Simbolisme Bendera dan Hewan Kurban


Teman kita yang satu ini kreatif. Meski sudah pensiun dan berusia-kepala-6, ia masih aktif berbisnis, “bisnis serabutan” katanya. Bulan ini bisnisnya agak aneh: jualan bendera dan hewan kurban, sebagai “pemodal” sekaligus “manajer”. Ketika ditanya kenapa tidak fokus pada salah satu, ia menjawab ada kesamaan di antara keduanya. Ini argumennya: “Kalau sampean memasang bendera di depan rumah, atau patungan membeli sapi korban, maka itu merupakan tindakan simbolis”.

Ungkapan itu memulai “ceramah” teman kita mengenai dua topik ini: bendera dan kurban. Sasaran ceramah hanya penulis. Tulisan ini meringkas isi ceramah yang dimaksud.

Rasa Kebangsaan

Mengenai bendera, yang penting bukan gambar atau warna-warninya, tetapi bagaimana warga negara itu memaknainya: “Bendera menyimbolkan entitas dan kehormatan suatu negara”, tegasnya. Nilai rupiah sehelai kain bendera bukan apa-apa dibandingkan dengan nilai simbolis yang diwakilinya:

“Bendera mewakili solidaritas dan kehormatan bangsa sedemikian rupa sehingga warga-bangsa yang bersangkutan dapat menjadi emosional mengenainya dan menumbuhkan rasa patriotisme. Bendera adalah instrumen untuk menumbuhkan rasa kebangsaan warga-bangsa”.

Demikianlah ceramahnya mengenai bendera. Ia siap pergi tetapi urung karena penulis bertanya mengenai simbolisme Kurban.

Analisis Bahasa

“Kalau sampaian serius mengenai sesuatu, maka langkah pertama adalah melakukan analisis bahasa mengenai sesuatu itu”.

Demikianlah kalimat pembuka ceramahinya mengenai kurban. Baginya kalimat ini wajar: ia jebolan Fakultas Adab (Bahasa) suatu IAIN sehingga memahami seluk-beluk nahwu-sharaf, tata Bahasa Arab). Lanjutnya:

“Kalau sampean berselawat dan bersalam kepada junjungan nabi kita maka itu bagus, tetapi tidak cukup bagus, sebelum sampean memahami arti selawat dan salam”.

“Tapi kita tidak sedang membicarakan selawat dan salam; topik kita kurban”, penulis menyela.

[Penulis menyela karena ia mulai terlihat tidak fokus, gejala kepala 60-an.] Dia kembali fokus dan melanjutkan ceramahnya:

“Kata kurban berasal dari qurb (Arab) yang artinya pendekatan atau suatu metode untuk mendekati seseorang. “Jadi, cara sampean mendekati janda itu namanya qurb“, selorohnya.

Untuk menghentikan seloroh penulis bertanya dengan nada dibuat serius:

“Dulu kaum musyrik Mekah menyembah berhala sebagai qurb kepada Allah. Apakah tindakan semacam ini dapat dibenarkan?” Teman kita merespons:

“Sama sekali tidak! Juga sangat berisiko karena praktik semacam itu dapat membuat kita berhenti pada simbol dan bahkan meng-ilah-kannya, memberi status keilahian pada simbol”.

Gemuk dan Sehat

Terkait dengan hukum berkurban, teman kita ini menjelaskan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Walaupun demikian, ia memberi nasihat serius: “Kalau sampean mampu lakukan saja. Pasalnya, ragam pendapat mengenai masalah ini false positive“. [Penulis tertawa mendengar dua-kata terakhir ini tapi teman kita melanjutkan ceramahnya dengan datar sebelum penulis bertanya.]

Dia menjelaskan ada tiga pendapat ulama mengenai hukum kurban: menganjurkan (sunnah, jumhur ulama), sangat dianjurkan (sunnah muakkadah, mazhab Syafii), wajib (mazhab Hanafi). Atas dasar ini dia sangat menganjurkan berkurban.

“Kalau ternyata wajib, dengan melakukannya sampean terbebas dari kewajiban; kalau ternyata sunnah, semoga saja sampean memperoleh pahala sunnah moyang purba kita yaitu Ibrahim AS”.

Mengenai hewan kurban ia menasehati untuk memilih yang gemuk dan sehat “agar banyak dagingnya dan aman dikonsumsi oleh orang lain” katanya. “Ingat, yang mengonsumsi hewan kurban sampean bukan hanya sampean dan keluarga”, lanjutnya. Dia juga meyakinkan penulis, sekalipun hewan kurban yang gemuk dan sehat relatif mahal, memilihnya pasti tidak merugikan karena pahalanya sebanyak bulu hewan yang dikorbankan.

Sumber Foto: Google

Bukan dagingnya, bukan darahnya

Teman kita ini sebenarnya cenderung pada pendapat yang mewajibkan berkurban atas dasar QS (108): “Coba sampean rasakan kesungguhan perintah berkurban dalam Surat terpendek itu”, sarannya.  Mengenai latar belakang perintah berkurban ia merujuk tulisan Shehzad Saleem yang bertajuk “Philosophy of Animal Sacrifice on Eid”. Bagi penulis ia mengutip sebagian isinya tanpa terjemahan:

The reason for animal sacrifice on eid is to commemorate a great event which depicts an extraordinary expression of submission to the command of Allah – the essence of Islam. The Prophet Abraham (sws) while obeying the Almighty set a platinum example of this submission.

Sebelum mengakhiri ceramah, teman kita ini menegaskan yang esensial dalam berkurban adalah takwa yang seharusnya melatarbelakangi tindakan berkurban. Setelah direnungkan, penegasan ini ternyata sejalan dengan kutipan di atas, juga dengan kandungan QS (22:37):

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.

Demikianlah ceramah teman kita ini. Ringkasannya dalam dua kalimat yang mudah diingat kira-kira begini:

Menghormati bendera dan berkurban adalah tindakan simbolik. Yang pertama menyimbolkan rasa kebangsaan, yang kedua nilai takwa.

Wallahualam…@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.