Tiga Jalan Ninja ala Ghazālī: Puasa Digital, Ngaji Diri, dan Pegangan Hidup

Oleh: Kiyai yang Sedang Berusaha Tidak Mengecek HP

Muqaddimah: Kopi, Rokok, dan HP yang Tidak Pernah Diam

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Para santri, para jamaah, dan para mubaligh yang sedang membaca tulisan ini sambil setengah mata melihat notifikasi WhatsApp—saya tahu, saya tahu. Tidak usah pura-pura khusyuk. Saya juga.

Suatu hari, saya duduk di ndalem. Kopi sudah dingin, rokok kretek sudah habis, kitab kuning masih di halaman satu. Niat hati mau mujāhadah, mau riyāḍah, mau tazkiyah—pokoknya mau serius ngaji. Tapi yang terjadi justru mujāhadah melawan notifikasi. Kalah. Telak. Tidak sampai satu ronde.

Lalu saya renung-renungkan sambil memandangi langit-langit. Ternyata kita ini sedang berperang melawan sesuatu yang tidak kelihatan. Namanya attention economy—ekonomi yang dagangannya perhatian kita. Algoritma tidak butuh kita nurut. Ia cuma butuh impuls kita jadi otomatis. Sudah cukup. Selesai. Kita kalah tanpa merasa kalah.

Maka dari itu, ada tiga gerakan yang perlu kita latih. Santai saja, tidak usah pakai jubah perang, tidak usah bawa pedang. Cukup bawa niat dan—kalau bisa—HP yang sudah ditinggal di kamar.

Bab Satu: Mujāhadah—Perang Batin Melawan Refleks

Yang pertama, Mujāhadah. Ini bukan perang melawan HP. Ini perang melawan diri sendiri yang sudah terbiasa refleks.

Coba perhatikan: notifikasi bunyi, tangan langsung gerak. Belum sempat berpikir, jari sudah scroll. Ini persis seperti santri yang mendengar kata “ngaji” langsung ngantuk—refleks, tidak sadar, sudah otomatis.

Mujāhadah itu melatih jeda antara godaan dan gerakan. Di jeda itulah letak kemerdekaan. Bukan di gunung. Bukan di pondok. Bukan di majelis. Tapi di ruang kecil antara stimulus dan respons—ruang yang oleh al-Ghazālī disebut sebagai tempat di mana kehendak bekerja, dan oleh para psikolog modern disebut sebagai tempat di mana free will hidup.

Di situ kita bisa memilih: “mau saya buka, atau saya tinggal?”

Tiga tarikan napas saja. Itu sudah cukup. Seperti kata pepatah pesantren: “Sabar itu bukan menunggu, tapi menahan.” Menahan tangan yang sudah mau gerak. Menahan jari yang sudah mau scroll. Menahan diri yang sudah mau mengikuti arus.

Dan lucunya, ketika kita berhasil menahan sekali—hanya sekali—kita merasa seperti sudah menang perang besar. Padahal yang terjadi cuma: kita tidak membuka HP selama 30 detik. Tapi begitulah. Kemenangan kecil selalu terasa seperti kemenangan besar, karena kita memang tidak pernah dilatih untuk menang.

Bab Dua: Muḥāsabah—Audit Diri, Bukan Audit Tetangga

Yang kedua, Muḥāsabah. Ini soal audit diri.

Ingat, jangan audit orang lain. Itu kerjaan grup WA. Jangan audit tetangga, jangan audit mantan, jangan audit pemerintah. Audit diri sendiri.

Tanyakan tiga hal:

Pertama: Apa yang hari ini masuk ke saya? Berapa banyak konten, berita, gambar, video, opini, gosip, dan drama yang saya telan? Dari mana datangnya? Saya yang pilih, atau algoritma yang sodorkan?

Kedua: Apa yang menggerakkan saya? Apa yang membuat saya marah hari ini? Apa yang membuat saya takut? Apa yang membuat saya iri? Apa yang membuat saya ingin membalas komentar? Kalau semua ini terjadi tanpa saya sadari, berarti bukan saya yang hidup—tapi emosi saya yang hidup, dan saya cuma numpang lewat.

Ketiga: Saya ini sedang jadi siapa? Ini pertanyaan yang paling tidak enak. Karena jawabannya sering tidak sedap. Kalau jawabannya: “saya jadi orang yang cek HP 200 kali sehari, marah karena berita yang tidak jelas, dan lupa mendoakan orang tua”—ya alhamdulillah, ketahuan. Setidaknya sekarang kita tahu.

Kata Kiyai, yang tidak bisa dilihat tidak bisa diperbaiki. Sama seperti kulkas: baru tahu baunya kalau dibuka. Maka bukalah. Bukalah lemari hati sendiri. Kalau ada yang berbau tidak sedap, jangan langsung nutup sambil bilang “tidak apa-apa kok.” Buka terus. Biar udaranya berganti.

Dan jangan takut. Muḥāsabah bukan pengadilan. Muḥāsabah itu audit. Tidak ada audit yang tujuannya menjatuhkan hukuman—audit itu tujuannya memperbaiki pembukuan. Kalau hari ini ternyata rugi, ya sudah, besok dicoba lagi. Yang penting jangan berhenti membuka buku.

Bab Tiga: Yaqīn—Pegangan yang Tidak Goyang

Yang ketiga, Yaqīn. Ini soal pegangan hidup.

Di zaman sekarang, gambar bisa dipalsukan, suara bisa ditiru, berita bisa dikarang, video bisa dibuat oleh mesin. Semua bergerak. Semua goyang. Kalau kita pegangan pada informasi, kita akan ikut goyang. Kalau kita pegangan pada pendapat orang, kita akan ikut limbung. Kalau kita pegangan pada jumlah like, kita akan ikut naik-turun seperti perahu di ombak.

Yaqīn bukan berarti tahu segalanya. Yaqīn itu tahu kepada siapa kita bersandar.

Boleh saja kita bilang: “Saya belum tahu.” Tidak masalah. Boleh saja kita bilang: “Saya belum bisa memastikan.” Tidak apa-apa. Yang penting kita tahu kepada siapa kita pulang.

Seperti orang naik perahu di laut yang bergelombang. Ia tidak perlu tahu setiap ombak. Ia tidak perlu memprediksi setiap angin. Ia cuma perlu tahu: “Saya ini mau ke mana, dan siapa kaptennya.”

Itulah yaqīn. Bukan sombong merasa tahu, tapi tenang karena sudah bersandar. Bukan merasa paling benar, tapi tidak takut salah—karena yang jadi pegangan bukan diri sendiri, melainkan Yang Maha Benar.

Nah, tiga ini—mujāhadah, muḥāsabah, yaqīn—kalau dilatih sedikit-sedikit, sudah cukup untuk membuat kita tidak jadi budak layar. Bukan berarti kita anti-teknologi. Kita hanya tidak mau diperintah oleh notifikasi. Kita hanya ingin jadi manusia yang masih bisa memilih, masih bisa berpikir, masih bisa diam.

 Penutup: Ngobrol dan Ngopi

Para jamaah, sudah saya sampaikan intinya. Sekarang giliran saya bertanya:

Kalau malam ini Anda berhasil tidak membuka HP selama satu jam saja, kira-kira apa yang akan Anda temukan dalam diri Anda?

Mungkin bosan. Mungkin gelisah. Mungkin ada pikiran-pikiran yang selama ini Anda hindari. Atau—siapa tahu—mungkin ada kedamaian yang selama ini Anda cari, tapi tidak pernah sempat Anda temui karena selalu terhalang notifikasi.

Kalau mau ngulik lebih dalam—tentang kebebasan jiwa ini ṣawm, tentang puasa digital, tentang kebebasan yang justru datang dari menahan diri, tentang bagaimana jiwa bisa berdaulat justru ketika ia berhenti ingin berdaulat—antum buka aja:

> “The Sovereign Soul: Three Movements of Inner Freedom in the Digital Age” 

> (Academia.edu paper)

Gratis habis kok.

Silakan dibaca sambil ngopi. Kalau ketiduran, tidak apa-apa. Itu tanda santri sejati. Yang penting jangan sambil scrolling—nanti tidak ketiduran, malah tidak tidur.

Wallahu a’lam bish-shawab. 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Leave a Reply