Geng Motor dan Tragedi New Zealand


Sumber Gambar: INI.

“Jangan menilai orang dari tampilan luar”. Ini adalah nasehat kuno yang masih berharga dan agaknya universal dan perenial. Lihat saja gambar di atas khususnya subyek yang tubuhnya penuh tato.

Siapa gerangan subyek itu?

Dia adalah seorang anggota geng motor ketika bertandang ke Hagley College di Christchurch New Zealand (NZ). Tato yang memenuhi tubuhnya dan atribut pada jaket yang dikenakannya memotret secara meyakinkan “profesinya” sebagai anggota geng motor. Singkatnya, tampilan luarnya meyakinkan.

Yang mungkin kurang meyakinkan adalah pantulan batinnya yang terlihat dari ekspresi wajahnya. Aspek batiniah semacam inilah yang memotret jati-diri seseorang.

Apa yang dilakukannya?

Ia dan geng motornya datang ke lokasi itu bersamaan waktunya dengan kunjungan rombongan PM NZ  pada Sabtu siang yang lalu. Kedua rombongan ini datang ke lokasi itu untuk maksud yang sama: menunjukkan keprihatinan tulus terhadap teror penembakan dan empati kepada keluarga korban. Bukan di tempat tertutup tetapi di hadapan ratusan orang korban yang selamat, keluarga korban dan pihak lain yang turut berduka cita.

Apa yang dikemukakan rombongan geng motor itu luar biasa. Mereka menyatakan kesigapannya untuk mengawal masjid manakala Umat Islam di sana tengah khusyuk melaksanakan ibadah mingguan, Salat Jumat. Di Sydney (Australia), anggota geng motor yang sama (Mogreal Mob) dilaporkan telah melakukan kegiatan yang sama.

Untuk memahami situasi yang agak lengkap simak saja kutipan berikut ini:

Presiden Mob Waikato Mongrel Sonny Fatu telah menawarkan untuk melindungi Masjid Masjid Jamia di Hamilton, di Pulau Utara Selandia Baru, dengan sikap mendukung yang memastikan masyarakat dapat salat ‘tanpa rasa takut.’

Gerombolan Mongrel, bersama dengan berbagai geng pengendara motor lainnya di seluruh negeri, telah melangkah untuk menunjukkan dukungan mereka setelah serangan itu, yang menewaskan 50 orang dan puluhan lainnya terluka.

“Kami akan mendukung dan membantu saudara-saudari Muslim kami selama mereka membutuhkan kami,” kata Fatu kepada Stuff.

[Waikato Mongrel Mob President Sonny Fatu has offered to protect Jamia Masjid Mosque in Hamilton, in New Zealand’s North Island, in a supportive gesture ensuring the community can pray ‘without fear.’   

The Mongrel Mob, along with various other biker gengs across the country, have stepped up to show their support in the wake of the attack, which left 50 people dead and dozens more injured.

‘We will support and assist our Muslim brothers and sisters for however long they need us,’ Fatu told Stuff. ]

Pernyataan ini luar biasa bagi seorang Bos suatu geng motor. Pernyataan ini disambut baik oleh Dr. Mohsin yang mewakili komunitas Muslim di sana:

Mohsin said they will offer space at the park if they cannot accommodate everyone inside…  ‘We would love everybody to come, but we don’t want anybody to show they are scared. We are not scared. You don’t have to stand outside the mosque, we want you to be inside, with us,’ he added.

Jika pernyataan bos geng motor itu luar biasa maka pernyataan PM NZ lebih luar biasa.

Ketika dicecer oleh seorang wartawan bahwa Islam adalah agama yang penuh dan mendukung kekerasan PM itu menjawab singkat kira-kira: “Apa yang saya dengar dari mereka (maksudnya komunitas Muslim yang diajak dialog) sepenuhnya bertentangan dengan apa yang Anda kemukakan”. Ketika ditanya apakah Trump akan happy dengan sikapnya dia hanya menjawab kira-kira urusan saya warga NZ, negara lain silakan bersikap berbeda. Dia mengemukakan telah berdiskusi dengan PM Inggris untuk membawa isu ini–maksudnya mungkin isu Supremasi Kulit Putih secara umum– ke forum global.

Pernyataan luar biasa kan? Ya, luar biasa; juga luar bisa berani karena pasti bukan tanpa risiko politik mengingat mayoritas warga NZ adalah Kristen[1].

Yang lebih luar bisa lagi, pernyataannya bahwa dia telah meminta warganya “berdiam diri” (silence) selama dua menit setiap Jumat, maksudnya mungkin ketika azan Jumatan diperdengarkan. Lebih dari itu. Dia meminta “panggilan Salat” (maksudnya mungkin azan) diperdengarkan secara nasional melalui TV, radio dan media audio/video lainnya.

Mempelajari sikap PM yang satu ini penulis hanya tercenung dan… mimpi aneh:

“Kalau saya Presiden di negara Muslim terbesar maka saya akan datang berbelasungkawa sebelum PM NZ itu, toh lokasinya tidak jauh-jauh amat”.

“Kalau saya raja dari suatu negara kaya minyak, , saya akan memberikan pernyataan terang-benderang, lebih vokal dari PM Turki, untuk menyatakan turut prihatin dan memberikan dorongan moril kepada keluarga koran dan komunitas Muslim di sana, “melayat” korban teror NZ, serta “menitipkan” Umat kepada PM setempat, bertapa pun jauhnya, toh tidak ada masalah biaya buat saya”.

“Kalau ada peluang saya akan menyatakan sikap takzim saya, in its fullest sense of the term, kepada PM NZ,  Jacinda Ardern, serta to request agar beloau berkenan mengedukasi tokoh-tokoh dunia mengenai the insignificance risiko politik di hadapan kemanusiaan, di hadapan Kebenaran, di hadapan yang HAQQ.

Mimpi aneh….@

 

[1] Lihat Ihttps://uzairsuhaimi.blog/2019/03/15/penembakan-masal-masjid-new-zealand/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.