Perlukah Ibukota Negara Kita Dipindahkan?


Kabarnya, ibukota negara kita akan dipindahkan ke Luar Jawa. Kabar ini disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan. Juga oleh Pak Bambang Bojonegoro dalam beberapa kesempatan wawancara dengan media televisi, termasuk dengan BBC. Yang kedua ini menarik karena informannya Menteri PPN/Ketua Bappenas dengan latar belakang ahli ekonomi perencanaan kota. Yang dikemukakannya tentu bukan sesuatu yang masih wacana atau dalam kajian, melainkan sesuatu yang sudah meruapakan keputusan politik dan bahkan mungkin sudah dalam persiapan implementasi.

Salah satu argumen dari keputusan politik ini, Pulau Jawa ke depan tidak akan lagi memiliki kapasitas tampung untuk mendukung kegiatan pusat pemerintahan nasional. Argumen ini jelas tetapi masih sah bagi kita yang memiliki jangkauan visi terbatas untuk bertanya mengapa harus pindah. Penulis tidak bermaksud menjawab pertanyaan besar ini secara langsung. Alih-alih, melalui tulisan ini, penulis mencoba menjawab pertanyaan: “Bagaimana skenario demografis di masa mendatang dan implikasinya bagi kawasan Jakarta dan sekitarnya, jika status quo dipertahankan?” [Artinya, tidak ada perpindahan ibukota negara.]

Tiga Kali Lipat

Berbicara mengenai skenario berarti berbicara masa depan yang idealnya berbasis ilmiah. Pertanyaan dasarnya kira-kira berapa jumlah penduduk di kawasan Jakarta dan sekitarnya 10, 20, atau 50 tahun ke depan, misalnya. Kawasan yang dimaksud adalah Jakarta dan kabupaten/kota tetangganya: Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, kabupaten dan kota Bekasi, Kota Depok, dan kabupaten serta kota Bogor. Wilayah-wilayah ini perlu dipertimbangkan karena sebagian penduduknya secara de facto adalah penduduk siang Jakarta.

Untuk menjawab pertanyaan ini kita dapat menggunakan dua angka proyeksi penduduk sebagai basis, menghitung  angka rata-rata pertumbuhan  per tahun (=r) berdasarkan dua nagka itu, dan mengektrpolasi ke depan berdasarkan angka r. Secara demografis ini mungkin agak kasar tetapi itulah yang dapat dilakukan saat ini untuk keperluan tulisan ini.

Menurut sumber data resmi[1], proyeksi penduduk di kawasan Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2015 dan 2018, masing-masing 24.8 dam 26.4 juta. Berdasarkan dua angka ini kita memperoleh angka r=0.021 yang dengannya kita dapat mengekstrapolasi jumlah penduduk 50 tahun ke depan (=2068). Hasilnya, penduduk kawasan pada 2068 diperkirakan akan mencapai angka 75.8 juta atau hampir tiga kali jumlah penduduk 2018. Tabel di bawah ini mengilustrasikan bagaimana angka itu diperoleh.

Kapasitas Daya Dukung

Yang perlu dicatat, perhitungan pada tabel berdasarkan model pertumbuhan eksponensial, model yang berlaku bagi manusia dan organisme lain, termasuk kelinci dan kerbau, misalnya[2]. Secara teknis demografis, model ini tergantung kepadatan (density dependent); artinya, model ini tidak realistis diterapkan pada suatu keadaan ketika kepadatan sudah mendekati batas maksimum kapasitas daya dukung (carrying capacity), kemampuan habitat untuk menyediakan sumber kehidupan bagi  organisme yang hidup di dalamnya.

Sumber Gambar: Google

Batas maksimum yang dimaksud  dapat dibayangkan sebagai limit atau garis asimtot yang hanya dapat didekati tapi tidak dapat dilampaui. Dalam konteks ini berlaku rumus umum bagi semua organisme: sekain dekat dengan batas maksimum itu, semakin keras kompetisi untuk mengakses sumber daya hidup: makan, air, pemukiman, dan sebagainya.

Sejauh ini kita tidak memiliki garis asimtot yang dimaksud. Dugaan penulis, kondisinya akan dicapai pada tahun 2030 (tahun target SDG) ketika penduduk di kawasan ini mencapai jumlah 34 juta. Juga dugaan penulis, setelah tahun itu pertumbuhan di kawasan ini akan dipaksa mengikuti model logistik atau model lain yang memiliki unsur garis asimtot.

Implikasi Kepadatan

Dengan penduduk 75.8 juta (2068), kawasan Jakarta dan sekitarnya pasti sangat padat. Implikasinya luas dan negatif bagi kualitas hidupan masyarakat, termasuk: (1) interaksi antar manusia semakin intens yang berarti mempermudah penyebaran penyakit, (2) sampah rumah tangga warga akan meningkat dan ini berarti kerusakan lingkungan hidup serta meluasnya sumber kontaminasi minuman-makanan, dan (3)  jumlah “predator” akan meningkat karena demikian mudahnya mencari “mangsa”. Yang terakhir ini bukan mengada-ngada tetapi berlaku umum bagi semua organisme.

Kita dapat memperpanjang daftar implikasi negatif kepadatan penduduk: kemacetan lalu lintas semakin parah, polusi udara yang semakin memburuk, kualitas pemukiman dan lingkungan hidup yang semakin memprihatinkan, persaingan di pasar kerja semakin keras, dan besarnya kebutuhan listrik dan air bersih akan semakin membesar.

Terkait dengan kerasnya persaingan di pasar kerja khususnya di kalangan penduduk usia muda yang semakin terdidik, gejalanya berlaku hampir universal. Fenomena ini memicu timbulnya frustasi di kalangan penduduk usia muda, mendorong tindakan kriminal, diharmonisasi sosial, dan bahkan pembangkangan publik terhadap otoritas yang sah. Hemat penulis, itulah salah satu latar belakang timbulnya Arab Spring di kawasan Arab dan Afrika Utara, juga menguatnya politik yang bernuansa supremasi kulit putih dan ultra-nasionalis di Amerika Serikat dan Eropa.

Bagaimana dengan masalah kebutuhan air bersih? Yang pasti masalah ini menentukan kualitas hidup masyarakat. Tetapi seberapa serius masalah ini menurut skenario kita di atas? Ini gambarannya. Menurut Ditjen Cipta Karya (2006), kebutuhan air bersih Liter/Orang/Hari (OLH) adalah 120-150 liter untuk wilayah yang berpenduduk di atas satu juta jiwa[3]. Katakanlah, untuk mudahnya, kebutuhan itu 120 OLH. Jika angka di scaled up untuk 75,8 juta jiwa maka kebutuhan air bersih per hari sekitar 9.1 milyar OLH. Siapa mampu?

*********

Pindah ibukota ke Luar Jawa itu perlu. Visinya jelas. Argumennya, masuk akal untuk menghindari implikasi negatif terlalu padatannya  penduduk di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Juga untuk menjauhi wilayah Sunda Mega thrust?[4] Singkatnya, rencana pindah ini justified.

[1] Website BPS Jakarta dan BPS Jawa Barat.

[2] Pertumbuhan populasi kelinci dan kerbau di Australia konon pernah mengancam kelangsungan hidup binatang lokal karena menghabiskan hampir semua sumber daya vital bagi binatang yaitu rumput dan air. Predator alamiah tidak menghentikan sehingga mengundang campur tangan supra-predator; yakni, manusia.

[3] Lihat ini.

[4] Wilayah ini rawan terpapar gempa sangat besar (mega). Wilayahnya memanjang sekitar 5.500 Km dari Myanmar di utara, membentang di sepanjang sisi barat daya Sumatra, ke selatan Jawa dan Bali sebelum berakhir di dekat Australia (lihat ini)

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.