Dialogue Imaginaire avec Rumi (1)

Dialogue 1: Marié

Jalal Al-Din Al-Roumi: Vous rendez-vous régulièrement?

Étudiant: Non, professeur.

Jalal al-Din al-Roumi: Fais-le! À partir de maintenant!

Étudiant: Prêt, Maître.

Jalal al-Din al-Roumi: Que souhaitez-vous maintenant?

Étudiant: Pour rencontrer le Ramadan cette année.

Jalal al-Din al-Roumi: Hmmm …!

[Romy est prête à partir mais se retourne soudainement et parle plus sérieusement].

Jalal al-Din al-Roumi: Vous savez qu’il y aura mariage, mariage avec l’éternité. Il est certain! Préparez-vous à être lemarié.

Étudiant: ???

[passer au dialogue 2]

 

 

Arab Spring: Catatan Kecil dan Pelajaran Besar

Nama: Mohammed Bouzizi; Warga Negara: Tunisia; Pekerjaan: pedagang kali-lima; Kasus: membakar-diri; Penyebab kasus: barang dagangannya disita pihak “berwenang”; Waktu: 17 Desember 2010 (Ramadan, 2012:6)[1]. Kasus ini bersifat historis (historical). Kenapa? Karena menandai apa yang dikenal sebagai Arab Spring yang dalam bahasa Ramadan “membawa perubahan dramatis di Timur Tengah, Afrika Utara, dan dunia” (ibid:6):

14 Januari 2011: Zine El Abidine Ali, diktator Tunisia, terbang ke Arab Saudi, diikuti oleh perubahan pemerintahan (27 Februari), kebingungan, dan teriakan “Get out” kepada despotisme, keluarganya dan regim yang tengah berkuasa;

25 Januari 2011: Mobilisasi masif di sekitar lapangan Midan at-Tahrir yang kini jadi populer (Kairo, Mesir). Teriakannya serupa yang berujung pada pelengseran Presiden Mubarrak (11 Februari 2011);

20 Februari 2011: Serangkaikan protes masal yang membawa reformasi di Maroko.

Kasus-kasus serupa terjadi di Jordania yang menurunkan PM dan melahirkan janji reformasi sosial (1 Februari 2011), di Libya (15 Februari 2011), di Bahrain (14 Februari 2011), di Yaman, di Suria, bahkan di Arab Saudi.

Sebutan Arab Spring diperdebatkan. Ada yang bilang revolusi, ada yang menyebutnya pemberontakan, protes umum, bahkan ada intifadah. Dan banyak label lain.  Yang jelas, Arab Spring melanda (hampir) seluruh kawasan Arab. Mengenai kawasan Arab ini paling tidak ada dua catatan:

Secara geografis Tunisia bukan wilayah Jazirah Arab dan sekitar. Jadi kriteria geografis untuk melabeli Arab dapat mengecohkan (misleading). Negara ini terletak di Afrika Utara yang jauh dari kawasan Jazirah Arab (bagian dari Asia yang meliputi enam negara kaya: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait , Bahrain dan Oman).

Negara-negara Mesir, Libiya, Maroko, dan semua negara lain di kawasan utara Afrika, semuanya secara umum mengidentifikasikan diri sebagai berbudaya Arab-Islam. Jadi, kriteria-budaya lebih realistis untuk melabeli Arab.

Jadi, kawasan Arab secara geografis mencakup kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA: Middle East and North Africa). Apakah MENA merepresentasikan Muslim global? Tidak juga.

Secara geografis populasi Muslim tersebar: sebagai mayoritas di lebih dari 50 negara, sebagai minoritas di hampir setiap benua…  Sekitar 20%: populasi Muslim global tinggal di kawasan MENA…, lebih dari 60% di Asia Tenggara, dan sekitar 20% di negara-negara non-Muslim utamanya India dan China[2].

Kenapa sampai terjadi Arab Spring? Banyak teori yang ditawarkan. Kebanyakan mengaitkannya dengan pengaruh Barat khususnya Amerika Serikat (AS). Banyak bukti mengenai ini.

Tiga NGO yang dibiayai oleh pemerintah dilaporkan memberikan pelatihan bagi anak-anak muda penggerak Arab Spring: Einstein Institution, Freedom House, and the International Republican House (ibd:11). Prinsip dan metode training ketiga NGOs ini identik: merayakan nilai-nilai demokrasi, memobilisasi penduduk tanpa kekerasan, menjatuhkan rejim tanpa perlu bentrok dengan pihak kepolisian dan tentara dengan menggunakan simbol dan semboyan untuk membentuk psikologi masa, mengeksploitasi potensi jaringan sosial, umumnya internet.

Singkatnya, naif untuk mengabaikan tidak ada faktor luar yang memicu Arab Spring. Tetapi lebih naif lagi jika mengabaikan faktor internal yang secara kronis melanda kawasan MENA.

Arab Spring spesifik-negara; artinya, apa yang terjadi di Tunisia berbeda dengan yang di Mesir, misalnya. Untuk memperoleh pemahaman mendalam perlu kajian per negara. Walaupun demikian bukan berarti tidak ada “benang merah”. Dalam kebanyakan kasus, pemicunya adalah bad governance dan kesulitan hidup sehari-hari yang terus memburuk. Dalam kebanyakan kasus,  sebagian yang ditargetkan Arab Spring berhasil, termasuk menggulingkan rezim yang berkuasa. Masalahnya, setelah terguling apa? Terjadi kebingungan. Tidak mengherankan jika banyak orang cerdik “mengail dalam air keruh”. Singkatnya, Arab Spring tidak memiliki agenda berkesinambungan atau road map yang jelas dan tuntas; dengan kata lain, tidak ada leadeship.

Ada beberapa benang merah lainnya yang sebagian terungkap melalui kasus Bouzizi di atas:

Kenaikan tingkat pendapatan masyarakat kalah cepat dibandingkan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Kebanyakan penduduk bekerja di sektor informal yang tidak produktif;

Sektor informal kurang mendapat tempat “dalam hati” penguasa;

“Saluran-suara” pekerja informal tersumbat; dan

Kaum mudanya “kaya pengetahuan” tetapi “miskin pekerjaan”.

Isu terakhir mengilustrasikan krusialnya penyediaan lapangan kerja bagi generasi muda yang semakin terdidik.

Itulah antara lain pelajaran besar dari Arab Spring. Kira-kira apa yang ditawarkan dua pasang Capres kita untuk mengatasi isu-isu kompleks semacam itu? Patut diduga, keduanya, juga mayoritas masyarakat Indonesia, tidak menghendaki Indonesia Spring. Tapi, wallahualam….@

[1] Tariq Ramadan (2012), Islam and the Arab Awakening, Oxford University Press.

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge/

← Back

Thank you for your response. ✨

Dialog Imajiner dengan Rumi (5)

Dialog 5: Makrifat

[Rumi tampak cerah di hari cerah itu. “Petanda baik”, bisik sang murid dalam hati.]

Rumi: Kemarilah, kita berbincang, bawa kopimu!

Murid: Siap, Master.

Murid: Apakah antum mengenal Siti Zahro? [Selanjutnya, Siti.]

[Murid heran dengan pertanyaan ini. “Siapa yang tidak mengenal wanita itu”, membatin. Dia tahu Siti tinggal berjarak ratusan mil dari kompleks Rumi, tetapi “apa arti jarak itu bagi popularitas Siti karena kecantikan paras dan keluhuran budinya”, pikir sang murid.]

Rumi: Begini. Aku baru saja melakukan survei mengenai popularitas Siti di kota ini. Sampelnya empat orang pemuda sebaya denganmu: Asep (A), Budi (B), Cecep (C) dan Dudi (D). Jangan salah, sampel dipilih secara random sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

[Murid makin heran. Masternya melakukan survei? Mengenai popularitas Siti? Master mengenal random? Melihat muridnya diam saja, Rumi melanjutkan.]

Rumi: Kesimpulan surveiku, Siti ternyata populer di kita ini. Semua, jadi 100%, pemuda yang kuwawancarai mengenal Siti.

[Sang murid tidak kaget dengan hasil “survei” itu dan mulai menduga-duga arah pembicaraan.]

Murid: Bagaimana dengan rincian hasil survei itu, Master.

Rumi: Nah itu baru muridku. Dalam membaca angka statistik kita tidak cukup mengandalkan angka proporsi, rata-rata, atau ukuran kecenderungan nilai tengah lainnya. Variasi jawaban responden perlu diperhitungkan agar bermakna.]

[Sang murid hanya tersenyum. “Dari mana Master belajar statistik”, bisiknya dalam hati.]

Rumi: Hasil survei begini (*):

A: Mengenal Siti dari ibunya yang ternyata bibinya; dia tidak pernah melihat bibinya itu;

B: Pernah berpapasan sekali dengan Siti; baginya Siti murah-senyum;

C: Beberapa kali ke rumahnya bahkan sering disuguhi makanan dan kopi oleh Siti; menurutnya, “Kopi buatan Siti mantap”.

[Karena masternya tiba-tiba berhenti, Murid bertanya.]

Murid: Bagaimana dengan D?

Rumi: Siti ternyata janda D selama tujuh tahun; punya keturunan lagi.

Rumi: Antum tahu arti makrifat?

[“Kok jadi belok begini?”, pikir Murid.]

Murid: Hanya sedikit, Master.

Rumi: Jangan antum kira makrifat itu kata sakral yang dapat dipahami secara ekslusif hanya oleh kalangan elit-khusus”. Sederhananya, kata itu berarti mengenal.

Murid: Tetapi apa hubungannya dengan Siti?

Rumi: Begini. Dengan memahami arti kata itu kita dapat katakan A, B, C dan D sama-sama memiliki makrifat mengenai Siti.

Murid: Benar, Master. Tetapi levelnya berbeda, kan?

Rumi: Nah itu baru muridku. Jadi kita lihat ada tingkatan makrifat: Makrifat Nama, Makrifat Sifat, Makrifat Perbuatan, dan Makrifat Pengalaman. Bagaimana jika kata Siti diganti dengan Tuhan? Ini PR serius untuk antum. Jelasnya, denga menggunakan konteks cerita ini, PR antum adalah berdiam-diri sambil merenungkan arti makrifat kepada Tuhan. Laporkan hasilnya besok pagi, sambil ngopi.

Murid: Siap, Master.

(*) Cerita ini diadaptasi dari Pengajian Al-Hikan Kiai Zezen yang rekamannya dapat diakses di SINI.

[Kembali ke: Dialog 4 atau Dialog 3 atau  Dialog 2 atau Dialog 1, atau Mengenal Rumi secara umum.]

← Back

Thank you for your response. ✨

Dialog Imajiner dengan Rumi (4)

Dialog 4: Musuh

[Sang murid merasa aneh-ganda. Pertama, masternya tampak murung padahal biasanya riang. Kedua, kemurungan itu muncul justru ketika masternya baru saja dianugerahi anak yang telah lama didambakannya. Perasaan aneh ini membuat Murid berani bertanya.]

Murid: Master tampak murung. Boleh tahu kenapa?

[Master tak bergeming; sang murid termangu. Tidak memperoleh jawaban, sang murid alih-alih mendengar bacaan-tartil dari  Master yang masih terpejam. “Ah Surat 64 Ayat 14”, bisik sang murid dalam hati.]

Murid: Maaf, apakah Master khawatir  si anak kelak akan menjadi musuh Master?

[Murid menduga demikian berdasarkan ayat yang baru saja diperdengarkan. Mendengar “tuduhan” ini Master menatap sang murid serius.]

Rumi:

(1) Apakah Antum tahu cerita Jenderal A yang pernah mengomandoi selaksa bala tentara kehkahlifahan? Ia jatuh karena ulah anaknya melindungi bandar narkoba;

(2) Apakah Antum tahu kisah Wazir B yang pernah mengdalikan kekuasaan birokrasi kekhalifahan? Ia  terpuruk karena anaknya terbukti sering memalaki sejumlah kementerian-gemuk;

(3) Antum tahu konlomerat C yang sedemikain kaya sehingga kekuasaan uangnya dapat membeli kasus hukum untuk kepentingan jaringan bisnisnya?

Murid: Saya tahu sedikit-sedikit, Master. Bagaimana dengan pengusaha C? Apa yang terjadi?

Rumi: Ia dihukum pancung karena melindungi anak-tunggalnya yang terbukti telah menjual rahasia negara yang sangat sensitif, juga sering kedapatan bermain mata dengan beberapa selir khalifah.

[Setelah jeda sesaat Master melanjutkan.]

Rumi: Itulah ganjaran mereka dunia. Ganjaran di akhirat siapa yang tahu. Kalau Rabb-SWT memberikan azab maka itu pantas karena mereka itu hamba-Nya; kalau Dia mengampuni mereka maka itu bisa saja karena Dia Maha Pengampun[1].

Murid: Tetapi master kan bukan jenderal, pejabat negara atau pengusaha. Saya yakin anak Master tidak akan seperti anak-anak para pembesar itu. Jadi, kekhawatiran Master bagi saya berlebihan.

[Dilihatnya masternya hanya diam si murid melanjutkan.]

Murid: Saya menyaksikan pengajian Master semakin membeludak, halakah zikir Master semakin ramai, dan nasehat Master selalu diperhatikan para penguasa kekhalifahan. Jadi, saya tetap berpendapat kekhawatiran Master mengenai anak berlebihan…

[Murid kaget ketika masternya merespons dengan nada sengit…]

Rumi: Semua yang Engkau kemukakan itu tidak relevan! Engkau kira ayat yang Aku bacakan tadi tidak berlaku bagiku. Engkau kira Aku sanggup mengontrol jiwaku yang sepenuhnya di bawah kendali “jari”-Nya? Bagaimana kalau Dia menyusupkan sifat ria dalam jiwaku ketika aku berdakwah? Bagaimana kalau Dia menyisipkan sifat sok-suci[2] ketika aku memimpin jamaah zikir? Bagaimana kalau Dia menghidupkan dalam diriku sifat gila-hormat ketika menasihati para pembesar kekhalifahan?

[Rumi melanjutkan setelah menarik nafas sesaat, masih sengit.]

Rumi: Engkau ingat ini. Yang relevan adalah kebersihan sumber nafkah keluarga. Jadi, tantangannya adalah memastikan sumber itu terbebas dari jeratan syubhat[3] apalagi haram. Engkau kira ini soal enteng?

[Melihat muridnya diam-menunduk akhirnya Rumi melunak.]

Rumi: Yang penting, renungkanlah ayat yang Aku bacakan tadi. Itu PR-mu. Itu serius.

Murid: Siap, master.

[Sesampainya di rumah Murid membuka mushaf dan mencari ayat yang dimaksudkan oleh masternya. Ia setuju dengan masternya: “ancaman” ayat itu (Quran 64:14) serius:

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istri dan anak anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka) maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

َـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَـٰدِكُمْ عَدُوًّۭا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌ

Wallahualam bimuradih….@

[1] Quran (5:119).

[2] Sok-suci atau menganggap diri suci (Arab: tuzakku), (Quran 53:32).

[3] Perbuatan yang status hukumnya abu-abu antara halal dan haram.

 

[Lanjut ke Dialog 5]

[Gambaran singkat mengenai Rumi dapat diakses di SINI]

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Dialog Imajiner dengan Rumi (3)

Dialog 3: Konsistensi

Murid: Matster, saya yakin dengan kebenaran teks suci ini: “Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku” (2:186). Oleh karena itu saya selalu berdoa setiap habis salat khususnya mengenai keluasan rezeki. Tetapi rezekiku begini-begini saja, tetap sempit. Kenapa Master?

Rumi: Insya Allah Dia-SWT akan mengabulkan doamu. Tetapi caranya Dia yang menentukan dan waktunya Dia yang pilih. Demi kebaikanmu. Jadi, tenanglah. Lakukanlah apa yang menjadi bagianmu: terus berdoa.

[Rumi menanap mata Murid dengan lembut, agak lama seolah-olah mau menembus kedalaman hati Muridnya.]

Rumi: Tetapi Antum punya masalah. [Murid kaget mendengar ini.]

Murid: Apakah masalahnya, Master?

Rumi: Jawabannya ada dalam dirimu sendiri. Tanyakanlah itu padanya.

[Murid berupaya menerka masalah yang dimaksud, tetapi gagal.]

Murid: Maaf, Master. Saya sudah mencoba tetapi buntu.

Rumi: Begini masalahnya:

Antum ingin dekat dengan-Nya tetapi sering mengabaikan seruan azan,

Antum ingin hidup berkah tetapi jarang bersedekah, dan

Antum ingin meneladani Nabi-SAW tetapi tidak memiliki kepekaan mengenai nasib orang lemah dan anak yatim.

[Melihat Murid hanya termangu Rumi melanjutkan.]

Rumi:

Antum lebih banyak menuntut hak dari pada memenuhi kewajiban; Antum masih gemar cekcok karena masalah sepele, padahal mengerti arti penting persaudaraan; Antum mengerti hak tetangga, tetapi kerap mengabaikannya.

[Karena Murid masih termangu Rumi melanjutkan.]

Rumi:

Antum mohon Ampunan-Nya tetapi berperilaku mengundang murka-Nya, Antum menuntut kebahagiaan akhirat tetapi lebih mendahulukan dunia, Antum mengetahui Dia-Maha-Baik tetapi terus berburuk sangka kepada-Nya.

[Rumi mengakhiri nasihatnya dengan ujaran singkat.]

Rumi: Jadi, masalah Antum tidak konsisten. Dan itu serius. Tetapi Dia Maha Pengampun….]

[Murid termangu menerima pelajaran keras kali ini. Tetapi dia ingat masternya pernah mengatakan” “Truth hurts”; jadi, dia maklum dan menerima secara legowo. “Ternyata dia lebih mengenalku dari pada diriku sendiri”, bisiknya dalam hati. ] 

[Ia menatap wajah lembut dan terkaget ketika terdengar lantunan ayat (Azzumar 53) dari masternya yang matanya terpejam]:

۞ قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dilah yang Mah Pengampun dan Maha Penyayang”.

.

Wallahualam bi muradih…@

[Lanjut ke Dialog 4]

[Gambaran singkat mengenai Rumi dapat diakses di SINI]

 

← Back

Thank you for your response. ✨