Struktur Manusia: Gambar Besar

Kata kunci; Mengenal diri sendiri, misteri manusia, naluri kebinatangan, Modern VS Tradisional, Model Tradisional, Nestapa Dunia Modern.

 

Mengenal diri sendiri

“Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya”. Ungkapan ini menegaskan pentingnya mengenal diri sendiri dalam rangka mengenal Tuhan. Ungkapan ini biasa dianggap sebagai Hadits (ucapan Rasul SAW) yang dikutip oleh Imam Gazali dalam salah satu bukunya. Belakangan para ahli Hadits mengungkapkan bahwa kutipan ini bukan Hadits atau Hadits palsu. Artinya, penelusuran riwayatnya tidak sampai pada Rasul SAW. Secara teknis Ilmu Hadits, ini berarti ada masalah sanad. Para ahli di bidang ini memang terkenal sangat ketat dalam menerapkan metodologi pemeriksaan keabsahan atau tingkat kepercayaan suatu Hadits dengan menelisik rangkaian periwayat dan isinya. (Metodologinya konon diadopsi oleh—atau paling tidak memperngaruhi– para ahli sejarah modern.)

Terlepas dari masalah keabsahan sanad, kandungan makna “Hadits” ini tidak dapat diabaikan. Alasannya antara lain ada ungkapan para ahli agama samawi (jadi bukan hanya Islam) bahwa manusia diciptakan sesuai dengan citra-Nya. Lebih dari itu, bagi Muslim, banyak sekali nash (ayat Quran) yang sejalan ungkapan ini. Nash yang dimaksud terdapat, misalnya, dalam Quran (51:20-21). Nash lain yang terkait secara lebih langsung dapat dilihat dalam Quran (41:53) yang terjemahannya kira-kira sebagai berikut:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.

Misteri Manusia

Sesuatu dikatakan misteri tidak berarti absurd; ia ada tetapi tidak sepenuhnya diketahui oleh manusia, “sesuatu yang sukar atau mustahil diketahui atau dijelaskan” (Google Translate). Manusia adalah misteri karena pengetahuan manusia mengenai dirinya parsial dan tidak total. Upaya untuk mengungkap misteri ini telah berlangsung secara dahulu kala sejak era Yunani Kuno. Walaupun demikian, hasilnya tetap parsial: bagi banyak ahli, pengetahuan manusia mengenai dirinya tidak banyak berubah sejak era Yunani Kuno itu.

Alasan utama “kegagalan” memahami manusia secara total adalah karena struktur manusia memang kompleks. Manusia bukan kera, bukan malaikat, dan pasti bukan Tuhan; walaupun demikian, anehnya, manusia terkait dengan semua ini. Mengenai kompleksitas ini berikut rumusan Browne (1982:9) dalam bukunya Personal Dignity (Philosophical Library, New York) layak disimak:

Apakah manusia adalah kera yang tidak berambut yang mengira dia malaikat dan ingin menjadi tuhan? Kera? Malaikat? Penyandang ke-Ilahiah? Terkait dengan semua hal ini jawabannya tidak sederhana.

Anehnya, secara paradoks, secara misterius, manusia adalah semua ini dan pada saat yang suma bukan salah satunya. Dia bukan seekor kera; namun secara tertentu ya. Ia bukan Malaikat namun memiliki sesuatu yang bersifat kemalaikatan….. Dan ia bukan Tuha n— ini pasti — tetapi dalam kerinduannya yang paling dalam ia tahu bahwa takdirnya yang sesungguhnya, entah bagaimana, terkait dengan kehidupan Tuhan.

Mengatakan manusia itu kera tidak terlalu keliru karena secara biologis manusia maupun kera adalah sama-sama binatang, terpatnya termasuk kerajaan binatang (Inggris: animal kingdom). Inilah definisi biologi mengenai binatang yang manusia termasuk di dalamnya[1]:

Binatang adalah organisme multiseluler yang tidak mampu membuat makanan sendiri. Untuk mengamankan energi yang dibutuhkan untuk hidup, mereka mengandalkan organisme lain seperti tanaman dan fungi. (Animals are multicellular organisms that are unable to make their own food. They rely on eating other organisms, such as plants and fungi, to secure the energy required to survive.)

Definisi ini menegaskan ketergantungan hidup manusia pada makhluk lain. Inilah barangkali salah satu argumen yang meyakinkan mengenai perlunya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Definisi yang sama juga menegaskan bahwa manusia masih satu kelompok dengan binatang yang bertulang-belakang (burung, reptil, ikan, kera, dsb) maupun yang tidak-bertulang-belakang (serangga, ubur-ubur, bunga karang, cacing, dsb). Singkatnya, secara biologis manusia berada dalam satu kelompok dengan binatang sekelas kera atau bahkan cacing.

Naluri Kebinatangan

Bahwa manusia termasuk binatang tercermin dalam ungkapan naluri kebinatangan. Islam mengakui aluri kebinatangan manusia. Sebagai ilustrasi, kecintaan terhadap wanita dan harta diakui sebagai “kecintaan bawaan” (Quran 3:14). Karena naluri ini maka normal jika manusia memiliki nafsu makan dan dorongan berhubungan seksual, misalnya. Tetapi dalam dua kasus ini ada yang “khas” manusiawi:

  • Jika binatang makan sesuai kebutuhan, maka manusia makan sesuai keinginan (kecuali terpaksa).
  • Berbeda dengan bintang yang percaya pada kemurahan alam dalam hal pasokan makanan, manusia merasa waswas kalau tidak memiliki kelebihan sumber daya untuk memastikan pemenuhan keperluan makan untuk sebulan, setahun, seumur hidup, bahkan untuk tujuh turunan.

Karena perasaan waswas semacam ini maka manusia memiliki kecenderungan “memperbanyak harta” dan kecenderungan berlaku semumur hidup sampai mereka “masuk liang kubur” (Quran 102:1-2).

Bagaimana dengan dorongan hubungan seksual? Binatang memiliki nafsu itu ketika sudah musim kawin dan melakukannya sebagai naluri untuk mempertahankan spesies mereka. Apakah manusia mengenal musim kawin dan melakukan hubungan seksual sekadar untuk memeroleh keturunan? Naluri kebinatangan semua itu alamiah bagi manusia sebagai bagian dari dunia binatang. Tugas masyarakat adalah menentukan norma agar naluri kebinatangan anggotanya diekspresikan secara beradab. Demikian halnya, antar lain, fungsi negara dan “fungsi” agama. Terkait dengan masalah makanan, misalnya, agama memerintahkan manusia secara keseluruhan untuk menyantap makanan yang halal dan baik (Quran 2:168) dan kepada orang beriman untuk memakan makanan selain yang baik juga bersyukur (Quran 2:172).

Modern VS Tradisional

Bahwa manusia adalah binatang juga terungkap dalam definisi yang populer bahwa manusia adalah binatang yang berakal. Pertanyaannya: Apakah itu akal? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan jawabannya mencirikan pandang-dunia (worldview) atau mazhab pemikiran seseorang.

Bagi mazhab Modern, misalnya, akal adalah bagian dari organ jiwa (soul) yang memiliki fungsi yang sama dengan pikiran (mind, reason). Bagi mazhab pemikiran Tradisional[2], pandangan modern ini keliru: bagi mereka, akal tidak identik dengan pikiran dan akal bukan bagian dari jiwa. Sebagai catatan, istilah Tradisional dalam tulisan ini merujuk pada semua mazhab di luar mazhab Modern. Sementara, Mazhab Modern (termasuk Pasca Modern) merujuk pada semua mazhab yang berkembang dimulai dari masa akhir Abad Pertengahan –yang mencakup pemikiran dari Descartes sampai Kant—sampai kini.

Metafora Kerucut

Untuk melihat perbedaan dua mazhab ini dapat digunakan metafora kerucut. Mazhab Tradisional selalu mempertahankan hubungan antara titik puncak kerucut dengan lingkaran yang mendasari kerucut itu. Sebaliknya, Mazhab Modern, dalam bahasa Stoddart (2008:47), “hanya memperhatikan lingkaran dasar kerucut tanpa, atau sedikit, masukan transendental dalam pemikiran mereka”[3].

Yang membedakan mazhab Tradisional dan Modern sebenarnya tidak hanya terkait dengan definisi akal. Perbedaan keduanya sangat mendasar karena menyangkut persepsi mengenai struktur manusia. Bagi mazhab Modern, struktur manusia hanya terdiri dari dua yaitu organ tubuh (body) dan jiwa (soul). Bagi mazhab Tradisional, di atas dua organ itu ada Intelek (Ruh) yang sangat menentukan persepsi kita mengenai manusia. Dalam istilah sehari-hari Ruh dipahami sebagai unsur yang menentukan keberfungsian organ tubuh maupun jiwa: seorang manusia tanpa Ruh berubah status menjadi almarhum atau almarhumah.

Mazhab Modern tidak atau enggan mengakui Ruh sebagai bagian dari struktur manusia. Bagi mereka, Ruh hanya salah satu fungsi dari jiwa dan sesuatu mengenainya hanya dogma dan takhayul (Stoddart, 2008:47).

Model Tradisional

Menurut model Tradisional struktur manusia terdiri dari tiga level: (1) tubuh, (2) jiwa, dan (3). Tabel 1 menyajikan ketiga level itu dalam beberapa bahasa.

Tabel 1: Tiga Level Struktur Manusia
Indonesia Inggris Latin Yunani Arab
Intelek Spirit (Intellect) Spiritus (Intellectus) Pneuma (Nous) Ruh (‘Aql)
Jiwa Soul Anima Psyche Nafs
Tubuh Body Corpus Soma jism
Sumber: William Suddort (2008:46), Remembering in a Word of Forgetting
Level Tubuh (Body)

Dalam level tubuh, bentuk manusia dapat dikenali dengan mudah: tubuh adalah manifestasi formal manusia. Dalam level ini manusia tidak banyak berbeda dengan binatang walaupun bentuknya, istilah teks suci, “paling sempurna” (Quran 95:4). Tetapi dari sisi kehebatan atau kekuatan, dalam banyak kasus, manusia kalah jauh dari binatang. Sebagai contoh, manusia kalah jauh dari cheetah dalam hal kecepatan berlari, dari anjing pelacak atau beruang dalam hal daya penciuman, dan dari elang dalam hal daya penglihatan.

Level Jiwa (Soul)

Seperti halnya manusia, binatang juga memiliki organ jiwa. Level jiwa ini juga termasuk manifestasi formal manusia. Tetapi jiwa bukan unik milik manusia. Sampai taraf tertentu binatang juga memiliki semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran (mind), kehendak (will), imajinasi (imagination), perasaan (sentiment), dan ingatan (memory).

Level Intelek (Intellect)

Berbeda dengan level tubuh dan level jiwa yang termasuk manifestasi formal, level intelek ini tergolong manifestasi supra-formal manusia. Tetapi apa itu intelek? Untuk memperoleh gambaran agak menyeluruh berikut disajikan kutipan Stoddart (2008:45-46) yang mewakili mazhab Tradisional:

Di atas segalanya, intelek adalah fakultas yang memungkinkan manusia memahami Yang Mutlak dan mengetahui Kebenaran. Ini adalah sumber dari kapasitasnya untuk objektivitas, kemampuannya – dalam kontradiksi dari binatang – untuk membebaskan dirinya dari penjara dalam subjektivitas.

Istilah intelek digunakan sebagai terjemahan dari Bahasa Inggris Spirit (Intellect). Istilah Spirit dan Intellect ini mengacu pada substansi yang sama tetapi dengan fungsi yang berbeda. Mengenai ini kutipan berikut layak disimak (Stoddarts, 2008:46).

Intelek dan Roh adalah dua sisi dari mata uang yang sama, yang pertama berkaitan dengan teori atau doktrinal, dan yang belakangan berkaitan dengan praktis atau realisasi. Mereka berhubungan dengan mode obyektif (atau diskriminatif) dan subyektif (atau unitif) untuk mengetahui.

Seperti tampak pada Tabel 1, istilah intelek dalam Bahasa Arab adalah Ruh (‘Aqal). Mengenai Ruh tidak banyak yang dapat dikatakan karena Dia SWT hanya memberikan sedikit ilmu mengenainya (Quran 17:85). Tetapi mengenai ‘aqal, banyak teks suci yang menyinggungnya dalam berbagai konteks.

Dalam konteks tulisan ini, istilah lain yang relevan untuk disisipkan adalah ulul albab yang biasanya diterjemahkan sebagai “orang yang berakal”. Teks suci menggunakan istilah ulul albab untuk merujuk pada orang memiliki kemampuan berpikir (aktivitas nalar) tetapi juga berzikir (aktivitas hati). Hal ini tersirat dalam kutipan teks suci berikut:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (teks: ulul albab). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allalh sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bum (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka (Quran, 3:190-191).

Dari terjemahan di atas jelas bahwa akal lebih luas atau melampaui pikiran.

Nestapa Dunia Modern

Seperti disinggung sebelumnya, mazhab Modern enggan atau menolak mengakui keberadaannya oleh mazhab modern. Hal ini sengaja dikondisikan agar sesuai dengan arus utama mazhab modern yang pada dasarnya menganggap segala sesuatu yang bersifat ilahiah tidak relevan bagi kehidupan manusia. Dugaan ini membawa dampak sangat luas dan mendalam bagi arus utama alam pikir dunia modern yang menurut mazhab Tradisional, telah menyebabkan kekacauan dan kerusakan yang “tidak terhitung” (incalculable). Mazhab ini menunjuk hidung Jung sebagai tokoh yang paling bertanggung jawab. “Jung, tidak seperti Freud dianggap sebagai ramah terhadap agama! Ini adalah contoh klasik “serigala berbaju domba”” (Stoddart, 2008:47)

Keengganan atau penolakan ini menyebabkan mereka menyederhanakan kata intelek sebagai sekadar fungsi pikiran (mind, reason). Hal ini terlihat antara lain dalam dari definisi intelek yang menurut Google translate: “fakultas penalaran dan pemahaman secara obyektif”. (Bandingkan ini dengan definisi intelek dalam kutipan sebelumnya.)

Keengganan atau penolakan ini juga telah menjadi akar pemicu nestapa dunia modern yang “aneh”: merasa asing di tengah keramaian, kehilangan sensibilitas rasa kekaguman (sense of wonder), rasa kesucian (sense of holy), dan rasa keterpusatan (sense of center), dan dahaga hebat tetapi tidak mengetahui dahaga akan apa (thirst for what?), dan sebagainya. Wallahualam….@

[1] https://basicbiology.net/biology-101/tree-of-life

[2] Arti Tradisonal (dengan huruf T besar) dan tradisional (dengan huruf t kecil) berbeda. Mengenai hal ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/18/beda-tradisi_tradisi/.

[3] William Stoddart, Remembering in a Word of Forgetting, World Wisdom.

 

Versi pdf (tanpa audio) dapat diakses di https://drive.google.com/open?id=1VmFKu9rpZi4KSZuEM92gx0Zg3jEIjMZs

 

Advertisements