Khotbah Jumat yang Luar Biasa


Pada Jumat 15/3/2019 yang lalu Imam Gamal Fouda menyampaikan Khotbah Salat Jumat yang luar biasa.

Keluarbiasaan khotbah ini terletak pada setidaknya dua faktor. Pertama, khotbah disampaikan di suatu lokasi dekat Masjid Al-Noor New Zealand (NZ) di mana seminggu sebelumnya terjadi teror penembakan masal. Dalam teror ini korban meninggal dunia dilaporkan 50 orang yang kebanyakan berasal dari jamaah Masjid Al-Noor (lihat Peta di bawah).

Sumber Gambar: INI

Kedua, “target” khotbah tidak hanya jamaah Salat Jumat tetapi juga ratusan orang non-jamaah yang secara sengaja menyaksikan pelaksanaan Salat itu. Termasuk dalam non-jamaah adalah PM NZ, Jacinda Ardern, yang mendengarkan khotbah secara khusyu dan memeproleh pujian dari khatib. Lebih dari itu, dilihat dari “pesan politik” (terkait supremasi Kulit Putih) yang disinggung khatib, target itu khotbah adalah pemirsa di seluruh dunia khususnya kalangan para politisi.

Singkatnya, dilihat dari lokasi, waktu dan targetnya, kotbah itu luar biasa.

Bagi penulis ada faktor lain menjadikan khotbah itu luar biasa– dalam arti sangat jarang ditemukan dalam suatu Khotbah Jumat– yaitu kecermatan bahasa yang digunakan.

Keseluruhan narasi khotbah disampaikan dalam waktu yang relatif singkat dan ini sesuai dengan tradisi Rasul SAW. Ini layak ditiru dan digugu oleh para khatib.

Yang juga layak digugu dan ditiru adalah penggunaan bahasa yang sangat efektif karena menggunakan kosakata yang mudah dipahami dan lembut. Alquran menggunakan istilah qaulan baliga (QS 4:63) untuk yang pertama dan qaulan layyina (QS 20:44) untuk yang kedua.

Istilah qaulan layyina merujuk pada perkataan yang lembut dalam arti tidak menyakitkan hati bagi lawan bicara, tetapi sekaligus tajam dalam arti mengena kepada sasaran tanpa menyembunyikan kebanaran. Istilah ini digunakan Al-Quran sebagai bagian dari bekal Nabi Musa AS ketika harus berhadapan dengan Firaun, raja Kerjaan Mesir Kuno yang sangat tiran bahkan mengaku sebagai “tuhanmua yang paling tinggi” (QS 79:24).

Dalam konteks khotbah ini, qaulan layyina digunakan khatib untuk mengritik politik kebencian dan ideologi supremasi kulit putih. Khatib melancarkan kritik ini dalam bahasa yang masih dalam batas-batas kesantunan tetapi sekaligus tajam serta tidak menyembunyikan kebenaran.

Sumber Gambar: INI

Bacaan Imam Salat ini (dari rekaman video tampaknya bukan Imam Gamal Fouda) patut digugu dan ditiru. Dalam Salat ini Imam membacakan ayat/surat pendek dan cara ini bersifat qurani. Maksudbya, secara ekplisit Al-Quran menganjurkan untuk membacakan ayat/surat yang “mudah” ketika mengimami Salat karena harus mempertimbangkan keragaman kesibukan jamaah (lihat QS 73:20). Aspek “kemudahan” ini agaknya kurang mendapat perhatian dari para khatib kita di tanah air. (Mudah-mudahan penulis keliru.)

Sebagai catatan akhir, ayat yang dibacakan dalam rakaat pertama terkesan diarahkan kepada ahli mushibah (keluarga korban teror) yaitu mengenai kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Sementara dalam rakaat kedua ayat yang dibacakan adalah surat pendek (ke-112, al-ikhlas) yang terkesan diarahkan kepada Umat Islam  secara keseluruhan agar konsisten dallam bertauhid, khusuanya ketika tengah berada dalam komunitas yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Singkatnya, ayat/surat yang dibawakan sangat relevan dengan jamaah. Aspek “relevansi” Ini agaknya juga kurang mendapat perhatian dari khatib kita. (Mudah-mudahan penulis keliru.)

Mengingat luar biasanya khotbah ini pembaca dianjurkan untuk melihat teksnya secara lengkap yang dapat diakses di SINI.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.