Geng Motor dan Tragedi New Zealand

Sumber Gambar: INI.

“Jangan menilai orang dari tampilan luar”. Ini adalah nasehat kuno yang masih berharga dan agaknya universal dan perenial. Lihat saja gambar di atas khususnya subyek yang tubuhnya penuh tato.

Siapa gerangan subyek itu?

Dia adalah seorang anggota geng motor ketika bertandang ke Hagley College di Christchurch New Zealand (NZ). Tato yang memenuhi tubuhnya dan atribut pada jaket yang dikenakannya memotret secara meyakinkan “profesinya” sebagai anggota geng motor. Singkatnya, tampilan luarnya meyakinkan.

Yang mungkin kurang meyakinkan adalah pantulan batinnya yang terlihat dari ekspresi wajahnya. Aspek batiniah semacam inilah yang memotret jati-diri seseorang.

Apa yang dilakukannya?

Ia dan geng motornya datang ke lokasi itu bersamaan waktunya dengan kunjungan rombongan PM NZ  pada Sabtu siang yang lalu. Kedua rombongan ini datang ke lokasi itu untuk maksud yang sama: menunjukkan keprihatinan tulus terhadap teror penembakan dan empati kepada keluarga korban. Bukan di tempat tertutup tetapi di hadapan ratusan orang korban yang selamat, keluarga korban dan pihak lain yang turut berduka cita.

Apa yang dikemukakan rombongan geng motor itu luar biasa. Mereka menyatakan kesigapannya untuk mengawal masjid manakala Umat Islam di sana tengah khusyuk melaksanakan ibadah mingguan, Salat Jumat. Di Sydney (Australia), anggota geng motor yang sama (Mogreal Mob) dilaporkan telah melakukan kegiatan yang sama.

Untuk memahami situasi yang agak lengkap simak saja kutipan berikut ini:

Presiden Mob Waikato Mongrel Sonny Fatu telah menawarkan untuk melindungi Masjid Masjid Jamia di Hamilton, di Pulau Utara Selandia Baru, dengan sikap mendukung yang memastikan masyarakat dapat salat ‘tanpa rasa takut.’

Gerombolan Mongrel, bersama dengan berbagai geng pengendara motor lainnya di seluruh negeri, telah melangkah untuk menunjukkan dukungan mereka setelah serangan itu, yang menewaskan 50 orang dan puluhan lainnya terluka.

“Kami akan mendukung dan membantu saudara-saudari Muslim kami selama mereka membutuhkan kami,” kata Fatu kepada Stuff.

[Waikato Mongrel Mob President Sonny Fatu has offered to protect Jamia Masjid Mosque in Hamilton, in New Zealand’s North Island, in a supportive gesture ensuring the community can pray ‘without fear.’   

The Mongrel Mob, along with various other biker gengs across the country, have stepped up to show their support in the wake of the attack, which left 50 people dead and dozens more injured.

‘We will support and assist our Muslim brothers and sisters for however long they need us,’ Fatu told Stuff. ]

Pernyataan ini luar biasa bagi seorang Bos suatu geng motor. Pernyataan ini disambut baik oleh Dr. Mohsin yang mewakili komunitas Muslim di sana:

Mohsin said they will offer space at the park if they cannot accommodate everyone inside…  ‘We would love everybody to come, but we don’t want anybody to show they are scared. We are not scared. You don’t have to stand outside the mosque, we want you to be inside, with us,’ he added.

Jika pernyataan bos geng motor itu luar biasa maka pernyataan PM NZ lebih luar biasa.

Ketika dicecer oleh seorang wartawan bahwa Islam adalah agama yang penuh dan mendukung kekerasan PM itu menjawab singkat kira-kira: “Apa yang saya dengar dari mereka (maksudnya komunitas Muslim yang diajak dialog) sepenuhnya bertentangan dengan apa yang Anda kemukakan”. Ketika ditanya apakah Trump akan happy dengan sikapnya dia hanya menjawab kira-kira urusan saya warga NZ, negara lain silakan bersikap berbeda. Dia mengemukakan telah berdiskusi dengan PM Inggris untuk membawa isu ini–maksudnya mungkin isu Supremasi Kulit Putih secara umum– ke forum global.

Pernyataan luar biasa kan? Ya, luar biasa; juga luar bisa berani karena pasti bukan tanpa risiko politik mengingat mayoritas warga NZ adalah Kristen[1].

Yang lebih luar bisa lagi, pernyataannya bahwa dia telah meminta warganya “berdiam diri” (silence) selama dua menit setiap Jumat, maksudnya mungkin ketika azan Jumatan diperdengarkan. Lebih dari itu. Dia meminta “panggilan Salat” (maksudnya mungkin azan) diperdengarkan secara nasional melalui TV, radio dan media audio/video lainnya.

Mempelajari sikap PM yang satu ini penulis hanya tercenung dan… mimpi aneh:

“Kalau saya Presiden di negara Muslim terbesar maka saya akan datang berbelasungkawa sebelum PM NZ itu, toh lokasinya tidak jauh-jauh amat”.

“Kalau saya raja dari suatu negara kaya minyak, , saya akan memberikan pernyataan terang-benderang, lebih vokal dari PM Turki, untuk menyatakan turut prihatin dan memberikan dorongan moril kepada keluarga koran dan komunitas Muslim di sana, “melayat” korban teror NZ, serta “menitipkan” Umat kepada PM setempat, bertapa pun jauhnya, toh tidak ada masalah biaya buat saya”.

“Kalau ada peluang saya akan menyatakan sikap takzim saya, in its fullest sense of the term, kepada PM NZ,  Jacinda Ardern, serta to request agar beloau berkenan mengedukasi tokoh-tokoh dunia mengenai the insignificance risiko politik di hadapan kemanusiaan, di hadapan Kebenaran, di hadapan yang HAQQ.

Mimpi aneh….@

 

[1] Lihat Ihttps://uzairsuhaimi.blog/2019/03/15/penembakan-masal-masjid-new-zealand/

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Supremasi Kulit Putih dan Teror New Zealand: Catatan Singkat

Istilah Teror New Zealand (NZ) dalam judul tulisan ini adalah teror penembakan masal di dua Masjid di negara itu beberapa hari yang lalu[1]. Teror ini oleh the Daily Best sebagai suatu serangan ganas oleh seorang penganut ideologi Supremasi Kulit Putih, ” a vicious attack by a white supremacist“. Jadi, harian itu melihat adanya kaitan antara ideologi itu dengan teror yang terjadi.

Kaitan itu terbaca jelas dalam manifesto yang dirilis oleh Brenton Tarrant, pelaku utama teror itu, sebelum melancarkan aksinya. Manifesto ini sempat beredar di internet tetapi agaknya sudah diblokir. Manifesto ini sempat dikirimkan ke PM NZ beberapa menit sebelum tragedi teror berlangsung. Isi mmanifesto pada intinya merefleksikan pandangan ideologi Supremasi Kulit Putih (White Supremacy).

PM NZ menilai manifesto itu sebagai ekstrem, tidak mendapat tempat di NZ, bahkan di belahan dunia mana pun. PM ini mungkin benar tetapi sukar untuk mengabaikan gejala maraknya pandangan ekstrem ini di kawasan Eropa dan lebih-lebih di Amerika Serikat (AS).

Maraknya ideologi ekstrem di AS sebenarnya tidak mengherankan paling tidak karena dua alasan. Pertama, ideologi ini Americanism dalam arti lahir di AS kira-kira satu-setengah abad yang lalu, tepatnya 1867-70. Kedua, Presiden AS yang sekarang ini sangat terkesan “ramah” terhadap penganut ideologi ini. Tidaklah mengherankan ada laporan bahwa manifesto yang dirilis dilaporkan menyinggung Sang Presiden. Yang perlu ditegaskan, ideologi ekstrem ini sama sekali tidak mewakili masyarakat AS secara keseluruhan. Yang juga pasti, teror ini tidak mewakili masyarakat NZ yang menurut CNN sangat terkejut, terpana serta menyatakan belasungkawa dan empati yang jujur dan mendalam (genuine, deep and profound, istilah penyiar CNN).

Definisi Supremasi Kulit Putih

Apa itu Supremasi Kulit Putih (SKP)? SKP adalah suatu kepercayaan, terori, doktrin; atau singkatnya, suatu ideologi yang berbasis rasial. Menurut kamus[2], istilah SKP merujuk pada

kepercayaan, teori, atau doktrin bahwa orang kulit putih secara inheren lebih unggul daripada orang-orang dari semua kelompok ras lain, terutama orang kulit hitam, dan karena itu merupakan kelompok dominan di masyarakat mana pun.

the belief, theory, or doctrine that white people are inherently superior to people from all other racial groups, especially black people, and are therefore rightfully the dominant group in any society.

Dari definisi itu jelas bahwa ideologi SKP bersifat ekstrem dalam arti tidak sejalan dengan norma pergaulan global yang berlaku sekarang. Ideologi ini pasti bertentangan dengan norma agama yang pada intinya menegaskan kesatuan Umat Manusia dan menegaskan pula bahwa keragaman suku atau warna kulit dalam lingkungan ras manusia sebagai sesuatu rancangan Rabb AWT atau realisasi dari kehendak-Nya (lihat QS 49:13).

Korban Ideologi SPK

Dalam sejarahnya ideologi ini memicu tindakan kekerasan yang tidak masuk akal (senseless violence) serta menghina harkat kemanusiaan. Sejarah mencatat korban manusia yang dipicu oleh ideologi ini tidak dapat dibayangkan jumlahnya. Lihat saja kasus kebiadaban NAZI ketika Perang Dunia ke-2, khususnya terhadap kelompok masyarakat Yahudi di Jerman dan sekitar.

Yang perlu dicatat adalah bahwa peristiwa kebiadaban Nazi itu belum lama berlangsung, belum seabad yang lalu. Anehnya, sebagian masyarakat Erop, khususnya kalangan usia muda sudah melupakannya. Anehnya lagi, ide-ide model Nazi justru marak akhir-akhir ini. Banyak bukti mengenai hal ini. Jelas tidak wise “menguburkan kepala dalam pasir” karena enggan melihat gejala maraknya gerakan-gerakan berbasis kebencian termasuk antiimigrant, antisemitism, islaphobia, dsb.

Korban Teror NZ

Laporan terkini mengungkap korban teror NZ paling tidak 50 orang meninggal dan sekitar 50 orang terluka. Latar belakang mereka bermacam-macam. Menurut the Daily Best termasuk di antara korban itu adalah

  • Seorang pengungsi Suriah yang melarikan diri dari negaranya yang dilanda perang;
  • Seorang wanita yang dengan berani melindungi suaminya yang berkursi roda dari penembaknya;
  • Seorang ayah baru pemain bola untuk tim lokal; dan
  • Seorang balita kecil yang sedang berdoa bersama keluarga mereka.

Harian ini merilis beberapa nama dan profil dari 22 korban teror ini sebagai berikut.

1. Mucad Ibrahim (3)

Anak kecil umur tiga tahun ini dilaporkan hilang dan diduga kuat turut jadi korban meninggal. Ia ikut Salat di Masjid Al Noor bersama ayah dan saudara tuanya. Ayahnya selamat walaupun sebelumnya diduga meninggal.

2. Abdullahi Dirie (4)

Anak ini (meninggal) ikut Salat bersama ayah dan empat saudaranya yang semuanya selamat. Meninggalnya anak ini dikonfirmasi oleh pamannya Abdulrahman Hashi (60) yang berprofesi sebagai iman di Masjid Al Hijrah Mosque in Minneapolis (AS).

3. Sayyad Milne (14)

John Milne, ayah anak ini mengatakan ia belum memperoleh konfirmasi dari pihak berwajib tetapi yakin sudah meninggal karena dia melihatnya. Ia mengaku sangat kehilangan anaknya yang dilabelinya “seorang tentara kecil pemberani”.

4-5. Khaled Mustafa; Hazma Mustafa (14)

Kelompok Solidarits Suriah NZ mengkonfirmasi meninggalnya Khaled Mustafa dan anaknya Hamza Mustafa yang baru berukur 14 tahun. Khaled bersama istri dan tiga orang anaknya baru pindah dari Sufriah 2018 yang lalu. Teman Hamza yang berumur belasan dilaporkan juga meninggal.

6 Haji Daoud Nabi (71)

Haji Daouud imigran asal Afganistan. Kedua anaknya, Omar dan Yama, mengkonfirmasi meninggalnya Haji ini.

7. Atta Elayyan (33)

Almarhum warga Kuwait, seorang ayah baru, dan semasa hidupnya berprofesi sebagai penjaga gawang tim futsal Canterbury.

8-9. Naeem Rashid (50), Talha Rashid (21)

Menurut Kemenlu Pakistan Naeem dan Talha adalah dua dari enam warga Pakistan yang menjadi korban teror. Naeem semasa hidupnya adalah seorang guru lokal dan dilaporkan merebut senjata dari pelaku teror sebelum akhirnya tertembak.

10. Syed Jahandad Ali (34)

Syed Jahandad Ali adalah warga Pakistan. Istrinya mengaku berbicara terakhir dengan suaminya ketika sarapan

11 Syed Areeb Ahmed (27) 

Areeb Ahmed, warga Pakistan, satu-satunya anak laki-laki orang tuanya, seorang akuntan yang pergi ke NZ untuk bekerja.

12-13 Sohail Shahid, Mahboob Haroon

Keduanya warga Pakistan.

14 Husne Ara Parvin (42)

Husne Ara Parvin dilaporkan tertembak karena melindungi suaminya Farid Uddin yang di kursi roda yang selamat.

15 Ali Elmadani (66)

Menurut penuturan anak perempuannya Ali Elmadani (66) sebelumnya adalah seorang insinyur emigran asal Uni Emirat Arab yang beremigrasi ke NZ tahun 1988. Almarhum meninggal di dalalm masjid Al Noor.

16 Farhaj Ahsan (31)

Almarhum, seorang Insinyur berasal dari India, seorang suami dan ayah dari tiga orang ank perempuan dan seorang anak laki-laki berumur enam bulan.

17 Hussein Al Umari (36)

Hussein Al Umari adalah seorang emigran dari Uni Emirat Arab (1997), jamah tetap Masjid Al Noor. Dia dilaporkan berencana makan siang dengan keluarganya usai Salat Jumat.

18. Abdus Samad (67)

Abdus Samad adalah seorang warga Bengladesh, pensiunan dosen (2012), bermigrasi bersama istri dan dua anaknya (2013) dan memperoleh kewarganegaraan NZ. Sebelum meinggal almarhum adalah seorang dosen tamu di the Lincoln University in Christchurch. Saudaranya, Habibur Rahman, told Al Jazeera that Samad biasa menjadi imam di masjid Al Noor.

19. Lilik Abdul Hamid

Meninggalnya Lilik dalam teror itu dikonfirmasi oleh Kemenlu RI. Dia dikenal sebagai seorang ayah yang dihormati dari dua orang anak yang bekerja sebagai insinyur perawatan pesawat terbang NZ. Menurut Ibu Menlu (Retno Marsudi) Lilik sudah 6 tahun sebagai anggota tim insinyur berharga di Christchurch, NZ

20. Matiullah Safi

Safi adalah satu dari dua orang yang berasal dari Afganistan yang menjadi korban teror. Kedubes Afganistan di Canberra mengkonfirmasi meninggalnya Safi dan tiga warganya yang terluka.

21. Junaid Mortara (35)

Menurut saudaranya, Javed Dadabhai, Mortara adalah pemberi nafkah keluarganya, pendukung ibunya, dan tiga orang anak berumur 1-5 tahun. Almarhum mewarisi suatu toko dari ayahnya dan penggemar kriket.

22. Husna Ahmed (45)

Ahmed adalah seorang istri dari Farid Ahmed ketika teror berlangsung. Ketika mulai penembakan pasangan ini terpisah ke kamar mandi.

 

Foto dari pojok-kiri-atas: Atta Elayan, Haji Daoud, Husne Ara Parvin, Mucad Ibrahim Naeem Rasyid dan Sayyad Milna.

Sumber: The Daily Beast

Demikianlah catatan singkat mengenai ideologi ekstrem dan korban teror New Zaeland menurut the Daily Beat. Harian ini bermaksud memperbaharui profil korban begitu datanya tersedia. Bagi seorang Muslim, semua korban ini syahid, Insya Allah. Doa bagi korban: “Allahummagfir lahum, wa’afi’hum, wa’fu ‘anhum. Bagi keluarga korban, semoga saja dianugrahi-Nya ketabahan, kesabaran, serta keikhlasan ditinggal orang terkasih…..@

Amin…..@

[1] Posting mengenai ini dapat diakses di SINI.

[2] Dictionary.com Unabridged Based on the Random House Unabridged Dictionary, © Random House, Inc. 2019,  https://www.dictionary.com/browse/white-supremacy

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Penembakan Masal di Masjid New Zealand

Dalam suatu kesempatan jumpa Press PM New Zealand (Mrs. Jacinda Arden) antara lain menyatakan: “This is, and will be, one of New Zealand’s darkest days,[1].

Pernyataan itu dikemukakan untuk menanggapi tragedi penembakan masal yang terjadi Jumat 15/3/2019 pukul 13.40 (NZDT) di dua Masjid di Chrischurh, New Zealand: Masjid Al-Noor dan Linwood Islamic Center. Target penembakan adalah jamaah di kedua masjid itu yang diperkirakan berjumlah sekitar 500 orang. Ketika tragedi itu terjadi mereka baru saja selesai jumatan. PM menggambarkan tragedi itu sebagai aksi teroris yang tertata- rapi.

 

Masjid Al-Noor

Sumber Gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Christchurch_mosque_shootings

 

Dalam tragedi ini korban meninggal berjumlah 49 orang. Ini angka yang dikonfirmasi oleh pihak berwajib yang juga mengkonfirmasi adanya sejumlah bom mobil di sekitar lokasi tetapi untungnya dapat diamankan.

Sejauh ini diidentifikasi empat orang pelaku teror penembakan itu; satu di antaranya seorang pria berumur 28 tahun kelahiran Australia. Pelaku ini diketahui sempat mengibarkan panji-panji Neo Nazi dan Supremasi Kulit Putih yang ditayangkan secara online.

Tragedi kemanusiaan ini mengagetkan dunia serta menuai banyak kutukan dan empati global.

Komunitas Muslim global — hampir semua– mengecam aksis teror ini.

Hampir semua tokok dunia mengecam aksi teroris ini. (Tetapi Presiden USA agaknya kekecualian.)

Australia memasang bendera setengah tiang sebagai bentuk kecaman terhadap pelaku sekaligus empati kepada korban dan keluarga.

PM Turki “menuntut” tindakan-tindakan kongkret negara-negara Barat untuk merespon aksi teror dan kezaliman semacam ini.

Hampir semua media masa internasional menayangkan peristiwa teror ini secara luas, berulang kali, dan menempatkannya dalam rubrik Breaking News selama lebih dari sehari. (Tetapi agaknya tidak demikian halnya dengan media masa nasional RI.)

Tragedi kemanusiaan ini mengagetkan juga karena terjadi di New Zealand yang terkenal indah alamnya, ramah penduduknya, dan toleran hal kehidupan beragama.

[Total penduduk negara ini menurut Sensus Penduduk 2013 sekitar 4.2 juta jiwa. Dari total ini, sekitar 42% mengaku “tidak beragama” sekitar 42%. Dari yang mengaku beragama mayoritas adalah penganut Kristen dengan populasi sekitar 1,858,977 (47.6%). Penganut agama lainnya antara lain: (1) Hindu: 89.300 (2.11%), (2) Budha: 58.4000 (1.5%), dan Islam 46.100 (1.18%). Sebagai catatan, pemeluk Kristen selama kurun 2001-2013 turun sekitar 0.75%/tahun sementara pemeluk Islam  naik 5.15%/ tahun.][2]

[Lihat Tabel untuk Rincian]

Dari tragedi ini dapat ditarik paling tidak tiga catatan:

(1) Pelaku teror adalah ekstremis yang– seperti dikemukakan oleh PM New Zealand– tidak mewakili penduduk suatu negara atau kelompok agama apa pun.

(2) Ini adalah fakta sosial yang sangat tidak dikehendaki dan bahkan menyakitkan: kelompok ekstremis ada di belahan dunia mana pun, dalam kelompok agama apa pun;

(3) Ini juga fakta sosial: berbagai bentuk ekspresi kebencian (Antisemitism, IslamicPhobia, retorika anti-imigran dsb) cenderung semakin menguat, di mana pun. Celakanya– sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Shafiq[3]— lembaga negara yang seharusnya berkewajiban merajut kebersamaan kelompok masyarakat terlalu lama mengabaikan fakta ini.

Tragedi ini jelas merupakan kezaliman kemanusiaan luar biasa: doa untuk para syuhada dan empati untuk para keluarga. Bagi pembaca Muslim yang biasa qunut, ini momen yang tepat untuk melakukan Qunut Nazilah. Qunut ini juga layak terkait nasib komunitas Muslim Ulighur (RRC) yang sangat miskin pemberitaan.

[Klik  INI untuk memperoleh gambaran mengenai korban penembakan]

Wallahualam…..@

 

[1] https://www.aljazeera.com/news/2019/03/shooter-situation-zealand-mosque-attack-190315015927391.html

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_New_Zealand

[3] Shafiq adalah CEO Ramadhan Foundation Leeds yang diwawancarai CNN (Pukul 14.15 WIB) terkait dengan tragedi penembakan ini.

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Entin dan Taplak Meja

Entin[1], usai Salat Asar, menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk mulai “proyek” kecilnya yaitu membordir taplak meja hasil rancangannya sendiri. Entin menyadari perlu waktu paling tidak seminggu untuk menyelesaikan proyeknya ini: meja di ruang tamu di mana ia akan bermaksud meletakannya relatif besar. Tetapi dia tidak merasa perlu tergesa-gesa. Baginya proyek itu untuk mengisi waktu luang sambil menunggu suami-tercinta pulang kantor.

Begitu suami tiba Entin membereskan dengan sigap peralatan rendanya dan segera menyambut suami dengan hangat: mengambilkan tas, menyiapkan teh dan penganan kecil, dan menawarkan obrolan ringan. Biasanya Sang Suami merasa kurang nyaman ngobrol lama karena merasa dirinya tidak sebersih dan sewangi istri: “Biar habis magrib obrolannya di lanjutkan” bisiknya dalam hati. Keluarga ini dianugerahi berkah yang agaknya langka dan semakin langka: hubungan suami-istri yang dilimpahi kasih-sayang-tulus.

Sang Suami memiliki kesan mendalam. Ketika pulang kerja ia selalu menemui istrinya tengah mencurahkan perhatian pada pekerjaan renda itu, sepenuh hati, penuh passion.

Taplak meja-bordiran  itu kini sudah berada di tempat sesuai peruntukan pembuatnya. Tetapi Entin sudah tiada. Dan suasana kehidupan dan rutinitas Sang Suami jauh berbeda.

 

Sumber Gambar: Google

Ia pulang kerja masih pada jam biasanya. Bedanya, kini tidak ada lagi yang menyambut. Tidak ada lagi yang menyiapkan teh dan penganan hangat. Tidak ada lagi senyum-tulus. Tidak ada lagi kehangatan obrolan-ringan yang secara efektif mampu melepaskan kepenatan kantor.

Kini, pulang kerja ia duduk lunglai di sofa. Sambil menatapi taplak meja di depannya. Tatapan kosong. Ia selalu melakukan hal yang sama. Setiap hari. Pada jam-jam yang sama.

Taplak meja itu baginya bukan taplak meja biasa. tetapi representasi Entin. Lebih dari itu. Baginya taplak meja itu “menghadirkan Entin”–atau dalam bahasa lain– “tajalli Entin”. Itulah arti kata tajalli, sesederhana itu.

Bagi Sang Suami, demikian riil tajalli itu– atau dengan kata lain demikian intens “kesadaran kehadiran” itu– sehingga ia tidak jarang menangis sambil menciumi taplak meja itu dan menyebut-nyebut nama Entin. “Sudah gila”, pikir anaknya yang mendapati Sang Bapak berperilaku demikian.

Pertanyaan (1): Apakah Sang anak salah? “Tidak, dia obyektif”. Apakah Sang Suami salah? “Tidak juga, dia mampu melihat dimensi batiniah dalam sesuatu yang bersifat lahiriah”.

Pertanyaan (2): “Sudah mampukah kita melihat tajaliat Rabb SWT pada semua makhluk-Nya (Al-HUkam: al-Kaun)?

Jika belum maka itu terjadi karena daya pandang kita terlalu lemah di tengah kelimpahan cahaya-Nya. Kita layaknya kelelawar di siang hari yang tidak mampu melihat segala sesuatu di sekitar, bukan karena sesuatu itu tidak ada, tetapi karena daya pandangnya terlalu lemah di tengah terangnya cahaya matahari.

Wallahualam…..@

[1] Cerita ini diadaptasi dari Cermah Kiai Zezen ZA dalam pengajian Al-Hikam yang rekamannya dapat diakses di SINI.

 

← Back

Thank you for your response. ✨