Renungan Puasa (2): Konsistensi Doa

Muslim yang saleh meyakini setiap doa akan terkabul. Dalilnya dapat ditemukan dalam QS(2:186). Masalahnya penulis belum Muslim saleh, Muslim kebanyakan, sehingga keyakinan itu tipis. Sedikit penjelasan rasional diharapkan dapat mempertebal sedikit keyakinan. Inilah misi tulisan ini: diarahkan terutama untuk kepentingan pribadi, di-share karena ada kemungkinan ada yang lain yang dapat mengambil manfaat. Sebagai catatan awal, ayat itu disisipkan dalam rangkaian ayat Puasa QS (2: 182-187). Ini memberi kesan kuat bahwa bulan puasa adalah bulan yang tepat untuk berdoa. Agaknya semua ulama menyepakati hal ini.

Dalam ayat itu terlihat ketegasan bahwa setiap doa terkabul dan hal itu dinyatakan secara eksplisit. Yang penulis baru sadar, ayat itu juga menegaskan dua persyaratan: (1) perilaku atau amal; yakni, memenuhi perintah-Nya, dan (2) iman. (Jadi, memenuhi perintah dikemukakan terlebih dulu.) Tanpa pemenuhan syarat itu akan terjadi semacam inkonsistensi. Dengan kata lain, konsistensi doa-amal diperlukan agar janji-Nya berlaku.

Konsistensi ini doa-perilaku ini dikemukakan secara indah oleh seorang Sufi Besar abad ke 8 Masehi yaitu  Ibrahim Ibn Adham. Ketika itu kepada Sang Sufi diajukan pertanyaan sangat sulit: “Jika Allah mengabulkan semua doa (agaknya dia merujuk pada QS (2:186), kenapa dia tidak pernah mengabulkan doa-doaku selama ini”. Tapi bukan seorang Mursyid (guru Sufi) jika tidak mampu menjawab sesuai kualitas batin dan kapasitas ilmu si penanya. Sang Mursyid tidak mengemukakan jawabannya “teoretis”,  tetapi praktis, dan –ini yang mungkin kelebihan seorang Sufi– bersifat edukatif. Inilah kira-kira jawaban beliau.

1)       You know Allah,

Yet you do not obey him.

2)       You recite the Quran,

Yet you do not according to it.

3)       You know the Satan,

Yet you have agreed with him.

4)       You proclaim to love the messenger of Allah,

Yet you abandon his Sunnah.

5)       You proclaim your love for paradise,

Yet you do not act to gain it.

6)       You proclaim you fear the fire,

Yet you don not prevent yourselves from sins.

7)       You say “Indeed death is true”,

Yet you don not prepare of it.

8)       You busy yourselves with finding faults with others,

Yet you do not look your own fault.

9)       You eat that which Allah has provide for you,

Yet you don not thanks Him.

10)You bury your dead,

Yet you do not take a lesson from it.

1)       Anda mengenal Allah,

Namun Anda tidak mematuhinya.

2)       Anda membaca Quran,

Namun Anda tidak sesuai dengan itu.

3)       Anda tahu Setan,

Namun Anda telah setuju dengannya.

4)       Anda menyatakan untuk mencintai utusan Allah,

Namun Anda meninggalkan Sunahnya.

5)       Anda menyatakan cinta Anda untuk surga,

Namun Anda tidak bertindak untuk mendapatkannya.

6)       Anda mengatakan takut api neraka,

Namun kamu tidak mencegah dirimu dari perbuatan dosa.

7)       Anda mengatakan “Memang kematian itu benar”,

Namun Anda tidak mempersiapkannya.

8)       Anda sibuk sendiri dengan menemukan kesalahan dengan orang lain,

Namun Anda tidak melihat kesalahan Anda sendiri.

9)       Anda memakan apa yang disediakan Allah untuk Anda,

Namun Anda tidak berterima kasih kepada-Nya.

10)Anda menguburkan mayat,

Namun Anda tidak mengambil pelajaran darinya.

Berikut adalah terjemahan dan teks QS (2:186) sebagaimana dirujuk di atas:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu kepadamu (Muhamad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dari terjemahan di atas jelas bagian awal ayat adalah mengenai dialog antara Allah SWT sebagai pihak pertama atau “pembicara” (Arab: mutakallim) dan Muhammad SAW sebagai pihak kedua atau “lawan bicara” (Arab: mukhatab). Dalam konteks ini hamba yang berdoa sebagai pihak ketiga.

Yang layak catat, dalam bagian bagian akhir ayat adalah perubahan posisi pihak ketiga menjadi pihak kedua dalam lanjutan ayat: “Aku dekat… dan seterusnya”. Perubahan ini tak pelak memberikan kesan kuat bahwa dalam hal doa, tidak ada perantara antara hamba dengan Rabb SWT. Ini agaknya khas Islam yang menegaskan kedekatan Rabb SWT dengan hamba, “lebih dekat dari urat nadi” manusia (QS 50:16).

Demikianlah penjelasan singkat mengenai doa. Dalam hal ini istilah doa merujuk pada apa yang dikenal sebagai doa personal, doa petisi, mode komunikasi vertikal ke Rabb SWT. Tulisan mengenai doa personal dapat diakses di SINI. (Silakan klik jika berminat baca.)

Wallahualam…@