Renungan Puasa (4): Kekayaan Makna Takwa

Umat Islam kini tengah mendekati garis finish dari lintasan panjang puasa mereka selama sebulan penuh. Kondisi fisik mereka boleh jadi berada pada titik rendah tetapi status spiritual mereka tinggi. Apa pun kasusnya, menjelang garis finish itu, mereka tidak mengendurkan amalan, malah melakukan akselerasi pengerahan energi fisik dan dan spiritual untuk memenangkan piala takwa (QS 2:183). Yang mereka lakukan adalah mengintensifkan amalan-amalan Nawafilah yang menjadi amalan utama Puasa termasuk tadarus dan sedekah.

Demikian besar daya tarik takwa sehingga para shoimun berani terjun dalam peperangan terberat, peperangan melawan hawa nafsu (Hadits). Mereka berusaha keras untuk tidak bertindak bodoh dengan menempatkan hawa sebagai Tuhan yang mendikte arah perjalanan hidup (QS 25:43).

Istilah takwa kaya makna. Tulisan ini mengulas secara sekilas kekayaan makna yang dimaksud.

Takwa, Taat dan Ihsan

Takwa identik dengan taat; artinya, melakukan apa yang diperintah dan menghindari dilarang. Jika setelah puasa ketaatan tidak meningkat maka puasa tidak kena sasaran. Dengan kata lain, indikator keberhasilan Puasa adalah peningkatan ketaatan. Demikianlah arti takwa secara istilahi menurut para ulama.

Dalam tingkatnya yang lebih tinggi takwa mengandung tiga unsur Ihsan: (1) berani bersedekah ketika susah, (2) mampu mengendalikan amarah ketika tengah pada puncak-puncaknya, dan (3) berlapang dada ketika “harga-diri” tercedera orang lain dengan memaafkan pelakunya  QS (3:133-4).

۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langi dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai Muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan atau Ihsan).

Demikianlah antara lain makna takwa menurut versi qurani.

Takwa, Kemuliaan dan Kesamaan Derajat

Masyarakat jahiliyyah dulu sangat mengenal konsep murah hati. Secara alami mereka menghormati seseorang yang memiliki sifat pemurah; karim, istilah mereka. Walaupun demikian mereka kaget ketika turun ayat yang mengaitkan kata kemuliaan dengan ketakwaan (QS 17:27). Pesan ayat ini revolusioner bahkan dalam standar masa kini. Agar jelas, berikut ini disajikan ayat dan terjemahan lengkapnya.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Surat Al-Hujurat (49) ayat 13]

Ada beberapa catatan yang layak dikemukakan terkait dengan ayat itu.

  • Lawan bicara (Arab: Mukatabah) ayat adalah manusia secara keseluruhan (Teks: annnas), bukan hanya orang yang beriman. Di sini terlihat universalitas audiensi Al-Quran.
  • Perbedaan gender dan keragaman suku dan budaya bagi manusia bersifat alamiah, fitrah. Masing-masing gender dan suku-budaya memiliki bakat (Arab: syakilah, lihat QS (17:84) yang khas sehingga masing-masing dapat saling mengenal, saling belajar, saling melengkapi.
  • Variabel suku-bangsa tidak valid sebagai ukuran kemuliaan seseorang atau bangsa. Ketiga catatan ini agaknya masih terlalu revolusioner bahkan bagi peradaban masa kini.

Singkatnya, kecenderungan primordial kesukuan, rasa kebangsaan yang berlebihan sebagai imbas negatif dari konsep negara bangsa, supremasi ras, semuanya tidak ada hubungan dengan kemuliaan seseorang atau bangsa sehingga tidak sesuai konsep takwa versi qurani. Konsep kemuliaan menurut QS(49:13) lebih sejalan dengan semangat kesatuan kemanusiaan tanpa batas buatan seperti negara, semangat yang agaknya ingin disampaikan Covid-19.

Murah Hati yang Sederhana

Q(3:134) sebagaimana dikutip di atas menunjukkan hubungan antara takwa dengan murah hati. Walaupun demikian, agar bermakna, murah hati perlu disertai keikhlasan (QS 2:164) dan proporsional dalam arti tidak berlebihan (QS 17:29) sehingga tidak mubazir (QS 17:27).

Keikhlasan dan proporsional ini dapat dikatakan syarat perlu bagi murah hati agar bermakna. Di luar dua syarat ini dapat ditambahkan syarat ketiga yaitu kerendahan hati. Murah hati yang rendah hati, humble charity. Mengenai Mengenai syarat ketiga ini dikemukakan oleh Schuon:

Humble charity will avoid exhibiting itself without any useful purpose; man must not pride himself on his generosity: “Let not thy left hand know what thy right hand doeth.” The gift of self should be above all inward; without this gift outward charity is devoid of spiritual value and blessing.

Murah hati yang sederhana akan menghindari sikap memperlihatkan diri tanpa tujuan yang bermanfaat; manusia tidak boleh membanggakan dirinya atas kemurahan hatinya: “Jangan biarkan tangan kiri kamu tahu apa yang dilakukan tangan kananmu.” Pemberian di atas segalanya harus berorientasi ke dalam; tanpa ini, pemberian lahiriah tidak memiliki nilai dan berkah spiritual.

*****

Demikianlah makna takwa dalam berbagai level: level individual, level komunitas, dan level kemanusiaan. Dua level terakhir ini agaknya masih perlu memperoleh perhatian.

Wallahualam….. @