Nasionalisme dan Patriotisme: Tinjauan Ringkas

Kata kunci: Nasionalisme, Patriotisme, Tradisionalisme, Macron, Trump, Putin, Stoddart

 

Isu nasionalisme dan patriotisme baru-baru ini menghangat. Pemicunya, isu ini dikemukakan oleh Emmanuel Macron dalam upacara peringatan berakhirnya satu abad (1918-2018) Perang Dunia ke-I (PDI) pada tanggal 11 November 2018 yang lalu. Upacara itu diawali dengan gema lonceng– dari Natro Dome dan dari seluruh katedral di Paris bahkan di seluruh Prancis– pada 11/11/11/100 (=jam 11, tanggal 11 dan bulan 11, 100 tahun lalu).

Apa yang dikemukakan oleh Presiden Prancis itu memang “menghangatkan” [1]:

Patriotisme adalah kebalikan dari nasionalisme. Nasionalisme adalah pengkhianatan patriotisme. Dengan mengatakan ‘Kepentingan kita lebih dulu, apa pun yang terjadi pada yang lain’, Anda menghapus sesuatu yang paling berharga yang dapat dimiliki suatu bangsa, yang membuatnya hidup, apa yang menyebabkannya menjadi hebat dan apa yang paling penting: nilai-nilai moralnya.

Kenapa sang Presiden mengemukakan isu nasionalisme dalam forum itu? Jawabannya dapat diperdebatkan. Salah satu argumen adalah bahwa sang Presiden memandang nasionalisme yang berlebihan (excessive nationalism) sebagai akar masalah terjadinya PDI.

Tetapi ini hanya “mata pertama” dari pedang yang diacungkan sang Presiden melalui pidatonya. “Mata keduanya” diarahkan langsung kepada “gelombang populisme” yang tengah melanda kawasan Amerika Serikat dan Eropa. Mengenai hal ini sang Presiden mengingatkan[2]:

“Saya tahu ada setan tua yang kembali ke permukaan. Mereka siap untuk membuat kekacauan dan kematian  (” I know there are old demons coming back to thesurface. They are ready to wreak chaos and death“.)

Salah satu pemicu timbulnya gelombang populisme adalah gelombang migrasi-paksa (forced migration) besar-besaran ke Benua Eropa dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Juga dari bayang-bayang “invasi” Amerika Latin ke Amerika Serikat sebagaimana dipersepsikan oleh pengikut-setia Trumph(?) 

Dengan pedang bermata dua, adalah wajar jika pidato sang Presiden mengundang perdebatan Pro-Kontra yang hangat. Apalagi forum itu dihadiri oleh lebih dari 60 kepala negara, termasuk Presiden Putin dan Presiden Trump. Yang terakhir ini menarik karena– dengan kebijaksanaan luar negerinya “America First”– boleh dikatakan sebagai ikon populisme masa kini.

Mencermati perdebatan Pro-Kontra mengenai nasionalisme tentu menarik untuk disimak. Walaupun demikian, bagian selanjutnya dari tulisan ini diberikan pada isu substansi Nasionalisme dan Patriotisme dalam pandangan mazhab Tradisionalisme  (atau non-Modern)[3]

Bagi mazhab Tradisionalisme, Nasionalisme melambangkan ego kolektif yang “bodoh” dan “jahat”. Agar jelas berikut disajikan kutipan Stoddart dalam bukunya Remembering in a World of Forgetting (2008:18) yang dapat dikatakan mewakili pandangan Tradisionalisme:

Nasionalisme – seperti Peter Townsend dan yang lain telah menunjukkan – adalah egoisme kolektif, dan dengan demikian, tidak lebih indah dari egoisme individual. Itu juga berasal tekanan vulgar dari narsisme dan xenofobia. Sekali lagi, orang harus mengatakan bahwa itu kebodohan dan juga kejahatan.

Mengenai patriotisme Stoddart (2008:19) menulis:

Mengenai patriotisme: patriotisme yang naif dan sederhana adalah wajar bagi manusia. Pria pegunungan suka orang gunung dan gunung. Mereka yang tinggal di pantai sering kali nelayan, mereka mencintai kehidupan laut yang berbahaya dan berani memancing, dan mereka mencintai para nelayan.


Maslahatnya dengan patriotisme menurut Stoddart adalah bahwa istilah ini terlalu sering diidentikkan dengan nasionalisme. Lebih dari itu, menurutnya, ada dua masalah yang lebih “memalukan”. Pertama, kita secara tidak layak memiliki perasaan patriotisme terhadap kolektivitas manusia yang sangat sekuler dan heterogen yang secara mendasar sangat buruk. Kedua, ini yang menurutnya paling parah, kita secara gegabah sering mengaitkan patriotisme dengan agama.

Kita boleh saja setuju atau tidak setuju dengan pandangan Tradisionalisme yang yang memang sangat kritis terhadap mazhab Modernisme (Pasca Modernisme). Walaupun demikian, pandangan semacam ini layak direnungkan jika kita menghendaki tatanan kehidupan masyarakat yang lebih arif dengan cara mengapresiasi potensi kelemahan dan bahkan bahaya dari isme-isme buatan manusia yang memang ditakdirkan untuk tidak pernah sempurna.

Wallahualam….@

[1] https://www.usatoday.com/story/news/politics/2018/11/11/macron-world-leaders-rebuke-nationalism-world-war-event-attended-trump/1966474002/

[2] https://www.washingtontimes.com/news/2018/nov/11/emmanuel-macron-rips-nationalism-paris-speech-dona/

[3] Tulisan mengenai perbedaan Tradisonalisme dan Modern lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/18/beda-tradisi_tradisi/.

 

Versi pdf dapat diakses di  https://drive.google.com/open?id=1dq3-m-E0m3UyXmT3t3-9A6TmgO_a5SF2