Al-Ghazālī, HP, dan Kita yang Sok Tahu

Ngaji Santai tentang Keraguan yang Bermanfaat

Assalamu’alaikum, para pembaca yang budiman. Monggo sedherek sedaya, kita duduk dulu sejenak. Sing jenengan punya kopi, silakan diminum. Yang lagi pegang HP, ya sudah, pegang saja — justru itu topik kita malam ini.

Saya mau cerita tentang seorang kiyai keren dari abad ke-11. Namanya al-Ghazālī. Beliau bukan kiyai kampung, lho. Beliau itu profesor di Baghdad, jabatannya mentereng, muridnya ribuan, diundang raja-raja, dikutip di mana-mana. Kalau di zaman sekarang, mungkin beliau itu influencer level nasional, tapi yang isinya bukan jualan skincare — isinya kitab.

Nah, di puncak kariernya itu, beliau tiba-tiba mikir. Sebuah pikiran yang sederhana, tapi mengerikan:

> “Sebenarnya, apa yang saya yakini ini benar-benar sudah saya periksa, atau cuma saya warisi dari orang tua dan guru-guru saya?”

Nah, lho. Sampai situ, beliau langsung pusing. Bukan pusing karena kurang tidur, tapi pusing karena yakin-nya belum ketemu. Beliau lalu keluar dari jabatannya yang bergengsi, pergi mengembara, nyepi, dan bertahun-tahun kemudian baru kembali. Itulah yang beliau tulis dalam kitab al-Munqidh min al-Ḍalāl — Penyelamat dari Kesesatan.

Sekarang, mari kita ngaca sebentar. Jangan marah, ya.

Kita ini hidup di zaman yang katanya serba ada. Mau tanya apa saja, tinggal googling. Mau tahu hukum fikih, ada website-nya. Mau tahu tafsir, ada podcast-nya. Mau tahu hadis, ada aplikasinya. Semua ada. Semua tersedia. Bahkan yang tidak perlu pun ada.

Tapi aneh, ya. Semakin banyak yang kita tahu, semakin kita bingung. Semakin banyak yang kita baca, semakin kita tidak yakin. Semakin banyak yang kita share, semakin kita tidak paham.

Ini yang di zaman al-Ghazālī disebut taqlīd — ikut-ikutan tanpa memeriksa. Dulu, taqlīd itu dari bapak ke anak, dari guru ke murid. Sekarang, taqlīd itu dari feed ke feed, dari influencer ke followers, dari algoritma ke kita yang cuma bisa scrolling sambil manggut-manggut.

Bedanya apa? Bedanya cuma kecepatan. Dulu warisan butuh satu generasi; sekarang warisan bisa sampai ke kita dalam hitungan detik. Tapi penyakitnya sama: kita merasa tahu, padahal cuma kenal.

Al-Ghazālī, kalau beliau hidup di zaman kita, mungkin beliau akan bertanya dengan gaya beliau yang kalem tapi menusuk:

> “Antum ini yakin sama yang antum baca, atau yakin karena yang lain juga yakin?”

Nah, itu pertanyaan yang tidak nyaman. Tapi justru pertanyaan yang perlu.

Beliau lalu memeriksa empat kelompok besar yang mengaku punya kunci kebenaran: ahli kalam, guru otoritatif, filsuf, dan sufi. Beliau tidak asal menolak. Beliau periksa satu-satu: apa yang bisa mereka kasih?

– Ahli kalam bisa membela keyakinan, tapi belum tentu bisa mendasari-nya.

– Guru otoritatif bisa menyampaikan, tapi belum tentu bisa menjamin.

– Filsuf bisa membuktikan, tapi tidak semua hal bisa dibuktikan dengan cara yang sama.

– Sufi bisa merasakan — tapi rasa itu tidak bisa diwariskan lewat bacaan; harus dijalani.

Beliau tidak lantas memilih satu pemenang. Beliau justru menunjukkan bahwa setiap jalan punya batasnya. Dan di situ letak kebijaksanaannya: beliau tidak mencari yang paling hebat, beliau mencari yang paling jujur.

Nah, kalau jenengan tertarik mendalami fasal ini — soal empat kelompok tadi, soal taqlīd, soal dhawq, soal kenapa al-Ghazālī akhirnya keluar dari Baghdad dan kembali lagi — saya sudah tulis lebih panjang di sebuah paper yang tayang di Academia.edu. Judulnya:

> “Five Movements of Doubt: Reading The Architecture of Doubt Through Al-Ghazālī’s Search for Certainty”

Silakan dibuka. Gratis, kok. Tidak perlu bayar, tidak perlu daftar yang ribet. Cukup duduk manis, buka Academia.edu, cari judulnya, dan baca. Cocok untuk menemani kopi malam ini.

Lalu apa ujung ceritanya?

Ujungnya bukan beliau jadi skeptis, bukan juga beliau jadi sok yakin. Ujungnya, beliau pulang. Kembali mengajar, kembali menulis, kembali ke tengah masyarakat. Tapi kali ini bukan sebagai orang yang sama. Beliau kembali sebagai orang yang sudah memeriksa keyakinannya, dan sekarang menghidupinya.

Ini pelajaran yang berat, tapi sederhana: yakin itu bukan barang yang bisa dibeli di pasar, dan bukan warisan yang bisa langsung dipakai. Yakin itu harus lewat proses — diperiksa, diuji, dijalani. Kalau tidak, ia cuma jadi topeng yang kita pakai di depan orang, sementara di dalam kita sendiri tidak tenang.

Jadi, mau saya titip satu pertanyaan sebelum kita tutup?

> Seberapa banyak dari yang antum yakini ini benar-benar sudah antum periksa, dan seberapa banyak yang cuma antum warisi dari orang tua, guru, dan — ya, dari feed?

Jangan dijawab sekarang. Bawa pulang. Renungkan sebelum tidur. Siapa tahu, jawabannya lebih jujur dari yang kita duga.

Dan kalau setelah renungan itu jenengan ingin membaca lebih dalam, paper di Academia.edu itu sudah menunggu. Saya sudah siapkan jalan yang lebih panjang — dengan ayat-ayat Qur’an sebagai peneduh, dan al-Ghazālī sebagai pemandu. Silakan mampir kapan saja.

Wallāhu aʿlam biṣ-ṣawāb.

Wa mā tawfīqī illā billāh.

Tiga Jalan Ninja ala Ghazālī: Puasa Digital, Ngaji Diri, dan Pegangan Hidup

Oleh: Kiyai yang Sedang Berusaha Tidak Mengecek HP

Muqaddimah: Kopi, Rokok, dan HP yang Tidak Pernah Diam

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Para santri, para jamaah, dan para mubaligh yang sedang membaca tulisan ini sambil setengah mata melihat notifikasi WhatsApp—saya tahu, saya tahu. Tidak usah pura-pura khusyuk. Saya juga.

Suatu hari, saya duduk di ndalem. Kopi sudah dingin, rokok kretek sudah habis, kitab kuning masih di halaman satu. Niat hati mau mujāhadah, mau riyāḍah, mau tazkiyah—pokoknya mau serius ngaji. Tapi yang terjadi justru mujāhadah melawan notifikasi. Kalah. Telak. Tidak sampai satu ronde.

Lalu saya renung-renungkan sambil memandangi langit-langit. Ternyata kita ini sedang berperang melawan sesuatu yang tidak kelihatan. Namanya attention economy—ekonomi yang dagangannya perhatian kita. Algoritma tidak butuh kita nurut. Ia cuma butuh impuls kita jadi otomatis. Sudah cukup. Selesai. Kita kalah tanpa merasa kalah.

Maka dari itu, ada tiga gerakan yang perlu kita latih. Santai saja, tidak usah pakai jubah perang, tidak usah bawa pedang. Cukup bawa niat dan—kalau bisa—HP yang sudah ditinggal di kamar.

Bab Satu: Mujāhadah—Perang Batin Melawan Refleks

Yang pertama, Mujāhadah. Ini bukan perang melawan HP. Ini perang melawan diri sendiri yang sudah terbiasa refleks.

Coba perhatikan: notifikasi bunyi, tangan langsung gerak. Belum sempat berpikir, jari sudah scroll. Ini persis seperti santri yang mendengar kata “ngaji” langsung ngantuk—refleks, tidak sadar, sudah otomatis.

Mujāhadah itu melatih jeda antara godaan dan gerakan. Di jeda itulah letak kemerdekaan. Bukan di gunung. Bukan di pondok. Bukan di majelis. Tapi di ruang kecil antara stimulus dan respons—ruang yang oleh al-Ghazālī disebut sebagai tempat di mana kehendak bekerja, dan oleh para psikolog modern disebut sebagai tempat di mana free will hidup.

Di situ kita bisa memilih: “mau saya buka, atau saya tinggal?”

Tiga tarikan napas saja. Itu sudah cukup. Seperti kata pepatah pesantren: “Sabar itu bukan menunggu, tapi menahan.” Menahan tangan yang sudah mau gerak. Menahan jari yang sudah mau scroll. Menahan diri yang sudah mau mengikuti arus.

Dan lucunya, ketika kita berhasil menahan sekali—hanya sekali—kita merasa seperti sudah menang perang besar. Padahal yang terjadi cuma: kita tidak membuka HP selama 30 detik. Tapi begitulah. Kemenangan kecil selalu terasa seperti kemenangan besar, karena kita memang tidak pernah dilatih untuk menang.

Bab Dua: Muḥāsabah—Audit Diri, Bukan Audit Tetangga

Yang kedua, Muḥāsabah. Ini soal audit diri.

Ingat, jangan audit orang lain. Itu kerjaan grup WA. Jangan audit tetangga, jangan audit mantan, jangan audit pemerintah. Audit diri sendiri.

Tanyakan tiga hal:

Pertama: Apa yang hari ini masuk ke saya? Berapa banyak konten, berita, gambar, video, opini, gosip, dan drama yang saya telan? Dari mana datangnya? Saya yang pilih, atau algoritma yang sodorkan?

Kedua: Apa yang menggerakkan saya? Apa yang membuat saya marah hari ini? Apa yang membuat saya takut? Apa yang membuat saya iri? Apa yang membuat saya ingin membalas komentar? Kalau semua ini terjadi tanpa saya sadari, berarti bukan saya yang hidup—tapi emosi saya yang hidup, dan saya cuma numpang lewat.

Ketiga: Saya ini sedang jadi siapa? Ini pertanyaan yang paling tidak enak. Karena jawabannya sering tidak sedap. Kalau jawabannya: “saya jadi orang yang cek HP 200 kali sehari, marah karena berita yang tidak jelas, dan lupa mendoakan orang tua”—ya alhamdulillah, ketahuan. Setidaknya sekarang kita tahu.

Kata Kiyai, yang tidak bisa dilihat tidak bisa diperbaiki. Sama seperti kulkas: baru tahu baunya kalau dibuka. Maka bukalah. Bukalah lemari hati sendiri. Kalau ada yang berbau tidak sedap, jangan langsung nutup sambil bilang “tidak apa-apa kok.” Buka terus. Biar udaranya berganti.

Dan jangan takut. Muḥāsabah bukan pengadilan. Muḥāsabah itu audit. Tidak ada audit yang tujuannya menjatuhkan hukuman—audit itu tujuannya memperbaiki pembukuan. Kalau hari ini ternyata rugi, ya sudah, besok dicoba lagi. Yang penting jangan berhenti membuka buku.

Bab Tiga: Yaqīn—Pegangan yang Tidak Goyang

Yang ketiga, Yaqīn. Ini soal pegangan hidup.

Di zaman sekarang, gambar bisa dipalsukan, suara bisa ditiru, berita bisa dikarang, video bisa dibuat oleh mesin. Semua bergerak. Semua goyang. Kalau kita pegangan pada informasi, kita akan ikut goyang. Kalau kita pegangan pada pendapat orang, kita akan ikut limbung. Kalau kita pegangan pada jumlah like, kita akan ikut naik-turun seperti perahu di ombak.

Yaqīn bukan berarti tahu segalanya. Yaqīn itu tahu kepada siapa kita bersandar.

Boleh saja kita bilang: “Saya belum tahu.” Tidak masalah. Boleh saja kita bilang: “Saya belum bisa memastikan.” Tidak apa-apa. Yang penting kita tahu kepada siapa kita pulang.

Seperti orang naik perahu di laut yang bergelombang. Ia tidak perlu tahu setiap ombak. Ia tidak perlu memprediksi setiap angin. Ia cuma perlu tahu: “Saya ini mau ke mana, dan siapa kaptennya.”

Itulah yaqīn. Bukan sombong merasa tahu, tapi tenang karena sudah bersandar. Bukan merasa paling benar, tapi tidak takut salah—karena yang jadi pegangan bukan diri sendiri, melainkan Yang Maha Benar.

Nah, tiga ini—mujāhadah, muḥāsabah, yaqīn—kalau dilatih sedikit-sedikit, sudah cukup untuk membuat kita tidak jadi budak layar. Bukan berarti kita anti-teknologi. Kita hanya tidak mau diperintah oleh notifikasi. Kita hanya ingin jadi manusia yang masih bisa memilih, masih bisa berpikir, masih bisa diam.

 Penutup: Ngobrol dan Ngopi

Para jamaah, sudah saya sampaikan intinya. Sekarang giliran saya bertanya:

Kalau malam ini Anda berhasil tidak membuka HP selama satu jam saja, kira-kira apa yang akan Anda temukan dalam diri Anda?

Mungkin bosan. Mungkin gelisah. Mungkin ada pikiran-pikiran yang selama ini Anda hindari. Atau—siapa tahu—mungkin ada kedamaian yang selama ini Anda cari, tapi tidak pernah sempat Anda temui karena selalu terhalang notifikasi.

Kalau mau ngulik lebih dalam—tentang kebebasan jiwa ini ṣawm, tentang puasa digital, tentang kebebasan yang justru datang dari menahan diri, tentang bagaimana jiwa bisa berdaulat justru ketika ia berhenti ingin berdaulat—antum buka aja:

> “The Sovereign Soul: Three Movements of Inner Freedom in the Digital Age” 

> (Academia.edu paper)

Gratis habis kok.

Silakan dibaca sambil ngopi. Kalau ketiduran, tidak apa-apa. Itu tanda santri sejati. Yang penting jangan sambil scrolling—nanti tidak ketiduran, malah tidak tidur.

Wallahu a’lam bish-shawab. 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mengobati Hati: Praktik Spiritual di Bulan Syawal

Ketika tubuh sakit, kita segera memahami satu hal: ada yang harus dilakukan, dan ada yang harus ditinggalkan. Kita diperintah untuk minum obat, dan dilarang mengonsumsi makanan tertentu. Keduanya penting, tetapi sering kali dokter lebih tegas pada larangan. Sebab, pelanggaran terhadap larangan justru memperparah penyakit, bahkan menggagalkan fungsi obat itu sendiri.

Dalam kehidupan beragama, logika ini ternyata memiliki gema yang dalam. Ibadah adalah “obat”, tetapi penyakit hati sering kali justru membatalkan efeknya. Di sinilah para ulama akhlak menaruh perhatian besar pada dimensi larangan. Imam al-Ghazali, dalam karya-karya tasawufnya—termasuk yang dinisbatkan dalam tradisi Minhaj al-‘Abidin—menunjukkan bahwa perjalanan menuju Allah tidak cukup dengan memperbanyak amal, tetapi harus diawali dengan pembersihan dari penyakit-penyakit batin.

Takabbur, misalnya, bukan sekadar sikap buruk, tetapi racun yang menutup pintu kebenaran. Iri hati menggerogoti ketenangan jiwa dan menumbuhkan kebencian tanpa dasar. Ghibah—yang sering dianggap ringan—justru merusak relasi sosial dan menghitamkan hati secara perlahan. Para sufi menyebut penyakit-penyakit ini sebagai amradh al-qulub, penyakit hati yang tidak kasat mata, tetapi dampaknya jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik.

Dalam perspektif ini, larangan menjadi prioritas, bukan karena amal tidak penting, tetapi karena amal tidak akan berbuah jika tanahnya masih beracun. Membersihkan hati adalah syarat agar amal menjadi hidup. Seorang sufi pernah mengibaratkan: menanam benih di tanah yang penuh racun hanya akan menghasilkan kegagalan, betapa pun unggulnya benih tersebut.

Bulan Syawal, yang datang setelah latihan intensif di Ramadan, adalah momentum yang tepat untuk melanjutkan terapi ini. Jika Ramadan melatih kita untuk menahan yang halal, maka Syawal mengajak kita lebih sadar terhadap yang haram—terutama dalam wilayah hati dan lisan.

Mungkin kita bisa memulai dengan sebuah latihan sederhana namun konsisten:

Tidak mudah bosan dalam kebaikan. Rasa bosan sering menjadi pintu masuk kelalaian.
Tidak egois dalam interaksi. Ego adalah bentuk halus dari takabur yang sering tidak kita sadari.
Tidak merasa lebih besar dari orang lain. Kerendahan hati adalah fondasi seluruh akhlak.
Tidak terlibat dalam gibah. Menjaga lisan adalah menjaga hati.
Tidak membuat atau menyebarkan konten yang sia-sia—lahwun wa la‘ib—terlebih yang mengandung dusta, provokasi, atau energi negatif.

Latihan ini mungkin tampak sederhana, tetapi justru di situlah letak kesulitannya. Ia menuntut kesadaran terus-menerus. Dalam istilah tasawuf, ini adalah muraqabah: merasa diawasi, bukan oleh manusia, tetapi oleh Allah.

Para sufi klasik seperti al-Muhasibi dan al-Qushayri juga menekankan pentingnya muhasabah, evaluasi diri harian. Bukan sekadar menghitung amal, tetapi menelusuri motif, membersihkan niat, dan mengidentifikasi penyakit-penyakit halus yang bersembunyi di balik tindakan baik.

Pada akhirnya, perjalanan spiritual bukan hanya tentang menambah, tetapi juga mengurangi. Bukan hanya tentang melakukan, tetapi juga meninggalkan. Bahkan, sering kali meninggalkan yang buruk lebih berat daripada melakukan yang baik.

Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi: “Apa amal yang sudah kita lakukan hari ini?” tetapi juga: “Penyakit hati apa yang berhasil kita hindari hari ini?”

Dari sinilah, pelan-pelan, hati menjadi jernih. Dan ketika hati jernih, amal sekecil apa pun akan memantulkan cahaya yang besar.


Mengenai naskah ini silahkan klik ini.


Jangan Katakan Ia Mati. Ia Hanya Tertimbun.

Kita hidup di zaman ketika semua orang ingin terlihat benar. • Benar secara moral. • Benar secara politik. • Benar secara agama.

Tapi ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: Masihkah kita bisa merasa bersalah?

Al-Qur’an bersumpah atas satu hal yang mengejutkan: jiwa yang mencela dirinya sendiri. Itu artinya, kegelisahan batin bukan cacat. Ia adalah tanda kehidupan. Ketika kita berbuat salah lalu dada terasa sesak — itu bukan kelemahan. Itu alarm.

Masalahnya bukan karena manusia tak lagi tahu benar dan salah. Masalahnya: kita terlalu cepat membenarkan diri.

• Kita menyakiti, lalu menyebutnya prinsip. • Kita merendahkan, lalu menyebutnya iman. • Kita menutup telinga, lalu menyebutnya loyalitas.

Dan perlahan sesuatu yang lebih berbahaya dari dosa terjadi: Nurani berhenti bergetar.

Itulah titik kritisnya.

Itu adalah sistem alarm jiwa sejak Hari Alastu. Namun, ia tak dirancang untuk berbunyi selamanya jika terus diabaikan. Ketika dosa bertumpuk dan penyesalan tak kunjung datang, Allah akan mengecapnya. ’Khatamallahu ‘ala qulubihim’ (QS. 2:7). Alarm itu padam, bukan lagi sekadar terkubur, tapi mati sebagai peringatan terakhir yang diabaikan.

Bukan ketika orang jatuh dalam kesalahan. Tetapi ketika ia jatuh dan tidak lagi merasa apa-apa.

• Agama tanpa kritik diri berubah menjadi ego yang disucikan. • Ideologi tanpa refleksi berubah menjadi kebencian yang terstruktur. • Kesalehan tanpa muhasabah berubah menjadi kekerasan yang merasa suci.

Yang paling berbahaya bukan pendosa. Yang paling berbahaya adalah orang yang yakin dirinya selalu benar.

Namun ada kabar baik. Nurani jarang benar-benar mati. Ia hanya tertimbun. Tertimbun oleh kebisingan. Oleh pembenaran kolektif. Oleh tepuk tangan kelompok. Dan yang tertimbun selalu bisa digali kembali.

Satu pengakuan jujur. Satu permintaan maaf yang tidak dipublikasikan. Satu momen diam ketika kita memilih mendengar daripada menyerang. Itu bukan kelemahan. Itu kekuatan yang paling langka.

Di dunia yang sibuk menghakimi, orang yang berani mengoreksi diri adalah revolusioner sejati.

Jangan takut pada rasa bersalah yang jujur. Takutlah pada hari ketika kita tak lagi bisa merasakannya. Karena hari ketika nurani tak lagi terasa sakit, itulah hari yang paling seharusnya kita khawatirkan.

Catatan: Versi Pdf dapat diakses di [tautan] ini.

Al-Wahn: Epidemi Spiritual Umat dalam Cengkeraman Dunia

Pada suatu senja profetik, Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang terasa semakin relevan hari ini. Beliau bersabda bahwa akan datang masa ketika umat Islam berjumlah banyak, tetapi tidak berdaya—seperti buih di lautan. Ketika ditanya penyebabnya, beliau menyebut satu penyakit dengan dua wajah: al-wahn—cinta dunia dan takut mati.

Hari ini, nubuat itu terasa nyata. Secara demografis, umat Islam mencakup lebih dari seperlima penduduk dunia. Namun dalam banyak arena—politik global, ekonomi, ilmu pengetahuan, bahkan wacana moral—kita sering tampil bukan sebagai penentu arah, melainkan sebagai objek yang mudah diarahkan. Masalahnya bukan pada jumlah, tetapi pada orientasi jiwa kolektif.

Al-wahn bukan kelemahan fisik atau intelektual. Ia adalah penyakit maknawi: kesalahan arah hidup. Cinta dunia pada dirinya tidak tercela. Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa harta, keluarga, dan kenikmatan dunia adalah bagian dari ujian hidup. Masalah muncul ketika dunia bergeser dari wasilah (sarana) menjadi maqshad (tujuan). Ketika dunia tidak lagi berada di tangan, tetapi telah bersemayam di hati—di situlah wahn berakar.

Cinta dunia yang berlebihan hampir selalu berjalan beriringan dengan takut mati. Bukan takut karena ketidaksiapan ruhani, tetapi takut karena harus berpisah dari kenyamanan, jabatan, dan akumulasi materi. Dari sini lahir sikap menghindari risiko iman: enggan bersikap jujur jika mahal, enggan membela kebenaran jika berbahaya, enggan berkorban jika mengancam zona nyaman.

Di level kolektif, al-wahn menjelma dalam wajah-wajah yang akrab: konsumerisme yang dirayakan seolah agama baru, fobia terhadap perjuangan, mentalitas inferior yang bergantung pada sistem dan nilai pihak lain, serta perpecahan internal yang membuat umat mudah diadu domba. Buih tidak pernah menentukan arah—ia hanya mengikuti arus.

Namun Islam tidak berhenti pada diagnosis. Penyembuhan al-wahn dimulai dari introspeksi, bukan apologetik. Rasulullah ﷺ dan para sahabat menekankan muhasabah: menghisab diri sebelum dihisab. Sejarah pun menguatkan pelajaran ini. Runtuhnya Abbasiyah di Baghdad dan Cordoba di Andalusia bukan semata akibat serangan Mongol atau Reconquista, tetapi puncak dari kebusukan internal: hedonisme elit, perebutan kuasa, dan hilangnya kesadaran amanah.

Serangan luar hanyalah pukulan terakhir. Penyakitnya telah lama bersarang di dalam.

Karena itu, jihad terbesar umat hari ini adalah jihad melawan al-wahn. Mengembalikan dunia ke tangan, bukan ke hati. Menghidupkan kembali kesadaran akhirat tanpa melarikan diri dari tanggung jawab dunia. Bekerja seolah hidup panjang, tetapi beramal seolah ajal begitu dekat.

Transformasi umat tidak dimulai dari slogan besar, tetapi dari perubahan kompas batin. Dari keberanian bertanya: apakah kita sedang hidup sebagai khalifah—atau sekadar buih yang hanyut dalam arus zaman?

Catatan: Uraian dalam konteks yang lebih luas dan lebih menadalam dari artikel ini dapat ditemukan dalam Khalifah sebagai Sintesis Kosmis: Fusi Hikmah Mulla Sadra dan Tanggung Jawab Global (Uzair Suhaimi, akan terbit, Nasmedia). Versi PDF-nya dapat diakses alam [link] ini.