Belajar Berdoa

 

Orang beragama menyadari arti penting dan kekuatan doa karena meyakini apa pun terjadi berkat izin atau “campur-tangan”-Nya. Mereka berdoa dalam hampir semua hal: keselamatan jiwa, kesehatan, kelancaran urusan, dan  –ini mungkin yang paling populer—kelimpahan rezeki. Semua doa semacam ini tentu sah-sah saja apalagi jika mencerminkan kerendahan hati di hadapan Rabb SWT. Ada doa yang dikabulkan (arab: mustajab), ada pula yang kurang atau tidak dikabulkan. Doa yang dikabulkan tentu patut disyukuri. Bagaimana dengan doa yang belum atau tidak dikabulkan? Mengenai hal ini sikap orang yang terpuji adalah sabar dengan keyakinan: (1) waktu pengabulan doa sesuai dengan kehendak-Nya, dan (2) Dia mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.

Mengenai doa mustajab menarik untuk direnungkan ucapan Ali RA yang berisi nasehat agar bersyukur jika doa dikabulkan (karena sesuai harapan), tetapi lebih bersyukur jika tidak dikabulkan (karena yang terjadi sesuai harapan-Nya). Juga mengenai doa ini menarik untuk disimak “Kumpulan Doa-doa Mustajab” dari Imam Ali Zainal Abidin” RA[1] sebagai bahan pembelajaran.

Kumpulan doa ini menarik paling tidak karena lima alasan:

(1) Pengarangnya, Imam Ali Zainal Abidin, bukan orang sembarangan tetapi tokoh Islam masa awal; beliau adalah putra Husain RA bin Ali bin Abu Thalib, cicit Nabi SAW,

(2) Susunan doanya ideal sehingga jadi model: dimulai dengan pujian kepada Rabb SWT dan diakhiri selawat (doa keselamatan) bagi Nabi SAW;

(3) Mencerminkan kesantunan (Adab) dalam berdoa;

(4) Dari sisi sastra, susunan kata-katanya sangat indah; dan

(5) Isi doanya boleh dikatakan sangat tidak “duniawi”.

Mengenai butir 3-5 dapat dikemukakan cuplikan dari salah satu doa beliau.

Wa habli fits tulatsaai tsalatsan: (1) Laa tada’ lii dzanban illa gfartahu, (2) Wa laa ghamman illaa adzhabtahu, (3) Wala ‘aduwwa illaa dafa’tahu

Berilah aku di hari Selasa ini (Selasa, Arab, artinya tiga) tiga hal: jangan biarkan pada diriku dosa kecuali Engkau maafkan, kesusahan kecuali Engkau hapuskan, musuh kecuali Engkau tolakkan.

Baris tiga terakhir sangat populer bagi Muslim.

Cuplikan doa di atas adalah bagian dari doa harian Imam RA pada hari Selasa. Selasa (Arab) artinya tiga; jadi beliau hanya meminta tiga hal itu. Agaknya Imam RA ini memiliki kebiasaan meminta sebanyak nama hari. Jadi, dalam doa hari Minggu beliau hanya meminta satu hal karena Minggu dalam Bahas Arab adalah Ahad yang berarti satu, Rabu empat (Arab arbi’a, berarti empat), Kamis lima (Arab: khamis, berarti lima).

Bagaimana dengan doa hari Jumat dan Sabtu? Jumat bagi Bagi Imam RA agaknya memiliki arti khusus sehingga tidak mengajukan doa khusus kecuali minta dibimbing agar dapat menjalankan kewajiban Salat Jumat dan kewajiban lainnya. Doa Sabtu beliau meminta agar Rabb SWT “tidak menelantarkan orang-orang penentram dekatku” (Arab: wa laa tuuhisya bii ahli unsii).

Untuk memperoleh gambaran agak menyeluruh, berikut disajikan Tabel yang mencuplik bagian “pembukan” dan “isi” doa-doa harian Imam RA.

Hari Pembukaan Isi
Minggu Dengan nama Allah yang tidak aku harapkan kecuali karunia-Nya dan tidak aku takutkan kecuali keadilan-Nya(*)… Ya Allah aku berlepas diri dari kemusyrikan dan kekafiran pada hari ini (minggu) dan sesudahnya (hari-hari minggu yang akan datang)
Senin Puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi  tanpa seorang saksi, yang menebar makhluk tanpa seorang pembantu, tidak ada sekutu dalam keilahian-Nya, tidak ada yang setara dalam keesaan-Nya, tidak merasa kelu mengungkapkan sifat-Nya… Ya Allah, jadikan permulaan hari ini suatu kebaikan, pertengahannya kejayaan, akhirnya keuntungan…
Selasa Segala puji bagi Allah, puja dan puji adalah hak-Nya, pujian yang melimpah adalah milik-Nya Lihat teks
Rabu Puji bagi Allah yang membuat malam sebagai pakaian, tidur sebagai peristirahatan, siang sebagai saat bertebaran… Ya Allah, tetapkan bagiku empat hal di hari Rabu: jadikan kekuatanku pada ketaatan (kepada)-Mu, ketekunanku pada ibadah-Mu, kedambaanku pada ganjaran-Mua, keenggananku pada apa saja yang mengundang kepedihan siksa-Mu…
Kamis Puji bagi Allah yang mengusir malam yang gelap dengan kodrat-Nya, yang menyuguhkan siang yang terang dengan rahmat-Nya, menutupku dengan cahaya-Nya, membawa padaku nikmat-Nya… Ya Allah, tetapkan bagiku pada hari Kamis lima hal yang tak tercapaikan kecuali dengan kemurahan-Mu, yang tak kan teraih kecuali dengan nikmat-Mua: keselamatan yang menokohkan ketaatan kepada-Mua, ibadah yang menjamin kelimpahan pahala-Mua, keleluasaan lantaran rezeki yang halal, Kautentramkan aku dari ketakutan dengan perlindungan-Mua, Kaulindungi aku dari gundah-gulana dengan benteng-Mua….
Jumat Puji bagi Allah yang awal sebelum penciptaan dan penghidupan dan akhir setelah punah semua Lihat teks
Sabtu Aku berlindung kepada Allah dari kekejaman manusia kejam, dari tipu daya manusia dengki, dari kebencian manusia zalim, dan aku memuji-Mu di atas pujian semua yang memuji… Lihat teks
Sumber: lihat catatan kaki, halaman 821-866

(*) Beliau terkesan khawatir amalnya tidak seberapa dengan dosanya; suatu sikap yang sangat rendah hati-hati.

Pemeriksaan cermat mengenai doa-doa dalam sumber ini memberikan kesan kuat bahwa sebagian besar doa berisi pujian-pujian (tahmid), pernyataan kerendahan hati di hadapan Rabb SWT, selawat, dan sangat sedikit doa yang bersifat pribadi-duniawi. Yang terakhir ini agaknya “berat” bagi kebanyakan kita….@

[1] Diterbitkan oleh Penerbit Lentera (2004).

 

Advertisements