Erosi Garis Pantai Indonesia


Garis pantai (shoreline) dapat menyempit karena erosi dan meluas karena akresi. Erosi dan akresi adalah dua istilah teknis ilmu bumi yang terlalu kompleks untuk dipaparkan secara memadai dalam tulisan singkat ini[1]. Yang  jelas, kedua  istilah ini dalam tulisan ini diterpkan dalam konteks garis pantai dan sederhananya dapat dilihat sebagai faktor alamiah yang menyebabkan perubahan garis pantai.

Tetapi apa relevansi erosi atau akresi bagiku? Ini jawabannya kalau Anda orang Indonesia: (1) Indonesia adalah negara kepulauan sehingga rentan terpapar erosi, dan (2) orang Indonesia– sebagaimana orang rest of the world— dirancang untuk hidup di daratan, bukan di lautan. Lebih dari itu, ada bukti empiris yang menunjuk jari: negara kepulauan ini mengalami erosi dalam skala yang menakutkan, paling tidak demikianlah menurut cita-rasa The Jakarta Post.

Tertanggal 7 Juli 2019 (03.15) Jakarta Post menerbitkan artikel berjudul “Indonesia has lost land equal to size of Jakarta in last 15 years“. Reaksi pertama penulis “apa iya”. Jadi penulis terdorong untuk mencermati angka-angka dalam terbitan itu dan lahirlah tulisan singkat ini.

Lebih Luas dari Kota Medan

Menurut artikel Jakrta Post itu, dalam 15 tahun Indonesia secara nasional telah kehilangan lahan sekitar 29,262 Ha. Angka “nasional” ini tidak termasuk wilayah erosi di enam provinsi: Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Di enam provinsi ini hasil pencitraan satelit dilaporkan tidak jelas.

Angka itu setara dengan 293 Km2. Jika angka ini dibandingkan dengan luas Jakarta yang menurut suatu laporan[2] sekitar 650 Km2, maka angka luas erosi nasional kira-kira setara dengan 45% luas Jakarta secara keseluruhan, bukan equal tosize of Jakarta sebagaimana diklaim Jakarta Post. Tetapi bagaimanapun angka itu mengisyaratkan besarnya masalah erosi di Indonesia.

Untuk “merasakan” besar masalah ini kita dapat membandingkan angka itu dengan luas wilayah secara keseluruahan beberapa kota lain. Hasilnya ini: dalam periode 2000-2014, kawasan yang terpapar erosi secara nasional dalam periode itu (=293 Km2) sedikit kurang luas dibandingkan keseluruhan wilayah Kota Kendari (296 Km2); tetapi sedikit lebih luas dibandingkan keseluruhan wilayah gabungan Jakarta Barat dan Jakrta Selatan (272 Km2), Kota Serang (267 Km2), atau Kota Medan (265 Km2)

….dalam periode 2000-14 kawasan yang terpapar erosi kurang luas dibandingkan keseluruhan wilayah Kendari; tapi lebih luas dibandingkan keseluruhan wilayah (Jakarta Barat + Jakarta Selatan), Serang, atau Medan.

Tebang Pilih

Erosi ternyata menerapkan kebijakan yang tebang pilih. Artinya, ia memiliki preferensi untuk menjarah wilayah-wilayah tertentu. Hal ini terlihat dari distribusi angka erosi nasional (minus 6 provinsi sebagaimana disinggung sebelumnya) yang tidak merata antar provisi sebagaimana diperlihatkan oleh Grafik 1.

Grafik 1: Luas Erosi dan Akresi Garis Pantai menurut Provinsi Hasil Pencitraan Satelit 2000 dan 2014 (Ha)

Sumber: Jakarta Post

Catatan: Angka-angka diperoleh sebagai hasil pencitraan satelit yang tidak mencakup enam provinsi: Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Jawa Timur dan Jawa Tengah

Pada grafik di atas tampak erosi cenderung lebih memilih kawasan Jawa dan Sulawesi. Grafik itu juga menyuguhkan tiga hal yang mencolok berikut ini:

  1. Jawa Tengah dan Jawa Timur menempati rangking pertama dan kedua dalam hal luasnya erosi. Luas erosi di dua provinsi ini masing-masing 5,600Ha (19% angka nasional) dan 4,400Ha (15% angka nasional). Dua provinsi ini memberikan sumbangan lebih dari sepertiga terhadap angka erosi nasional. [Jadi, selamat untuk Pak Ganjar dan Bu Khafifah!.]
  2. Dua provinsi ini juga menempati dua rangking teratas dalam hal akresi walaupun dengan urutan terbalik: dalam hal ini Jawa Timur (4,396 Ha) lebih unggul dari Jawa Tengah (2,171 Ha). [Selamat yang kedua kalinya untuk Bu Khafifah.]
  3. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain, angka akresi Jawa Timur jauh melampau angka erosi. [Selamat yang ketiga kalinya untuk Bu Khafifah.]

Tidak Tahu

Demikianlah cerita singkat mengenai erosi dan akresi di Indonesia. Pertanyaan: Apakah semua ini karena ulah manusia atau kehendak-Nya? Penulis tidak tahu jawabannya tapi setuju dengan ucapan Bunda Teresa ini (dikemukakan dalam konteks berbeda): “I don’t know what God is doing. He knows. We dont’t understand, but one thing I’m sure. He doesn’t make a mistake“.

Wallahualam….. @

[1] Bagi yang berminat mendalami dua istilah ini disarankan untuk merujuk ini untuk erosi dan ini untuk akresi.

[2] Semua angka luas wilayah kota dalam tulisan ini bersumber ini.

One thought on “Erosi Garis Pantai Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.