Covid-19, Penjarakan Sosial, dan Kepasrahan

WHO secara resmi menyatakan penyebaran Covid-19 sudah berstatus pandemik; artinya, telah menyebar luas bahkan mengglobal. WHO, dalam rangka meredam penyebaran ini, memberikan arahan antara lain berupa anjuran agar mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh dengan air mengandung alkohol atau sabun dan air dan tetap melakukan penjarakan sosial. Sebagai lembaga internasional, WHO tentunya tidak sembarang memberikan arahan dan dapat dipastikan berbasis pengetahuan (scientific-based)

Dalam konteks ini istilah penjarakan sosial merupakan terjemahan dari istilah social distancing yang secara sederhana berarti menjaga jarak antara Anda dengan orang lain yang dalam kasus ini berjarak paling tidak enam kaki. Istilah ini sangat berbeda dengan istilah jarak sosial (social distance) yang menggambarkan jarak antara kelompok dalam masyarakat karena perbedaan strata sosial-ekonomi, budaya, agama, gender, atau yang lainnya.

Penjarakan sosial dalam praktik menyangkut upaya yang masif termasuk penundaan penyelenggaraan event-event besar olahraga, penutupan sekolah atau kantor, dan perlambatan arus lalu-lintas udara sehingga petugas yang berwenang dapat menelusuri dan mengekang penyebaran virus itu. Upaya-upaya itu dapat dipastikan mengurangi laju kegiatan ekonomi dan interaksi sosial.

Penjarakan sosial dalam arti itu dalam perspektif agama (Islam), sejauh pemahaman penulis, adalah sesuatu yang perlu dilakukan sebagai upaya untuk menghindari “satu takdir-Nya” ke “takdir-Nya yang lain” yang lebih baik. Tetapi dalam perspektif yang sama, upaya itu diharapkan tidak sampai: (1)  menimbulkan sikap berburuk sangka kepada rencana-Nya yang seringkali di luar kemampuan manusia untuk memahaminya, (2) mengurangi kesabaran untuk menerima cobaan-Nya, (3) mengurangi doa karena sikap sombong karena keyakinan-berlebihan mengenai kemampuan manusiawi (yang sangat tidak rasional mengingat alamiah Covic-19 masih “misteri” bahkan dalam standar ilmiah), serta (4) mengurangi keyakinan bahwa musibah tidak akan menimpa kita kecuali dengan izin-Nya (QS 9:51):

Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah kepada kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakkallah orang-orang beriman.

Singkatnya, menghadapi pandemi virus kita perlu melakukan segala upaya masuk akal dan berbasis pengetahuan, tanpa mengurangi kesabaran dalam berdoa untuk memperoleh uluran tangan-Nya yang penuh berkah. Akhirnya, ini yang berat, mengakui kelemahan manusiawi kita serta siap menerima skenario terburuk di hadapan takdir-Nya sesuai nasehat Ibu Ibnu Attaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam aforisme ke-3:

 “Kekuatan keinginan dan semangat yang membara tidak akan mampu mengoyak tirai ketentuan takdir”

Wallahualam….@

 

Wahyu Pertama Al-Quran dalam Perspektif Seorang Agnostik

Para ulama sepakat wahyu pertama Al-Quran adalah sebagaimana diabadikan dalam QS (96:1-5). Para ulama juga sepakat proses pewahyuan itu sangat memberatkan bagi Nabi SAW: “Ia (Malaikat Jibril) pun memegangku (Nabi SAW) dan mendekapku dengan erat untuk yang ketiga kalinya hingga aku pun sangat kepayahan”. Dasar pandangan para ulama adalah sejumlah Hadits yang dapat diandalkan termasuk yang diriwayatkan oleh Muslim (No.: 2277) dan Bukhari (No.:6982).

Lanjutan tulisan ini bukan mengenai substansi wahyu pertama, tetapi mengenai bagaimana respons Nabi SAW ketika dan setelah menerimanya; bukan menurut pandangan ulama, tetapi dari perspektif seorang cendekiawan Yahudi yang juga mengaku seorang psikolog dan agnostik. Cendekiawan yang dimaksud adalah Hazelton Lesly. Sebagai catatan, agnostik adalah orang yang beranggapan tidak ada bukti yang cukup untuk mengakui atau tidak mengakui adanya Tuhan. “Agama” agnostik bersama ateis tergolong kelompok yang mengaku tidak menganut agama tertenru (unaffiliated) yang menurut PEW Research Center adalah agama terbesar ke-3 setelah Kristen dan Islam. Untuk rujukan lihat antara lain tautan ini: https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge.

Bagi Hazelton peristiwa pewahyuan adalah “sesuatu di luar pemahaman manusia, hanya bisa disebut kekaguman yang mengerikan (a terrible awe)” dan ketakutan adalah “satu-satunya respons yang waras, satu-satunya respons manusiawi”. Hal itu dikemukakan Hazelton dalam suatu ceramah umum. Dia agaknya fokus pada sisi manusiawi dari sosok Nabi SAW, sisi yang juga ditegaskan dalam QS (18:110): “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa seperti kamu, yang telah menerima wahyu)””.

Dalam ceramah yang sama ia mengemukakan pandangannya mengenai bagaimana kira-kira suasana psikologis Nabi SAW ketika turun dari gunung (Goa Hira) setelah menerima wahyu pertama:

…. Muhammad tidak turun dari gunung (Goa Hira) seolah berjalan di udara. Dia tidak berlari sambil berteriak, “Haleluya!” dan “Berkatilah Tuhan!” Dia tidak memancarkan cahaya dan sukacita. Tidak ada paduan suara malaikat, tidak ada musik, tidak ada kegembiraan, tidak ada ekstasi, tidak ada aura emas yang mengelilinginya, tidak ada perasaan mutlak, peran yang ditahbiskan sebelumnya sebagai utusan Allah…

… Muhammad did not come floating off the mountain as though walking on air. He did not run down shouting, “Hallelujah!” and “Bless the Lord!” He did not radiate light and joy. There were no choirs of angels, no music of the spheres, no elation, no ecstasy, no golden aura surrounding him, no sense of an absolute, fore-ordained role as the messenger of God…

Demikian gaya retorika Hazelton. Dia tidak terlalu tertarik dengan apa yang dapat diantisipasi terjadi, tetapi dengan apa yang tidak terjadi sekalipun mungkin diharapkan. Selanjutnya ia menambahkan:

… Dalam kata-katanya sendiri yang dilaporkan, dia pada awalnya yakin bahwa apa yang terjadi tidak mungkin nyata. Paling-paling, pikirnya, itu pasti halusinasi – tipuan mata atau telinga, mungkin, atau pikirannya sendiri bekerja melawannya.

… In his own reported words, he was convinced at first that what had happened couldn’t have been real. At best, he thought, it had to have been a hallucination — a trick of the eye or the ear, perhaps, or his own mind working against him.

Yang layak dicatat, pandangan Hazelton ini sejalan dengan Hadits Bukhari (No.: 6982):

… Beliaupun pulang dalam kondisi gemetar dan bergegas hingga masuk ke rumah Khadijah. Kemudian Nabi berkata kepadanya: Selimuti aku, selimuti aku. Maka Khadijah pun menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kemudian Nabi bertanya: ‘wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku ini?’ Lalu Nabi menceritakan kejadian yang beliau alami kemudian mengatakan, ‘aku amat khawatir terhadap diriku’. Maka Khadijah mengatakan, ‘sekali-kali janganlah takut! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang lain yang susah, pemberi orang yang miskin, penjamu tamu serta penolong orang yang menegakkan kebenaran….

Wallahualam…@

 

Pre-Islamic Arabs

Pre-Islamic Arabs: Understanding the Historical Roots of the Emergence of Islam

 

If you are interested in understanding the historic roots of Islam,  but are too busy to read a history books that are for you, either too thick in volume, or too academic in orientation, this is the right place for you.

In the free-accessed article here you will find a simple description of how the emergence of Islam in 610 CE had been preceded by two major factors: (1) a weakening of Christendom (external factor) and (2) an unheard demand for an enlightening worldview within the Arab in general notably at grass root level (internal factor).

You need less than 15 minutes to read it all.

Click here to access the article

Pengetahuan Primordial

Istilah primordial dalam tulisan ini mengacu pada pengetahuan sesuatu sudah pernah dan selalu kita ketahui: sudah pernah, karena kita ketahui sejak zaman azali, era pra-ada kita, atau mungkin sesaat sebelum kita ada; selalu karena pengetahuan itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Sudah Lupa

Tetapi kita sudah melupakan zaman itu karena kejadiannya sudah sangat lama. Dalam hal ini Aivanhov menarasikannya secara apik sebagai berikut:

You already know many things, but you do not know that you know. This knowledge comes from a very long time ago, when you still dwelt in the bosom of the Eternal, in light, love and beauty.

Anda sudah tahu banyak hal, tetapi Anda tidak tahu bahwa Anda tahu. Pengetahuan ini berasal dari waktu yang sangat lama, ketika Anda masih berdiam di pangkuan Abadi, dalam cahaya, cinta dan keindahan.

Substansi Pengetahuan

Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, Aivanhop menyebut asal-usul ilaihan dan misi kita di bumi ini:

There you learned everything about your divine origin, your predestination, the work you would have to do on earth to give expression to all the powers of your soul and your spirit.

Di sana Anda mempelajari segala sesuatu tentang asal usul ilahi Anda, takdir Anda, pekerjaan yang harus Anda lakukan di bumi untuk memberikan ekspresi kepada semua kekuatan jiwa dan roh Anda.

Kenapa Lupa

Bagi Aivanhop, alasan kita melupakan pengetahuan primordial adalah bahwa kita terlalu fokus pada pengetahuan yang tidak akan bertahan lama:

True, there are so many interesting things in the world to see, hear, read and so on. But try, all the same, not to focus too much on subjects that cannot help you change your life; apply yourself instead to improving the way you live. For that is the way you will attract true knowledge. Otherwise, what will happen is this: you will spend your time accumulating knowledge by all the means at your disposal – books, radio, cinema, television – but what you take in you will not retain for long.

“Benar, ada begitu banyak hal menarik di dunia untuk dilihat, didengar, dibaca, dan sebagainya. Tetapi cobalah… untuk tidak terlalu fokus pada mata pelajaran yang tidak dapat membantu Anda mengubah hidup Anda; terapkan diri Anda sebagai gantinya untuk meningkatkan cara hidup Anda. Karena itulah cara Anda akan menarik pengetahuan sejati. Kalau tidak, yang akan terjadi adalah ini: Anda akan menghabiskan waktu mengumpulkan pengetahuan dengan segala cara yang Anda inginkan – buku, radio, bioskop, televisi – tetapi apa yang Anda peroleh tidak akan bertahan lama.

Weltanshauung Al-Quran

Pandang-dunia, world view atau tepatnya (secara epistemologi) Weltanshauung (Bahasa Jerman, dengan huruf W kapital) Al-Quran terkait pengetahuan primordial dapat dikatakan khas. Terkait dengan zaman azali ketika pengetahuan primordial itu kita kuasai, misalnya, Al-Quran mengilustrasikan kita ketika bahkan belum punya bahkan telinga (samii’an) dan mata (bashira) (QS (76:1). Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, sebagai ilustrasi lain, Al-Quran menyebut pengetahuan mengenai Rabb SWT dan kesaksian bahwa se. iap kita memberikan kesaksian mengenai posisi kehambaan kita di hadapan-Nya (QS 7:172):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku in Tuhanmu”? Mereka menjawab “Betul (engkau Tuhan kami), kami bersasi”. (Kami lakukan yang demikian itu agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”.

Bagaimana mengenai alasan kita melupakan primordial? Al-Quran mengisyaratkan antara lain  ketebalan daki di hati kita karena kedurhakaan (Arab: fujjar) kepada-Nya.

Wallahualam…@