Renungan Bulan Puasa (1): Mengurus Visa

Alkisah, pada suatu hari ada sekelompok individu dari Negeri S yang datang berbaris mengurus visa masing-masing untuk melancong ke Negeri B. Visa diberikan hanya kepada mereka yang menyetujui dan menandatangani surat perjanjian. Kepada penandatangan perjanjian diberikan informasi dasar mengenai kehidupan di B:

  1. Di sana tidak akan kelaparan karena penguasa S menjaminnya,
  2. Tidak seperti di S di mana makanan melimpah dan lingkungan hidup dengan serba nyaman, di B ada ada sedikit kesulitan mencari makan dan cuacanya bisa tidak nyaman bagi spesies mereka,
  3. Di B mereka akan diberi juklak mengenai bagaimana menempuh perjalanan pulang yang aman dan nyaman, serta peringatan kemungkinan harus melalui dan tinggal di dalam jurang-dalam-sangat-mengerikan,
  4. Di B mereka akan memiliki segala sumberdaya negeri itu dan kemampuan tinggi bahkan untuk menguasai lautan, dan
  5. Di B mereka akan didampingi utusan negeri S yang secara berkala membawa kabar gembira dan peringatan sebagaimana tercantum dalam butir 3 dan 4 di atas.

Surga dan Bumi

Dalam kisah di atas, S merujuk pada Surga, sementara B pada Bumi. S adalah warisan manusia karena leluhur mereka, Nabi Adam AS dan Hawa AS, pernah tinggal di sana. Berbeda dengan kehidupan di S yang serba nyaman karena “dekat” dengan al-Rahman, kehidupan di B menuntut perjuangan hidup yang keras dan tanpa jeda: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. [Surat Al-Balad (90) ayat 4]”

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ فِى كَبَدٍ

Tetapi cobaan itu diperlukan untuk menghasilkan amal terindah (teks: ahsanu ‘amala):

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, [Surat Al-Mulk (67) ayat 2]

Hari Alastu

Hari ketika perjanjian itu dibuat adalah Hari Alastu. Yang “mengurus visa” datang berbaris walaupun perjanjian dan pertanggungjawaban berlaku secara individual:

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. [Surat Al-Kahfi (18) ayat 48].

Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. [Surat Maryam (19) ayat 95]

Isi perjanjian hanya satu: pengakuan bahwa Dia SWT adalah tuhan mereka dan satu-satunya:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu [teks: alastu birabbikum]?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, [Surat Al-A’raf (7) ayat 172]

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

Hari itu dipersepsikan oleh manusia sudah sangat lama sehingga belum bisa “disebut”; manusia pada tataran fisik  bahkan ada:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? [Surat Al-Insan (76) ayat 1]

Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali“. [Surat Maryam (19) ayat 9]

Jaminan Hidup

Sebenarnya manusia di bumi tidak akan pernah kelaparan dalam artian mutlak dan permanen karena ada jaminan dari Dia SWT mengenai rezeki mereka:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [Surat Hud (11) ayat 6].

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan Shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Surat Ta-Ha (20) ayat 132]

Semua isi bumi diperuntukkan bagi manusia; mereka dibekali kemampuan untuk “menaklukkan” lautan:

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Surat Al-Baqarah (2) ayat 29].

Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. [Surat An-Nahl (16) ayat 14].

Dalam ayat terakhir langit angkasa tidak disebutkan[1] sekalipun dimungkinkan dijelajahi dengan bantuan iptek:

Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (Iptek). [Surat Ar-Rahman (55) ayat 33].

Jalan Pulang

Utusan negeri S dalam kisah di atas adalah para rasul-Nya. Tugas utama mereka adalah mengingatkan manusia mengenai Hari Alastu serta (butir 1), menunjukkan jalan pulang ke S secara aman melalui, serta kabar baik dan peringatan (butir 5) mengenai perjalanan pulang itu [Surat Ta-Ha (20) ayat 123-127]:

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama (Adam AS-Hawa AS), sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”.

Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنۢ بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِۦ ۚ وَلَعَذَابُ ٱلْـَٔاخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰٓ

Naudzubillah min dzalik…@

[1] Alasan tidak disebutkan mungkin karena planet di luar bumi bukan habitat manusia secara alami. Dalam konteks ini, menanamkan investasi sumberdaya besar-besaran untuk riset luar angkasa mungkin pemborosan, sejauh manusia dianggap sebagai tujuan akhir pemanfaat iptek. Isunya di sini adalah prinsip proportionality: berapa rasio investasi yang masuk akal untuk riset luar angka dibandingkan yang untuk penyediaan air bersih, misalnya.