Syarïa, Haqïqa dan Tharïqa


Agama Islam mencakup aspek syarï’a dan aspek haqïqa, aspek luar (exoterism) dan aspek dalam (esoterism). Syarï’a secara harfiah berarti “jalan besar” (“great way”), jalan yang diperuntukkan bagi seluruh lapisan umat tanpa kecuali, jalan “lebar” yang dapat dilalui semua individu, tanpa melihat perbedaan mentalitas atau kapasitas intelektual-spiritual. Berbeda dengan syarï’a, haqïqa yang secara harfiah berarti “kebenaran batini” (inward truth) disediakan khusus bagi kalangan elit karena alasan sederhana: tidak semua orang memiliki bakat kecerdasan (aptitude) atau kualifikasi yang diperlukan untuk menjangkau kebenaran batini itu.

Tulisan ini dimaksudkan untuk meninjau secara singkat hubungan antara kedua istilah itu. Sebagai catatan awal, sebenarnya banyak kitab klasik yang membahas masalah ini; walaupun demikian, karena kita tidak akrab dengan rasa bahasa yang digunakan oleh para pengarangnya– dalam tulisan ini kita merujuk pada karya Guénon (15 November 1886 – 7 Januari 1951) yang bernama lengkap René-Jean-Marie-Joseph Guénon dan dikenal luas dengan nama ʿAbd al-Wāḥid Yaḥyá.

Pusat Lingkaran

Sebagian kalangan sufi menggunakan analogi “qishr” atau “kulit” (“shell”) untuk syarï’a dan “lubb” atau “inti” (“kernel”) untuk haqïqa. Sebagian kalangan sufi lainnya menggunakan analogi lingkaran (circle) untuk yang pertama dan pusat (center) untuk yang kedua. Seperti halnya pusat lingkaran yang bukan merupakan unsur tambahan dalam suatu lingkaran, demikian juga haqïqa bukan merupakan sesuatu yang ditambahkan pada syarï’a.

Jika syarï’a utamanya adalah suatu aturan bertindak, maka haqïqa adalah kebenaran murni dan raison d’être syarï’a sebagaimana diungkapkan oleh Guénon[1]:

It could be said that syarï’a is first and foremost a rule of action, whreas the haqïqa is pure knowledge; but it must be well understood that it is this knowledge that gives even the syarï’a its higher and deeper meaning and its raison d’être, so that even though not all those participating in the religion are aware of it, the haqïqa is nevertheless its true principle, just the center is the principle of the circumference.

Bisa dikatakan bahwa syarï’a adalah peraturan tindakan yang pertama dan terutama, sementara haqiqah adalah pengetahuan murni. Sekalipun demikian harus dipahami dengan baik bahwa pengetahuan inilah yang bahkan memberikan syarï’a makna yang lebih tingi dan lebih dalam, dan alasan keberadaannya, raison d’être-nya, sehingga walaupun tidak semua orang yang berpartisipasi dalam agama mereka sadar akan hal itu: haqiqa adalah prinsip syari’a yang sebenarnya, seperti halnya titik pusat dari suatu lingkaran.

Analogi lingkaran dan pusat secara meyakinkan menunjukkan sifat ke-tak-terpisah-an antara syarï’a dan haqïqa: per definisi, lingkaran menghendaki keberadaan satu (dan hanya satu) pusat lingkaran. Analogi itu menarik untuk disimak lebih lanjut. Selain itu, semua titik dalam lingkaran dapat terhubung dengan pusat melalui jari-jari (radii) yang dalam terminilogi sufi dikenal dengan istilah tarïqa yang secara harfiah berarti “jalan” (“way” atau “path”). Jumlah jari-jari itu tidak terhingga dan ini mengilustrasikan banyaknya jalan menunju kebenaran batini: “jalan menuju Allah berjumlah sebanyak jiwa manusia” (“at-turuqu ila ‘Llahi ka-nufusi bani Adam”). Istilah turuq (jamak dari tariqa) pada dasarnya menujukkan perbedaan metodologi tanpa kemungkinan adanya perbedaan doktrin yang fundamental. Kenapa tanpa kemungkinan itu? Karena keunikan doktrin Tauhid (at-tawhidu wahid).

Tasawwuf

Istilah tasawwuf yang mencakup haqïqa dan tarïqa merepresentasikan aspek esoterisme dalam Agama Islam. Istilah itu memiliki akar kata süfï yang menurut Guénon perlu dilihat sebagai nama simbolis, tanpa perlu terjebak dalam kerumitan etimologis kata itu[2]. Menurut dia, makna utama dan fundamental kata itu dapat diperoleh dengan menghitung nilai numeriknya. Hasil perhitungan menunjukkan jumlah nilai kata süfï sama dengan kata hikmah ilahi dan ini mengisyratkan bahwa kedua kata itu secara maknawi identik[3]:

But given the character of the Arabic language (a character which it shares with Hebrew), the primary and fundamental meaning of a word is to be found in the numerical values of the letters; and in fact, what is particularly remarkable is that the sum of the numerical values of the leters which from the word süfï has the same number as al-Hikmatu’l-ilahiya, “Divine Wisdom”.  The true süfï is therefore the one who possess this Wisdom, or, in other words, he is al’arif bi’Llïh, that is to say “he who knows through God”, for God cannot be known except by Himself; and this is the supreme or “total” degree of knowledge or haqïqa.

Tapi mengingat karakter bahasa Arab (karakter yang sama dengan bahasa Ibrani), makna dasar dan mendasar sebuah kata dapat ditemukan dalam nilai numerik huruf; faktanya, apa yang luar biasa adalah bahwa jumlah nilai numerik dari huruf dalam kata süfï memiliki jumlah yang sama dengan al-Hikmatu’l-ilahiya, “Hikmat Ilahi”. Süfï sejati adalah orang yang memiliki Kebijaksanaan ini, atau, dengan kata lain, dia adalah al’arif bi’Llïh, artinya “dia yang tahu melalui Tuhan”, karena Tuhan tidak dapat diketahui kecuali oleh diriNya sendiri; dan ini adalah tingkat tertinggi atau “total” dari pengetahuan atau haqïqa.

Kembali kepada analogi lingkaran_pusat, catatan berikut layak dicermati. Secara teoritis adalah mungkin ada banyak lingkaran yang memiliki pusat yang sama. Fakta geomteris ini menunjukkan kemungkinan banyak syarï’a yang memiliki haqïqa yang sama. Kemungkinan ini secara ekplisit disebutkan dalam ayat al-Qur’an ketika menjelaskan keunikan pesan Tauhid (keesaan Allah SWT) risalah kerasulan semua rasul-Nya, paling tidak sejak Nabiyullah Ibrahim A.S: masing-masing mengusung syarïa sendiri tetapi dengan pesan Tauhid yang sama[4]. Al-Qur’an juga secara eksplisit memerintahkan untuk mengedepankan kesamaan haqïqa ini (kalimatun sawää) dalam menyikapi fakta keragaman syarï’a khususnya dari kalangan Ahli-Kitab:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah… (Al-Imran: 64).

Pertanyaan retrospektif bagi internal Umat: Jika perbedaan antar-syarïa perlu disikapi dengan mengedepankan faktor kesamaannya (kalimatun sawaa), bagaimana menyikapi keragaman tarïqa atau “sekte” (misalnya Suni v.s Syiah) yang berinduk pada syarïa yang sama? Allahummagfir-lanaa-khathaayaanaa …@


[1] Bagi Guénon, kajian etimologis mengenai kata sufi terlalu banyak dengan kewajaran yang sama (padahal logisnya hanya satu yang benar). Dengan demikian, kajian itu tidak dapat diharapkan akan menghasilkan kesimpulan final yang memuaskan.

[2] www.worldwisdom.com/public/library/defaults.aspx (halaman 89).

[3] www.worldwisdom.com/public/library/defaults.aspx (halaman 91).

[4] Al-Baqarah 133.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s