Renungan Puasa (3): Ibadah Di Mana Saja, Kapan Saja

Latar Belakang

Seorang teman mengeluhkan kekurangan stok hafalan ayat Alquran padahal dia, karena imbas PSBB, baru saja menyandang “jabatan baru”: Imam Salat Teraweh di rumahnya bersama keluarga. Dengan tambahan stok hafalan ia berharap jamaahnya tidak bosan dengan surat-surat pendek Alquran yang dia kuasai. “menghafalkan satu ayat saja lama, faktor U”, keluhnya. Walaupun demikian ia terkesan bersyukur mampu memfungsikan rumahnya sebagai masjid.

Cerita teman yang lain serupa. Dia mengaku rumahnya tidak lagi seperti kuburan. Yang dimaksudkannya, di tengah suasana PSBB, ia agak rajin tadarusan sehingga rumahnya terkesan “hidup”, tidak seperti kuburan yang penghuninya senyap[1]. Biasanya dia tadarusan di Masjid bersama jamaah lainnya. Ia juga bersyukur mampu memfungsikan rumah sebagai masjid

Dua cerita di atas atau yang serupa dapat dialami oleh Muslim yang orang lain di tengah suasana PSBB. Intinya, memfungsikan rumah sebagai masjid. Ini mencerminkan pemahaman Umat bahwa dalam ajaran Islam pelaksanaan Ibadah pada dasarnya dapat di lakukan di mana saja. Tulisan singkat ini membahas secara singkat isu ini[2].

Semua Masjid dan Suci

Para Ulama pada umumnya sepakat setiap jengkal di bumi ini suci dalam arti layak dijadikan Masjid (Arab: kata benda yang merujuk tempat, ism makan) yang artinya tempat sujud. Salah dalilnya adalah Hadits yang artinya kira-kira “bumi ini semuanya masjid kecuali kuburan” (HR Bukhari) dan “kamar mandi” (Riwayat lain). Dalil lebih kuat mungkin QS (57:4):

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di ‘Arasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Masjid dalam istilah sehari-hari (contoh, Masjid Istiqlal, Masjid Nabawi, Masjid haram) jelas tempat istimewa bagi Umat karena di sana Umat melaksanakan salat secara berjamaah, suatu bentuk pelaksanaan Salat yang sangat dianjurkan. Catatannya di sini, tidak semua Umat mampu mengunjungi Masjid Haram atau Masjid Nabawi, dan tidak semua Umat dianjurkan salat berjamaah di masjid. Wanita, misalnya, lebih disarankan Salat di rumah dan dianggap tidak terpuji mengunjungi masjid ketika sedang haid. Singkatnya, keutamaan masjid dalam pengertian sehari-hari tidak bersifat universal dan kondisional. Ajaran yang bersifat universal sesuai dengan ayat dikutip di atas: Salat dapat dilakukan di mana saja.

Dimensi Ruang dan Waktu

Ajaran kehadiran Tuhan di mana-mana ditekankan dalam Islam yang mungkin unik. Kata “di mana-mana” merujuk pada tempat atau ruang, bukan waktu. Ruang itulah yang disimbolkan dengan Kabah, kubus yang memiliki dimensi arah mata angin[3]. Kesadaran mengenai ajaran yang keabadian jiwa manusia juga ditekankan dalam Islam. Hal ini tercermin dari beberapa fakta berikut:

  • Islam menekankan ajaran Nabi SAW sebagai kelanjutan ajaran para nabi sebelumnya (QS 57: 26-27).
  • Islam tidak mengambil data unik tertentu— termasuk yang sangat penting seperti peristiwa kelahiran Nabi SAW atau peristiwa penerima wahyu pertama— sebagai rujukan penetapan Kalender Islam.
  • Islam menekankan ajaran keabadian jiwa manusia.

Rentang waktu keabadian (Butir 3) mencakup tiga alam gaib dalam arti tidak dapat dipersepsikan oleh manusia oleh manusia kecuali dalam terang iman. Ketiga alam itu gaib itu alam antara momen alastu atau momen ketika manusia membuat perjanjian dengan Rabb SWT, alam barzah dan alam akhirat. Pandangan Alquran mengenai tiga alam gaib ini dapat diakses dalam tautan ini:

https://uzairsuhaimi.blog/misteri-waktu-weltanschauung-al-quran/

Pengayaan

Diskusi di atas terkait dengan beberapa butir ajaran Islam yang mendasar dan mungkin khas. Untuk pengayaan, berikut disajikan kutipan dari Schuon (2006:7)[4] yang diharapkan dapat memperkaya diskusi, paling tidak untuk melihat gambar besarnya:

Islam is the perspective of “omnipresence” (“God is everywhere”), which coincide with that of “simultaneity” (“Truth has always been”); it aims at avoiding any “particiluration” or condensation”, any unique fact in time and space…. In other words, Islam aims at what is “everywhere center”, and this is why, symbolically speaking, it replaces the cross with the cube or the woven fabric: it “decentralizes” and “universalizes” to the greatest possible…

Islam adalah perspektif “kemahahadiran” (“Tuhan ada di mana-mana”), yang bertepatan dengan “simultanitas” (“Kebenaran selalu ada”); ia bertujuan untuk menghindari “partikularisasi” atau “kondensasi “, setiap fakta unik dalam ruang dan waktu …. Dengan kata lain, Islam bertujuan pada apa yang “di mana-mana pusat “, dan inilah sebabnya, secara simbolis, ia menggantikan salib dengan kubus atau kain tenun: itu “desentralisasi” dan “universal” dengan kemungkinan terbesar …

Wallahualam….. @

[1] Analogi tadarus-kuburan terungkap dalam suatu Hadits yang pada dasarnya menganjurkan untuk “menghiasi rumah agar penghuninya terkesan hidup, tidak seperti kuburan yang penghuninya senyap.

[2] Tulisan ini diilhami oleh dua cerita di atas dan penulisnya berterima kasih kepada teman yang telah berbagi pengalaman.

[3] Schuon dalam beberapa kesempatan membandingkan simbolisme Kabah dengan Salib. Yang terakhir ini menyimbolkan titik spesifik pertemuan garis horizontal dan garis vertikal, bukan simbolisme ruang sebagaimana direpresentasikan oleh Kabah.

[4] Schuon (2006), Gnosis Divine Wisdom, World Wisdom.