Jangan Dekati Zina, Jangan Dekati Skandal
Catatan Sersan tentang Qur’an 17:32 dan Desain Institusi
Ada satu ayat yang kalau dibaca sekilas, biasa saja. Tapi kalau dibaca sambil ngopi, tiba-tiba terasa ngelik.
Wa lā taqrabū al-zinā. Innahu kāna fāhishatan wa sā’a sabīlā.
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sungguh, itu perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS 17:32)
Coba perhatikan. Allah tidak berfirman lā taznū — “jangan berzina.” Allah berfirman lā taqrabū — “jangan mendekati.”
Bedanya apa?
Bedanya: kalau cuma dilarang melakukan, maka yang dilarang hanya detik terakhir. Tapi kalau dilarang mendekati, maka yang dilarang adalah seluruh jalannya — gang-gang kecil, lorong-lorong gelap, warung kopi tengah malam, grup WhatsApp jam dua pagi, sampai algoritma yang tiba-tiba tahu selera kita.
Ini bukan gaya bahasa. Ini arsitektur moral.
Para mufasir klasik sudah menangkap ini. Al-Ṭabarī bilang: yang dilarang bukan hanya perbuatannya, tetapi langkah-langkah menuju ke sana, keintiman yang mendahuluinya, dan kondisi yang membuatnya mudah diakses. Al-Qurṭubī lebih tegas lagi: komunitas harus menutup jalan (sadd al-dharā’i’) yang mengarah pada kerusakan moral.
Artinya apa? Artinya, kalau kita hanya melarang outcome-nya, tapi membiarkan pathway-nya terbuka, kita belum menjalankan perintah ayat ini. Kita baru menjalankan separuhnya.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Kantor, Platform, dan Rumah Sakit?
Nah ini bagian yang bikin saya mbrebes mili.
Bayangkan sebuah kantor. Tidak ada yang secara eksplisit bilang “silakan lecehkan.” Tapi kuasa terkonsentrasi di satu meja. Saluran pengaduan ada, tapi ujungnya ke HRD yang satu ruangan dengan pelakunya. Dan ketika ada korban bersuara, datanglah NDA — perjanjian kerahasiaan — yang dengan sopan meminta mulut ditutup, dengan imbalan kompensasi.
Apakah ada zina di situ? Belum tentu. Tapi apakah ada jalan menuju ke sana? Jelas ada. Dan ayat tadi melarang jalannya, bukan hanya ujungnya.
Begitu pula platform digital. Algoritma tidak pernah berniat jahat. Ia hanya mengoptimalkan. Tapi yang dioptimalkan adalah engagement. Dan yang paling mengundang engagement adalah kemarahan, ketakutan, gairah, dan indignasi. Algoritma tidak perlu jahat. Ia hanya perlu efisien. Tapi hasilnya: sebuah lingkungan yang setiap hari mendekatkan orang pada hal-hal yang seharusnya dijauhi.
Dan rumah sakit, klinik, laboratorium. Ada janin yang diperjualbelikan atas nama “hak reproduksi.” Ada tubuh miskin yang dijadikan bahan uji atas nama “kemajuan ilmu.” Ada rahim yang disewa atas nama “pilihan bebas.” Semua berjalan dengan kontrak yang rapi. Tapi di balik kontrak itu, ada tubuh manusia yang diperlakukan sebagai aset.
Ini juga sā’a sabīlā — jalan yang buruk.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?
Kalau ayat ini hanya soal dosa pribadi, maka solusinya cukup dengan taubat dan istighfar. Tapi karena ayat ini menyangkut arsitektur, maka solusinya juga harus arsitektural.
Pertama, audit lingkungan. Jangan cuma tanya “apakah ada pelanggaran?” Tanya: “apakah kami membangun kondisi yang membuat pelanggaran itu mudah terjadi?”
Kedua, saluran pengaduan yang benar-benar independen. Bukan saluran yang secara struktural terhubung dengan pihak yang diadukan.
Ketiga, larang NDA sebagai alat pembungkam. NDA untuk rahasia dagang? Silakan. NDA untuk menutup kasus pelecehan? Itu bukan kerahasiaan, itu kemunafikan yang dilegalkan.
Keempat, garis merah bioetika. Ada hal-hal yang tidak boleh diperjualbelikan. Bukan karena pasar tidak mampu, tapi karena manusia bukan komoditas.
Penutup: Ngaji Itu Sampai ke Meja Rapat
Kadang kita mengira ngaji hanya di masjid, di pesantren, di majelis taklim. Padahal ayat tadi, kalau dibaca dengan jujur, sampai ke meja rapat direksi, sampai ke ruang server, sampai ke ruang operasi.
Islam tidak hanya mengatur bagaimana kita beribadah. Islam juga mengatur bagaimana kita membangun dunia — termasuk kantor, platform, dan rumah sakit.
Maka pertanyaannya bukan lagi: “apakah saya sudah berzina?”
Tapi: “apakah saya sudah merancang jalan menuju ke sana?”
Kalau jawabannya iya — atau bahkan cuma mungkin — maka lā taqrabū bukan cuma larangan. Ia panggilan untuk mendesain ulang.
Wallāhu a’lamu bi-l-ṣawāb.
— Sersan, dari lingkaran kecil yang tetap menyala
