Hijrah: Makna dan Signifikansi Historis

Umat Islam baru saja memperingati tahun baru yang ke 1,439 menurut Kalender Hijriyyah. Frasa Hijriyyah menunjukkan bahwa sistem kalender ini terkait dengan hijrah, kata yang berasal dari kata hajara (Arab) yang artinya berpindah. Pelaku hijrah disebut muhajir (tunggal) atau muhajirin (jamak). Secara istilah, kata muhajirin utamanya merujuk pada Umat Islam yang hijrah dari Kota Mekah ke Kota Yastrib atau Madinah al-Munawwarah (kota yang bercahaya)[1].

Kapan terjadinya hijrah? Sukar dijawab karena prosesnya tidak sekaligus; yang tercatat, Rasul saw tiba di Madinah pada hari Senin, 27 September 622 M[2]. Beliau hijrah hanya berdua dengan Abu Bakar melalui perjalanan yang sangat menegangkan[3]. Keluarga beliau berdua menyusul beberapa bulan kemudian setelah dua bilik-kecil –yang dimintakan oleh Rasul SAW untuk dibangun– sudah hampir siap diisi dan itu memerlukan waktu sekitar 7 bulan. Dua bilik itu disiapkan masing-masing untuk kedua istri beliau: Sawdah RA dan Aisyah RA[4].

Berapa banyak kaum muhajirin? Lebih sukar lagi untuk dijawab karena secara teknis-opeasional masa hijrah kaum Muhajirin berlangsung sekitar 15 tahun, berawal dari tahun 7 SH (613 M) dan berakhir setelah ditaklukkannya Mekkah oleh kaum Muslim pada tahun 8 H (629 M). Setelah peristiwa penaklukan ini mereka yang berhijrah ke Madinah tidak lagi disebut kaum Muhajirin[5].

Dua kelompok komunitas yang memainkan peranan kunci dalam peristiwa hijrah adalah Kaum Muhajirin dan Kaum Ansar. Mereka memiliki karakter yang luar biasa sehingga memperoleh pujian yang Allah SWT sebagai shodiqun (orang yang benar) bagi yang pertama dan muflihun (orang yang beruntung) bagi yang kedua.

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir dari kaum Muhajirin (yang berhijrah) yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah shaadiquun, orang-orang yang benar (al-Hasyr:8).

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari syukhah (kekikiran), maka mereka itulah muflihuun, orang-orang yang beruntung (al-Hasyr:9).

Paling tidak ada dua catatan penting dari kutipan ayat di atas. Pertama, al-Qur’an lebih menekankan aspek niat (motivasi) dalam mendefinsikan hijrah: demi mencari karunia dan keridaan Allah serta menolong agama. Kedua, agar beruntung al-Qur’an terkesan “menyaratkan”, selain unsur iman, kapasitas diri untuk dapat “mengutamakan orang lain ” dan “tidak kikir”, dua syarat yang sangat berat untuk dipenuhi.

Kenapa Hijrah? Alasan utama tentu perintah Allah Ta’ala. Dua alasan penting lainnya, ancaman kaum kuffar Makkah yang secara sengit bertekad “memadamkan api Allah” dan kesiapan Kaum Ansar untuk menerima memfasilitasi dan melindungi Kaum Muahjirin. Kaum Ansar sebelumnya sudah menadatangani dua perjanjian dengan Rasul saw (Perjanjian Akabah 1 dan 2).

Apakah hikmah Hijrah? Banyak; tiga di antaranya yang layak dicatat: (1) diperolehnya tempat pijakan dakwah yang kokoh, (2) berkembangnya harmoni sosial di kalangan penduduk Madinah yang pruralistis, dan (3) terbukanya kesempatan “membumikan” ajaran-ajaran tauhid yang sebelumnya diwahyukan selama sekitar 30 tahun di Kota Mekah.

(1) Pijakan Dakwah.

Karena alasan keamanan, pelaksanaan ajaran dan dakwah Islam selama era pra-hijrah (Era Mekah) dilakukan secara diam-diam. Dalam era pasca-hijrah Nabi SAW (Era Madinah), kegiatan keagamaan itu dapat dilakukan secara terbuka. Akibatnya luar biasa: Islam berkembang secara sangat pesat, tidak hanya di lingkungan Madinah tetapi di Jazirah Arabia secara keseluruhan, bahkan di luar wilayah Arabia. Secara historis, kecepatan penyebaran Agama Islam diakui secara luas sebagai luar biasa dan tidak ada bandingannya.

(2)Harmoni Sosial.

Dibandingkan dengan yang dihadapi di Era Mekah, tantangan sosial dalam Era Madinah sebenarnya lebih kompleks. Jika dalam Era Mekah yang dihadapi hanya satu kelompok yaitu komunitas kafir-quraisy yang musyrik, maka di Era Madinah yang didapi bukan hanya kelompok itu, tetapi juga berbagai kelompok suku (qabilah) Arab, Ahli Kitab dan Kaum Munafik yang selalu memberikan ancaman serius bagi umat. Secara sosial, masyarakat Madinah slebih prural. Walaupun demikian, di Era Madinah, Rasul SAW dapat membangun hamoni sosial yang menyatu-padukan semua elemen masyarakat. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa upaya ke arah itu pertama-pertama ditempuh dengan cara mempersaudarakan Kaum Muhajirian dan Kaum Ansar, dilanutkan dengan upaya merukunkan berbagai suku yang suka bertikai khususnya suku Aus dan Khazraj, dan pada akhirnya melalui penyusunan Piagam Madinah yang konon merupakan dokumen konstituasi yang pertama dalam sejarah manusia. Dengan dokumen itu maka semua komponen masyarakat Madinah dapat berdampingan secara damai (coexsistence) dan bahkan saling menjaga dan memperkuat. Sejarah mencatat bahwa realisasi kesepakatan sosial yang tertuang dalam piagam itu senantiasa memperoleh rongrongan terutama dari Kaum Munafik dan bahkan dihianti oleh salah satu pihak penda-tangan perjanjian yaitu Umat Yahudi yang menyebabkan terusiarnya mereka dari Madinah.

(3) Pembumian Ajaran Tauhid.

Jika dalam era Mekah ajaran Islam menekankan pada ajaran tahuid (“ajaran langit”) maka di era Madinah penekananya pada bagaimana ajaran itu “dibumikan”, diterjemahkan dan direalisasikan dalam realitas sosial, dalam realitas masyarakat yang kongkrit. Perbedaan dalam hal penekanan ini dapat terlihat dari narasi surat-surat Makiyyah (surat al-Qur’an yang turun di Mekah) dan surat-surat Madaniyyah.

Ketiga hikmah hijrah sebagaimana yang baru saja dikemukakan jelas saling terkait secara dinamis. Lancarnya penyebaran Islam dimungkinkan oleh –tetapi juga membuat situasi yang kondusif bagi terciptanya — kondisi sosial yang harmonis. Pembangunan harmoni sosial dimungkinkan oleh—tetapi juga menjadi alasan (asbabun nuzul) bagi— surat-surat Madaniyyah yang sarat dengan ajaran-ajaran sosial-kemasyarakatan. Wallahu’alam….@

Sumber: Google

[1] Umat yang hijrah sebelumnya ke Ethiopia sudah tentu termasuk muhajirin.

[2] Martin Lings (2009:227), Muhammad, PT Serambi Indonesia, Edisi Khusus Soft Cover cetakan ke-6. Nama Islam Martin Lings adalah Abu Bakr Siraj al-Din

[3] Diriwayatkan bahwa beliau sebenarnya sudah terkepung oleh “tim pembunuh” yang terdiri dari para pemuda dari berbagai kabilah dari suku Quraisy. Beliau dapat meloloskan diri dan berhasil menyelinap keluar dari rumah yang terkepung tanpa terlihat setelah, menurut riwayat, membaca ayat ke-9 Surat Yasin (lihat Gambar)

[4] Ibid, halaman 244.

[5] http://gychwxcsss.blogspot.co.id

Bencana Kemanusiaan Rohingya: Skala dan Kompleksitasnya

Penulis kerapkali bertanya apakah kita tengah berada dalam Kali Yuga, istilah yang dalam Kitab Suci Sankerta yang merujuk pada titik nadir atau titik terburuk dalam siklus alam yang besar?[1] Atau, seperti keluhan Ebiet G Ade dalam salah satu tembangnya, “Tuhan sedang marah”? Pertanyaan ini dipicu oleh serangkaian bencana kemanusiaan (humanitarian catastrophe) yang melanda kita akhir-akhir ini: Tsunami Aceh, Badai Harvey, Badai Irma, krisis Aleppo, dan Krisis Yaman, dan sebagainya. Sebagian bencana itu terjadi karena “alam”, sebagian karena “buatan-manusia” (man-made).

Kali ini dunia kembali menyaksikan bencana dalam bentuk pembersihan etnis (ethnic cleansing) Rohingya, minoritas etnis dan agama yang tinggal di negara bagian Rakhine, Burma. Berdasarkan laporan dari berbagai media masa, penggunaan istilah pembersihan etnis dalam konteks ini, sekalipun terkesan bombastis, tidak berlebihan karena sesuai fakta lapangan, berdasarkan kesaksian sejumlah korban, sesuai rekaman foto udara mengenai penghangusan ratusan rumah tinggal di kawasan negara bagian Rakhine, serta diverifikasi oleh sejumlah pihak, termasuk Right Groups [2].

Peristiwa penganiyaan Suku Rohigya yang tidak jarang disertai kekerasan sebenarnya bukan hal baru tetapi telah berlangsung lama bahkan beberapa dekade. Walaupun demikian, sejauh ini penganiyaan tidak pernah terjadi dalam skala sedahsyat seperti yang terjadi kali ini:

  • Kelompok hak asasi manusia Amnesty International telah merilis gambar satelit yang menurutnya menunjukkan sebuah “kampanye yang diatur” untuk membakar desa Rohingya di Myanmar barat.
  • Amnesty mengatakan ini adalah bukti bahwa pasukan keamanan berusaha untuk mendorong kelompok minoritas Muslim ke luar negeri.
  • Sedikitnya 30% desa Rohingya di negara bagian Rakhine sekarang kosong, kata pemerintah.
  • Sekitar 389.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh sejak kekerasan dimulai bulan lalu.[3]

Para korban mengungsi dalam keadaan putus asa sebagian besar kini menyesaki satu wilayah yang termasuk paling miskin Bangladesh yaitu Chittagong. Sebagian pengungsi tidak berhasil mencapai wilayah itu karena terbunuh di perjalanan. Oleh karena itu sebenarnya tidak mengherankan jika lembaga yang paling kredibel dalam kasus semacam ini, PBB, menyebutkan keadaan darurat politik dan kemanusiaan ini sebagai “text book” pembersihan etnis yang, seperti dilaporkan Alam (14 September), “akut, tidak stabil dan bisa menimbulkan ketidakstabilan di Bangladesh dan sekitarnya”[4].

Sumber: http://www.aljazeera.com/indepth/interactive/2017/09/rohingya-crisis-explained-maps-170910140906580.html

Dari gambaran di atas jelas bahwa tragedi Rohingya memiriskan tetapi juga perlu disadari masalahnya kompleks dan multidimensi. Untuk memahami kompleksitas masalahnya, menurut Alam[5], ada lima hal pokok yang perlu dicermati.

  1. Ketidakseimbangan antara Pemicu dan Respon: Civilians are paying the price for a small, armed insurgency

Tragedi Rohingya dipicu oleh serangan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), satu kelompok pemberontak bersenjata dengan beberapa ratus pejuang, terhadap lebih dari 25 pos polisi militer dan perbatasan. Serangan ini dilaporkan telah membunuh selusin petugas keamanan Burma. Pemimpin kelompok ini, Ata Ullah, berasal dari suku Rohingya kelahiran Pakistan dan dibesarkan oleh kelompok militan di Arab Saudi. ARSA mengklaim bermaksud membentuk negara Muslim otonom untuk Rohingya. Burma mengklasifikasikannya sebagai kelompok teroris. Tidak jelas berapa banyak dukungan suku Rohingya terhadap kelompok ini.

Menghadapi peristiwa semacam ini wajar jika suatu negara melakukan suatu upaya pengamanan, sejauh itu patut dan proporsional. Masalahnya adalah pihak militer Burma meresponnya secara tidak patut dan tidak proporsional dengan cara melancarkan “operasi pembersihan” besar-besaran dan membabi-buta, suatu respon yang yang oleh komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia Zeid Ra’ad al-Hussein disebut “contoh buku teks pembersihan etnis.” (a textbook example of ethnic cleansing.”) Yang terjadi adalah kekerasan selektif (hanya menargetkan suku Rohingya) dan tanpa pandang bulu (termasuk anak-anak, wanita, dan manula) dan dilaporankan disertai pembantaian, pemerkosaan, penggunaan ranjau darat dan pembakaran rumah tinggal di sekitar 80 desa.

  1. Terkait Masalah Agama dan Etnis: “Yes, it’s about religion and ethnicity

Tragedi Rohingnya jelas terkait dengan masalah agama dan etnis yang dapat kita lihat dari sisi target (korban) dan pihak yang mengkapanyekan pembersihan etnis. Dalam tragedi ini yang menjadi target adalah minoritas Muslim dari suku Rohingya yang tidak diakui kewarganegaraannya oleh Burma, sementara pihak yang gencar mengkampanyekan pembersihan etnis adalah ekstremis sayap kanan yang kuat yang dipimpin oleh biksu Buddha. Kaum nasionalis Buddhis ini terorganisasi dengan baik, berpengaruh secara sosial dan sulit dikendalikan. Biarawan sangat aktif di media sosial dalam membentuk opini publik untuk mendukung pembersihan etnis. Mereka mengklaim berusaha membatasi pernikahan antaragama dan memurnikan bangsa Burma; mereka bahkan mempertanyakan keberadaan hak-hak orang non-Buddhis di Burma[6].

  1. Terkait dengan Masalah Sumberdaya Alam: “But it’s also about natural resources — especially land

Tragedi Rohingya bukan hanya sekadar perpecahan etnis dan politik identitas tetapi juga masalah sumber daya alam. Selama berabad-abad (jika bukan ribuan tahun) suku Rohingya telah tinggal di daerah Arakan, suatu wilayah yang terletak antara Burma dan Bangladesh. Secara historis, masyarakat petani bergerak bebas melewati batas wilayah itu tetapi begitu batas negara modern terbentuk, pergerakan itu dibatasi. Karena tanah menjadi aset yang berharga dan menguntungkan, suatu undang-undang mengenai agraria diperkenalkan oleh pemerintah junta militer dan meningkat pada tahun 1990an; sebagai akibatnya, para petani pedesaan kehilangan hak kepemilikan lahan pertanian dan kepemilikannya beralih kepada pihak lain.

Selama 50 tahun terakhir, militer Burma semakin membantu negara dan perusahaan besar dalam merebut tanah yang secara tradisional dikuasai para petani. Negara telah memperluas kontrol atas wilayah dan pasokan air untuk memajukan kepentingan ekonominya di sektor pertambangan, minyak, gas alam, kayu dan pertanian. Terlepas dari reformasi demokrasi baru-baru ini, kepemimpinan militer mempertahankan kekuatan luar biasa atas setiap sektor pemerintahan dan pengembangan bisnis. Dengan jargon ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pihak militer membiarkan investor China, Korea, Jepang dan multinasional lainnya bekerja di daerah-daerah yang dihuni oleh etnis minoritas seperti Rohingya, Karen, Mon dan Shan.

Aung San Suu Kyi telah memperoleh kritik internasional yang meningkat atas kegagalannya menghentikan kekerasan terhadap Rohingya. Yang perlu dicatat adalah bahwa Konstitusi Burma tidak memberikan otoritas yang nyata atas militer kepada “tokoh” itu.

Jadi siapa yang bisa menghentikan tragedi ini? Jawabannya, pemangku kepentingan internasional yang tertarik berbisnis dengan Burma. Catatan penting bagi mereka adalah perlunya mewaspadai biaya reputasi pihak militer serta memberikan tekanan kepada pimpinan militer untuk mengakhiri permusuhan dan kekerasan. Ini sangat mendesak dan bukan hanya untuk kepentingan populasi pengungsi. Kekerasan yang terus berlanjut dan populasi pengungsi yang meledak bisa semakin mengganggu kestabilan kawasan ini.

  1. Keterbatasan Kemampuan Bangladesh Menangani Krisis: “Bangladesh can’t deal with this crisis alone”

Saat ini yang paling banyak menanggung beban pengungsi Rohingya adalah Bangladesh. Yang perlu dicatat adalah bahwa negara itu relatif kecil dilihat dari luas wilayah (hanya seukuran Iowa, Amerika Serikat) tapi padat (berpenduduk sekitar 160 juta orang), PDB-nya hanya sekitar $ 1.500 PDB per kapita, juga sangat rentan terhadap perubahan iklim. Beberapa banjir terburuk dalam beberapa dekade baru saja melanda Bangladesh, negara yang “terbiasa” dengan bencana alam terjadi dan selalu menghadapi masalah pengkikisan daratan di garis pantai selatan.

Untuk saat ini, elit pemerintah Bangladesh dan elit politik menyambut para pengungsi Rohingya. Tapi setengah juta orang terlantar dengan cepat menjadi beban besar bagi negara miskin itu. Penduduk desa dan usaha kecil di Cox’s Bazaar, Teknaf dan daerah-daerah sekitarnya telah mengumpulkan sumber daya, membuka rumah mereka dan bahkan membantu mengubur orang mati.

Tapi berapa lama hal ini dapat bertahan? Bantuan bagi pengungsi dapat memicu berkembangnya kebencian karena persepsi ketidaksetaraan di antara penduduk asli yang kurang terlayani. Rohingya yang tidak berdokumen bepergian ke luar kamp ke daerah pedalaman, mencari peluang. Banyak penelitian dan bukti menunjukkan bahwa hal ini dapat menciptakan konflik dan persaingan baru mengenai sumber daya yang terbatas, terutama karena para pengungsi tinggal lebih lama dan berusaha untuk menetap secara permanen, seperti yang dapat kita lihat di mana-mana dari Timur Tengah sampai Eropa ke Amerika Serikat.

Sebagai catatan lain, Bangladesh adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan pemerintahan sekuler. Negara itu menghadapi ancaman ekstrem kekerasan yang meningkat dari garis keras Islam, beberapa bersekutu dengan jaringan transnasional seperti al-Qaeda atau negara Islam. Liga Awami yang memerintah telah menanggapi dengan menekan para pembangkang dengan taktik seperti penghilangan paksa dan pembunuhan di luar hukum. Bergantung pada bagaimana Perdana Menteri Sheikh Hasina mengatasi krisis pengungsi dan tantangan keamanan dan ekonomi yang dihadapinya, kelompok oposisi dapat mencoba memanfaatkan situasi Muslim Rohingya. Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) dan partai Jamaat-e-Islamii Islam menuduh Liga Awami tidak cukup berbuat cukup untuk mendukung Rohingya. Koalisi yang berkuasa menuduh Jamaat mendukung militan di Rakhine, dan BNP menyebarkan “konspirasi” tentang tanggapan pemerintah terhadap bencana kemanusiaan.

  1. Harapan bagi Aktor Internasional: “No other international actor appears to be stepping in to help solve the political crisis”

Apakah Bangladesh bisa mengharapkan bantuan dari pihak lain di wilayah ini? Mungkin tidak. Sekalipun India secara tradisional adalah sekutu Hasina, Perdana Menteri Narendra Modi telah gagal mengkritik operasi militer Burma terhadap warga sipil. Selain itu, Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh menggambarkan Rohingya yang berada di India sebagai imigran ilegal dan ancaman keamanan nasional.

Bagaimana dengan negara lain? Beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim dari Turki ke Malaysia telah mengutuk penganiayaan keras terhadap Rohingya namun belum terlibat dalam membantu mengatasi krisis tersebut. Pekan lalu, menteri luar negeri Indonesia bertemu dengan Suu Kyi dan kemudian mengunjungi rekannya dari Bangladesh untuk menawarkan bantuan untuk membantu menyelesaikan krisis Rohingya.

Bagaimana dengan kekuatan regional dan global? SAARC (Asosiasi Asia untuk Kerjasama Regional) atau ASEAN (Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara), dua organisasi antar pemerintah regional telah mengupayakan solusi diplomatik tetapi belum menunjukkan hasil. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa telah berupaya untuk memperbaiki kondisi kemanusiaan yang mengerikan di lapangan, namun dilaporkan tidak membuat kemajuan dalam memecahkan masalah yang lebih besar yang telah mendorong Rohingya keluar dari rumah mereka. Bagaimana dengan OKI???

Uraian di atas menyajikan gambaran memiriskan dari tragedi Rohingnya dan kompleskitas masalahnya. Upaya-upaya penyelesaian masalah pada tingkat negara, regional dan global sudah dilakukan walaupun sejauh ini belum memberikan hasil yang optimal. Lalu apakah tidak ada cara yang mungkin? Harus ada karena seperti ditekankan Tun Khin, “….dapat dipecahkan jika kemauan politik ada di sana. Itu tidak akan mudah tapi bisa dilakukan. Satu-satunya alternatif adalah membiarkan kita dibunuh…(dan itu) telah menjadi pendekatan masyarakat internasional sejauh ini.

Kutipan di atas berasal dari Tun Khin, Presiden dari Orgnanisasi Rohingya Burma (the Burmese Rohingya Organisation) di Inggris[7]. Ia menyarankan ada perubahan kebijakan sebagaimana diungkapkannya[8]:

Perubahan besar dalam pendekatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat internasional jika kita mau menghentikan siklus kekerasan terhadap Rohingya ini. Pemerintah Burma perlu diberi tahu bahwa dukungan dan keuangan internasional bergantung pada perubahan kebijakan yang besar terhadap Rohingya. Propaganda dan hasutan kebencian dan kekerasan terhadap Rohingya harus dihentikan, undang-undang dan kebijakan yang diskriminatif harus dihilangkan, rekomendasi komisi Kofi Annan harus segera dilaksanakan dan secara penuh…. Sanksi harus dipertimbangkan terhadap perusahaan milik militer.

(A major change in approach is needed by the international community if we are ever going to stop this cycle of violence against the Rohingya. The government of Burma needs to be told that international support and finance is conditional on a major change in policy towards the Rohingya. Propaganda and incitement of hatred and violence against Rohingya must stop, discriminatory laws and policies must go, the recommendations of Kofi Annan’s commission must be implemented immediately and in full…. Sanctions should be considered against military owned companies.)

Semoga suara Tun ini memperoleh tanggapan kongkrit dan layak dari komunitas internasional…. @

Sumber: http://stream.aljazeera.com/story/201709070026-0025502

[1] Mengenai Kali Yuga lihat, misalnya, https://en.wikipedia.org/wiki/Kali_Yuga.

[2] Laporan CNN, 16 September 2017 pukul sekitar 19.00.

[3] http://www.bbc.com/news/world-asia-41270891

[4] https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2017/09/14/5-things-you-need-to-know-about-rohingya-crisis-and-how-it-could-roil-southeast-asia/?utm_term=.2a8cc29d064b

[5] Ibid

[6] Dalam suatu wawancara televisi nasional Dubes kita melaporkan bahwa pihak pemerintah Myanmar sebenarnya telah melarang secara resmi kelompok ekstrimis ini. Kita tidak mengetahui secara persis yang terjadi di lapangan; yang jelas tindakan brutal dilaporkan tidak berkurang bahkan meningkat.

[7] http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2017/08/international-pressure-save-rohingya-170830122257236.html

[8] Ibid

Continue reading “Bencana Kemanusiaan Rohingya: Skala dan Kompleksitasnya”

Sidik Jari Irma

Tidak seperti halnya hantu yang datang secara diam-diam, ia datang secara terang-terangan, bahkan dengan suara gemuruh yang menciutkan; seperti halnya iblis, ia datang meninggalkan sidik jari yang memiriskan. Itulah barangkali gambaran alegoris mengenai ulah Irma, badai yang baru saja meluluh-lantahkan wilayah Karibia dan Florida (AS)[1]. Sidik jari Irma menyakinkan dan terverifikasi: meyakinkan karena dapat dipastikan malapetaka itu dapat dipastikan ulah Irma, bukan yang lain; terverifikasi karena siapa pun dapat melihatnya sendiri wujud malapertaka itu.

Irma sebenarnya telah “melunak”: statusnya telah diturunkan dari badai (hurricance) menjadi sekadar depresi tropis, kecepatan angin menjadi hanya 35mph (mil per jam) dari sebelumnya 50 mph. Status dan kecepatan itu dinilai masih berpotensi membahayakan sehingga layak diwaspadai.

Untuk jejak Irma berikut ini disajikan ringkasan yang diberikan theguardian[2] yang merujuk pada keadaan Selasa pagi pukul 6.30am GMT (2.30am ET):

  1. Akibat Irma 10 orang dikonfirmasi tewas di seluruh Amerika Serikat: 6 di Florida, 3 di Georgia dan 1 di Carolina Selatan. (Catatan: Laporan CNN Rabu pagi WIB, 12 orang tewas.)
  2. Angka kematian di Karibia mencapai 37 setelah kematian pertama di Haiti dikonfirmasi. Menurut Unicef, sumbangan dan bantuan dari masyarakat internasional akan dibutuhkan untuk mengatasi krisis yang sedang berlangsung. Inggris telah menjanjikan bantuan £ 32 juta sementara presiden Prancis, Emmanuel Macron, berangkat pada hari Senin untuk mengunjungi St. Martin.
  3. Skala kerusakan pada Florida Keys akan menjadi lebih jelas pada hari Selasa 7:00 ketika penduduk akan diijinkan masuk. Komunikasi terputus pada hari Senin sehingga arus informasi terbatas. Laporan dari komisaris kota Key West mengatakan bahwa makanan, air dan bahan bakar semakin berkurang, dan ada laporan korban tewas yang belum dikonfirmasi di daerah tersebut, diperkirakan akan terkena dampak parah setelah Irma mendarat di sana pada hari Minggu.
  4. Gubernur Florida, Rick Scott, mengatakan bahwa dia melihat “kehancuran” di Florida Keys, “Saya hanya berharap semua orang selamat,” katanya. “Mengerikan, apa yang kita lihat.”
  5. Rekam banjir bandang menyapu Jacksonville dari Sungai St Johns, sementara sekitar 13 juta orang ditinggalkan tanpa listrik di seluruh negara bagian di Florida.

Apakah ini azab (siksaan) atau balaa (cobaan)? Wallahu’alam. Yang jelas kita hanya dapat merespon akibatnya, bukan mencegah kejadiannya. Dalam konteks ini tampak relevan do’a yang seringkali dilantunkan oleh sebagian muslim: “Ya daafi’al balaa (Wahai Dzat pencegah balaa..),   dst….”, doa yang yang mengekspresikan keyakinan ketidak-berdayaan diri sekaligus sensibilitas ketergantungan kepada yang di Atas dalam menghadapi balaa. Apakah manusia memberikan sumbangsih terhadap kerusakan akibat balaa? Jawabannya “ya” bagi yang percaya akan teks suci berikut:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebbkan karena perbuatan manusia; Allah mengendaki agar mereka merasakan sebagian dari (bukti) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Berpergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesduahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah) (Ar-Ruum, 41-42).

Wallahu’alam….@

Sumber gambar: Google

[1] Catatan awal mengenai Irma lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/09/pelajaran-dari-irma/

[2] https://www.theguardian.com/world/live/2017/sep/10/hurricane-irma-millions-brace-for-impact-as-superstorm-reaches-florida-live

Pelajaran dari Irma

Amerika Serikat (AS) tengah didera bencana alam, lagi. Kali ini Badai Irma yang dinilai dan terbukti “menghancurkan dan mematikan” (devastating and deadly). Sebelumnya, akhir Agustus lalu, negara adidaya ini didera Harvei, badai lain yang telah meninggalkan beragam “sidik jari” di kawasan Tenggara Texas[1]: wilayah Houston, misalnya, berupa guyuran sekitar 20 triliun galon air hujan, volume air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi Kota New York selama lebih dari lima dekade. Dapat dibayangkan kerusakan material yang diakibatkannya; yang jelas, terkait badai itu dilaporkan sekitar 50 jiwa meninggal.

Sementara upaya pemulihan akibat Badai Harvey masih berlangsung yang diperkirakan memerlukan anggaran sangat besar dan waktu yang lama (bulanan atau bahkan tahun), AS kini tengah sibuk menyiapkan kedatangan Irma yang dinilai lebih dahsyat dari Harvey dan diduga kuat akan mendarat di kawasan Florida. Menghadapi ini Gubernur negara bagian itu menyatakan sudah minta bantuan negara (bagian) lain dan pemerintah Federal[2]. Dia telah mewanti-wanti warganya untuk memfokuskan pada keselamatan jiwa: “rumah yang hancur dapat dibangun kembali tetapi jiwa yang hilang tidak dapat dikembalikan”, ujarnya kira-kira. Menurut laporan CNN, meghadapi bencana ini sekitar 17.000 volunter dibutuhkan di luar sumberdaya yang telah disediakan oleh pemerintah negara bagian dan federal.

Ketika tulisan ini tengah disiapkan, Irma dilaporkan telah meluntuh-lantahkan wilayah Karibia (Caribbian), suatu wilayah yang mencakup luas sekitar 2.8 juta km (daratan: 240.000 km), berpenduduk sekitar 44 juta, kepadatan 151.5/km persegi, dan 30 unit pemerintahan (13 negara merdeka; sisanya negara “jajahan” negara lain termasuk AS, Inggris, Prancis, Belanda). Korban Irma di wilayah Karibia secara keseluruhan mencakup sekitar 1.2 juta jiwa dan 26 juta lainnya dilaporkan memiliki risiko serupa. Di Barbuda saja badai itu telah menghancurkan sekitar 95% infrastruktur[3].

Ketika AS tengah sibuk menyiapkan diri untuk menghadapi Badai Irma yang berkategori 5 dan sangat dihawatirkan akan memakan banyak korban jiwa (life threatening), Mexico sibuk menagatasi korban dan kerusakan gempa bumi berskala 8.1, terbesar dalam 100 tahun terakhir menurut presidennya. Di luar ini, ada ancaman lain: dua badai serupa tengah aktif “mengintip” wilayah Karibia.

karibia1

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Caribbean

Pelajaran apa yang dapat diambil? Yang jelas, bencana alam seperti ini di luar kendali kita. Adakah yang dapat menolong? Kebanyakan kita mungkin menjawab: “tidak ada, ini bencana alam”. Sebagian (kecil) kita yang memiliki kepekaan spiritual di atas rata-rata akan menjawab: “ada, Rabb, definitely! Surat al-Falaq mengingatkan ini[4]. Golongan terakhir ini merasa selalu tidak aman terhadap azab Tuhan: “

… dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azan Tuhannya, sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya) (Al-Ma’arij: 26-28).

Tetapi sayangnya kita “pelupa-berat”, tabiat yang diabadikan dalam teks suci:

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut?” (Dengan mengatakan), “Sekiranya Dia menyelamtkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. Katakanlah (Muhammad), “Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kemudian kamu (kembali) mempersekutukann-Nya (Al-An’aam:63-64).

Wallahu’alam…. @

[1] Mengenai topik ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/02/badai-harvey/

[2] Mantan Preseiden Bush dan Obama dilaporkan tenagh aktif menghimpun dana untuk membantu korban Harvey.

[3] Lihat misalnya http://www.express.co.uk/news/weather/850317/H.urricane-Irma-path-track-when-Irma-hit-Florida-US-latest-forecast-weather-models

[4] Mengenai relevansi surat ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/08/tragedi-badai-matthew-tragedi-aleppo-dan-jejak-ilahi/

 

Badai Harvey: Suatu Tinjauan Singkat

Warga Amerika Serikat (AS), khususnya warga di wilayah tenggara Texas dan sekitar, tengah mengalami musibah dahsyat terkait dengan Badai Harvey, badai tropis terbesar yang mendarat di AS sejak Wilma 2005. Kita tentunya turut prihatin dan berempati dengan mereka dan berharap yang terbaik buat mereka. Kita tidak boleh melupakan keprihatinan, empati, simpati serta bantuan dari warga global (termasuk warga AS) kepada kita ketika terjadi bencana tsunami Aceh akhir 2004 lalu. Ketika itu warga AS sempat mengutus salah satu putra terbaiknya, mantan presiden yang sangat dihormati, Jimmy Carter.

Badai Harvey berkembang dari gelombang tropis ke timur Antilles Kecil, yang mencapai status badai tropis pada 17 Agustus. Badai melintasi Kepulauan Windward yang pada keesokan harinya melintas tepat di sebelah selatan Barbados dan kemudian dekat Saint Vincent. Harvey sempat melemah pada awal 19 Agustus karena hembusan angin moderat di utara Kolombia sehingga statusnya menjadi gelombang tropis. Ketika melinatasi Teluk Campeche pada 23-24 Harvey kembali menguat cepat sehigga kembali berstatus badai tropis. Sementara badai bergerak secara umum ke barat laut, fase intensifikasi Harvey terhenti sedikit dalam semalam dari 24-25 Agustus, namun segera melanjutkan penguatan dan menjadi topan Kategori 4 pada akhir Agustus 25. Beberapa jam kemudian, Harvey mendarat di dekat Rockport, Texas, pada intensitas puncak.

Dalam periode empat hari, di beberapa daerah, Badai Harvey mencurahkan hujan lebih dari 40 inci (1.000 mm) dan dengan akumulasi puncak 51,88 in (1,318 mm) sehingga tercatat sebagai “topan tropis terbasah”. Terkait dengan badai itu Direktur FEMA Brock Long menyebut Harvey sebagai bencana terburuk di sejarah Texas dan memperkirakan pemulihan tersebut akan memakan waktu bertahun-tahun. Perkiraan awal kerugian ekonomi berkisar antara $ 10 miliar sampai $ 160 miliar, sebagian besar kerugian dialami oleh pemilik rumah yang tidak diasuransikan[1].

Akibat badai itu dilaporkan ribuan orang mengungsi (displaced), sekitar 72,000 orang diselamatkan dan 47 jiwa meninggal. Dari sisi korban bencana itu tidak sedahsyat bencana tsunami yang diperkiakan menelan korban sekitar 200,000 jiwa[2]. Walaupun demikian, Badai Harvey jelas tergolong dahsyat sebagaimana terungkap dari beberapa angka berikut ini[3].

Besarnya angka-angka di atas mengilustrasikan signifiknasi masalah yang ditimbulkan oleh Badai Harvey yang oleh CNN dilaporkan bersifat histortical. Ini jelas memprihatinkan. Yang melegakan adalah besarnya dedikasi petugas dalam upaya penyelamatan korban bencana badai itu. Yang juga melegakan adalah bahwa musibah itu tampaknya telah memicu gerakan solidarits sesama warga AS dalam membantu dan meringankan beban penderitaan korban. Dalam kaitan ini dilaporkan banyak voluntir yang terlibat secara spontan, bersemangat dan penuh pengabdian. Ada harapan samar-samar: bencana alam ini mendorong mempersatukan masyarakat AS yang kini oleh beberapa pengamat dinilai “terbelah” dan memicu diskusi publik mengenai global warming.

Apa yang dapat dilakukan menghadapi bencana alam semacam ini? Jelas tidak banyak: kita sama-sekali tidak dapat mencegah terjadinya, kita secara kolektif–bahkan dengan tingkat IPTEK yang paling terkini– hanya dapat mengantisipasi dampaknya dengan mengupayakan agar korban sesedikit mungkin. Bencana semacam ini, untuk kesekian kali, seyogyanya memberikan pelajaran penting bagi kita untuk secara legowo “menghormati” alam: pada dasarnya kita tidak dapat mengendalikan alam, tetapi “dikendalikan alam”[4].

harvey1

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Hurricane_Harvey

[2] Penulis aktif terlibat dalam Sensus Penduduk Nangro Aceh dan Nias (SPAN) 2005 yang salah satu tujuan utamanya adalah untuk menghitung jumlah korban jiwa akibat tsunami. Kegaiatan ini dibayai oleh komunitas global di bawah koordinasi UNFPA.

[3] http://abcnews.go.com/US/hurricane-harvey-wreaks-historic-devastation-numbers/story?id=49529063. Sebagian angka-angka itu masih mungkin berubah karena situasi masih sangat cair ketika tulisan ini disiapkan. Laporan CNN Sabtu (3/9/2017) petang, misalnya, mengungkapkan korban meninggal terkait Harvey menjadi 50 jiwa.

[4] Mengenai yang terakhir ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2011/12/06/dikuasai-alam/