Al-Ghazālī, HP, dan Kita yang Sok Tahu

Ngaji Santai tentang Keraguan yang Bermanfaat

Assalamu’alaikum, para pembaca yang budiman. Monggo sedherek sedaya, kita duduk dulu sejenak. Sing jenengan punya kopi, silakan diminum. Yang lagi pegang HP, ya sudah, pegang saja — justru itu topik kita malam ini.

Saya mau cerita tentang seorang kiyai keren dari abad ke-11. Namanya al-Ghazālī. Beliau bukan kiyai kampung, lho. Beliau itu profesor di Baghdad, jabatannya mentereng, muridnya ribuan, diundang raja-raja, dikutip di mana-mana. Kalau di zaman sekarang, mungkin beliau itu influencer level nasional, tapi yang isinya bukan jualan skincare — isinya kitab.

Nah, di puncak kariernya itu, beliau tiba-tiba mikir. Sebuah pikiran yang sederhana, tapi mengerikan:

> “Sebenarnya, apa yang saya yakini ini benar-benar sudah saya periksa, atau cuma saya warisi dari orang tua dan guru-guru saya?”

Nah, lho. Sampai situ, beliau langsung pusing. Bukan pusing karena kurang tidur, tapi pusing karena yakin-nya belum ketemu. Beliau lalu keluar dari jabatannya yang bergengsi, pergi mengembara, nyepi, dan bertahun-tahun kemudian baru kembali. Itulah yang beliau tulis dalam kitab al-Munqidh min al-Ḍalāl — Penyelamat dari Kesesatan.

Sekarang, mari kita ngaca sebentar. Jangan marah, ya.

Kita ini hidup di zaman yang katanya serba ada. Mau tanya apa saja, tinggal googling. Mau tahu hukum fikih, ada website-nya. Mau tahu tafsir, ada podcast-nya. Mau tahu hadis, ada aplikasinya. Semua ada. Semua tersedia. Bahkan yang tidak perlu pun ada.

Tapi aneh, ya. Semakin banyak yang kita tahu, semakin kita bingung. Semakin banyak yang kita baca, semakin kita tidak yakin. Semakin banyak yang kita share, semakin kita tidak paham.

Ini yang di zaman al-Ghazālī disebut taqlīd — ikut-ikutan tanpa memeriksa. Dulu, taqlīd itu dari bapak ke anak, dari guru ke murid. Sekarang, taqlīd itu dari feed ke feed, dari influencer ke followers, dari algoritma ke kita yang cuma bisa scrolling sambil manggut-manggut.

Bedanya apa? Bedanya cuma kecepatan. Dulu warisan butuh satu generasi; sekarang warisan bisa sampai ke kita dalam hitungan detik. Tapi penyakitnya sama: kita merasa tahu, padahal cuma kenal.

Al-Ghazālī, kalau beliau hidup di zaman kita, mungkin beliau akan bertanya dengan gaya beliau yang kalem tapi menusuk:

> “Antum ini yakin sama yang antum baca, atau yakin karena yang lain juga yakin?”

Nah, itu pertanyaan yang tidak nyaman. Tapi justru pertanyaan yang perlu.

Beliau lalu memeriksa empat kelompok besar yang mengaku punya kunci kebenaran: ahli kalam, guru otoritatif, filsuf, dan sufi. Beliau tidak asal menolak. Beliau periksa satu-satu: apa yang bisa mereka kasih?

– Ahli kalam bisa membela keyakinan, tapi belum tentu bisa mendasari-nya.

– Guru otoritatif bisa menyampaikan, tapi belum tentu bisa menjamin.

– Filsuf bisa membuktikan, tapi tidak semua hal bisa dibuktikan dengan cara yang sama.

– Sufi bisa merasakan — tapi rasa itu tidak bisa diwariskan lewat bacaan; harus dijalani.

Beliau tidak lantas memilih satu pemenang. Beliau justru menunjukkan bahwa setiap jalan punya batasnya. Dan di situ letak kebijaksanaannya: beliau tidak mencari yang paling hebat, beliau mencari yang paling jujur.

Nah, kalau jenengan tertarik mendalami fasal ini — soal empat kelompok tadi, soal taqlīd, soal dhawq, soal kenapa al-Ghazālī akhirnya keluar dari Baghdad dan kembali lagi — saya sudah tulis lebih panjang di sebuah paper yang tayang di Academia.edu. Judulnya:

> “Five Movements of Doubt: Reading The Architecture of Doubt Through Al-Ghazālī’s Search for Certainty”

Silakan dibuka. Gratis, kok. Tidak perlu bayar, tidak perlu daftar yang ribet. Cukup duduk manis, buka Academia.edu, cari judulnya, dan baca. Cocok untuk menemani kopi malam ini.

Lalu apa ujung ceritanya?

Ujungnya bukan beliau jadi skeptis, bukan juga beliau jadi sok yakin. Ujungnya, beliau pulang. Kembali mengajar, kembali menulis, kembali ke tengah masyarakat. Tapi kali ini bukan sebagai orang yang sama. Beliau kembali sebagai orang yang sudah memeriksa keyakinannya, dan sekarang menghidupinya.

Ini pelajaran yang berat, tapi sederhana: yakin itu bukan barang yang bisa dibeli di pasar, dan bukan warisan yang bisa langsung dipakai. Yakin itu harus lewat proses — diperiksa, diuji, dijalani. Kalau tidak, ia cuma jadi topeng yang kita pakai di depan orang, sementara di dalam kita sendiri tidak tenang.

Jadi, mau saya titip satu pertanyaan sebelum kita tutup?

> Seberapa banyak dari yang antum yakini ini benar-benar sudah antum periksa, dan seberapa banyak yang cuma antum warisi dari orang tua, guru, dan — ya, dari feed?

Jangan dijawab sekarang. Bawa pulang. Renungkan sebelum tidur. Siapa tahu, jawabannya lebih jujur dari yang kita duga.

Dan kalau setelah renungan itu jenengan ingin membaca lebih dalam, paper di Academia.edu itu sudah menunggu. Saya sudah siapkan jalan yang lebih panjang — dengan ayat-ayat Qur’an sebagai peneduh, dan al-Ghazālī sebagai pemandu. Silakan mampir kapan saja.

Wallāhu aʿlam biṣ-ṣawāb.

Wa mā tawfīqī illā billāh.

Leave a Reply