Dialog Imaginer dengan Rumi (2)

Dialog 2: Debu

 

[Sambil memandang ke luar jendela Rumi berkata perlahan…]

Rumi: Apakah antum[1] mengenali jalan-jalan di luar sana?

Murid: Sedikit, Master.

Rumi: Gunakan mata-hati. Antum lihat banyak sekali jalan di sana. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang lurus, ada yang berkelok. Ada yang aman, banyak yang rawan. Bahkan ada yang bertanda kutip: “jalan”.

[Murid hanya diam dan segera menyiapkan telinga-hatinya untuk menerima ajaran pagi ini. Dia maklum Master suka menggunakan “bahasa burung”[2] yang hanya dapat dipahami  melalui telinga-hati.]

Rumi:  Ketahuilah, jalan terbesar, lurus dan teraman adalah jalan Al-Mustafa[3].

[Karena lawan bicara hanya diam maka Rumi melanjutkan.]

Rumi: Antum mengetahui martabatku?

Murid: Samar-samar, Master.

Rumi: Aku adalah debu di jalan Al-Mustafa. Tetapi aku beruntung karena terberkati sedikit wewangiannya. Hanya sedikit. Kau bisa menciumnya?

Murid: Sangat, Master.

Rumi: Antum tahu siapa yang paling mencintai Al-Mustafa?

Murid: Tidak ada ide, Master.

Rumi: Bilal. Setelah ditinggal kekasihnya dia tidak lagi bersedia mengumandangkan azan. Ketika khalifah membujuknya ia mengelak: “Biar aku jadi Muazin Rasul saja”, katanya. Tidak bisa dipaksa. Sebab, jika dipaksa, ia hanya sanggup sampai pada bagian ini:”waasyhadu anna Muhammadan ar-Rasuilullah”.

[Mendengar ini Si Murid hanya termangu, mencoba membayangkan situasinya. Melihat muridnya diam saja, Rumi melanjutkan].

Rumi: Antum tahu apa yang paling dicintai dan disayangi Al-Mustafa?

Murid: Samar-samar, Master.

Rumi: Kaum Mustadhafin[4], dan anak-anak yatim.

Murid: Tapi…

[Murid urung melanjutkan protesnya karena dilihatnya Sang Master tenggelam dalam kontemplasi].

 

[1] Arti antum dapat dilihat dalam Dialog 1.

[2] Istilah bahasa burung (Arab: mantiq al-thair) digunakan teks suci untuk menyampaikan kebenaran lebih tinggi, higher truth. Teks suci menyinggung Sulaiman AS sebagai nabi yang memahami bahasa burung dalam pengertian ini. Posting mengenai bahasa burung dapat diakses di SINI.

[3] Al-Mustafa (Arab) artinya yang terpilih (the chosen one). Rumi biasa menggunakan istilah ini untuk merujuk kepada Nabi SAW.

[4] Maksudnya, kelompok masyarakat yang terpinggirkan (marginalized), termasuk kaum fakir-miskin.

 

Sumber Gambar: Google

 

[Lanjut ke Dialog 3]

Advertisements