral sehingga dianggap normal. Jika ini benar maka bagi mereka semakin kaburlah apa yang namanya standar moral …..@


[1] Al-Baqarah ayat 26.

Yang Harus Diketahui dan Dikerjakan

Apa yang harus diketahui? Truth (dengan T besar) atau Kebenaran Universal. Tidak ada kebenaran yang bukan merupakan bagian dari atau bersesuaian dengan Kebenaran Universal.

  • Sarana apa yang dapat digunakan untuk mengetahui Kebenaran? Hanya satu yaitu inteligensi yang –karena kesesuainnya dengan Intelek Universal- memiliki kekuatan bawaan (innate power) yang suprarasional untuk mengetahui Kebenaran Universal.
  • Karena kita aksiden dan bukan Substansi (dengan S besar) yang mencakup Semua Kemungkinan (All-Possibility) maka kebenaran kita selalu relatif, parsial dan berpotensi berjarak dengan locus Kebenaran Universal. Dosa adalah perspektif yang mengingkari jarak ontologis itu. Kebenaran Substansi bersifat mutlak dan “obyektif” dalam arti terlepas dari persepsi atau pengetahuan kita mengenainya. Inilah latar belakang perintah untuk senantiasa minta petunjuk.

Apa yang harus dikerjakan? Goodness (dengan G besar) atau Kebaikan Universal. Tidak ada kebaikan yang bukan merupakan bagian dari atau tidak sejalan dengan Kebaikan Universal.

  • Apa yang dapat mendorong kita merealisasikan Kebaikan Universal? Hanya satu yaitu kehendak (the will). Kehendak kita –sejauh murni atau terbebas dari jebakan ego- memiliki kekuatan bawaan untuk berorientasi pada Kebenaran Universal. Bagi kehendak murni, orientasi kepada Kebenaran Universal bersifat alamiah, sealamiah “kerinduan” dan upaya pepohonan untuk menghadapkan  pucuk daunnya ke arah matahari.
  • Karena kita bukan Substansi maka kebaikan kita selalu relatif, parsial dan berjarak dengan locus Kebaikan Universal. Inilah latar belakang perintah untuk banyak minta ampun.

Sufi menyeru Tuhan dengan sebutan Kebenaran (al-Haqq). Bagi mereka Tuhan lebih esensial dari Maha Benar yakni Kebenaran itu sendiri ….@

Wahai Rasul

Wahai Rasul! Begitu keras didikan Rabb-mu sejak dini:  tidak sempat memperoleh perlindungan  ayahanda, hanya sepintas menikmati pelukan_hangat_teduh ibunda, sejenak memperoleh dukungan_wibawa kakek, menikmati masa remaja dalam kepapaan_harta keluarga pamanda, dan sesaat memperoleh pembelaan luar biasa istrimu ketika kaum Kuffar-Quraisy sengit memusuhimu karena risalahmu yang sangat mengancam status quo!

Wahai Rasul! Didikan Rab-Mu seolah menegaskan: “Mustahil bagimu memperoleh perlindungan ayahmu karena dia sudah Kupanggil bahkan sebelum engkau sempat melihat wajahnya yang bercahaya; jika engkau menginginkan perlindungan ibu maka ia Kupanggil_pulang, jika engkau ingin perlindungan kakekmu maka ia Kupanggil_pulang pula, jika ingin perlindungan pamanmu maka ia pun Kupanggil_pulang, dan jika ingin perlindungan istrimu maka Kupanggil_pulang dia; tapi …jika engkau meginginkan perlindungan-Ku maka inilah Aku yang Maha dan Senantiasa Hidup”.

Wahai Rasul yang “terlalu” sabar sehingga tidak mau memarahi pasangan suami_istri yang gigih menebar duri di jalan yang diberkati, jalan yang biasa engkau lalui ketika engkau menuju rumah Rabb-mu! Engkau “terlalu” sabar sehingga Rabb-mu “terpaksa” menurunkan surat kecaman khusus terhadap ulah mereka[1].

Wahai Rasul yang “terlalu” rendah hati sehingga mengabaikan ulah keterlaluan seorang wanita yang rajin meludahimu yang ketika absen meludahimu karena sakit engkaulah penjenguk pertamanya!

Wahai Rasul yang “terlalu” santun sehingga tidak tega menegur para sahabatmu agar pulang karena telah engkau jamu dan berlama-lama berbincang_hampa sampai larut malam; hatimu “terlalu” lembut sehingga Rabb-mu “terpaksa” menurunkan ayat teguran kepada mereka![2]

Wahai Rasul yang konon agak “telat” berhijrah ke Madinah semata-mata karena engkau merasa perlu menyelesaikan urusan hartawan kaum Kuffar-Quraisy, kaum yang sangat memusuhi sekaligus mempercayai kejujuranmu sehingga merasa engkaulah yang paling aman untuk menitipkan harta kekayaan!

Wahai Rasul yang “terlalu” menghormati istri sehingga mampu secara sungguh-sungguh meminta maaf kepada istri yang mengunci_pintu ketika engkau pulang larut karena mengurus umat! Rab-mu memberkati beranda rumah tempat engkau menikmati dingin malam itu!

Wahai Rasul yang bengkak kakinya karena “terlalu” lama salat_minta_ampun kepada Rabb-mu yang telah dan akan menjamin ampunan untukmu, hanya karena engkau merasa tidak mampu ber-tahmid kepada-Nya secara layak!

Wahai Rasul yang menolak permintaan izin Malaikat Pencabut Nyawa untuk mengambil nyawamu yang suci sekalipun ia telah menjanjikan kemulyaanmu di akhirat tetapi tidak memberikan jaminan keselamatan bagi seluruh umatmu!

Wahai Rasul yang sehari kenyang untuk bersyukur dan sehari lapar untuk bersabar!

Wahai Rasul pecinta anak_yatim dan pengasih orang_miskin!

Wahai Dzat yang penggengam jiwa! Kasihanilah agar hambamu ini tidak terlalu pelit untuk sekadar bersalawat kepada Rasul-Mu yang ummi itu, rasul yang Engkau sendiri memuji berakhlak Agung[3].

Wahai Dzat yang Maha Luas Karunia-Nya! Kabulkanlah permohonan hamba-Mu agar Engkau berkenan melimpahkan keselamatan kepada Muhammad SAW dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan kepada Ibrahim AS dan keluarganya! Limpahkanlah  keberkahan kepada Muhammad SAW dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan kepada Ibrahim AS dan keluarganya! Segala puji bagi-Mu!

 

rasul1


[1] Al-Qur’an (111 )

[2] Al-Qur’an (33:53)

[3] Al-Qur’an (68:4)

Kesadaranku Menunjukkan

Kesadaranku Menunjukkan

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Kesadaranku menunjukkan inteligensiku bukan apa_apa kecuali  mampu membedakan yang Mutlak atau yang Riil atau Atma atau yang Satu dengan yang lain: yang relatif atau ilusi atau maya.

Kesadaranku menunjukkan kehendakku tak_bermakna kecuali  terhubung atau berasimilasi dengan yang  Satu.

Kesadaranku menunjukkan kualitas jiwaku didefinsikan oleh keearatan hubungan atau intensitas asimiliasi itu.

Kedasaranku mengatakan selain yang Mutlak bisa ada bisa tidak: jika ber-ada maka (a) realitasnya hanya dapat dipahami sebagai relatif terhadap yang Mutlak; (b) keberadaannya merupakan bukti dari dan tunduk pada homogenitas hukum yang merujuk pada yang  Satu.

Kesadaranku menunjukkan inteligensiku yang suprarasional lebih berdaya dari pada pikiranku yang rasional.

Kesadaranku menujukkan bakat bawaan suprarasionalitas inteligenisku mampu menjangkau yang tak_terhingga, salah satu aspek dari yang Satu.

Kesadaranku menunjukkan kehendakku tak_pernah terpuaskan kecuali oleh yang Satu, yang Tak_terhingga.

Bersyukurlah jika yang Satu memancarkan cahaya sehingga terhindar dari ilusi yang koruptif: inteligensiku hanya untuk yang relatif, kehendakku hanya untuk yang maya.

Bersyukurlah aku yang Satu berkenan memancarkan cahaya kebijakan abadi: kebijakan nir-waktu dan universal kebijakan yang mendasari prinsip-prinsip doktrin-doktrin, simbol-simbol, seni-seni suci, dan praktek-praktek spiritual semua agama dunia,

Bahwa yang Satu itu dan hanya yang Satu itu saja yang Mutlak; yang lainnya, termasuk alam raya, alam imajinal, konsep atau bayangan kontemplasiku mengenai yang Satu, semuanya relatif …..@