ÉLING: Elaborasi Makna


Kata eling (Jawa, Sunda) umumnya dianggap sebagai sinonim kata ingat . Sesederhana itu.  Bagi penutur Bahasa Jawa maupun Bahasa Sunda, pemadanan dua kata ini terlalu menyederhanakan: ada yang kurang di sini, entah apa. Bagi mereka kata eling itu sakral (Jawa: wiwit) dan terkait dengan pertanyaan mendasar seperti ini: “Aku ini siapa? Kenapa aku hidup? Tujuan hidupku apa? Misiku yang utama di dunia apa?” Partanyaan ini bersifat eksistensial; artinya, menyangkut alasan keberadaan manusia.  Singktanya, bagi mereka, kata eling terkait dengan eksistensialitas manusia.

Untuk memahami arti kata eling, potongan lirik tembang Asmarandana (Sunda) berikut ini dapat membantu: 

Éling-éling masing éling
Di dunya urang ngumbara
Laku lampah nu utama
Asih ka papada jalma
Ucap tékad reujeung lampah
Tingkah polah sing merenah
Runtut rukun sauyunan
Hirup jucung panggih jeung kamulyaan

Pupuh Asmarandana (1)

Dua baris pertama lirik tembang itu menegaskan status kita sebagai pengembara di dunia ini.  Enam baris berikutnya mengenai adab berinterkasi antar sesama: kasih terhadap sesama, santun, betindak patut, rukun, dan memiliki kemuliaan atau harga-diri (Inggris: dignity). Dinyatakan secara berbeda, dua baris pertama terkait dengan tujuan hidup, enam baris berikutnya dengan misi hidup. 

Jika status kita di dunia ini sebagai pengembara maka itu bearti kita bukan berasal dari dunia ini.  Dengan kata lain, kehidupan kita di dunia ini bersifat sementara; sekarang kita ini di tengah perjalanan-pulang ke dunia lain dari mana kita berasal dan ke mana kita tengah menuju, suka atau tidak suka. Dalam konteks Islam, ajaran ini sangat eksplisit sebagaimana diucapkan seorang Muslim setiap kali mendengar ada orang yang meninggal: “Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nya kita kembali” (inna lillahi wa inna ilahi raji’un).  

Dunia lain yang dimaksud tidak diketahui secara ilmiah: tidak ada laporan dari orang yang sudah meninggal. Ini memang bukan medan ilmiah tetapi medan Iman. Walaupun demikian, pengetahuan mengenainya sudah terpasang (built-in) dalam pusat kesadaran kita, betapa pun lemahnya. Dalam konteks ini fungsi ajaran agama adalah mengingatkan mengenai pengetahuan-bawaan ini, serta memandu perjalanan-pulang ke “Kampung Akhirat”.

Tetapi keselamatan perjalanan-pulang ini, begitu kita meninggal, sepenuhnya berada  di dalam jari-tangan-Nya: di luar kasih-Nya, tidak ada yang dapat membantu kita sama-sekali (Quran 2:48). Satu-satunya harapan untuk memperoleh kasih-Nya adalah konsistensi dalam menjaga ikatan perjanjian dengan-Nya: hanya menyembah-Nya, hanya meminta pertolongan kepada-Nya, dan menjalani kehidupan menurut norma-Nya. Sebagai catatan, agama secara etimilogis adalah sesuatu yang mengikat, khusususnya yang mengikat antara manusia dengan Tuhan [2] (“In terms of etimology, religion is that which bind, especially which bind man and God“). 

Menjaga konsistensi ini sangat penting. Bagi Muslim demikian pentingnya sehingga upaya ke arah sana selalui diperbaharui paling tidak lima kali dalam sehari, yaitu setiap saat membaca doa iftitah ketika Salat: “Sesungguhnya Salatku, pengobananku, hidupku, dan matiku, semata-mata dipersembagkan untuk (memcari keridaan) Allah”. Inilah ikrar selalu perlu diperbaharui oleh seorang Muslim.  

Ikrar yang baru saja disinggung sesuai dengan status “pengembara” kita sebagaimana terungkap dalam dua baris pertama Asmarandana di atas. Ikrar ini dapat dilihat sebagai upaya menggantungkan diri pada “tali-Allah”. Tetapi ini bagi Muslim belum cukup. Untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan norma-Nya, diperlukan juga  “tali-manusia”. Tali yang kedua inilah yang terungkap dalam enam baris terakhir Asmarandana di atas.  

Secara sederhana ajaran Agama Islam dapat dikatakan sebagai panduan perjalanan-pulang ke “Kampung Akhirat”, dengan cara menjaga hubungan vertikal dengan Rabb SWT dan hubungan horizontal antar sesama. Mengabaikan salah satu hubungan ini berisiko selalu diliputi kesengsaraan hidup:  

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan (Quran 3:112).

Wallahualam….@

Catatan/Sumber:

[1] https://ciburuan.wordpress.com/2012/07/14/pupuh-asmarandana-eling-eling-mangka-eling/

[2] William Stoddart(1010 2008:41), Remembering in a World Forgetting, World Wisdom.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.